January 16, 2020

OTS #

Kali kedua menginjakkan kaki di pulau Borneo, namun kali ini Borneo bagian timur yang lebih dekat dengan Sulawesi dan mayoritas pendatang berasal dari sana sehingga saya tidak merasa asing di daerah ini. bahasa yang digunakan hampir dengan bahasa native saya sehingga serasa pulang kampung.

Perjalanan perdana di tahun 2020 memang terasa berkesan apatahlagi daerah yang belum pernah dikunjungi. meski demikian, sehari sebelum keberangkatan yang sudah ditentukan, saya sedikit was-was saat menonton berita dan ternyata kota ini dikelilingi banjir yang tidak main-main tingginya, ada yang hampir sepaha orang dewasa bahkan pada puncak banjir, akses jalan ke bandara tidak bisa dilewati. untungnya siang hari saat berangkat, langit nampak cerah seakan merestui perjalanan saya kali ini, tidak ada setitik awan yang menandakan akan turun hujan.

Saya berangkat dari ibu kota jam setengah 3 sore dengan menumpang pesawat batik air. pesawat lumayan penuh. jarak tempuh perjalanan via udara sekitar 2 jam persis sama dengan jarak tempuh ke kampung saya. sesampai di Bandara, saya menemukan cuaca yang cukup cerah sehingga mengurangi kekhawatiran saya akan terhalang banjir ke tempat menginap. oh iya saya sudah memesan hotel Violand di bilangan jalan Ahmad Yani dengan pertimbangan karena dekat dengan kantor.

keluar dari bandara, seperti pada umumnya di bandara lain, bejibun sopir taxi menawari kami dengan berbagai macam rayuan maut. saya menjatuhkan pilihan pada salah seorang sopir paruh baya yang kemudian saya ketahui lebih muda dari pada saya ketika banyak berbincang di atas mobil padahal kesan pertama saya, dia mungkin sudah berumur 40 tahun.

Perjalanan ke hotel sekitar 40 menit dengan jalanan yang hampir sama dengan medan jalan di kampungku. naik turun bukit.

Kami tiba hotel sehabis maghrib dengan sebuah hotel yang sangat jauh dari ekspektasi yang diharapkan. saat memesan hotel via traveloka, gambarnya lumayan bagus dan nampaknya akan menyenangkan menginap di hotel tersebut namun ide selalu menyalahi realita. kebersihan tidak dijaga, bau menyengat dari kamar mandi, handuk yang sudah berwarna coklat pun demikian seprei yang sepertinya meninggalkan noda. Esok hari, kami memutuskan pindah ke hotel Amaris. hotel yang lumayan untuk ditinggali selama 6 hari.

Selama 6 hari di kota ini, saya memandangi banyak hal. hiruk pikuk kota yang sebentar lagi menjadi bagian dari ibu kota negara. penataan kota yang belum terlalu baik apatahlagi kota ini dipenuhi sungai yang menyebabkan kota ini sangat rawan banjir dan diperparah dengan hutan di sekelilingnya yang sudah dihabisi para penambang.

Selasa pagi, banjir akhirnya benar-benar datang setelah sebelumnya diguyur hujan. banjir di kota ini tidak tanggung-tanggung bahkan ada yang sampai sepaha. sebagian besar kota ini dilanda banjir yang menyebabkan saya tidak bisa mengeksplorasi sudut-sudut kota secara detail.

sampai sabtu pagi saat hendak pulang, kota ini masih digenangi air banjir bahkan hampir saja saya tidak bisa pulang karena akses ke arah bandara sudah banjir di daerah terminal.