Aku tadi meneleponmu. Ada rasa bahagia terdengar jelas dari
intonasi suaramu dan aku tahu karena salah satu anakmu akan menjelang
pernikahannya besok pagi dan semoga Allah meridhai. Ma, baru kemarin engkau
lara hati karena salah satu saudaramu berpulang ke Rahmatullah namun kali ini
engkau merasa bahagia. Begitulah memang adanya kehidupan diskenariokan oleh
langit ma, kadang kita bersedih hati namun di lain waktu Tuhan menyimpan
kebahagiaan untuk kita maka tetaplah menjalani hidup sesuai dengan skenarioNya.
Ma, engkau memang bahagia hari ini, bagaimanapun juga ketika seorang ibu melepas
anaknya menjelang pernikahannya maka ada perasaan senang yang datang menyergap
tiba-tiba. Tadi Engkau hanya memintaku mengucapkan doadoa buat kebaikan masku
dan ketahuilah ma sebelum engkau memintaku melakukannya maka aku sudah
melakukannya jauh hari.
Ma, tadi setelah pembicaraan tentang masku selesai, aku iseng
menanyaimu bagaimana jika seandainya kelak aku menikah dengan gadis di pulau
ini? Dan sudah kuduga jawabanmu. Engkau masih tetap dipendirianmu bahwa engkau
tidak suka. Ada berbagai alasan yang engkau kemukakan meski aku tahu itu hanya
kekhawatiranmu saja. Terakhir alasanmu tadi bahwa engkau tidak mau kalau ada
anak-anakmu yang terlalu jauh darimu supaya setiap saat engkau bisa
memantaunya. Ah, benar-benar aku tahu betapa dalamnya cintamu kepadaku dan
kepada saudara-saudaraku, namun untuk yang satu ini ma. Ijinkan aku dengan
pilihanku sendiri dan percayalah bahwa tidak ada yang akan mereduksi rasa
cintaku terhadapmu meski mungkin suatu saat nanti aku menikah dan punya
keluarga sendiri.
Hidup memang harus seperti ini ma. Berputar dan mencari sumbunya
bahkan harus berpindah tempat namun tetap saja bahwa dia akan kembali ke
porosnya. Burung yang terbang dari sarangnya pada fajar menjelang tetap saja
akan kembali ke sarangnya ketika senja hari sudah tiba. Begitu pula aku ma, tak
pernah melupakan istana kita di kampung dan engkau tidak akan kuhilangkan dari
ingatanku sedikitpun hanya saja memang takdir membuat hatiku jatuh pada pilihan
diantara gadis yang jauh dari jangkauanmu. Aku tahu begitu banyak
kekhawatiranmu namun begitulah memang hidup dipenuhi dengan kekhawatiran tetapi
aku tetap akan minta kemurahan hatimu untuk mengijinkanku berjalan diatas
jalanku. Bukankah semua pilihan itu adalah tanggung jawab selama tetap berada
di koridor yang tidak melanggar ketentuan langit? Dan aku tetap berusaha dalam
koridorku ma meski terkadang tergelincir atau sekali-kali keluar dari garis
koridor namun aku akan tetap kembali ke jalanku ma.
Tidak apalah engkau saat ini memiliki keraguan atas pilihanku ma
namun suatu saat ketika waktunya sudah tiba dan aku sudah siap lahir bhatin. Aku
akan mendiskusikan ini dengan serius dan aku akan mengemukakan alasanku yang
mudah-mudahan saja bisa engkau terima. Akan kubawa pilihanku kehadapanmu dan
engkau akan melihat secara langsung setelah itu terserah padamu ma apakah tetap
akan berpegang teguh kepada pendirianmu untuk tidak setuju dengan pilihanku
ataukah engkau akan luluh saat melihat pilihanku namun belum untuk saat ini ma.
Aku masih harus mempersiapkan diri untuk itu dan mudah-mudahan saja semesta
menyertai usaha-usahaku dan dipermudah untuk menempuh jalanku sendiri.
Minggu malam yang basah
Jojoran 3/61
8’3’14
No comments:
Post a Comment