January 31, 2013

Aku Bahagia Dengan Hidupku

Untuk yang terakhir, hari ini kutulis di sebuah warnet dekat kosku. 
Besok aku harus berangkat ke sebuah kota untuk pekerjaan yang baru,
Kutahu berat, namun aku masih ingat kata-kata seorang seniorku di makassar 

Bahwa
Kita harus senantiasa memperluas zona nyaman.
Ini kulakukan demi itu, demi sebuah hidup yang terus berjalan, karena sering ku berteori

Bahwa 
Kita harus tetap melangkah dalam hidup karena jika tidak
maka hidup kan memaksa kita tuk melangkah dan berubah...

3 bulan berada di kota ini kurasa cukup sebagai sebuah pengalaman hidup, meski
tidak bisa kupungkiri bahwa aku sudah mulai settle di kota ini, walau belum sepenuhnya dikatakan berhasil menaklukkannya.
kota yang kan kudatangi besok adalah kota kecil, tidak seramai dengan kota pahlawan, 

Namun
aku selalu yakin bahwa Tuhan selalu menakdirkan kita di setiap cerita hidup
yang penuh hikmah
selalu menjadi tanggung jawab kita bagaimana mengambil
hikmah-hikmah yang terserak di sekitar hidup kita tanpa harus melihat dan membandingkan dengan hidup orang lain.

Aku bahagia dengan hidupku,
Tidak ada alasan untuk mempermasalahkan setiap kekurangan yang kujumpai dan hidup ini kan kunikmati. berjuang, bergerak dan berusaha untuk selalu berbuat baik terhadap semesta,

aku bahagia dengan hidupku

aku bahagia dengan hidupku

Kedungdoro, 31 Januari 2013

Angin


                                           

Angin,,
Dimanakah engkau berada
Adakah engkau di sisiku
Aku sangat butuh bantuanmu
Dan kuyakin tidak terlalu berat buatmu
Ini ada parcel kecil yang ingin kutitip kepadamu
Buat engkau sampaikan kepada seorang wanita tegar di ujung negeri ini
Wanita itu yang selalu mendoakanku setiap sujudnya
Kumohon kau tidak usah membuka parcel itu karena isinya hanya tiga kata
Angin,,
Kalau kau tidak sibuk hari ini
Kalau saja ada sisa waktumu untuk saya
Sudilah engkau pergi kesana, kemudian menceritakan keadaanku disini kepada wanita itu
Namun kumohon jangan ceritakn hal buruk padanya
Karena hanya akan membuat matanya sembab
Ceritakan dia tentang kisahku
Tentang tawaku dan jangan tangisku
Angin,,
Kuyakin engkau akan sangat senang bercerita dengannya
Dia tidak tidak terlalu banyak tanya bahkan wanita itu pendengar yang baik
Kalau saja ada masalahmu dan kau ceritakan padanya
Wanita itu siap mendengarmu
Ah,, kenapa jadi seperti ini
Kenapa malah kau yang kusarankan untuk cerita masalahmu kepadanya
Ah, jangan lakukan itu, angin
Itu hanya membuat bebannya tambah berat
Angin,,
Besok malam menjelang senja
Engkau berangkat ke sana
Karena engkau akan dapati wanita itu di rumahnya
Wanita itu akan bangun di setiap subuhnya
Bermunajat kepada Sang Ilahi dalam keletihan yang dirasakannya
Jika engkau berangkat pagi menjelang siang
Kuyakin kau tidak akan menjumpainya karena wanita itu sedang berjalan mencari rejeki halal
Jangan kau kira itu buat dirinya, tidak smaa sekali, angin
Itu buat anak-anaknya
Angin,,
Wanita itu adalah ibuku
Orang yang menjadi penyemangatku
Bahkan saat dia jauh,,
Semakin kurasakan kasih sayangnya terhadapku
Dan kau harus menyampaikan parcel itu
Cuma isinya titipan salam dariku

Sby, 7-11-2012

kasih dalam tangis sang Bunda


Ini takkan pernah kulupakan, benar-benar takkan kulupakan dalam perjalananku di kota ini
Berbagai perasaan berkecamuk di kepalaku, bagaimana tidak
Semalam,
Sesaat setelah aku pindah kos,
Kukabarkan ini kepada ibuku, dia menelponku sejak pukul 18,00
Karena aku masih kerja dan baru pulang pukul 21.00, kukirimi
Sms supaya menelpon lagi sekitar jam itu,
Karena sesuatu dan lain hal, aku baru sampai di kos
Sekitar pukul 22.00, itu berarti di kampungku sudah pukul 23.00,
Aku mengirimi sms ibuku.
Semenit kemudian, dia menelponku, awalnya dia menanyakan keadaanku
Lalu kemudian sekitar 5 menit bicara denganku,
Ada suaru isak yg terdengar parau dari dalam telepon,
Kusadari ibuku sedang bersedih, entahlah apa alasannya, namun kucoba menerka kenapa dia bersedih,
Mungkin saja aku jauh dan hidup sendiri,
Mungkin saja mengkhawatirkan keadaanku di sini,
Mungkin saja dia rindu akan diriku,
Mungkin saja perasaannya sedang tak stabil,
Namun apapun kemungkinan-kemungkinan yang muncul di kepalaku,
Kutahu bahwa alasannya menangis karena lebih dari semua itu,
Cintanya terhadap anak-anaknya begitu besar,
Tak kujumpai sebuah kata untuk menggambarkan perasaan yang ada di lubuk hatinya,
Benar-benar aku tak sanggup mendengarnya terisak,
Kucoba untuk tidak ikut bersedih,
Kucoba untuk mengalihkan pembicaraan,
Kucoba untuk berkata “doakan saja aku bu”,
Namun itu semua tak mampu menepis hatiku yang juga terenyuh,
Aku memaksakan untuk mencari alasan lain agar dia tak bersedih, namun gagal,
Kukatakan bahwa sudah dulu bu’ karena aku mau istirahat, saat
Aku menutup telepon, sayup-sayup masih kudengar suaranya yang parau dalam sedih,
Ini terkesan sentimental bu dan mohon restu padamu.
Maaf, bu’,
Bukan maksudku untuk mengakhiri pembicaraan denganmu,
Bukan sama sekali,
Bahkan jika berjam-jam pun, aku takkan lelah bercerita
Apa saja denganmu, asalkan dengan satu syarat
Bu, jangan nampakkan kesedihan di setiap alunan suaramu
Aku hanya tak mau mendengarmu bersedih, aku hanya tak mau ikutan sedih,
Aku hanya ingin mengabarimu saat-saat bahagiaku di sini,
Dan biarlah masa-masa sulitku kusimpan rapi untuk kujadikan kenangan masa tuaku
Tanpa harus memberitahumu,
Engkau terlalu mudah terbawa perasaan ketika mendengar anak-anakmu dalam kesusahan,
Kedungdoro, 26 januari 2013 sesaat setelah pindah ke kos

Waktu


Waktu,
Kau telah merenggut masa kecilku
Masa dimana aku menikmati hidup
Bahagia tanpa sedih dan lara
Hingga kau menggiringku ke masa remaja

Waktu,
Kau pun telah merampas masa itu
Masa dimanaaku harus banyak belajar
Bersiap diri untuk masa depan penuh asa
Dan kaupun sekarang mengantarku ke masa sekarang

Waktu,
Aku sering menyalahkanmu
Tentang masa lalu yang kulalui
Tentang kegagalanku masa itu

Waktu,
Aku kan menggugatmu
Kenapa engkau tak memberiku lebih banyak akan dirimu
Bahkan mengembaikanku ke masa kemarin
Atau aku sebenarnya yang salah
Telah mengacuhkanmu selama ini

Waktu,
Tidak penting mendebat siapa yang salah
Kini kusadar engkau kan sennatiasa berlari
Merubah segala yang dalam genggamanmu
Bahkan jika manusia enggan berubah
Engaku kan memaksa mereka berubah
Dengan pilihan caramu
Tanpa mereka punya pilihan sedikitpun
Karena engkau
Tak menunggu tak jua dinanti
Kau hadir tepat waktumu



Salat




Kuangkat kedua tanganku dalam takbir
Menjadi pembuka gerakanku menghadapMU
Kubaca setiap doa dalam diam
Walau sering pikiranku tak disana
Aku belum benar-benar menghadapMU

Mengbungkuk diriku selutut
Dalam gerakan berikutnya
Kubaca doa doa itu waktu hatiku terpaut duniawi
Aku benar benar belum menemuiMU

Semakin kurendahkan diriku
Menghujam tanah dalam sujudku
Bukti akan kefanaanku
Namun lagi lagi hatiku menjauh
Aku masih belum menjumpaiMU

Kuulangi setiap gerakanku
Kuberharap hatiku bersemayam di sana
Namun tak kuasa
Diriku terlalu sialu absurditas
Hingga bertemu denganMU tak sanggup

Akhirnya ku duduk di akhir gerakanku
Melantunkan doa keselamatan
Mencapai akhir peremuan denganMU
Menoleh kekanan kemudian ke kiri
Hingga akhirnya damai menyelimuti












20 januari 2013