August 23, 2020

Futur

 Ada hal yang tidak pernah saya bisa lepaskan sama sekali. sesuatu yang menurutku membuat kualitas diriku semakin mengalami degradasi. semakin kuat saya menepisnya maka semakin deras dia datang mengantam. setelah ini apa?

Jika perbaikan diri tidak mengenal batas waktu maka saya serasa mulai dari nol. membangun kepercayaan diri dan menyusun elemen-elemen pembentuk karakter yang porak poranda oleh saya sendiri. karakter diri yang belum berdiri sempurna dan hancur lebur kemudian mulai lagi dari sisa puing yang berserakan.

Entah kapan menjadi diri?

Jika jalan hidup sendiri saja belum menemukan rutenya maka bagaimana saya mengimami keturunan saya?

August 22, 2020

Masalah Repetitif

 Saya punya masalah  yang seakan terus datang dengan pola yang sama. masalah ini sudah berlangsung sejak 5-6 tahun terakhir. sebuah masalah yang menyadarkanku bahwa ternyata cerita-cerita di sinetron Indosiar yang selama ini saya anggap fiktif ternyata benar adanya di dunia nyata bahkan sangat dekat dengan diriku, walau saya sadari bahwa masalah tersebut di luar kendaliku. 

Masalah ini tentang pola interaksi antara seorang Ibu dengan Puteranya. pola relasi yang seakan hanya terjadi dalam sebuah narasi fiktif yang sering saya baca di buku cerpen namun ternyata cerita fiktif tidak ada yang fiktif di dunia ini, yang ada bahwa cerita tersebut belum kita temui dalam kehidupan kita sendiri. 

Ibu tersebut sudah sejak 16 tahun yang lalu ditinggal mati oleh suaminya. dia harus berjuang keras menghidupi seorang putera dan seorang puteri. sebuah perjuangan yang tidak mudah karena dia hanya seorang guru swasta yang gajinya tidak terlalu besar, beruntung karena dia masih menerima uang pensiunan suaminya setiap bulan dan masih dibantu oleh saudaranya. meski demikian, tetap saja bahwa urusan membesarkan anak bukan hanya melulu mengenai materai namun ada banyak sisi yang harus diperhatikan. 

Nampaknya tidak ada masalah yang terlalu serius sampai akhirnya si putera yang sulung masuk kuliah. di tahun-tahun pertama, belum ada hal yang mencemaskan namun kenyataan pahit menghampiri ketika si putera sudah menjelang akhir kuliah. berbagai permintaan aneh mulai menyusahkan si Ibu namun masih dalam batas normal.

Beberapa tahun setelah lulus, si putera sudah bekerja di sebuah bank dan menikah dengan gadis pilihannya. momen ini nampaknya akan menjadi momentum balik dari si Ibu untuk merayakan kerja kerasnya selama ini dan sedikit mengendorkan punggungnya yang sudah terlalu lama memikul beban berat. si putera sudah selesai pada masalah materi karena sudah bekerja dan juga sudah menikah sehingga tanggung jawabnya sudah lepas. 

Namun ternyata, momentum menikahkan puteranya yang seharusnya menjadi titik bahagia ternyata menjadi bumerang bagi si Ibu. pasca menikah, berbagai masalah besar datang dari perilaku si putera yang nampaknya tidak pernah memiliki sedikitpun rasa iba terhadap ibunya. mulai saat dia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di bank kemudian sebuah beban anak isterinya yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya, dibebankan kepada ibunya bahkan pada puncak masalah, satu-satunya rumah peninggalan bapaknya dijual demi melunasi utang si puteranya.

Meskipun rumah sudah dijual, ternyata sama sekali tidak mengubah pola berpikir si puteranya, dia seakan semakin menjadi-jadi apatahlagi setelah tidak bekerja sama sekali. semua kebutuhan keluarnya beserta ketiga anaknya, dipikul oleh Ibunya yang anehnya, si Ibu selalu memenuhi permintaan apapun dari si puteranya.

Si Ibu yang sudah semakin menipis tabungannya tidak kehabisan akal, berapa pun puteranya meminta uang dalam jumlah jutaan, si Ibu selalu berusaha memenuhi meskipun harus berutang kepada saudara-saudaranya. perilaku si Puteranya diperparah dengan isterinya yang meskipun sebagai seorang menantu, sama sekali tidak memiliki rasa sungkan untuk meminta apa saja kepada si Ibu yang hanya seorang mertuanya.

Perjalanan kisah pedih tidak sudah berlangsung bertahun-tahun dan minggu lalu, si Putera dan isterinya kembali meminta uang 15 juta kepada Ibunya dengan alasan untuk membayar utangnya di rentenir karena jika tidak dibayar, akan mengancam keluarganya. tanpa pikir panjang, si Ibu meminjam uang kepada adik laki-lakinya yang akhirnya diberikan pinjaman 10 juta dan 5 juta diambil dari tabungannya sendiri untuk menggenapi permintaan puteranya.

Entah kapan berakhirnya kisah ironi ini namun sebagai orang yang sama sekali tidak punya kuasa untuk masuk memberikan sedikit masukan, maka saya hanya mengambil hikmah dari kisah ini untuk sedikit lebih empati kepada Ibu saya bahwa jika tidak mampu membahagiakannya, paling tidak saya tidak memberatinya dengan masalah saya.

22 8 2020