Seperti
lalu lalang kendaraan yang melaju dengan begitu cepat. Tanpa ada sisa-sisa
jejak yang melekat dari perjalanan ini dan mungkin seperti itulah waktu yang
sedang dijalani di alam semesta ini. Semua nampak seperti lalu lalang yang
hanya berlalu sekejap mata tanpa meninggalkan kesan. Kalaulah saja setiap orang
punya kesempatan untuk membeli waktu maka mungkin saja semua hidupnya akan
dihabiskan untuk mencari uang dan membeli waktu yang berlalu karena yakinlah
bahwa waktu yang sudah berlalu selalu saja dirindukan dan diharapkan untuk
kembali.
Seperti
itulah Ramadhan kali ini. Berlalu begitu saja di depan mataku dan seperti aku
tak berbuat apa-apa untuk Ramadhan kali ini bahkan hanya khilaf dan dosa yang
tersisa. Sehari lagi Ramdhan ini akan lenyap seiring dengan waktu yang terus
bergulir membawanya pergi menjauh dan pada saat seperti inilah kemudian muncul
perasaan menyesal menyia-nyiakan waktu yang dilalui tanpa berbuat kebaikan.
Ramadhan kali ini benar-benar menjadi tragedi yang meninggalkan cerita yang
hitam.
Aku
benar-benar menjadikan Ramdhan kali ini sebagai refleksi dari semua khilafku
selama setahun terakhir yang sudah melampaui batas. Aku bahkan tidak berani
untuk mengingat semua kebodohan yang sudah kuperbuat hanya untuk menghindari
rasa bersalah.
Jelas
sekali teringat setelah Ramdhan tahun lalu 1434 H, awal dari deretan kebodohan
dan maksiat yang aku lakukan. Hal yang sebelumnya sama sekali aku lakukan bahkan
tidak terpikirkan olehku bahwa aku akan terjerumus kedalam situasi seperti itu
dan rentang waktu setahun belakang ini adalah tragedi hidup yang paling aku
sesali dalam hidupku diantara semua kesalahan-kesalahanku yang lalu. Bahkan
hampir saja aku tidak memaafkan diriku sendiri atas kesalahan yang aku perbuat
setahun terakhir namun aku tetap yakin bahwa Allah SWT Maha Pengampun atas
segala dan Dia masih memberiku waktu untuk memperbaiki kesalahanku.
Ramadhan
kali ini yang sehari lagi akan beranjak pergi dan menyambut Idul Fitri
benar-benar kujadikan sebagai titip point untuk merefleksikan kesalahanku
setahun belakang ini. Aku bertekad kuat untuk memulai langkah dengan hati yang
lebih bersih dan mencoba untuk menahan diri. Ada dua hal yang amat sangat susah
kukendalikan selama setahun belakangan ini, nafsu syahwat dan nafsu amarah dan
itu yang selalu aku usahakan. Alangkah bodoh dan tololnya aku kalau saja aku
masih melakukan kebodohan-kebodohan seperti setahun terakhir ini. Jika aku
masih melakukannya di waktu mendatang maka hancurlah aku dan tiadalah berguna
hidupku ini.
Idul
fitri kali ini pun menjadi sejarah bahwa pertama kalinya aku tidak berkumpul
bersama kedua orang tuaku dan keluargaku di kampung. Aku selalu merindukan
kebersamaan kami di setiap edisi idul fitri namun kali ini aku tak berdaya dan
harus jauh dari mereka saat idul fitri. Kondisi yang memaksaku harus seperti
ini dan terasing sendiri di kota ini tanpa ada siapa-siapa meski kutahu bahwa
ini murni keputusanku untuk tidak pulang kali ini.
Aku
bahkan tidak merasakan suasana bermacet ria mudik kali ini. Berdesak-desakan di
dalam mobil yang membawaku ke kampung bahkan perasaan yang teramat menyenangkan
saat pertama kali menginjakkan kaki di tangga rumah yang kemudian disambut
hangat oleh ibuku. Tidak ada semua itu untuk ramdhan kali ini.
Tidak
ada kecup hangat di jidatku dari ibuku sebelum berangkat ke lapangan menunaikan
shalat ied, tidak ada ketupat dan ayam goreng kecap menyambutku di rumah
setelah melaksanakan shalat ied bahkan sama sekali tidak ada hal yang bisa
kukerjakan disini. Hanya menunggu waktu berlalu dan berjalan seperti normal
adanya. Benar-benar memilukan dan meninggalkan sesak di dada yang setiap kali
membayangkan itu semua mengharuskan aku menghapus tetes air yang berguguran
dari kelopak mataku.
Aku
berdiam diri di kamar ini. Merenungi setiap dosa yang tak terhitung. Mencoba
memaafkan diri yang khilaf dan kembali ke fitri. Lebaran kali ini menjadi anti
klimaks dari setiap apa yang telah kulalui selama ini. Aku hanya berharap dan
berdoa semoga saja aku kembali ke jalan yang benar setelah setahun lamanya
meniti jalan kegelapan. Jalan yang menyiksaku dalam perasaan bersalah yang
berkepanjangan.
Harapan
tentunya ada dan doa terus mengalir bahkan segenap jiwa raga mengadah meminta
apa yang masih tersembunyi. Semua hanya menunggu waktu yang tepat dalam
kesabaran yang hakiki. Tidak ada penyesalan atas diri dan tetap bersyukur atas
semua yang telah di tangan karena hidup sudah diatur oleh pemilikNya dan
manusia tinggal menjalani dengan jalannya masing-masing. Hanya ada dua pilihan
bagi manusia untuk menjalani hidupnya. Pertama adalah berjalanan diatas koridor
yang telah di tetapkan ataukah berjalan di kegelapan dengan bergelimang khilaf
yang nyata. Karena sesungguhnya hidup pasti akan berakhir di gerbang kematian
menuju alam berikutnya.
Terakhir
aku haturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada ibuku dan juga kepada
ayahku atas semua khilaf baik yang disengaja maupun yang tak disengaja bahkan
tentang harapan-harapan dariku yang masih belum bisa aku wujudkan dalam sebuah
kenyataan. Wujud permohonan maafku adalah memperbaiki semuanya dari awal dan
tetap istiqamah dalam kebaikan di setiap waktu yang akan dijalani.
Selamat
Idul fitri 1435 H
Minal
aidin wal Faidzin
Mohon
maaf lahin dan bhatin




