Seringkali ketika aku membaca ulang beberapa tulisanku, aku menarik
kesimpulan bahwa passionku untuk menulis tentang diskursus ekonomi politik
sudah amat sangat menurun drastis sedangkan semasa kuliah dulu, semua hal
kuanggap sia-sia ketika tidak bersentuhan dengan wacana ekonomi politik karena
aku percaya (dulu) bahwa hal tersebut adalah hal pokok dalam hidup manusia maka
ketika menganalisa masalah maka jangan pernah melupakan proses ekonomi
politiknya terjadi meski itu sampai pada masalah pernikahan, bahkan begitu
banyak kasus pernikahan gagal gara-gara masalah ekonomi atapun pernikahan yang
terjadi karena kepentingan politis seperti perjodohan anak yang dilakukan
pejabat. Namun sekarang ini, passion kearah wacana tersebut sudah tergerus
habis bahkan Aku malah lebih menyenangi menulis hal-hal terkecil yang ada di
sekitarku atapun berbagai pelajaran kecil yang terkadang kutujukan untuk diriku
sendiri.
aku adalah alumni mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik UNHAS yang
notabene saat mahasiswa sangat menggandrungi masalah tentang Negara dengan
wacana ekopolnya bahkan bukan saja tentang masalah Indonesia namun juga tentang
sistem yang lebih besar yaitu masalah tentang dunia internasional. Semua hal
yang menyangkut tentang kasus di seluruh dunia akan kukejar beritanya dan berusaha
untuk menganalisa kenapa hal tersebut terjadi dan yang menjadi korban bully ku adalah
USA dan Negara-negara di Uni Eropa. Menurutku saat itu adalah Negara-negara
tersebut adalah pemegang perekonomian masyarakat dunia yang mereka jalankan
dengan amat sangat licik. Mereka mendirikan korporasi-korporasi raksasa yang
kemudian cabang-cabangnya ada di seluruh dunia kemudian keuntungan terbesarnya
mengalir ke kantong mereka terlebih lagi tanpa disadari bahwa mereka memeras
rakyat di mayoritas Negara afrika, asia dan amerika selatan untuk dijadikan
budak-budak perusahaan dimana keringat yang dikeluarkan sama sekali tidak
sebanding dengan gaji yang mereka peroleh.
Dari analisa awal seperti itu, membuatku semakin sangat berhasrat untuk
mempelajari dan mengagungkan sistem anti tesa dari sistem kapitalisme yang
dianut oleh Negara penjajah. Mulailah aku baca beberapa buku-buku tentang sosialisme.
Mengenal istilah komunisme ataupun marxisme yang menyanjung kesetaraan bahkan
tokoh-tokohnya sangat kuidolakan saat itu yaitu karl Marx. Aku ikut beberapa
aksi yang menolak tentang kapitalisme dan semua hal yang berbau tentang itu dan
yang paling aku ingat, aku sama sekali tidak mau menginjakkan kakiku di
beberapa tempat yang kuanggap sebagai tempat para kapitalisme menyebarkan
virus-virusnya seperti mall. Aku pun memboikot dengan tidak menggunakan
produk-produk yang kuanggap sebagai produk kapitalisme misalnya produk unilever
ataupun produksi cola dan makanan cepat saji seperti KFC atau juga dunkin
donats, meski terkadang mau membeli tetapi tidak cukup duit..hehe
Kegandrunganku tentang hal-hal seperti itu berlanjut saat menyusun
skripsi. Aku memilih judul gerakan Maoisme sebagai judul skripsiku. Meski berulang
kali ditolak oleh pembimbingku yang memang terkenal kaku saat itu namun aku
tidak pernah kehilangan akal. saat kembali mengajukan judul skripsi, aku hanya
memodifikasi judul yang sebelumnya dan tidak pernah mengajukan judul lain. Mungkin
karena sudah terlalu sering aku ajukan maka takluk juga pembimbingku dan akhirnya
di acc judulku “pengaruh gerakan Maois terhadap stabilitas Nepal”.
Perlu diketahui sedikit bahwa Maoisme itu adalah sempalan dari pahaman
marxisme-leninisme yang dikembang oleh mantan presiden china, Mao Zhedong.
hanya saja bahwa Maois menjadikan petani sebagai kaum proletar yang punya
potensi melakukan revolusi sedangkan marxisme murni melihat buruh sebagai
pelaku revolusi.(http://id.wikipedia.org/wiki/Maoisme)
Setelah menyelesaikan S1 di UNHAS, aku bahkan sangat selektif mendaftar
di beberapa perusahaan dan kupilih perusahaan yang tidak terlalu kapitalistik
meski terkadang kusadari mana ada perusahaan yang menjalankan sistem kesetaraan.
Dimana-mana perusahaan akan selalu mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa
memperhatikan aspek apapun selain keuntungan. Selalu saja ada beban moral yang
terbersit di hatiku ketika akan memilih perusahaan yang sudah terkenal amat
sangat tidak peduli dengan keseimbangan lingkungan ataupun perusahaan yang
punya catatan hitam tentang kesejahteraan pekerjanya.
Sekarang, aku berusaha berdamai dengan semesta. Berusaha menenangkan
sejenak pikiran dari carut-marut semua hal yang di alam pikiranku. Berdamai
disini bukan berarti aku mengamini kapitalisme dan cara kerjanya. Aku tetap
pada pendirianku bahwa hal itu keliru. Berdamai disini adalah mencoba untuk
merenungi diri karena tidak mungkin aku meruntuhkan system raksasa nan kokoh
ketika aku belum bisa meruntuhkan diri sendiri. Ada banyak orang yang tidak
menyetujui pernyataanku bahwa semua dimulai dari diri karena mereka menganggap
bahwa yang bejat adalah para koruptor ataupun pejabat-pejabat tengik sehingga
ketika mereka baik masyarakat akan menjadi sejahtera. Aku juga tidak sepakat
dengan mereka para koruptor namun perlu diketahui juga bahwa ketika kita
mengkritik mereka, bukan kebencian yang mendalam yang memotivasi diri kita
untuk mengkritik namun harus diniatkan untuk memperbaiki karena aku yakin
ketika kita mengkritik dengan kebencian yang berapi-api maka kebaikan tidak
akan tercipta karena kebaikan itu sendiri sejatinya semua adalah harus baik
mulai dari niat yang baik ataupun cara yang baik pula. Tidak menutup
kemungkinan pula bahwa ketika kita menyumpahi mereka dengan berbagai cara yang
dilandasi kebencian, aku khawatir ketika mendapat kesempatan menjadi mereka,
kita malah lebih parah bejatnya dari mereka karena sejarah telah membuktikan
hal tersebut.
Ah, akhirnya bisa juga menulis dengan sedikit serius. Setelah sekian lama
sudah tidak menulis seperti ini.hehe
Jojoran 3/61
1.3.14
No comments:
Post a Comment