March 15, 2014

Coretan Untuk Mamak #10

Bagaimana kabar hari ini ma? 

Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat wal afiat dan diridhai Allah SWT. Ma, aku hari ini ada kisah yang menurutku sangat tidak patut dicontoh ma. Tadi waktu aku mau keluar cari makan siang, aku mampir shalat di salah satu masjid kalidami. Saat akan memasuki kawasan masjid, seperti mayoritas masjid di kota ini melantunkan shalawat setelah adzan dan begitu pula dengan masjid itu ma. 

Sesaat setelah memasuki masjid itu kulihat yang melantukkan shalawat sambil memakai pengeras suara bukan pengurus masjid tetapi tukang bakso yang juga sedang mampir shalat. Sejurus kemudian seorang bapak paruh baya yang mungkin pengurus masjid langsung masuk masjid dengan tergopoh-gopoh dan menegur si tukang bakso itu untuk menghentikan shalawatnya dengan muka masam. 

Si tukang bakso hanya diam terpaku dan saat itu juga berhenti. Tidak sampai di situ, imam masjid kemudian masuk dan lagi-lagi menegur si tukang bakso, entah apa yang dikatakannya karena mengggunakan bahasa jawa namun aku yakin dari mimiknya bahwa dia melarang untuk melantunkan shalawat dengan pengeras suara antara adzan dan iqamat.

Fenomena yang amat sangat sering terjadi di Negara kita ma. Harusnya tadi mereka yang menganggap pengurus masjid dengan baju putih bersih tidak menegur langsung si tukang bakso di depan jamaah shalat dhuhur karena dia tidak mengerti. Mungkin sebaiknya tadi setelah shalat kemudian pengurus masjid memberitahukan dengan santun bahwa di masjid ini budayanya tidak melantunkan shalawat antara adzan dan iqamat. 

Nampaknya masjid tadi itu ma, diurus oleh orang-orang Muhammadiyah. Akupun besar dalam lingkungan Muhammadiyah namun tidak seperti itu untuk menegur orang di khalayak. Itu seperti pembunuhan karakter bagi orang yang di tegur. Bahkan menurutku bahwa yang dilakukan oleh si tukang bakso bukan hal yang salah hanya saja pahaman yang beda yang membuat dia dianggap salah. Aku mengira-ngira tadi itu mereka shalat dengan memikirkan hal itu bahkan akupun yang hanya melihat itu dalam shalat masih terngiang-ngiang.

Ma, terlalu sering aku jumpai seperti itu ma. Orang yang merasa dirinya cerdas dengan sewenang-wenang menegur orang yang mereka anggap kurang cerdas bahkan di depan orang banyak sekalipun. 

Tidak kalah parahnya beberapa waktu lalu ma. Aku menonton di youtube dan berita-berita online, seorang yang mengaku dirinya uztadz dan sering main sinetron memperlakukan buruk seorang yang bertugas menyediakan soundsystem bahkan kesalahannya hanya sepele karena soundsystemnya tidak berfungsi dengan baik. Orang yang mengaku uztadz itu ma, menghardik lalu dengan pongahnya mengunci leher si tukang soundsystem dengan kakinya.

Aku semakin tidak mengerti seperti apa harus bersikap melihat fenomena-fenomena seperti itu ma. Hati yang masih dipenuhi oleh emosi dan nafsu meski berjubah dan dengan penampilan seperti orang suci namun aku tetap tidak setuju dengan mereka ma. Hati yang beriman itu harusnya damai dan berusaha untuk tidak menyakiti orang lain. 

Untuk apa berkhutbah dengan beribu ayat ketika tindakan masih tetap saja membuat orang lain merasa terganggu. Amat sangat jauh dari sikap altruisme seperti yang dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau sebaik-baik manusia dengan semua sisi yang harus dicontoh namun entah mengapa mereka yang menggap diri uztadz dan penyambung lidah Nabi tidak memperlihatkan seperti apa seharusnya bahkan malah sebaliknya.  Namun mungkin begitulah kehidupan ma, kita tinggal memilih mana yang harus dicontoh.


Tetaplah bahagia ma karena hidup hanya sekali dan hidup itu harusnya berbahagia dan menyebar kebahagiaan kepada orang lain

Jojoran 3/61
15’3’14

No comments: