March 31, 2014

MENJELANG APRIL

Akhir maret yang sedih
Mengisahkan pilu yang tersisa, diselingi sesekali senyum sumringah dari kami
Seperti tak tersentuh dan tibatiba saja april menjemput mengurangi waktu perjalanan
Selalu saja seperti itu dan tak terasa

Mengapa?
Karena bunga yang tumbuh di taman sekitar rumah belum mekar
Belum sepenuhnya menikmati maret yang basah

Ah, april menjelang
Dengan huru hara janji manis dari para pejabat
Di setiap sudut kota penuh dengan potret mereka yang kelihatannya suci tak ketinggalan kata sebagai pemanis buatan meski setahuku bahwa selalu saja yang namanya pemanis tidak baik buat kesehatan
Itulah sebabnya aku tidak terlalu menyukai kedatangan april hingga sampai tanggal 9 kemudian, aku memilih untuk diam, nantilah setelah huru hara tanggal 9 negeri ini, aku kembali beraktivitas
Sakit kepalaku sering kambuh melihat mereka yang narsis memajang foto di setiap sudut kota, di pinggir kali, di lampu merah, di warung-warung, bahkan di toilet umum.

Huh, mereka mengotori negeri ini dengan janji yang tak ditepati.
Mereka mengundang artis dangdut nan seksi kemudian disaksikan anak kecil di kota ini
Mereka mengibuli kami orang-orang kecil
Mereka menyesakkan.




tidak memilih bukan berarti acuh ataupun makar dan sebagainya. tidak memilih sebagai sikap politik melawan ketidakberesan dari perkara-perkara negera yang tidak terselesaikan kemudian mereka secara berkala dalam 5 tahun selalu berjanji dan selalu saja janji itu terealisasikan dengan bentuk kebalikannya


31’3’14
Menjelang akhir maret
Menuju tanggal 9 april yang menipu

March 30, 2014

Percakapan Semalam dengan Ustadz D

Bagaimana kabarmu di situ?” kalimat pertama yang muncul dari percakapan saya dengan ustadz D semalam lewat telepon. 

Di Al-Markaz ki ini kak?” tanyaku mengawali pembicaraan karena setahuku sehabis isya, Ustadz D selalu menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid terbesar di Makassar untuk mengaji atau pun kajian keagamaan. 

Tidak, adama di rumah, kenapaki?” begitulah sapaannya setiap kali kutelepon dirinya di waktu-waktu tertentu. Meskipun beliau dikenal sebagai ustadz di Al-Markaz namun entah kapan mulanya, aku lebih akrab memanggilnya dengan sebutan kakak.

Ustadz D yang kukenal baik sejak aku masih di Makassar dan aktif di kajian makes membuatku nyaman mencurahkan semua permasalahanku atau pun sekadar untuk meminta saran tentang hidup dan selalu saja apa yang disarankan oleh beliau mengena di hati. Apatahlagi saat merantau di pulau ini, aku tidak mendapatkan tempat kajian keagamaan sehingga setiap kali aku butuh bimbingan maka seringkali kutelepon dirinya.

Semalam, ada begitu banyak hikmah yang diajarkan oleh ustadz D kepadaku. Awalnya beliau menasehati supaya aku jangan sekali-kali aku fanatik terhadap satu golongan dan jangan pula menjelek-jelekkan suatu golongan dan yang lebih bijaksana adalah kamu mengambil hikmah dari setiap golongan tersebut. 

Kata beliau semalam. Namun ada satu yang sangat mengena ketika beliau berkata bahwa “ jangan sekali-kali engkau menjustifikasi suatu golongan layaknya Tuhan. Jangan menyalahkan golongan seakan-akan engkau seperti Tuhan.”  Kalimat itu benar-benar membuatku tersadar dan kucamkan baik-baik karena memang dalam hal menilai sampai pada tataran dosa atau tidaknya perbuatan seseorang maka itu mutlak otoritas Tuhan. Manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan sedikitpun akan hal seperti itu.

Setelah itu seperti biasanya, beliau melanjutkan petuahnya bahwa ketika engkau mendapatkan masalah maka solusi yang terbaik adalah mendekatkan diri kepada Allah dan percayalah bahwa masalahmu akan terselesaikan. Beliau juga menambahkan bahwa hidup itu tidak selalu sedih dan juga tidak selalu tersenyum karena bukankah kita tidak bisa merasakan yang namanya kenyang ketika kita tidak pernah merasakan lapar. Hidup itu dinikmati.

Begitulah beliau selalu menasehatiku dalam setiap kesempatan. Pertanyaan terakhir yang kuajukan kepadanya, Kak, bagaimana dengan ziarah makam wali, karena di pulau ini begitu umum orang bersama-sama ziarah wali bahkan sampai ke tempat yang jauh?” tanyaku. 

Tidak usah ikut-ikutan karena berpotensi untuk mencampuri akidah apatahlagi ketika kita sudah percaya bahwa di tempat itu ada kekuatan.” Jawabnya singkat. Lalu kemudian beliau melanjutkan ceritanya bahwa suatu waktu ada beberapa peziarah dari Sulawesi selatan datang ke pulau jawa dengan maksud ziarah makam wali, ketika itu Gusdur masih hidup lalu beliau berkata bahwa lucu orang dari Sulawesi selatan datang ke jawa ziarah wali sedangkan gurunya wali songo berada di sana tepatnya di Wajo Sulawesi selatan.  

Aku benar-benar baru mengetahui akan hal ini bahwa ternyata gurunya para wali yang sangat diagungkan di pulau ini berasal dari Sulawesi selatan bahkan Wajo yang dekat sekali dari daerahku. Sementara selama ini, kisah tersebut tidak diceritakan oleh orang terdahulu.

Begitulah ustadz D selalu mengajarkanku tentang hidup, tentang bagaimana harus menjalani hidup meski terkadang aku sering terlupa namun selalu saja nasehatnya akan kucamkan dalam hati. Satu hal yang amat sangat kusenangi dari setiap nasehatnya karena beliau tidak terlalu merisaukan tentang hal-hal duniawi seperti pekerjaan dan lainnya namun beliau selalu menekankan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selalu ingat Allah dan hal duniawi akan mengikut sebagai bonusnya.

Tetaplah Istiqomah kak, menebarkan hikmah kepada setiap orang yang engkau temui. tetaplah berbahagia kak dan semoga engkau tetap dalam keadaan sehat.

Jojoran 3/61
30’3’14
05.42 WIB

March 28, 2014

Cerita Tentang Ibu


Subuh dini hari. Tiba-tiba saja aku terbangun saat mendengar suara panci bergemuruh di dapur. Aku menduga ibu telah bangun dan memulai aktivitasnya membuat aneka macam kue yang akan di jajakan di pasar sebentar siang. Berkali-kali beliau menahan kantuk sambil menguap namun tidak menyurutan sedikitpun tekadnya untuk terus beraktivtas di subuh yang dingin. Aku hanya mengintip dari balik selimutku sambil kuperhatikan swajahnya yang sendu dan di setiap momen seperti itu, aku menitikkan air mata. Membayangkan bagaimana tulusnya pengorbanan ibu dalam menghidupi keenam anaknya membantu penghasilan bapak dari kebun yang pas-pasan.

Di pagi yang masih basah oleh embun. Aku memandangi ibu yang sudah berkemas menuju pasar. Beliau berdiri di pinggir jalan menunggu ojek langganannya. Dengan tiga bakul berisi kue apem, dodol dan baje. Di panggulnya salah satu wajan berisi kue. Aku perih melihat ibu harus bekerja keras saat itu namun selalu saja ketika kutanya, beliau mengatakan bahwa hidup seperti ini sangat menyenangkan ketika dinikmati nak, tidak ada yang berat saat kita menikmati hidup. Ah, ibu ternyata seorang yang bijak. Dugaanku keliru tentangnya. Melihat pekerjaannya yang berat ternyata tidak seberat yang kulihat karena hatinya tetap ridha.

Senin senja yang menua. Ibu pulang dari pasar dengan nafas yang tersengal-sengal. kulihat raut wajah yang begitu penat terpancar dari mukanya.” Dagangan ibu laris?” tanyaku senja itu. “tidak nak.” Jawabnya dengan sendu. Perasaanku begitu terharu melihat perjuangannya hari ini yang tidak mendapatkan hasil. Aneka kue yang sedari tadi malam mulai dipersiapkan hingga harus tertidur menjelang subuh dan berangkat pasar di pagi yang buta kemudian kembali senja hari namun hasilnya nihil. Tidak separuh dari dagangan ibu kali ini yang laris.

Senin malam berikutnya, sekali lagi kutanya ibu, kutanyakan barang dagangannya siang tadi. “agak sepi nak, sekarang musim rambutan jadi pelanggan ibu banyak yang membeli rambutan.” Jawaban yang amat lirih namun tetap saja ibu tidak mengeluh, baginya berdagang hanyalah tentang seni kehidupan tanpa pertimbangan untung rugi. Baginya bekerja adalah ibadah dan keuntungan yang paling besar adalah ridha Tuhan. Begitulah ibu selalu memaknai setiap harinya dengan kesyukuran tanpa merasa kurang sedikitpun. Hatinya lapang untuk semua dan ibu telah berdamai dengan hidupnya.

Aku selalu bersyukur terlahir dari Rahim ibu yang tabah, tegar dan mengajarkan aku tentang hidup dengan gerak tubuhnya.

tetaplah sehat ibu. tetaplah beraktivitas. dan berbahagialah dengan semua keadaan hidup.

Jojoran 3/61
28’3’14

Rindu #22


Setiap pagi saat berangkat kerja
Engkau menelponku
Di saat engkau di kantormu
Selalu saja engkau menyempatkan mengirimiku sms
Menanyakanku sudah makan
Atau sekedar ngapain
Di saat engkau pulang kantor
Engkau berlamalama di lobby apartemen hanya untuk meneleponku
Saat malam menjelang
Engkau meneleponku lagi
Bercanda, bercerita dan berbagi apa saja
Tentang aktivitas siang tadi
Dik, engkau perhatian kepadaku
Aku merindumu di setiap edisi waktuku

Tetaplah berbahagia dek karena hidup haruslah berbahagia bersama orang-orang di samping.

Jojoran 3/61
28’3’14

Cerita Tentang Bapak

Kulihat sore itu bapak pulang dari sawah. Dengan celana pendek warna kecokelatan yang penuh dengan lumpur dan cangkul yang dipanggul. Kulitnya terbakar di sengat matahari seharian. Kulihat di wajahnya sendu menyelimuti dalam kesedihan. Panen padi kali ini gagal karena hama yang menggila. Entah berapa kali bapak berkeluh dengan kerja keras yang tidak membawa hasil. Entah berapa kali beliau kupandangi sehabis shalat maghrib, beliau menghisap sebatang rokok dengan segelas kopi di samping sambil pandangan hampa. Namun sesering itu pula kulihat wajah yang tegar ketika berada di depan anak-anaknya.

Di pagi yang masih gelap. Kuintip bapak dari dinding kamarku yang terbuat dari anyaman bambu. Kulihat beliau mempersiapkan semua peralatan sambil berkomat kamit sebelum berangkat ke sawah. Tak lupa sebatang rokok sebagai tanda memulai hari ini di sawah. aku tahu benar-benar hari yang melelahkan saat masa tanam mulai tiba. Namun kali ini, masa tanam terancam gagal karena kampung kami kekeringan. Tidak ada cukup air yang mengalir di irigasi untuk mengairi sawah bapak, seketika berkecamuklah pikiran bapak tentang hari esok akan makan apa namun selalu saja beliau berkeyakinan bahwa Tuhan selalu membuka rezekiNya tanpa disangka-sangka dan bapak selalu yakin akan hal itu.

Kali ini kulihat bapak sedang duduk melepas penat di bawah pohon mangga samping pematang sawah. aku membawakan makan siang buatan ibu. Beliau mengibas-ngibaskan topinya dan tak lupa asap rokok mengepul dari mulutnya. Kulihat beliau nanar memandang langit dengan wajah yang amat sendu. Bapak adalah orang yang tegar dan tanpa sekalipun raut muka putus asa tergambar di wajahnya. Semua adalah tentang menikmati perannya dan menikmati kerja keras. Tentang bagaimana menjalani hidup dengan sempurna tanpa ada kata penyesalan keluar dari mulutnya
Tentang bapak, tentang sawah dan tentang kecintaan akan bau tanah yang selalu menemani setiap hari. Memperhatikan wajah bapak di setiap momen waktu seperti menyaksikan hidup yang sebenarnya. Menikmati sebuah peran hidup sebagai petani dan mensyukurinya. Mungkin saja bapak sudah mengerti tentang hidup yang semua memiliki peran dan tidak boleh ada satupun yang mengeluh akan peran hidup yang telah dibebankan kepadanya. Bapak mengerti bahwa Tuhan telah memberinya peran sebagai petani dan bapak menikmati itu dengan ridha. Beliau sadar bahwa menikmati hidup dengan ridha akan mendatangkan keridhaan Tuhan dalam setiap bentuk apapun.

Bapak mengerti bahwa ada orang yang tidak perlu bekerja keras untuk kemudian makan setiap harinya dan bapak pun mengerti bahwa ada orang yang harus banting tulang untuk makan dan bapak mengerti beliau adalah salah satunya.

Aku masih sangat ingat tentang sebuah kalimat yang diucapkan bapak kepadaku selagi aku masih bocah, “Tuhan lebih melihat hati daripada tindakan nak.”. begitulah yang dikatakan bapak kepadaku suatu waktu di masa silam yang saat itu sama sekali tidak kumengerti namun baru kusadari seiring dengan perjalanan waktu sampai saat ini.

Bapak mencintai bau tanah maka beliau sangat menikmati peran hidupnya sebagai petani.

Jojoran 3/61
28’3’14

March 26, 2014

Rindu #21

Katamu aku tidak seperti dulu lagi
Katamu rinduku sudah tergerus oleh jarak
Katamu lagi aku berubah

Entahlah apa alasannya
Akupun tak ingin menerka pikiranmu
Aku hanya membiarkanmu dalam prasangkamu

Mungkin saja
Atau ini Cuma sebuah kemungkinan
Bahwa dugaanmu karena aku sudah tidak lagi menulis tentangmu

Ah, engkau keliru gadisku
Tulisan hanyalah goresan tangan yang tidak bisa merumuskan rindu
Bahkan tidak bisa memuaskan dahaga keinginan bertemu denganmu
Sama seperti para sufi perindu Tuhan
Mereka kehabisan katakata untuk menggambarkan kerinduan mereka
Yah, karena sejatinya kerinduan itu adalah tentang pertemuan


Jojoran 3/61
25’3’14

Rindu #20

Selalu saja ada momen yang mempertemukan kita
Itu keyakinanmu
Akupun begitu selalu merasa bahwa selalu ada momen yang akan mempertemukan kita

Namun tetaplah sabar,
Akan lebih indah jika momen yang mempertemukan adalah waktu yang tepat
Lihatlah rembulan yang mempertemukan malam
Mereka bahagia karena waktunya tepat
Waktu dimana malam datang dengan gelapnya lalu rembulan datang menghampiri
Jadilah semesta ini mendapat berkah dari perjumpaan mereka

Engkau ingin bertemu denganku
Begitupun adanya diriku
Karena obat paling mujarab tentang kerinduan adalah pertemuan
Begitulah kirakira para sufi kekasih Tuhan
Pertemuan dengan dengan Tuhan melebihi segalanya.

Ah, terlalu jauh membicarakan itu
Syariat kita saja belum sempurna
Tetaplah belajar gadisku
Tetaplah berbahagia dan tebarkan kebahagiaan kepada seluruh semesta


Jojoran  3/61
24’3’14

March 23, 2014

Coretan Untuk Mamak #12

Apa kabarmu hari ini ma?

Lama tak mengirimu surat-suratku. Aku bahkan hampir kehilangan hasrat menulis karena terlalu lama vakum menuliskanmu sesuatu. Aku bukan tidak punya waktu luang namun lebih karena kejenuhanku membuka laptop dan mengetik surat-suratku kepadamu. Banyak momen yang menguap karena tidak segera kuceritakan kepadamu ma. Aku bahkan melupakan beberapa momen-momen yang kulalui dan parahnya lagi ma, aku sudah lupa surat ke berapa yang sekarang sedang kutulis untukmu

Dua hari kemarin aku ke Ngawi ma. Tempatku bekerja dulu. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan disana. Namun selama tiga hari disana, urusanku belum selesai ma. Malam pertama aku nginap di rumahnya riko di magetan. Malam kedua dan ketiga aku menginap di rumahnya mama E. Dia itu sudah seperti orangtua keduaku di sini ma. Dia baik sekali sama aku. Jumat pagi aku kembali ke kota ini bareng mama eni. Cucunya lagi sakit ma, dan harus di opname. Kasihan dia ma, harus berjuang keras karena sendiri di rumahnya

Kemarin aku ada kegiatan di sekitar manyar ma. Lumayan capek juga soalnya terlalu lama berhadapan dengan computer dan soal-soal yang membingungkan ma. Aku bahkan sampai pening saat pulang ke kos. Setelah itu ada temanku yang datang dari Makassar ma. Dia sedang survey di kota ini dan minta untuk diantar ke terminal.

Tadi pagi aku mengantar mama eni ke bungurasih ma, dia mau pulang ke kotanya. Saat aku di lampu merah, aku mau belok ke kanan namun ternyata ada car free day. Aku lurus dan dari arah berlawanan, ada seorang bapak yang hampir bersenggolan dengan motorku. Dia dengan kesalnya langsung berteriak ke aku ma, “Jancuuuk”. Hahaha. Aku hanya senyum kemudian tetap melaju. Meskipun aku tahu bahwa kata-kata itu adalah kata umpatan di pulau ini namun aku sama sekali tidak merasa tersinggung karena kan kata itu tidak ada artinya kalau di Makassar ma. Orang disana beda kata-kata umpatannya. Hehe.

Memang itulah bahasa ma. Di suatu tempat kadang sangat tidak sopan namun di tempat lain bahkan tidak ada artinya sama sekali. Ah, ma. Benar-benar hidup yang sangat berwarna ma, kalau kita keluar merantau dan melihat orang-orang yang sebelumnya tidak pernah dijumpai. Mempelajari karakter mereka dan berinteraksi dengan mereka. Namun ada satu hal yang tidak berbeda dari yang namanya manusia ma. Bahwa kebaikan itu bersifat universal ma, dimanapun kita berada kalau kita menghargai orang maka kita akan dihargai pula. Budaya, bahasa, agama dan pembeda lainnya tidak akan pernah mereduksi nilai seseorang sepanjang dia berbuat baik ma.

Sudah dulu ya ma. Tetaplah berbahagia ma dan tebarkanlah kebahagiaan kepada sesama ma karena semua orang berhak bahagia dalam kehidupannya



Jojoran 3/61
23314

Rindu #19

Lama tak menulis rindu untukmu. Lama tak menjumpaimu dalam tulisanku
Entahlah namun semua tak jua berhasil melebur rindu ini
Entahlah namun tak ada yang menafikan aku dan engkau
Dusta untuk menghapusmu dari pikiranku

Aku tahu cara menjumpaimu saat rindu menyergapku
Aku tahu itu
Aku mengejar bayangmu di senja yang menua
Aku menjumpaimu di malam yang berjuntai
Karena engkau pernah bercerita padaku
Senja dan malam adalah dirimu

Ah, gadis 
Entah sampai kapan engkau bertahan menantiku
Bahkan entahlah kapan aku menjemputmu
Hanya waktu yang tahu
Karena dia yang akan mengantarku kepadamu
Suatu saat nanti

Jojoran 3/61
23’3’14