Bagaimana
kabar hari ini ma?
Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan
diridhai Allah SWT. Ma, aku hari ini ada kisah yang menurutku sangat tidak
patut dicontoh ma. Tadi waktu aku mau keluar cari makan siang, aku mampir
shalat di salah satu masjid kalidami. Saat akan memasuki kawasan masjid,
seperti mayoritas masjid di kota ini melantunkan shalawat setelah adzan dan
begitu pula dengan masjid itu ma.
Sesaat setelah memasuki masjid itu kulihat
yang melantukkan shalawat sambil memakai pengeras suara bukan pengurus masjid tetapi
tukang bakso yang juga sedang mampir shalat. Sejurus kemudian seorang bapak
paruh baya yang mungkin pengurus masjid langsung masuk masjid dengan
tergopoh-gopoh dan menegur si tukang bakso itu untuk menghentikan shalawatnya
dengan muka masam.
Si tukang bakso hanya diam terpaku dan saat itu juga
berhenti. Tidak sampai di situ, imam masjid kemudian masuk dan lagi-lagi
menegur si tukang bakso, entah apa yang dikatakannya karena mengggunakan bahasa
jawa namun aku yakin dari mimiknya bahwa dia melarang untuk melantunkan
shalawat dengan pengeras suara antara adzan dan iqamat.
Fenomena
yang amat sangat sering terjadi di Negara kita ma. Harusnya tadi mereka yang
menganggap pengurus masjid dengan baju putih bersih tidak menegur langsung si
tukang bakso di depan jamaah shalat dhuhur karena dia tidak mengerti. Mungkin sebaiknya
tadi setelah shalat kemudian pengurus masjid memberitahukan dengan santun bahwa
di masjid ini budayanya tidak melantunkan shalawat antara adzan dan iqamat.
Nampaknya
masjid tadi itu ma, diurus oleh orang-orang Muhammadiyah. Akupun besar dalam lingkungan
Muhammadiyah namun tidak seperti itu untuk menegur orang di khalayak. Itu seperti
pembunuhan karakter bagi orang yang di tegur. Bahkan menurutku bahwa yang
dilakukan oleh si tukang bakso bukan hal yang salah hanya saja pahaman yang
beda yang membuat dia dianggap salah. Aku mengira-ngira tadi itu mereka shalat
dengan memikirkan hal itu bahkan akupun yang hanya melihat itu dalam shalat
masih terngiang-ngiang.
Ma,
terlalu sering aku jumpai seperti itu ma. Orang yang merasa dirinya cerdas
dengan sewenang-wenang menegur orang yang mereka anggap kurang cerdas bahkan di
depan orang banyak sekalipun.
Tidak kalah parahnya beberapa waktu lalu ma. Aku menonton
di youtube dan berita-berita online, seorang yang mengaku dirinya uztadz dan
sering main sinetron memperlakukan buruk seorang yang bertugas menyediakan
soundsystem bahkan kesalahannya hanya sepele karena soundsystemnya tidak
berfungsi dengan baik. Orang yang mengaku uztadz itu ma, menghardik lalu dengan
pongahnya mengunci leher si tukang soundsystem dengan kakinya.
Aku semakin
tidak mengerti seperti apa harus bersikap melihat fenomena-fenomena seperti itu
ma. Hati yang masih dipenuhi oleh emosi dan nafsu meski berjubah dan dengan
penampilan seperti orang suci namun aku tetap tidak setuju dengan mereka ma. Hati
yang beriman itu harusnya damai dan berusaha untuk tidak menyakiti orang lain.
Untuk
apa berkhutbah dengan beribu ayat ketika tindakan masih tetap saja membuat
orang lain merasa terganggu. Amat sangat jauh dari sikap altruisme seperti yang
dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau sebaik-baik manusia dengan
semua sisi yang harus dicontoh namun entah mengapa mereka yang menggap diri
uztadz dan penyambung lidah Nabi tidak memperlihatkan seperti apa seharusnya
bahkan malah sebaliknya. Namun mungkin
begitulah kehidupan ma, kita tinggal memilih mana yang harus dicontoh.
Tetaplah
bahagia ma karena hidup hanya sekali dan hidup itu harusnya berbahagia dan menyebar
kebahagiaan kepada orang lain
Jojoran 3/61
15’3’14

No comments:
Post a Comment