March 8, 2014

Coretan untuk mamak #3


Aku tadi meneleponmu. Ada rasa bahagia terdengar jelas dari intonasi suaramu dan aku tahu karena salah satu anakmu akan menjelang pernikahannya besok pagi dan semoga Allah meridhai. Ma, baru kemarin engkau lara hati karena salah satu saudaramu berpulang ke Rahmatullah namun kali ini engkau merasa bahagia. Begitulah memang adanya kehidupan diskenariokan oleh langit ma, kadang kita bersedih hati namun di lain waktu Tuhan menyimpan kebahagiaan untuk kita maka tetaplah menjalani hidup sesuai dengan skenarioNya. Ma, engkau memang bahagia hari ini, bagaimanapun juga ketika seorang ibu melepas anaknya menjelang pernikahannya maka ada perasaan senang yang datang menyergap tiba-tiba. Tadi Engkau hanya memintaku mengucapkan doadoa buat kebaikan masku dan ketahuilah ma sebelum engkau memintaku melakukannya maka aku sudah melakukannya jauh hari.

Ma, tadi setelah pembicaraan tentang masku selesai, aku iseng menanyaimu bagaimana jika seandainya kelak aku menikah dengan gadis di pulau ini? Dan sudah kuduga jawabanmu. Engkau masih tetap dipendirianmu bahwa engkau tidak suka. Ada berbagai alasan yang engkau kemukakan meski aku tahu itu hanya kekhawatiranmu saja. Terakhir alasanmu tadi bahwa engkau tidak mau kalau ada anak-anakmu yang terlalu jauh darimu supaya setiap saat engkau bisa memantaunya. Ah, benar-benar aku tahu betapa dalamnya cintamu kepadaku dan kepada saudara-saudaraku, namun untuk yang satu ini ma. Ijinkan aku dengan pilihanku sendiri dan percayalah bahwa tidak ada yang akan mereduksi rasa cintaku terhadapmu meski mungkin suatu saat nanti aku menikah dan punya keluarga sendiri.

Hidup memang harus seperti ini ma. Berputar dan mencari sumbunya bahkan harus berpindah tempat namun tetap saja bahwa dia akan kembali ke porosnya. Burung yang terbang dari sarangnya pada fajar menjelang tetap saja akan kembali ke sarangnya ketika senja hari sudah tiba. Begitu pula aku ma, tak pernah melupakan istana kita di kampung dan engkau tidak akan kuhilangkan dari ingatanku sedikitpun hanya saja memang takdir membuat hatiku jatuh pada pilihan diantara gadis yang jauh dari jangkauanmu. Aku tahu begitu banyak kekhawatiranmu namun begitulah memang hidup dipenuhi dengan kekhawatiran tetapi aku tetap akan minta kemurahan hatimu untuk mengijinkanku berjalan diatas jalanku. Bukankah semua pilihan itu adalah tanggung jawab selama tetap berada di koridor yang tidak melanggar ketentuan langit? Dan aku tetap berusaha dalam koridorku ma meski terkadang tergelincir atau sekali-kali keluar dari garis koridor namun aku akan tetap kembali ke jalanku ma.

Tidak apalah engkau saat ini memiliki keraguan atas pilihanku ma namun suatu saat ketika waktunya sudah tiba dan aku sudah siap lahir bhatin. Aku akan mendiskusikan ini dengan serius dan aku akan mengemukakan alasanku yang mudah-mudahan saja bisa engkau terima. Akan kubawa pilihanku kehadapanmu dan engkau akan melihat secara langsung setelah itu terserah padamu ma apakah tetap akan berpegang teguh kepada pendirianmu untuk tidak setuju dengan pilihanku ataukah engkau akan luluh saat melihat pilihanku namun belum untuk saat ini ma. Aku masih harus mempersiapkan diri untuk itu dan mudah-mudahan saja semesta menyertai usaha-usahaku dan dipermudah untuk menempuh jalanku sendiri.

Minggu malam yang basah
Jojoran 3/61
8’3’14

No comments: