Saya sudah enam tahun menjalani profesi sebagai tim pemeriksa. sebuah potongan cerita hidup yang menyisakan berbagai kisah dengan hikmah masing-masing, terkadang menyenangkan namun seringkali merusak suasana hati
pekerjaan audit jelas akan berhadapan dengan hal-hal mengenai penyalahgunaan baik materiil maupun non materiil yang ujungnya akan menguntungkan diri dan kelompok si pelaku. motifnya berbeda-beda namun mayoritas karena kepentingan sendiri
Hidup di ibukota memang ibarat sebuah ruang yang menjebak manusia dalam pemandangan kemewahan. siapa yang tahan melihat mobil mewah, rumah yang besar dan berbagai benda-benda duniawi yang memancing nafsu manusia untuk memilikinya sekedar memenuhi hasrat duniawi. bisa sebagai eksistensi untuk dipamerkan atau untuk kesenangan sendiri.
Jika tidak menguatkan diri untuk menahan nafsu keinginan maka besar kemungkinan akan terperosok dalam kejahatan demi kejahatan apalagi jika pendapatan tidak mampu memenuhi keinginan yang diangankan.
Kejahatan berwujud dalam banyak hal, mulai dari kejahatan yang berbentuk kekerasan seperti merampok maupun kejahatan struktur yang dilakukan oleh pejabat negara seperti korupsi atau fraud yang dilakukan oleh karyawan swasta. semua ujungnya demi mendapatkan keuntungan pribadi.
Saya akrab dengan tindakan fraud yang dilakukan oleh karyawan, mulai dari nilai jutaan sampai miliaran.
saya tidak sedang ingin membahas kronologis kejahatan yang sering saya hadapi namun saya hanya ingin mengatakan bahwa alasan para pelaku seringkali berbeda dan alibi paling menyebalkan ketika mereka mengatasnamakan kepentingan keluarga. damn it.
4 bulan yang lalu tepatnya April 2021, saya menjumpai kasus dengan kerugian perusahaan lebih dari setengah miliar dan ketika diinterogasi, alasan klasiknya adalah untuk kebutuhan lahiran isterinya. mempunyai mobil yang merupakan barang tersier mengafirmasi kecurigaan saya bahwa alasan melakukan tindakan fraud bukan untuk kepentingan yang mendesak.
4 bulan setelahnya di bulan agustus, saya menjumpai kasus yang lebih besar lagi, nilai kerugian tidak kurang dari 2 M dan alibi yang sama adalah untuk pengobatan anaknya. hal yang mungkin tidak masuk akal karena ternyata dia punya aset yang lumayan banyak dan tidak sebanding dengan gajinya sebagai staf, tindakannya pun dilakukan jauh sebelum anaknya lahir.
Sebenarnya tidak hanya mereka yang menjadikan keluarga sebagai alasan pamungkas, seorang koruptor sadis di negeri ini yang menggarong dana bansos saat pandemi dengan nilai triliunan, juga meminta untuk dibebaskan dengan alasan kasihan kepada keluarganya.
Luar biasa mereka, keluarga selalu menjadi alasan klasik untuk mendapatkan empati.
Terkadang muak mendengar kejahatan yang dilakukan mengatasnamakan keluarga namun begitulah adanya. semoga saya masih tetap kuat dengan godaan-godaan duniawi yang absurd.
Saya harus akui bahwa ibukota adalah kemewahan tak berujung yang akan menjadi racun bagi manusia-manusia yang tidak sanggup menahan dirinya untuk menunjukkan eksistensinya. orang yang ingin mendaku dirinya akan ditelan oleh absuditas di kota ini,
Jadi bersiaplah untuk segala kemungkinan dan bentengi dirimu dengan meruntuhkan nafsu yang silau dengan kemewahan.
Di setiap sudut kota ini, ditawarkan kemewahan yang menyiksa batin manusia. mereka menyangka bahwa dengan memiliki kemewahan tersebut, hidup mereka akan menyenangkan dan mampu mengatakan kepada dunia bahwa mereka bisa atau sekedar mengabarkan kepada orang-orang di kampung halamannya bahwa ibu kota sudah ditaklukkan dengan menjadi perantau yang sukses secara materi
Saya kira, hanya sebagian dari pelaku kejahatan yang benar-benar melakukan tindakannnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan keluarga.