Ma,
seperti biasanya, tadi aku ke toga mas menghabiskan waktuku untuk membaca buku.
Tetapi entahlah sampai di sana aku agak pening jadi tidak terlalu fokus untuk
membaca. Bahkan waktu di sana, aku malah numpang wifi dan menelepon ulla di
jepang lewat line. Ulla itu ma, temanku waktu di Makassar yang sekarang sudah
di jepang. Dia itu ma, selalin pintar bahasa inggris, luas wawasannya dan
pengetahuan agamanya juga baik ma. Setelah menelpon ulla, aku tetap naik ke
lantai 2 toga mas melihat-lihat buku mungkin saja ada yang bisa dijadikan obat
sakit kepala.
Selang
beberapa lama mengelilingi rak buku, akhirnya kuraih salah satu buku dari
Al-Ghazali tentang “metode menaklukkan jiwa”. Alih-alih mau mencari buku untuk
mengobati sakit kepalaku, aku malah menemukan buku yang semakin membuatku
pening, bagaimana tidak. Buku Al-ghazali tersebut mengupas tentang penyucian
jiwa dan parahnya maoritas pantangan penyucian jiwa itu pernah kulakukan ma. Kepalaku
bahkan semakin pening.
Secara
singkat, ini beberapa inti dari buku tersebut yang berhasil kuingat ma. Kata
Yahya Ibn Mu’adz Al-Razi “berjuanglah melawan nafsumu dengan pedang kedisiplinan
diri. Ada empat cara pendisiplinan diri yaitu menyedikitkan makan, menahan
tidur, membatasi ucapan dan bersabar terhadap perbuatan orang lain yang
menyakitkan. Menyedikitkan makan dapat mengalahkan hawa nafsu. Menahan tidur
dapat menjernihkan keinginan. Membatas ucapan dapat menyelamatkanmu dari
malapetaka. Bersabar terhadap gangguan orang lain akan membawa keberhasilan
mencapai cita-cita.
Abu
Yahya berkata “barangsiapa memberikan kesenangan kepada anggota tubuhnya dengan
memanjakan nafsu berarti dia telah menanam pohon penyesalan dalam hatinya.
Wuhaib ibn Al-Ward berkata “barangsiapa cinta kepada nafsu duniawi maka
hendaklah dia bsiap-siap menanggung kehinaan.
Seorang
pria bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz, kapan mestinya aku bicara? Dia
menjawab “kapanpun ketika engkau ingin diam. Lalu bertanya lagi, kapan aku
mesti diam? Dan umar menjawab “kapanpun ketika engkau ingin bicara”. Ali k.w
berkata “barangsiapa merindukan surga, hendaklah dia melupakan
kesenangan-kesenangan dunia.
Rasulullah
SAW pernah bersabda “barang siapa merasakan adanya nafsu birahi namun tetap menahan
diri dan menyembunyikannya, lalu orang itu meninggal dunia maka dia wafat
sebagai seorang syahid.
Masih
banyak lagi ma, yang amat sangat penting namun aku begitu tidak kuasa
menulisnya karena sepertinya buku itu mengungkap keburukan-keburukanku yang
tidak diketahui. Aku benar-benar hina ma. Selama ini berusaha untuk menjadi
baik namun aku tidak lebih dari seorang pendosa yang tak dikenali karena
dosanya meliputi dirinya. Namun begitu ma, aku akan tetap berusaha untuk
memperbaiki diriku ma, sekuat mungkin.
Ma,
bagaimana kabarmu malam ini..???
Tetaplah
berbahagia ma karena hidup hanya sekali dan hidup harusnya bahagia dan membagi
kebahagiaan kepada orang lain..
Jojoran 3/61
14’3’14
Jum’at malam yang kelabu

No comments:
Post a Comment