“Bagaimana
kabarmu di situ?” kalimat pertama yang muncul dari percakapan saya dengan
ustadz D semalam lewat telepon.
“Di Al-Markaz ki ini kak?” tanyaku
mengawali pembicaraan karena setahuku sehabis isya, Ustadz D selalu
menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid terbesar di Makassar untuk
mengaji atau pun kajian keagamaan.
“Tidak, adama di rumah, kenapaki?” begitulah
sapaannya setiap kali kutelepon dirinya di waktu-waktu tertentu. Meskipun
beliau dikenal sebagai ustadz di Al-Markaz namun entah kapan mulanya, aku lebih
akrab memanggilnya dengan sebutan kakak.
Ustadz D yang kukenal baik sejak aku masih di Makassar dan aktif di kajian makes membuatku nyaman mencurahkan semua permasalahanku atau pun sekadar untuk
meminta saran tentang hidup dan selalu saja apa yang disarankan oleh beliau
mengena di hati. Apatahlagi saat merantau di pulau ini, aku tidak mendapatkan
tempat kajian keagamaan sehingga setiap kali aku butuh bimbingan maka
seringkali kutelepon dirinya.
Semalam,
ada begitu banyak hikmah yang diajarkan oleh ustadz D kepadaku. Awalnya
beliau menasehati supaya aku jangan sekali-kali aku fanatik terhadap satu
golongan dan jangan pula menjelek-jelekkan suatu golongan dan yang lebih
bijaksana adalah kamu mengambil hikmah dari setiap golongan tersebut.
Kata
beliau semalam. Namun ada satu yang sangat mengena ketika beliau berkata bahwa “ jangan sekali-kali engkau menjustifikasi
suatu golongan layaknya Tuhan. Jangan menyalahkan golongan seakan-akan engkau
seperti Tuhan.” Kalimat itu
benar-benar membuatku tersadar dan kucamkan baik-baik karena memang dalam hal
menilai sampai pada tataran dosa atau tidaknya perbuatan seseorang maka itu
mutlak otoritas Tuhan. Manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan sedikitpun
akan hal seperti itu.
Setelah
itu seperti biasanya, beliau melanjutkan petuahnya bahwa ketika engkau
mendapatkan masalah maka solusi yang terbaik adalah mendekatkan diri kepada
Allah dan percayalah bahwa masalahmu akan terselesaikan. Beliau juga menambahkan
bahwa hidup itu tidak selalu sedih dan juga tidak selalu tersenyum karena
bukankah kita tidak bisa merasakan yang namanya kenyang ketika kita tidak
pernah merasakan lapar. Hidup itu dinikmati.
Begitulah
beliau selalu menasehatiku dalam setiap kesempatan. Pertanyaan terakhir yang
kuajukan kepadanya, “Kak, bagaimana dengan ziarah makam wali, karena di pulau
ini begitu umum orang bersama-sama ziarah wali bahkan sampai ke tempat yang
jauh?” tanyaku.
“Tidak usah ikut-ikutan karena berpotensi untuk mencampuri
akidah apatahlagi ketika kita sudah percaya bahwa di tempat itu ada kekuatan.” Jawabnya singkat. Lalu kemudian beliau melanjutkan ceritanya bahwa suatu waktu
ada beberapa peziarah dari Sulawesi selatan datang ke pulau jawa dengan maksud
ziarah makam wali, ketika itu Gusdur masih hidup lalu beliau berkata bahwa lucu
orang dari Sulawesi selatan datang ke jawa ziarah wali sedangkan gurunya wali
songo berada di sana tepatnya di Wajo Sulawesi selatan.
Aku benar-benar baru mengetahui akan hal ini
bahwa ternyata gurunya para wali yang sangat diagungkan di pulau ini berasal
dari Sulawesi selatan bahkan Wajo yang dekat sekali dari daerahku. Sementara selama ini, kisah tersebut tidak diceritakan oleh orang terdahulu.
Begitulah
ustadz D selalu mengajarkanku tentang hidup, tentang bagaimana harus
menjalani hidup meski terkadang aku sering terlupa namun selalu saja nasehatnya
akan kucamkan dalam hati. Satu hal yang amat sangat kusenangi dari setiap
nasehatnya karena beliau tidak terlalu merisaukan tentang hal-hal duniawi
seperti pekerjaan dan lainnya namun beliau selalu menekankan untuk mendekatkan
diri kepada Allah SWT. Selalu ingat Allah dan hal duniawi akan mengikut sebagai
bonusnya.
Tetaplah Istiqomah kak, menebarkan hikmah kepada setiap orang yang engkau temui. tetaplah berbahagia kak dan semoga engkau tetap dalam keadaan sehat.
Jojoran
3/61
30’3’14
05.42
WIB