March 2, 2014

wacana ekonomi politik


Seringkali ketika aku membaca ulang beberapa tulisanku, aku menarik kesimpulan bahwa passionku untuk menulis tentang diskursus ekonomi politik sudah amat sangat menurun drastis sedangkan semasa kuliah dulu, semua hal kuanggap sia-sia ketika tidak bersentuhan dengan wacana ekonomi politik karena aku percaya (dulu) bahwa hal tersebut adalah hal pokok dalam hidup manusia maka ketika menganalisa masalah maka jangan pernah melupakan proses ekonomi politiknya terjadi meski itu sampai pada masalah pernikahan, bahkan begitu banyak kasus pernikahan gagal gara-gara masalah ekonomi atapun pernikahan yang terjadi karena kepentingan politis seperti perjodohan anak yang dilakukan pejabat. Namun sekarang ini, passion kearah wacana tersebut sudah tergerus habis bahkan Aku malah lebih menyenangi menulis hal-hal terkecil yang ada di sekitarku atapun berbagai pelajaran kecil yang terkadang kutujukan untuk diriku sendiri.

aku adalah alumni mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik UNHAS yang notabene saat mahasiswa sangat menggandrungi masalah tentang Negara dengan wacana ekopolnya bahkan bukan saja tentang masalah Indonesia namun juga tentang sistem yang lebih besar yaitu masalah tentang dunia internasional. Semua hal yang menyangkut tentang kasus di seluruh dunia akan kukejar beritanya dan berusaha untuk menganalisa kenapa hal tersebut terjadi dan yang menjadi korban bully ku adalah USA dan Negara-negara di Uni Eropa. Menurutku saat itu adalah Negara-negara tersebut adalah pemegang perekonomian masyarakat dunia yang mereka jalankan dengan amat sangat licik. Mereka mendirikan korporasi-korporasi raksasa yang kemudian cabang-cabangnya ada di seluruh dunia kemudian keuntungan terbesarnya mengalir ke kantong mereka terlebih lagi tanpa disadari bahwa mereka memeras rakyat di mayoritas Negara afrika, asia dan amerika selatan untuk dijadikan budak-budak perusahaan dimana keringat yang dikeluarkan sama sekali tidak sebanding dengan gaji yang mereka peroleh.

Dari analisa awal seperti itu, membuatku semakin sangat berhasrat untuk mempelajari dan mengagungkan sistem anti tesa dari sistem kapitalisme yang dianut oleh Negara penjajah. Mulailah aku baca beberapa buku-buku tentang sosialisme. Mengenal istilah komunisme ataupun marxisme yang menyanjung kesetaraan bahkan tokoh-tokohnya sangat kuidolakan saat itu yaitu karl Marx. Aku ikut beberapa aksi yang menolak tentang kapitalisme dan semua hal yang berbau tentang itu dan yang paling aku ingat, aku sama sekali tidak mau menginjakkan kakiku di beberapa tempat yang kuanggap sebagai tempat para kapitalisme menyebarkan virus-virusnya seperti mall. Aku pun memboikot dengan tidak menggunakan produk-produk yang kuanggap sebagai produk kapitalisme misalnya produk unilever ataupun produksi cola dan makanan cepat saji seperti KFC atau juga dunkin donats, meski terkadang mau membeli tetapi tidak cukup duit..hehe

Kegandrunganku tentang hal-hal seperti itu berlanjut saat menyusun skripsi. Aku memilih judul gerakan Maoisme sebagai judul skripsiku. Meski berulang kali ditolak oleh pembimbingku yang memang terkenal kaku saat itu namun aku tidak pernah kehilangan akal. saat kembali mengajukan judul skripsi, aku hanya memodifikasi judul yang sebelumnya dan tidak pernah mengajukan judul lain. Mungkin karena sudah terlalu sering aku ajukan maka takluk juga pembimbingku dan akhirnya di acc judulku “pengaruh gerakan Maois terhadap stabilitas Nepal”.

Perlu diketahui sedikit bahwa Maoisme itu adalah sempalan dari pahaman marxisme-leninisme yang dikembang oleh mantan presiden china, Mao Zhedong. hanya saja bahwa Maois menjadikan petani sebagai kaum proletar yang punya potensi melakukan revolusi sedangkan marxisme murni melihat buruh sebagai pelaku revolusi.(http://id.wikipedia.org/wiki/Maoisme)

Setelah menyelesaikan S1 di UNHAS, aku bahkan sangat selektif mendaftar di beberapa perusahaan dan kupilih perusahaan yang tidak terlalu kapitalistik meski terkadang kusadari mana ada perusahaan yang menjalankan sistem kesetaraan. Dimana-mana perusahaan akan selalu mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan aspek apapun selain keuntungan. Selalu saja ada beban moral yang terbersit di hatiku ketika akan memilih perusahaan yang sudah terkenal amat sangat tidak peduli dengan keseimbangan lingkungan ataupun perusahaan yang punya catatan hitam tentang kesejahteraan pekerjanya.

Sekarang, aku berusaha berdamai dengan semesta. Berusaha menenangkan sejenak pikiran dari carut-marut semua hal yang di alam pikiranku. Berdamai disini bukan berarti aku mengamini kapitalisme dan cara kerjanya. Aku tetap pada pendirianku bahwa hal itu keliru. Berdamai disini adalah mencoba untuk merenungi diri karena tidak mungkin aku meruntuhkan system raksasa nan kokoh ketika aku belum bisa meruntuhkan diri sendiri. Ada banyak orang yang tidak menyetujui pernyataanku bahwa semua dimulai dari diri karena mereka menganggap bahwa yang bejat adalah para koruptor ataupun pejabat-pejabat tengik sehingga ketika mereka baik masyarakat akan menjadi sejahtera. Aku juga tidak sepakat dengan mereka para koruptor namun perlu diketahui juga bahwa ketika kita mengkritik mereka, bukan kebencian yang mendalam yang memotivasi diri kita untuk mengkritik namun harus diniatkan untuk memperbaiki karena aku yakin ketika kita mengkritik dengan kebencian yang berapi-api maka kebaikan tidak akan tercipta karena kebaikan itu sendiri sejatinya semua adalah harus baik mulai dari niat yang baik ataupun cara yang baik pula. Tidak menutup kemungkinan pula bahwa ketika kita menyumpahi mereka dengan berbagai cara yang dilandasi kebencian, aku khawatir ketika mendapat kesempatan menjadi mereka, kita malah lebih parah bejatnya dari mereka karena sejarah telah membuktikan hal tersebut.



Ah, akhirnya bisa juga menulis dengan sedikit serius. Setelah sekian lama sudah tidak menulis seperti ini.hehe

Jojoran 3/61
1.3.14

No comments: