March 30, 2014

Percakapan Semalam dengan Ustadz D

Bagaimana kabarmu di situ?” kalimat pertama yang muncul dari percakapan saya dengan ustadz D semalam lewat telepon. 

Di Al-Markaz ki ini kak?” tanyaku mengawali pembicaraan karena setahuku sehabis isya, Ustadz D selalu menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid terbesar di Makassar untuk mengaji atau pun kajian keagamaan. 

Tidak, adama di rumah, kenapaki?” begitulah sapaannya setiap kali kutelepon dirinya di waktu-waktu tertentu. Meskipun beliau dikenal sebagai ustadz di Al-Markaz namun entah kapan mulanya, aku lebih akrab memanggilnya dengan sebutan kakak.

Ustadz D yang kukenal baik sejak aku masih di Makassar dan aktif di kajian makes membuatku nyaman mencurahkan semua permasalahanku atau pun sekadar untuk meminta saran tentang hidup dan selalu saja apa yang disarankan oleh beliau mengena di hati. Apatahlagi saat merantau di pulau ini, aku tidak mendapatkan tempat kajian keagamaan sehingga setiap kali aku butuh bimbingan maka seringkali kutelepon dirinya.

Semalam, ada begitu banyak hikmah yang diajarkan oleh ustadz D kepadaku. Awalnya beliau menasehati supaya aku jangan sekali-kali aku fanatik terhadap satu golongan dan jangan pula menjelek-jelekkan suatu golongan dan yang lebih bijaksana adalah kamu mengambil hikmah dari setiap golongan tersebut. 

Kata beliau semalam. Namun ada satu yang sangat mengena ketika beliau berkata bahwa “ jangan sekali-kali engkau menjustifikasi suatu golongan layaknya Tuhan. Jangan menyalahkan golongan seakan-akan engkau seperti Tuhan.”  Kalimat itu benar-benar membuatku tersadar dan kucamkan baik-baik karena memang dalam hal menilai sampai pada tataran dosa atau tidaknya perbuatan seseorang maka itu mutlak otoritas Tuhan. Manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan sedikitpun akan hal seperti itu.

Setelah itu seperti biasanya, beliau melanjutkan petuahnya bahwa ketika engkau mendapatkan masalah maka solusi yang terbaik adalah mendekatkan diri kepada Allah dan percayalah bahwa masalahmu akan terselesaikan. Beliau juga menambahkan bahwa hidup itu tidak selalu sedih dan juga tidak selalu tersenyum karena bukankah kita tidak bisa merasakan yang namanya kenyang ketika kita tidak pernah merasakan lapar. Hidup itu dinikmati.

Begitulah beliau selalu menasehatiku dalam setiap kesempatan. Pertanyaan terakhir yang kuajukan kepadanya, Kak, bagaimana dengan ziarah makam wali, karena di pulau ini begitu umum orang bersama-sama ziarah wali bahkan sampai ke tempat yang jauh?” tanyaku. 

Tidak usah ikut-ikutan karena berpotensi untuk mencampuri akidah apatahlagi ketika kita sudah percaya bahwa di tempat itu ada kekuatan.” Jawabnya singkat. Lalu kemudian beliau melanjutkan ceritanya bahwa suatu waktu ada beberapa peziarah dari Sulawesi selatan datang ke pulau jawa dengan maksud ziarah makam wali, ketika itu Gusdur masih hidup lalu beliau berkata bahwa lucu orang dari Sulawesi selatan datang ke jawa ziarah wali sedangkan gurunya wali songo berada di sana tepatnya di Wajo Sulawesi selatan.  

Aku benar-benar baru mengetahui akan hal ini bahwa ternyata gurunya para wali yang sangat diagungkan di pulau ini berasal dari Sulawesi selatan bahkan Wajo yang dekat sekali dari daerahku. Sementara selama ini, kisah tersebut tidak diceritakan oleh orang terdahulu.

Begitulah ustadz D selalu mengajarkanku tentang hidup, tentang bagaimana harus menjalani hidup meski terkadang aku sering terlupa namun selalu saja nasehatnya akan kucamkan dalam hati. Satu hal yang amat sangat kusenangi dari setiap nasehatnya karena beliau tidak terlalu merisaukan tentang hal-hal duniawi seperti pekerjaan dan lainnya namun beliau selalu menekankan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selalu ingat Allah dan hal duniawi akan mengikut sebagai bonusnya.

Tetaplah Istiqomah kak, menebarkan hikmah kepada setiap orang yang engkau temui. tetaplah berbahagia kak dan semoga engkau tetap dalam keadaan sehat.

Jojoran 3/61
30’3’14
05.42 WIB

No comments: