May 30, 2016

Desa vs Kota

KOTA, Iwan Fals
 
Kota adalah rimba belantara buas dari yang terbuas
Setiap jengkal lorong terpecik darah
Darah dari iri darah dari benci
Bahkan darah dari sesuatu yang tak pasti

Kota adalah rimba belantara liar dari yang terliar
Setiap detik taring taring tajam menancap
Setiap menit lidah lidah liar
Rakus menjulur lapar

Tangis bayi adalah
Lolong serigala dibawah bulan
Lengking tinggi merobek
Batu batu tebing keras dan kejam

Bernapas diantara sikut
Licik dan garang
Bergerak diantara ganasnya
Selaksa gerah

Kota adalah hutan belantara akal
Kuat dan berakar
Menjurai didepan mata
Siap menjerat leher kita

Tangis bayi adalah
Lolong serigala dibawah bulan
Lengking tinggi merobek
Batu batu tebing keras dan kejam


DESA, Iwan Fals

Desa harus jadi kekuatan ekonomi 
Agar warganya tak hijrah ke kota 
Sepinya desa adalah modal utama 
Untuk bekerja dan mengembangkan diri
Walau lahan sudah menjadi milik kota 
Bukan berarti desa lemah tak berdaya
Desa adalah kekuatan sejati 
Negara harus berpihak pada para petani
Entah bagaimana caranya 
Desalah masa depan kita 
Keyakinan ini datang begitu saja 
Karena aku tak mau celaka
Desa adalah kenyataan 
Kota adalah pertumbuhan 
Desa dan kota tak terpisahkan 
Tapi desa harus diutamakan
Di lumbung kita menabung 
Datang paceklik kita tak bingung 
Masa panen masa berpesta 
Itulah harapan kita semua
Tapi tengkulak tengkulak bergentayangan 
Tapi lintah darat pun bergentayangan 
Untuk apa punya pemerintah 
Kalau hidup terus terusan susah
Di lumbung kita menabung
Datang paceklik kita tak bingung 
Masa panen masa berpesta 
Itulah harapan kita semua
Desa harus jadi kekuatan ekonomi 
Agar warganya tak hijrah ke kota
Sepinya desa adalah modal utama 
Untuk bekerja dan mengembangkan diri
Desa harus jadi kekuatan ekonomi


Tidak perlu ditanyakan lagi kapasitas seorang Iwan Fals dalam bermusik. Doski memadukan musikalitas yang mumpuni dengan Idealisme yang tidak bisa ditawar. Perjalanan musiknya adalah sebuah ritus sosial dalam menyuarakan aspirasi kaum yang termarginalkan.

Dua lagu tersebut diatas menggambarkan betapa Doski memilih untuk berpihak kepada kehidupan Desa yang sering dinomorduakan oleh Pemerintah. Kota lebih diperhatikan dan dijadikan sebagai role model.

Lagu tentang kota digambarkan dengan sangat vulgar oleh Iwan Fals. Saya sendiri mengamini setiap baitnya. kota menjadi semacam ruang sesak yang dipenuhi Manusia yang masing-masing mengejar mimpi yang utopis. Kita saling bersinggungan dan bertatap setiap hari, ruang semakin sempit yang membuat raga semakin mendekat namun tidak ada sapa diantara warga kota, tidak ada senyum apatahlagi bincang-bincang hangat, yang ada hanya sumpah serapah ketika merasa langkah Mereka tersendat oleh orang lain.

Kota benar-benar belantara rimba buas dari yang terbuas. Menjelmakan Manusia menjadi zombie yang berjalan tanpa arah, sekedar mengejar angan-angan.

Suara Iwan Fals menyanyikan lagu "kota" melengking di bait-bait terakhir. Seperti menyimpan amarah terhadap tengilnya kehidupan di kota yang hampir pasti tidak menghargai kemanusiaan. Entah apa yang sedang warga kota, pun juga Saya, cari di setiap sudut kota.

Lagu "Desa" lebih lembut mengalun, menyejukkan hati dan membesarkan hati masyarakat desa. 

Meski di lirik lagu tersebut Iwan Fals tidak menafikan bahwa kota dan desa tidak terpisahkan namun tetap saja, Doski percaya bahwa Desa harus diutamakan.

Tidak pernah berkurang sedikit pun kekagumanku terhadap Iwan Fals meskipun banyak suara-suara sumbang yang nyinyir akan sikap Doski yang memutuskan menjadi bintang iklan salah satu produk kopi sachet. 

"Ternyata banyak hal yang tak selesai hanya dengan amarah." Iwan Fals.

Rawamangun, Mei 2016 

May 29, 2016

Memilih Jalan Kesunyian

Sudah hampir separuh perjalanan umur Muhammad telah kulalui. Sudah setua ini ragaku mengarungi hidup yang tak pasti, namun belum jua ku bersua dengan kemantapan hati. masih sel.

Dulu pernah terlampai fanatik terhadap pahaman agama. bagaimana tidak, tumbuh dalam keluarga bahkan masyarakat yang homogen membuat pemikiran tidak berkembang dengan baik bahkan yang ada merasa benar sendiri. Semua yang diluar dari kebiasaan yang pernah ditemui menjadi salah. Kebenaran seakan mutlak ada pada pengalaman-pengalaman masa lalu.

Beranjak dewasa. saat mulai melebarkan sayap ke zona yang lebih luas lagi. Banyak hal yang berbeda dari kebiasaan-kebiasaan. Jika saja tidak menguatkan hati maka makian dan keinginan mengutuk akan ada tiap hari. Ah, kebenaran itu seperti apa sebenarnya.

Mulai untuk merubah sedikit paradigma. percaya bahwa kebenaran mutlak itu tidak berada di tangan manusia bahkan yang ada dalam kehidupan hanyalah tafsiran terhadap kebenaran Ilahi.

Tidak ada manusia yang berhak memonopoli kebenaran toh setiap kebenaran yang diyakini hanyalah tafsiran dari kebenaran Tuhan dan hal yang harus kita sadari adalah ada jarak antara kebenaran mutlak dengan tafsiran-tafsiran kebenaran yang kita yakini.

Jika sudah sampai pada pemahaman tersebut maka kita tidak dengan mudah menjustifikasi kebenaran yang dianut orang lain.

Saya tetap meyakini dengan sepenuh hati setiap kebenaran yang kupahami sampai saat ini namun kebenaran yang kuanut tidak lantas mereduksi kebenaran orang lain dalam artian tidak bolah dibenturkan satu sama lain. Seyakin bagaimanapun tetaplah yang kita anut hanya tafsiran.

Jangankan Al-Qur’an ataupun kitab yang lain, bahkan karya manusia pun selalu ditafsirkan oleh orang yang membacanya. Pemikiran Karl Marx misalnya. Tak terhitung begitu banyak orang yang mengkaji dan menafsirkan pemikiran Beliau bahkan terkadang tafsiran satu dan lainnya bertentangan. Sedangkan sumbernya sama. Itulah mengapa Saya percaya bahwa ketika menafsirkan sesuatu, kita tidak semestinya memproklamirkan tafisran kita sebagai kebenaran mutlak, toh setiap orang bisa menafsirkan dari sudut yang berbeda.

Yang keliru ketika para penafsir merasa paling benar kemudian berkelahi dengan mempertahankan kebenaran tafsiran Mereka. Loh kok lucu eram ya.

Pada akhirnya, kita seharusnya mengedepankan toleransi antar sesama Manusia. Tidak perlu berusaha memonopoli kebenaran karena tidak ada kebenaran mutlak dalam tafsiran Manusia. sekali lagi ada ruang dan waktu yang membatasi tafsiran dengan apa yang ditafsirkan. ada jarak kebenaran yang kita yakini dengan kebenaran mutlak itu sendiri.

Ah, hidup kita memang hanya penuh tafsiran-tafsiran.kata om Pram “Hidup Sungguh sangat sederhana, yang hebat hanyalah tafsirannya.”

Mampang prapatan Mei 2016

May 27, 2016

Tentang Pindah Kerja

Iseng corat-coret mengenai pindah kerja dan alasan-alasan yang mendasari pindah kerja. Tergerak menulis tentang pindah kerja setelah membaca artikel di kompas. Sebenarnya bukan hal baru pun tidaklah sama sekali tabu membicakan tentang alasan pindah kerja karena hal lumrah bagi barisan para karyawan untuk memilih tempat kerja sesuai dengan kemauannya.

Di artikel tersebut dijelaskan bahwa  di Indonesia adalah 20,35% voluntary attrition rate (pindah kerja secara sukarela). Alasannya pun beraneka ragam, gaji menjadi alasan utama seorang karyawan pindah kerja kemudian jarak rumah dan kantor.

Secara umum sih artikel tersebut sudah secara komprehensif mengulas perihal pindah kerja. Meski terkesan sangat formatif dan berfokus pada pengembangan diri.

Saya sendiri punya pengalaman 2 kali pindah kerja dengan alasan yang berbeda. Pertama kali pindah kerja dari sebuah LSM internasional ke perusahaan swasta nasional. Alasan saya pindah kerja saat itu karena tidak sesuai dengan harapan pada saat mendaftar. 

Hal yang tergambar di kepalaku ketika mendaftar di LSM tersebut adalah kerja-kerja mengenai advokasi lingkungan dan kampanye penyelamatan bumi namun ternyata di luar dugaan, apa yang saya bayangkan sebelum bekerja jauh panggang dari api. Bagaimana tidak, tugas saya di LSM tersebut tidak lebih dari sales kartu kredit ataupun sales lain mencari donor keuangan LSM dengan cara membuka stand di tempat-tempat umum dan mengajak khalayak menjadi penyumbang dana dengan modus bahwa uang tersebut akan dipergunakan sebagai logistik dalam penyelamatan lingkungan.

Tidak salah memang dan saya sama sekali tidak malu menjadi seorang sales karena toh pada beberapa edisi pekerjaan berikutnya, Saya melakoni kerja-kerja sales namun saya hanya tidak puas pada LSM tersebut karena pada awal mendaftar, kita sama sekali tidak dijelaskan mengenai job description.

Pindahlah saya ke perusahaan penerbit sebagai Sales. Saya sudah tahu sebelumnya bagian kerja sebagai sales sehingga tidak ada masalah untuk pembagian kerja di perusahaan ini. Seiring berjalannya waktu, proses dalam menjual produklah yang membuat saya akhirnya kembali mempertimbangkan untuk pindah kerja. Bagaimana tidak, dalam mengerjakan pekerjaan sebagai sales, saya harus mengeluarkan dana entertain ke klien dan menurut pemikiran saya, hal tersebut termasuk dalam bentuk gratifikasi apatahlagi klien perusahaan adalah institusi pemerintah.

Alasan tersebut di atas yang memperkuat alasan saya memikirkan untuk pindah kerja lagi dan itu menjadi kenyataan di awal 2014.

Saya kemudian kembali terjerembab di perusahaan finance. Dalam daftar list perusahaan yang saya minati, perusahaan Finance termasuk di nomor buncit namun apa daya, saya ditakdirkan bekerja di sini.

Ada hal yang masih mengganjal di benak saya bekerja di perusahaaan ini. Meskipun dalam hal kerja dan gaji sama sekali tidak masalah namun unsur riba masih menggelayut di kepalaku. Entahlah, semoga Tuhan menguatkan niatku dan mempertemukan dengan pekerjaan yang tidak mengganggu pikiranku.

Di saat menulis artikel ini, saya mendapati pengumuman bahwa saya lulus tes administrasi di sebuah instansi meski statusnya kontrak. hari senin 30 Mei 2016 saya diundang menghadiri tes selanjutnya namun sampai sekarang, saya masih bimbang harus ikut atau tidak, entahlahh.

Semoga saja Semesta menunjukkan yang terbaik

Rawamangun, 27 05 16

Sebuah Kecintaan dengan Sebab yang Unik

09 Maret 108 tahun yang lalu.

Sebuah klub yang memisahkan dari dari biangnya karena perbedaan prinsip. Klub ini menolak peraturan klub yang terlalu rasis. Menolak pemain yang bukan berasal dari Italia dan Inggris maupun Swiss. Sebuah sikap yang akhirnya melahirkan sebuah klub besar. Klub yang pada akhirnya akan menjadi klub terkeren di kancah persepakbolaan dunia.

Aku mengenal klub ini sejak SD. Kira-kira saat aku duduk di bangku kelas 5. Alasan kecintaanku terhadap klub ini mungkin terlalu unik dari fans yang lain. Iya, aku memilih menjadi barisan pendukung klub karena rasa kasihan terhadap sang presiden klub saat itu.

Loh kok kenapa bisa..??? 

Saudaraku berlangganan majalah bola. Aku sangat menyenangi membaca berita tentang sepakbola saat itu sebelum hadirnya berita online. Pada beberapa edisi, aku membaca berita tentang klub ini yang digawangi oleh seorang presiden keren, Massimo Moratti. Dari figur sang presiden pula yang membuatku menjatuhkan pilihan sebagai salah satu fans klub ini.

Ya, berawal dari rasa iba kepada seorang presiden yang sudah menggelontorkan dana begitu banyak untuk mendatangkan pemain top pada masanya namun prestasi tak kunjung datang menghampiri bahkan titel scudetto sepertinya masih enggan mampir di markas klub ini yang terakhir direngkuh pada musim 1989, menyedihkan memang.

Mulailah aku belajar mencintai klub ini. Mengikuti setiap beritanya, mengenali semua pemainnya. Aku tanpa memandang siapapun pemain yang masuk ataupun keluar dari klub ini, prinsipku adalah semua pemain yang menjadi bagian dari klub ini adalah idolaku dan semua pemain yang memutuskan pindah klub kucoret dari daftar pemain idola, etapi ada beberapa pengecualian ding, misalnya Alvaro Recoba dan tentunya The Phenomenon, Ronaldo Luís Nazário de Lima.



Klub ini mampu membuat moodku tak karuan selama seminggu ketika menderita kekalahan. Tetapi biasanya hal itu lumrah bagi mereka pencinta klub.

Perjalanan panjang menjadi fans klub ini tidak semuda menjadi fans Real Madrid ataupun Barcelona yang selalu bergantian menjuarai Liga Spanyol, barisan fans mereka tidak harus menua dalam menunggu gelar juara, toh pada akhirnya kedua klub tersebut selalu silih berganti menjadi capolista. Namun untuk ukuran fans klub ini yang memulai  bergabung di akhir 1990an, benar-benar membutuhkan mental yang berlapis-lapis menunggu gelar meskipun tidak seironi gerembolan Liverpudlian yang sampai sekarang masih setia menanti. he.he

Bayangkan saja, sejak musim 1988/1989, butuh waktu sekitar 16 tahun untuk menunggu klub ini melepas dahaga gelar Serie A sebelum akhirnya memeluk mimpi menjadi juara di musim 2005/2006.  meski banyak perdebatan pada saat itu, Juventus yang menjadi juara namun klub tersebut terlibat calciopoli sehingga gelar dinisbahkan ke klub ini. 

Fans klub dari kota Turin meradang dengan hal tersebut dan menuduh sang Presiden kecintaan saya, Massimo Moratti, terlibat dalam mendalangi cerita Calciopoli namun saya sendiri puas dengan kejadian tersebut karena itu artinya, sepakbola bukan hanya melulu sebuah kemenangan yang berujud gelar namun sepakbola juga harus melibatkan unsur-unsur fair play seperti yang setiap kali dikumandangkan sesaat sebelum pertandingan dimulai. Itulah kenapa saya tidak bersepakat dengan pemain yang selalu melakukan diving hanya demi kemenangan semata. Pemain Sepakbola modern sudah selayaknya mencontoh salah satu klub paling fair sampai saat ini, Javier Zanetti, yang terkenal dengan sikapnya yang jujur di Lapangan.


Saya bukanlah fans yang membenci klub kompetitor bahkan berusaha untuk tidak memaki meskipun klub tersebut mengalahkan klub ini dalam pertandingan penting sekalipun namun sejujurnya pernyataanku ini tidak berlaku untuk 2 klub ini, Juventus dan Manchester United. dua klub yang menurutku sangat tidak keren.

Untuk klub yang berasal dari kota turin dengan jersey yang persis dengan marka jalan ataupun kantor plastik hitam putih, Saya tidak menyukai perilaku petingginya sejak sebelum terbongkarnya Mereka sebagai klub yang suka menghalalkan segala cara untuk meraih gelar. di awal 2000an, ketika klub ini, Juven***s melakoni suatu pertandingan dan di menit-menit injury time sementara skor masih kaca mata, sudah dipastikan bahwa akan ada rekayasa dari wasit untuk menghadiahi penalti kemudian akhirnya Mereka memenangi laga, itu tidak terjadi sekali dua kali namun seringkali. klub yang tidak keren ini pun selalu menjadi pecundang di Liga Champions, tajinya hanya tajam di Seria A namun tumpul di Liga Champion. Keikutsertaan Mereka hanya seperti cheers, barisan hore-hore di sebuah pertandingan lalu kemudian menjadi pesakitan.
 
Kemudian klub Setan Merah, si MUnyuk. entahlah kenapa sampai saat ini, klub tersebut tidak bisa kuhapus dari daftar hitam klub yang tidak keren. mungkin salah satu sebabnya adalah barisan para fansnya yang terlalu songong menyaksikan klub tersebut selama diasuh oleh Sir Alex Ferguson. Mereka besar kepala dengan kemenangan-kemenangan yang seakan selalu menyertai Mereka dalam setiap pertandingan. eitsss, tunggu dulu, itu hanya terjadi di kurun waktu 2010an kebelakang, toh saat ini, klub MUnyuk sudah menjadi klub medioker di Premiere League. Tidak lebih baik dari kompetitor abadi Mereka yang berasal dari kota Pelabuhan, Liverpool. Kedua klub tersebut sekarang selalu bersaing di urutan ke-10. Klub Liverpool mungkin sedikit lebih baik karena kota tersebut tempat lahirnya sebuah Band keren, The Beatles.

Ah, tidak pernah ada kekecewaan untuk mencintai klub ini. salah satu kesyukuran dalam kehidupan ini adalah ditakdirkan menjadi fans klub yang keren ini. hal-hal yang Saya tuliskan diatas hanyalah sedikit dari alasan kenapa Saya menjadi fans sejati dari klub ini. Jika dituliskan lebih banyak lagi mengenai idealisme klub ini, mungkin akan semakin panjang dan menambah alasanku kenapa menjadi fans klub ini.

Banyak yang nyinyir, khususnya Para pendukung Timnas Italia karena klub keren ini sedikit sekali menggunakan jasa Pemain asli Italia namun Mereka lupa awal berdirinya klub ini yang menolak dominasi pemain dari Italia, Inggris dan Swiss. toh juga sudah relevan dengan nama klub ini, FC Internationale.

Klub ini juga mendukung gerakan  adat di Mexico, Kelompok Zapatista. Ah, sudah ah. tidak akan ada endingnya membicarakan kekerenan klub ini. 


Selamat ulang tahun klub keren. FC Internationale Milano, klub yang tersayang, La Beneamata.

09 Maret 2016
Tulisan ini sudah dalam bentuk draft 2 bulan lalu namun kemalasan yang tidak bisa kulawan sehingga baru selesai hari ini dan diposting setelah ulang tahun klub ini yang sudah berlalu 2 bulan lebih lamanya.

May 17, 2016

Senja yang Syahdu

Apa yang melebihi sebuah kebahagiaan di saat senja menjelang sehabis hujan sambil mendengarkan lagu Payung Teduh dan pekerjaan kantor sudah kelar semua. ah, syahdu nian suasananya dengan semilirnya angin dingin dari celah AC di sudut ruangan.

Mengalun irama alam yang menghadirkan semua kenangan. lirik lagu "untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan" masih mengalun indah melalui headsets yang terpasang di kupingku.

Ingin kuhentikan waktu seperti ini, sekian detik, menit atau pun sekian bulan bahkan bertahun-tahun. larut menyelami diri yang masygul dengan suasana.

Langit masih menahan air matanya dan semesta yang tetiba menjadi romantis dengan tiadanya mentari yang bersinar. laku para Manusia diam menyelami diri masing-masing. pemuja senja sepertiku merindukan berkali-kali lipat titik air melipat diri kemudian datang membasahi persada.

Kali ini Aku harus jujur. Aku penat dengan setiap mimpi yang berada di pelukan. mimpi menerjang belantara kota ini yang pada saatnya nanti berakhir di kesunyian masing-masing. mimpi menaklukkan kota ini layaknya ingin menikmati telaga di tengah gurun Sahara.

Namun Aku tidak sendirian. sudah menjadi candu khalayak di negeri ini tentang mimpi itu. memiliki rumah, kendaraan dan keluarga yang akan dibanggakan pada setiap edisi mudik lebaran di kampung halaman.

Watak Para kaum urban perantau yang mencoba kaya, seolah-olah, Mereka mempercayai tahayyul bahwa kaya di kota ini adalah kebahagiaan tiada tara. aduh, picik benar yah.

Oh, diriku, kenapa ngelantur dalam curhatan yang tidak jelas. Aku hanya ingin menggariskan perasaan Syahdu akan rindu senja yang basah di awal paragrap, itu saja. Aku tidak mau diganggu oleh kekhawatiran khas warga Ibu kota

Rawamangun, 17 95 16
Senja yang basah

May 12, 2016

Mudik Terlalu Dini

Rabu 4 Mei 2016
18:30 WIB
Sepulang kerja kemudian bergegas ke terminal Rawamangun. Berangkat ke bandara via damri. menunggu sekitar 20 menit diatas Damri sebelum berangkat. melewati ruas jalan balai pustaka ke arah Rawasari masuk ke Tol. Terjebak macet di Tol sekitar sejam. Kendaraan memadati tol yang hendak keluar dari Jakarta untuk berlibur.

20:10 WIB
Akhirnya sampai di bandara setelah melewati perjalanan tol yang memacu jantung was-was ketinggalan Pesawat. Menyempatkan diri menunaikan 4 rakaat yang di qashar menjadi 2 rakaat di lantai atas. kemudian chek in dan ternyata penumpang pesawat tidak terlalu ramai yang antri chek.

Menuju ruang tunggu. Duduk termangu memperhatikan setiap wajah berseri mereka yang juga hendak pulang kampung. Meski demikian, pikiranku sudah terlempar jauh ke kampung halaman bercengkerama dengan handai tauladan.

21:30 WIB
Pengumuman boarding sudah bergegas. Kami, para penumpang mulai antri memasuki pesawat. Saya mendapat seat di 11B. Pesawat lepas landas dan suasana menjadi hening. Saya memilih untuk tidur memberi hak pada raga setelah seharian penat dengan segala aktivitas. Sebenarnya sih saya sudah menyiapkan buku sebagai teman dalam pesawat namun mengingat raga sudah tidak memungkinkan.

Kamis 5 Mei 2016
01:10 WITA
Pesawat landing di Bandara Hasanuddin. Saudaraku sudah menunggu di pintu keluar. Kami berboncengan ke kosnya di bilangan Jl. St Alauddin. Lumayan was-was juga melewati jalan protokol di Makassar karena berita tentang begal yang sudah menjamur di kota ini. Teringat 10 lalu ketika masih stay di Makassar, tidak ada rasa khawatir ketika keluar malam.

06:00 WITA
Saya baru bangun, menghirup udara Makassar. Ada aroma khas yang sudah lama tidak kurasakan. Makassar sudah menjadi kota kedua setelah kampungku sendiri.
 
Kota ini semakin menggeliat, pembangunan ada di setiap sudut kota bahkan banyak sekali gedung-gedung yang bermunculan. Saya hampir saja asing dengan kota ini. namun ada satu hal yang membuatku harus mengutuk kota ini, prilaku warganya dalam membuang sampah masih saja seperti dulu. Saya melihat sampah berserakan disepanjang lorong menuju kos Saudaraku.
Saya menghabiskan seharian di Makassar mengunjungi semua serpihan kenangan. Bertemu kawan kuliah di sebuah kedai di Mannuruki. Mengunjungi kawan yang sehari lagi menikah, kemudian menyambangi kawan yang di Jl. Sukaria 13.

Sehabis Ashar, saya bergerak menuju Masjid Al-Markaz. Banyak kenangan yang tercecer 10 tahun lalu di tempat ini. Saya memulai petualanganku di kota ini berawal dari Masjid Al-Markaz. Meski sedikit kecewa karena ternyata kelompok diskusi sore itu tidak dihelat. ada kegiatan di Malino.

Saya berbalik arah ke kos Saudaraku, mempersiapkan segalanya untuk mudik ke kampung. 

18:10 WITA
Saya dan Adikku bergerak ke terminal Daya. Kami mampir di sebuah warung "Sari Laut." di Jawa dikenal dengan warung pecel lele. Selesai menuntaskan hajat masalah perut, kami melanjutkan perjalanan dan mobil yang akan saya tumpangi ke kampung sudah menunggu.

21:00 WITA
Mobil Kijang LGX mulai meninggalkan terminal Daya. Saya duduk di jok paling belakang. Aroma mudik saat kuliah kembali menyeruak ke dalam pori-pori tubuhku merasakan bau mobil angkutan ke kampung yang khas.
Mobil mampir di toko roti di Maros. Saya membeli Jalangkote (di jawa Pastel) Rp. 30,000 @3,000 dan dan roti donat. toko itu sudah sejak lama menjadi langganan orang-orang di kampungku ketika pulang kampung.
Mobil melaju dengan tenang melewati jalanan yang dulu sangat kuakrabi. saya terlelap dalam buaian mimpi. Baru sadar ketika ada penumpang yang naik di daerah Sidrap. Saya sudah tidak bisa melanjutkan tidur karena kami berempat duduk di jok belakang. 
Sesampai di daerah Baba, Enrekang, ada pohon tumbang tepat di tengah jalan. Kami menunggu sekitar setengah jam baru kemudian melanjutkan perjalanan.

Juma'at  6 Mei 2016
04:30 WITA
Saya tiba di rumah, turun dari mobil dan kembali menjemput kenangan di rumah. Selalu ada rasa tenang sesaat memasuki rumah. Semua beban pikiran seakan menguap begitu melihat pintu rumah apatahlagi ketika sudah memandang orang tua.
Sehari berada di Kampung. Saya hanya di rumah bermalas-masalan. Menikmati rumah yang sudah sejak lama kutinggalkan. Merantau memang seringkali menyelipkan rasa rindu yang tiada tara terhadap rumah masa kecil.


Sabtu, 7 Mei 2016
Hari kedua di Kampung, saya ikut mengantar salah seorang teman yang sedang melangsungkan pernikahannya. Kami ikut rombongan ke desa Gura. Lumayan menikmati alam yang masih asri. Pemandangan gunung yang mustahil Saya jumpai di Jakarta

Minggu, 8 Mei 2016
Saya ke kebun melewati lereng bukit. Kebun yang berada di lereng bukit Burontong adalah kehidupan masa kecilku bahkan masih jelas dalam ingatanku saat duduk di bangku kelas 2 SMA. Kami disuruh membuat puisi tentang alam dan akhirnya, gunung Burontong yang menjadi bahasan puisiku.
Saya menjolok buah kelapa dan meminumnya di kebun. ah, ada rasa nyaman yang kembali menyeruak ke dalam sanubari menikmati suasana seperti dulu

Senin, 9 Mei 2016
09:00 WITA
Saya harus kembali bersiap kembali ke ibu kota. Menumpang mobil travel yang berangkat dari pasar Baraka menuju Makassar. 

15:00 WITA
Tiba di Makassar dengan selamat. Saya memilih turun di depan Indomaret yang berada di samping jalan masuk ke Bandara.

16:30 WITA
Chek in kemudian bergegas ke ruang tunggu di gate 2. Pesawat masih sejam lagi berangkat. namun ternyata delay 30 menit.

18:02 WITA
Pesawat berangkat menuju bandara Soekarno Hatta. Saya duduk di seat 6B. Menikmati malam di atas udara melayang-layang dan menyandarkan nasib di ketinggian beribu kaki.

19:05 WIB
Tiba di bandara Soekarno Hatta Cengkareng dengan selamat. Saya memilih naik damri arah blok M dengan pertimbangan naik taxi mahalnya 2x lipat. Turun di Semanggi kemudian mesan transportasi online ke Mampang Prapatan 13.

21:90 WIB
kembali ke Ibu kota.

Perjalanan panjang mudik yang terlalu dini namun setidaknya sedikit menyirami raga yang haus akan nostalgia masa kecil.

Rawamangun, 12 05 16

May 10, 2016

Panik

Saya selalu berpikir bahwa detik ataupun menit yang dilalui hanyalah sebuah ujian kesabaran. Saya pun percaya bahwa apa yang kita kehendaki akan tercapai meski pada inti persoalannya, bukan sampainya kita di tujuan namun bagaimana proses menuju tujuan yang lebih penting.

mudik kemarin seperti berlomba dengan kepanikan. bagaimana tidak, sejak berangkat ke bandara dari kantor sehabis Maghrib, Saya sudah was-was mengingat sepanjang tol, Damri yang Saya tumpangi terjebak dalam macet sedangkan pesawat 1,5 jam lagi take off.

Setiap berada dalam kepanikan saat memburu waktu, Saya punya kebiasaan untuk meredakan kepanikanku. Saya akan menyimpan Hp ke dalam saku dan tidak akan melihat jam kemudian berdoa dan berusaha nothing to loose jikalau memang hal paling buruk terjadi yaitu waktu tidak terkejar.

Saya baru berani melirik jam di HP ketika akan memasuki bandara. Saya menarik nafas panjang ketika jam baru menunjukkan pukul 20:14. ah satu kepanikan terlewati tanpa mengumpat keadaan.

oke kepanikan pertama bolehlah Saya anggap terlewati dengan sukses

Kepanikan kedua ketika hendak pulang. pesawat akan take off pukul 17:30. Saya berangkat dari kampung pukul 09:00. sejatinya perjalanan dari kampung memakan waktu sekitar 6 jam dan itu artinya Saya masih bisa memenangkan perlombaan dengan waktu namun berhubung hari tersebut adalah hari pasar di Kampung. Sang Sopir mewanti-wanti Saya ada kemungkinan berangkat sekitar pukul 11:00.

Kekhawatiran si Sopir tidak terbukti. Kami berangkat pukul 09:00 ke Makassar karena mobil tersebut sudah penuh penumpang berarti kekhawatiran pertama terlewati. benar saja, mobil yang Saya tumpangi tiba di Makassar pukul 15:00. Saya punya waktu 2 jam sebelum chek in.

Masalah lain muncul karena Saya masih harus menunggu saudaraku dari Jl. Pettarani. Ibu ada titipan untuknya.

Hujan mulai mengguyur daerah Bandara. Saudara Saya belum jua menampakkan batang hidungnya. Dia masih harus meliput di kantor DPRD. Saya sudah mulai panik karena hujan turun amat deras dan jarum jam menunjukkan pukul 16:10.

Hatiku mulai tidak tenang dan sedikit mengumpat. hujan tidak jua berhenti dan saudaraku ternyata terjebak macet di daerah Daya. Saya memakinya kenapa tidak dari tadi berangkat meski di satu sisi Dia sedari awal sudah memberitahuku bahwa Dia bakalan terlambat karena ada liputan.

Alhasil titipan dari Ibuku kutitip di pos Polisi dan Saya naik ojek masuk ke dalam bandara. 

Saya merasa gagal melewati kepanikan terakhir. Saya mendongkol dalam hati bahkan hampir mengutuk kondisi padahal Saya sudah berjanji untuk tidak pernah menyalahkan kondisi apatahlagi pada saa itu, Pesawat delay 30 menit, bertambah kacau lah moodku hari itu.

Rawamangun, 100516

Reuni Tiga Orang

Reuni dengan dua orang kawan. ha,ha terlalu minimalis untuk disebut sebagai sebuah reuni.

Long Weekend kemarin menjadi sebuah momen untuk melarikan diri dari tengilnya Ibu kota. sudah menjadi budaya kaum urban di Ibu kota ketika ada momen Long Weekend maka akan dipergunakan dengan sebaik mungkin untuk mencari seteguk hiburan demi memadamkan jiwa-jiwa Mereka yang kekeringan dihantam semrawutnya kota ini, termasuk pula Saya.

Ada yang memilih melancong ke tempat wisata, ada pula yang memutuskan untuk pulang kampung bersenda gurau dengan handai tauladan. Saya sendiri memilih untuk pulang kampung menyusuri setiap kenangan yang tertinggal.

Tak mengherankan rabu sore kemarin, jalanan keluar kota Jakarta, menuju bandara ataupun tol ke arah Jawa padat merayap. Saya bahkan terjebak macet di tol menuju bandara.

Singkat cerita, kisah sepanjang perjalanan pulang akan Saya ceritakan ditulisan lain, Saya akhirnya tiba di Makassar kamis dinihari dan menginap di kos saudaraku. 

Meski hanya tidur sekitar 3 jam namun Saya tetap segar menatap Makassar yang sudah lama kutinggalkan apatahlagi hari itu, Saya dan seorang kawan sudah berjanji bertemu menuntaskan kisah kami setelah sekian tahun tidak pernah bertemu.

Dia menjemputku di Jl. St. Alaudin kemudian menuju bilang Mannuruki. Kami memilih sebuah kedai yang sialnya Saya lupa namanya. he.he. usaha kedai tersebut untuk bersahabat alam lumayan bisa diapresiasi. Mereka tidak menyediakan tissu sebagai lap eh, namun entahlah alasan mereka tidak menyediakan tissu karena ingin berhemat pengeluaran ataukah benar-benar karena alam???

Kami bertiga duduk di pojok kedai dengan sofa yang empuk. bercerita banyak tentang hal-hal yang terlewati. Saya selalu berpikir bahwa ketika bertemu dengan kawan lama, hal yang dibicarakan kemudian ditertawakan tidak jauh-jauh dari kebersamaan masa lalu yang konyol. 

5 tahun berpisah setelah selesai kuliah ternyata sudah banyak yang berubah khususnya kawan Saya tersebut. Dia sudah menyelesaikan S2nya bahkan mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta di Makassar. Dia pun banyak terlibat di beberapa Lembaga sosial. Saya sendiri, ah sudahlah. masih seperti ini tunggang langgang tak tentu arah. mengurusi remeh temeh dan belum bertemu titik yang benar-benar menjadi tujuan hidup. huuu tapi ya tidak apa-apa, toh setiap manusia sudah memutuskan menjejak langkah masing-masing. Saya pun punya satu alasan di setapak yang sedang kutempuh.

dulu, kami sering menghabiskan waktu bersama. meski kemudian pada akhirnya memilih jalan berbeda. ah, pertemuan kembali seperti menyegarkan ingatan-ingatan yang mulai berdebu.

Pulogadung, 10 05 16