December 31, 2018

Bermimpi

saya tidak pernah merasa bosan mengulangi keinginan-keinginanku setahun ke depan di setiap akhir tahun. meski eksekusiku selalu melemah bahkan di awal tahun namun setidaknya catatan impian sebagai alarm bahwa ada target yang membuatku terus bergerak, bukan semata mengikuti arus. 

Sebenarnya setiap kali menengok ke belakang catatan akhir tahun, banyak yang terwujud melalui kuasa Tuhan, mengapa saya bilang demikian, karena proses realisasinya tampak mustahil namun toh berwujud dalam kenyataan. seperti catatan 16 yang menurutku ada beberapa yang tercapai meski di dua tahun berikutnya. 

Membeli rumah menurutku salah satu realisasi terbesar dari impianku yang kucatat di akhir tahun 2016. awalnya saya nampak pesimis namun ternyata tidak bagi Tuhan. Dia membukakan jalan dengan sangat mudah pada waktunya dan itu yang terjadi bagiku.

di tahun 2019, pastinya saya memendam mimpi yang akan kugapai, selain mewujudkan catatan akhir tahun sebelumnya yang belum terwujud saya juga punya catatan impian baru yang akan kurengkuh, toh catatan-catatan ini akan menjadi bukti bagi diriku bahwa saya serius menjalani hidup dan semoga Tuhan merestui apa yang kudambakan.

ini mungkin yang terlintas untuk kugapai tajun 2019.

firstly, saya akan serius kuliah S2 di Universitas Paramadina. saya sudah melakukan proses pendaftaran dan tinggal menunggu jadwal kuliah tahun 2019. sebenarnya bukan gengsi-gengsian sehingga saya melanjutkan pendidikan S2, alasannya lebih pada beberapa hal yaitu saya pernah berjanji kepada Ibuku bahwa saya akan melanjutkan S2 dan ini kesempatan untuk memenuhi ikrarku kepada ibuku. alasan lain karena saya ingin mengkondisikan diriku dalam iklim akademik. rutinitas kantor membuat kepalaku mandeg bahkan sepertinya diriku terlalu menjadi seorang realis bahkan permisif untuk banyak hal, lanjut kuliah mungkin kembali akan memperbaiki sel otakku yang rapuh. semoga saya bisa mengikuti perkuliahan dengan baik dan lancar.

Secondly, impianku di tahun sebelumnya adalah tidak lagi bekerja di Perusahaan sekarang yang menurutku belum membuatku settle karena masalah prinsip. saya berharap semoga tahun 2019 bisa berjodoh dengan pekerjaan yang menenangkan hatiku tanpa harus permisif pada pekerjaan karena alasan butuh, syukur-syukur kalau pekerjaan yang membuatku senang. lembaga penelitian, atau lembaga independen negara yang sesuai dengan major kuliahku. semoga, amiiin.

semoga gaji cukup untuk membayar cicilan utang dan kebutuhan sehari-hari sehingga pemasukan isteri untuk dirinya sendiri.

ketiga, saya harus lebih banyak membaca buku dan menulis. resolusi ini dari kapan tahun namun selalu pudar di pertengahan tahun padahal membaca adalah koentji. jangan pernah berhenti belajar dan jangan pernah merasa puas.

selebihnya, saya ingin sering mengunjungi orang tuaku, melihat mereka bahagia dan sehat. anak istriku dan mertua sejat selalu dan diberi kecukupan rezeki untuk mereka.

saya tidak boleh melupakan impian untuk berguna kepada orang lain. saya belum menemukan cara yang paten nmaun setidaknya jika saya tidak bisa menyenangkan orang lain, palimg tidak saya tidak melakukan sesuatu yang orang lain tidak suka.

"saya percaya semua resolusi bisa diwujudkan menjadi nyata, selama kita menjalani prosesnya yaitu menyusun resolusi, membangun visi, amenetapkan rencana kemudian mengeksekusi rencana serta mengontrol untuk memastikan hasilnya sesuai rencana. ringkasnya: resolusi, visi, rencana, aksi dan kontrol. - Kang Hasan"

impian lain yang belum terpikir akan kutambahkan dalam perjalanan waktu. semoga Semesta merestui apa yang sedang kutulis. amiiin. amiiin. amiiin 

31 Des 2018: 22.58

December 11, 2018

OTS #15

Negeri surganya bumbu dengan makanan yang terkenal dengan santan dan rempah-rempah.siapa yang tidak kenal dengan daerah ini yang sudah pernah melambungkan nama Indonesia ke penjuru dunia sebagai negara penghasil makanan terlezat nomor satu. ya benar sekali, Rendang. daerah penghasil Rendang ini sudah lama ingin kujejak dan ingin mengetahui seperti apa sebenarnya kehidupan di sana.

Akhir tahun akhirnya terwujud. di pertengahan bulan Desember, saya melakukan perjalanan kantor ke kota ini. diiringi dengan drama penerbangan yang mendebarkan ketika Batik Air akan lepas landas, hujan deras dan angin kencang mengiringi perjalanan kami. jarak panjang tidak lebih dari 1 km menurut pandangan saya. hanya kabut putih dan deru mesin Pesawat bercampur dengan teriakan hujan yang terdengar. Pesawat seperti tertimpa pasir karena gemericik air hujan yang terlalu deras. 

setelah melewati beberapa menit yang menegangkan, Pesawat akhirnya terbang di atas awas dengan cuaca yang terang. saya kemudian menikmati perjalanan udara meskipun tidak terlalu lama. perjalanan dari Jakarta ke kota Minang memang hanya ditempuh dalam durasi 1 jam 45 menit. menjelang landing, Pesawat ternyata harus memutar ke tengah laut kemudian mengambil aba-aba mendarat. saya menduga bahwa Pesawat harus menghindari angin yang terlalu kencang atau mungkin juga karena rutenya seperti itu.

Akhirnya saya menginjakkan kaki di kota ini. analisa awal saya bahwa kota ini tidak terlalu besar melihat bandaranya yang jauh lebih kecil dari bandara Hasanuddin, saya selalu membandingkan bandara Hasanuddin setiap landing di Bandara lain di Indonesia. 

Butuh waktu sekitar 45 menit dari Bandara ke pusat kota. sepanjang perjalanan, pemandangan pohon kelapa memenuhi ruang pinggir jalan. angkot berwarna orange mendominasi angkutan umum di sepanjang jalan dan kesadaran lalu lintas masyarakatnya yang tidak jauh berbeda dengan warga negera Indonesia pada umumnya. selalu merasa paling terburu-buru, melanggar lalu lintas yang akhirnya mengambil hak pengguna jalan.

Sepanjang perjalanan, Saya membayangkan bagaimana dulu kota ini melahirkan banyak cendikia, Buya Hamka misalnya. saya juga membayangkan kota ini didominasi masyarakat yang cantik dan tampan khas suku Minang, meski kemudian hari berikutnya, anggapan saya teranulir. orang Minang menurutku tidak berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Saya menginap di salah satu hotel yang baru berdiri, hotel Amaris. sekitar dua kilometer dari kantor tempatku beraktivitas selama seminggu di kota Minang. sebenarnya ada hotel Pangeran tepat di depan kantor namun jauh hari sebelumnya, hotel Amaris sudah dibooking temanku via aplikasi online.

Saya tidak terlalu banyak waktu mengeksplorasi kota ini karena ada masalah di kantor, namun sejauh jejak kakiku di kota ini,  saya beranggapan bahwa kota ini tidak terlalu besar, mungkin jauh lebih kecil dari kota Makassar. oh iya, keterikatan asmara kota Makassar dengan kota Minang sangat kental. wakil Presiden seorang Bugis dan isterinya dari Minang. novel Buya Hamka mengangkat cerita asmara antara tokoh utama Zainuddin yang berasal dari Makassar dengan sang pacar, Hayati yang merupakan keturunan bangsawan Minang.

Sejatinya saya ingin menyambangi tempat legendaris batu Malin Kundang yang melegenda seantero nusantara namun seperti yang saya katakan di atas bahwa masalah di kantor membuat gerak saya terbatasi dan membatalkan beberapa rencana yang sudah matang. saya hanya mengunjungi pantai dan menyusuri jalan arah ke Semen Padang, selebihnya hanyabl sudut kota yang kudatangi.

Sependek pengamatan saya selama seminggu dan analisa dari salah seorang teman yang sudah bermukin di kota ini, karakter orang Minang sangat tidak enakan. mereka lebih memilih menyimpan masalah daripada harus menyinggung perasaan orang lain. pandangan saya ini subjektif memang namun saya punya bukti setidaknya semua hasil interview yang saya lakukan. semua auditee saya memilih lebih memendam masalah dan tidak menceritakan kepada orang lain dibandingkan menjadikan masalah mereka menjadi lebih besar. kalau hal yang tidak enakan kayak begini, saya jadi ingat teman saya di Makassar yang disentil oleh salah seorang teman saya yang lain melalui artikel yang berjudul "Saying no without feeling guilty".

Minang, 12-17 12 18

November 20, 2018

#OTS 14

Akhirnya sampai juga di ujung barat Negeri ini. sebelumnya di awal tahun ini, saya sudah mendaratkan kaki saya di pulau paling timur. sensasinya bahwa negeri ini sudah kujejak dari timur ke barat. saya bisa membandingkan bahwa tidak ada perbedaan mencolok yang harus dipertentangkan di setiap daerah yang berbeda, kita satu negeri yang seharusnya menjaga persaudaraan.

tiga jam perjalanan via udara membawaku dari Cengkareng ke bandara Sultan Iskandar Muda. saya melihat bandara di kota ini jauh lebih kecil daripada bandara di kota asalku. saya menyewa taxi bandara ke hotel di pinggir kota. sekitar satu jam perjalanan menelusuri pinggir kota, pemandangan sudah terlihat lebih lengang karena malam sudah menjelang. saya lebih banyak membunuh waktu perjalanan sambil mengobrol dengan sang sopir taxi mengenai kejadian tsunami beberapa tahun lalu. dia bercerita banyak tentang tsunami yang memporakporandakan kota serambi mekah. sambil mengingat masa kelam, dia bercerita bahwa tempat tinggalnya tidak terkena dampak bencana dan pada saat tsunami, dia sedang berada di Bandara. sesekali obrolan kami kuselipkan terkait sepak terjang GAM di masa lalu.

Ada dua hal yang membuat saya sangat tertarik ketika memasuki kota ini, pertama tentunya fenomena bencana tsunami yang maha dahsyat dan menarik perhatian seluruh dunia dan yang kedua adalah perjalanan panjang konflik GAM yang ingin melepaskan diri dari NKRI.

Pertama saya akan bercerita tentang tsunami. saya menyempatkan mengunjungi beberapa spot yang memang sangat kental dengan sejarah bencana tsunami diantaranya monumen tsunami yang dibangun menyerupai kapal. memasuki monumen tersebut, kita seolah berada saat kejadian, suara air yang berdengung dengan lampu yang dimatikan dan desain tetesan air yang menambah suasana menjadi lebih menyeramkan. memasuki ruangan demi ruangan, kengerian benar-benar sangat terasa dengan begitu banyaknya nama korban yang tercatat itu pun yang bisa diindentifikasi. ada begitu banyak cerita yang bertebaran. spot selanjutnya yang saya kunjungi adalah kapal apung milik PLTD. kapal yang terdampar di tengah kota ini sudah dijadikan monumen dan pengunjung bisa memasuki ruangan kapal yang sudah didesain dengan dokumentasi pasca bencana. tidak ketinggalan juga mengunjungi masjid Baiturrahman. Masjid yang sangat fenomenal karena pada saat kejadian, masjid tersebut tidak terdampak bencana tsunami sementara di sekitarnya sudah hancur lebur.

kengerian tsunami di tahun 2004 memang tak terkira. salah seorang sopir grab yang kutumpangi bercerita bahwa anak isterinya menjadi korban. wajahnya begitu sedih mengingat kejadian tersebut. sebelum kembali ke kota, dia mengungsi selama 1 tahun.

Selain fenomena tsunami, saya juga banyak memungut cerita tentang GAM. konflik yang berkepanjangan di wilayah ini yang membuat trauma. ada yang menarik dari benang merah antara bencana tsunami dengan konfik GAM. jadi salah seorang guide yang membawa turis dari Malaysia di museum tsunami menjelaskan bahwa salah satu hikmah dari tsunami karena konflik dengan GAM berakhir. dia sempat mengisahkan bahwa ketika konflik dengan GAM, kengerian yang dimunculkan lebih parah karena seringkali setiap pagi, warga menemukan mayat yang dibunuh dan ditaruh begitu saja di depan rumah. setelah tsunami, konflik sudah aman dan wilayah ini berangsur damai meskipun beberapa kali terjadi riak kecil dari sisa para combatan GAM.

Saya sempat diajak oleh rekan kerja makan siang di perkampungan yang lumayan sudah agak jauh dari kota. menurutnya bahwa perkampungan tersebut adalah salah satu basis dari gerakan GAM. wliayahnya masih tergolong hutan dan jalananan masih dalam tahapan pengaspalan. saya berpikir bahwa pastiny beberapa tahun silam, daerah ini menjadi daerah yang menyeramkan.

Saya menyempatkan juga bertandang ke pulau ujung paling barat, titik 0. spot yang sangat ingin saya kunjungi karena merupakan tepian bagian paling barat negeri ini. butuh waktu sekitar 45 menit menyeberang via kapal Feri cepat untuk menjangkau pulau ini, kemudian dari pelabuhan sekitar dua jam menuju titik 0. di Senja yang mulai menua saat itu, saya memandangi samudera yang membatasi negeri ini.

oh iya, ada fenomena menarik di kota ini. kita tidak akan menjumpai pusat belanja Mall dan Bioskop, sama sekali tidak ada namun jika ingin warung kopi maka kota ini adalah surganya. setiap deretan jalanan dipenuhi oleh warung kopi dan anehnya, setiap warung kopi tersebut dipenuhi oleh pengunjung, aneh kan? ya begitulah adanya.

November 18

October 11, 2018

#OTS 13

perjalanan kali ini lebih spesial. untuk pertama kalinya menapak kaki di bumi Borneo bagian barat. saya sudah lama memimpikan untuk menjajaki semua pulau besar di negeri ini, dan mission saya tercapai kali ini. 5 pulau besar yang dulu kupelajari sudah kuhirup udaranya, Borneo yag paling terakhir.

senin pagi yang cerah, saya menumpang pesawat Sriwijaya dari Cengkareng menuju Polonia. ternyata perjalanan udara dari ibukota ke kota ini hanya memakan waktu satu jam, jauh lebih cepat dibandingkan ketika saya mudik. sesampai di bandara tujuan, saya mencoba merasakan hangatnya udara di kota ini. sedikit terasa panas menurut penerawanganku. memang kota ini terkenal sebagai kota yang dilalui jalur khatulistiwa.

saya menginap di sebuah hotel baru tepat di depan sebuah Gereja, tidak terlalu jauh dari kantor yang akan kutuju. sebelumnya saya mengira bahwa bahasa di kota ini tidak terlalu berbeda dengan logat di daerahku namun ternyata dugaanku meleset jauh. dialek di kota ini mirip melayu bahkan memang banyak suku melayu di kota ini, mungkin karena dekat dengan Malaysia. perantau dari Sulawesi ternyata lebih banyak yang berdiam di bagian timur pulau ini sehingga budaya di sana hampir sama.

enam hari di kota ini membuatku bisa mengunjungi beberapa spot yang memang menjadi favoritku ketika berkunjung ke sebuah daerah baru misalnya Mesjid raya, tempat keramaian yang khas, taman kota dan spot yang khas tentang sebuah daerah. saya menyempatkan merasakan suasana wisata kapal di atas sungai Kapuas pada malam hari. menurutku tidak terlalu istimewa karena sensasinya kurang.

Untuk makanan masih standar, tidak terlalu berbeda mungkin lebih mirip makanan orang padang yang mengutamakan bumbu. tata kota tidak terlalu berbeda dengan kota lain, masih hampir sama. kesadaran berlalu lintas di kota ini agak kurang, beberapa kali kutemukan pengendara yang tidak mematuhi aturan lalu lintas seperti menerobos lampu merah sedangkan seharusnya, kota seperti ini bisa lebih patuh dibandingkan ibukota yang semrawut.

Oktober 18
#Pontianak

October 3, 2018

Tiga Tahun

Perjalanan waktu tiga tahun hanya seperti mengedipkan mata beberapa detik kemudian semua lain dari sebelumnya. jejak demi jejak sudah dilukis di beberapa ruang dan waktu kemudian bergulir sampai saat ini di sebuah keadaan yang baru. 

Masih tergambar jelas di memoriku tiga tahun silam ketika saya harus bergegas ke Surabaya bertemu keluargaku kemudian bersama mereka menjemputmu di kediamanmu. momen yang seringkali membuatku sentimental karena begitu jauhnya jarak yang akhirnya mempertemukan mereka.

Tiga tahun berlalu yang penuh dengan drama kehidupan. tangisan, amarah, tawa, teriakan, pelukan, dan semua drama yang lazim dalam sebuah keluarga. meski saya yakin bahwa masih banyak rintangan yang menanti namun biarlah waktu yang membawa kita bersama dan menjawab semua.

Seringkali terlintas di benakku bahwa sebenarnya apa hakekat dari semua ini? apakah hanya sebatas hidup bersama, tidur, makan, bersenggama, punya anak kemudian hal lain yang lazim dalam sebuah keluarga? apakah sebatas itu?

Sepertinya sangat klise namun berkeluarga tidak sesederhana ini. jika ingin menyederhanakan mungkin lebih pada sebuah perintah atas keyakinan yang dianut yaitu jawaban jika ditanya kenapa berkeluarga maka jawabannya karena keyakinan atas agama yang saya anut memerintahkan saya menikah dan berkeluarga. ujung-ujungnya bermuara di jawaban tersebut. 

Saya membina keluarga karena diperintahkan seperti itu, saya mencintai keluarga karena diwajibkan dan bla bla bla. toh pada hakekatnya itulah yang utama. tidak ada jawaban lain selain bahwa agama saya memerintahkan seperti itu. sama halnya jika saya tidak minum alkohol, bukan karena alasan kesehatan namun karena agama saya jelas melarang hal tersebut maka saya tinggalkan.

Begitulah yang ada di pikiranku namun terlepas dari itu semua, kebersamaan ini akan tetap menjadi tanggung jawabku. meski pada sebuah kenyataan bahwa saya belum bisa memberi materi secara berlebih bahkan lebih sering isteri yang berperan sedangkan tadi siang, saya diingatkan Allah melalui ceramah aa Gym bahwa jangan sekali-kali meminta kepada isteri bahkan untuk membeli bensin sekalipun. saya masih sering melakukan hal tesebut.

di tiga tahun kebersamaan ini, ada satu kado yang akan membahagiakan isteri saya yang merupakan sebuah mimpinya dan juga impian saya. semoga terwujud dan menjadi kado spesial baginya. 

Semoga Allah meridha saya diterima di pekerjaan yang sedang saya daftar dan ini akan membahagiakan isteri saya.

31018

September 21, 2018

OTS #12

Tidak terlalu berkesan perjalanan kali ini karena tepat dua tahun yang lalu, saya sudah pernah menjajaki kota ini dengan tujuan yang sama. tidak terlalu banyak perubahan di kota ini selama dua tahun terakhir. mungkin hanya perbaikan jalan di beberapa titik yang membuat kota ini sedikit macet. bangunan masih sama dan cuaca seperti layaknya kota kecil di pulau Jawa, menyenangkan dan membuat rindu. saya yang pernah tinggal di Ngawi serasa kembali mengenang masa lalu.

Enam hari ini kota ini berjalan begitu cepat, hanya saja sudut kota yang kali ini kukunjungi hampir sama di dua tahun sebelumnya.

Wisata kuliner yang pernah kurasakan seperti warung makan di sebuah tempat menuju Baturaden. sedikit berbeda tentang menu masakan dan tata ruang warungnya yang lebih rapi.

hal lain yang berbeda adalah merasakan menginap di hotel baru dekat kantor. selebihnya suasananya masih sama. riuh kehidupan serasa berhenti pada sekitar jam 8 atau jam 9 malam. orang banyak yang berdiam di rumah sehingga kota lebih lengang. berbeda berkali lipat dengan kehidupan ibukota yang serasa tidak pernah berhenti berdetak.

menurut saya, kota ini memang salah satu pilihan terbaik bagi sebagian orang yang suka dengan ketenangan dan ingin menikmati hidup yang tenang. kota ini menawarkan banyak sisi yang bisa dihirup sebagai energi kehidupan. dekat dengan alam dan terhindar dari kegaduhan hidup.

September 2018
#Purwokerto

September 7, 2018

Semakin Menua

Tepat hari ini, berkali lipat tahun yang lalu, saya dihadirkan ke dunia ini tanpa kesadaranku secara kalkulasi manusia. Tuhan memilihku menjadi salah satu penghuni bumi sampai pada detik ini. 

Di saat manusia lain sudah menemukan misinya dihadirkan sebagai manusia, saya masih bingung sampai sekarang, apa sebenarnya tujuan Tuhan mengirimku ke dunia ini dalam wujud manusia. jika banyak orang dengan klise mengatakan bahwa jadilah manusia dan berbuat baiklah namun menurutku tidak berhenti sampai di situ. ada hal lain kenapa setiap orang dihadirkan. saya yakin semua punya misi khusus dan itu yang sampai sekarnag belum kutemukan.

"وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan, AKu tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku.” [Adz-Dzariat/51 : 56]"
Ayat di atas menurutku misi umum bagi semua manusia, namun pribadi masing-masing punya kekhasan dan itu yang harus digali, sialnya saya yang sudah hidup hampir dua kali lipat usia Nabi Muhammad Saw belum menemukan apa sebenarnya keunikan atau potensi yang diselipkan Tuhan dalam diriku yang bermanfaat bagi orang lain. 

Umur yang semakin menua, saya masih berada pada pergulatan pekerjaan yang tidak sesuai dengan prinsip namun tetap bertahan karena kebutuhan. oh mengerikan memang namun pada puncak kegelisahan pun belum ada jalan keluar sampai pada detik ini. perasaan paling bersalah apalagi yang melebih rasa bersalah terhadap penghianatan kata hati. kita bergulat dengan rasa bersalah setiap saat namun tidak kuasa mengikuti kata hati, hanya mengeluh tanpa berada bertindak.

Saya kembali berikrar kepada nuraniku bahwa tahun ini terakhir berada di pekerjaan yang tidak sejalan dengan prinsipku, kekuatan hati dan doa-doa yang mengalir deras dari lisanku senantiasa membangkitkan harapanku bahwa Tuhan sang Pemilik semesta akan berkenan mengamini doaku karena sekeras apapun usaha dan tekad jika Sang Maha belum berkenan maka tidak ada yang bisa mengubah apapun. saya sudah mengalami banyak hal yang menurutku memang tidak bisa diganggu gugat terkait kejadian-kejadian yang tidak disangka.

paling tidak kita hanya bisa berdoa yang terbaik dengan meenyerahkan keputusan yang terbaik menurut-Nya. "jika memang impian ini terbaik untuk diri dan keluarga, dunia dan akhirat maka ridhailah karena yang tahu segalanya adalah Engkau Ya Tuhanku." mungkin seperti itu redaksi yang lebih baik dibandingkan dengan redaksi meminta untuk diluluskan dengan nada yang menggebu.

Tahun ini, saya punya impian keluar dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan hati. saya berencana dan berusaha mendaftar di instansi yang menurutku lebih aman. ironinya lagi bahwa ini yang kesekian kalinya saya mencoba. saya tidak tahu di tempat mana saya terdampar namun saya akan berusaha dan berdoa kemudian menyerahkan segala keputusan kepada Tuhanku dengan mengandalkan intervensi doa. saya yakin Tuhanku akan selalu mengiringi jalanku dan menunaikan impianku. 

Ibuku, ibu dari anakku dan Ibu dari ibu anakku akan bahagia ketika impian ini terwujud. mereka adalah kebahagianku.

sampai jumpa di akhir tahun ini. semoga Tuhanku menunjukkan kuasanya kepadaku dan mengamini doa-doaku untuk impianku dengan keridhaanNya.

7 9 18

August 5, 2018

Rezeki

"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah SWT niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka. (QS. Ath Tholaq: 2-3)"

Sungguh sangat sulit menjelaskan seperti apa itu rezeki dan bagaimana dia mendatangi kita. Penjelasan yang paling lazim hanya seputar bahwa jika kita bekerja maka kita akan mendapatkan hasil sesuai yang diusahakan. Hanya sebatas pada penjelasan lurus seperti itu meski tanpa disadari, ada beberapa orang yang tidak terlalu bekerja keras namun hasilnya maksimal. Lebih dari yang mereka harapkan sedangkan di sisi lain, ada orang yang sudah sekeras baja mengusahakan sesuatu namun hasilnya nihil. "mungkin" seperti itulah "cara kerja Allah" memberikan rezeki kepada hambaNya karena sesungguhnya ada faktor x dibalik kemurahan Allah atas karunia kepada Makhluknya.

Ini bukan cerita yang menyanjung diri namun sekedar renungan untuk merekonstruksi kembali pemahaman tentang rezeki. Sebuah sebab yang sama sekali masuk dalam kalkulasi manusia tetapi pada kenyataannya, hal tersebut terjadi namun bukan berarti bahwa yang diusahakan dan didoakan tidak akan terwujud. Semua tergantung kepada Allah apakah Dia akan merealisasikan atau menunda dan mengganti dengan yang lain.

Dua bulan lalu, mimpi membeli rumah masih sekedar angan-angan.belum ada usaha untuk mewujudkan mimpi tersebut karena menganggap masih mustahil adanya. tabungan belum seberapa sedangkan harga rumah di kota ini minta ampun harganya. setelah lebaran, mulai terbersit untuk lebih serius mencari rumah murah namun layak untuk ditempati bersama keluarga.

Tiga minggu terakhir, saya memberanikan diri mencari rumah di sekitar Jak-sel dan daerah Depok setelah berhitung dengan dana maksimal yang bisa dikeluarkan. beberapa rumah sangat ideal namun tidak terjangkau. Ada yang terjangkau namun jarak terlalu jauh. Ada yang terjangkau, jarak dekat namun rumahnya tidak layak. 

Tiga minggu kemudian, kami dipertemukan dengan rumah sederhana di daerah Kebagusan. Rumah second namun sangat terawat dengan baik. Harga yang ditawarkan pun masih terjangkau meski akses masuk tidak bisa dilalui mobil namun setidaknya prioritas saat ini adalah rumah yang berjarak dekat dari kantor.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami memutuskan membeli rumah tersebut meski sebagian dari dana dipinjam dari bank yang harus dilunasi dalam sepuluh tahun. Hal tersebut sedikit menjadi beban namun pertimbangan yang lebih jauh lagi bahwa jika tidak memberanikan diri maka akan semakin sulit merealisasikan impian mempunyai rumah. Saat ini masih dalam proses transaksi, semoga berjalan sesuai dengan harapan tanpa ada rintangan yang berarti.

Hal yang ingin kuceritakan bukan impian yang terwujud namun proses bagaimana kami menjalaninya. Proses yang sangat cepat hanya sekitar satu bulan sedangkan ada beberapa orang yang bertahun-tahun mencari rumah sebelum menemukan yang sesuai dengan keinginan.

Mungkin seperti teori cocoklogi namun saya pikir ada benang merah dengan kejadian beberapa waktu lalu yang kami alami di rumah kontrakan. Setahun di rumah kontrakan, kloset mampet sehingga tidak bisa digunakan. Kami memanggil jasa penyedot tinja karena berpikir pasti tampungan kotoran penuh. Setelah jasa penyedot datang, kami mencari septic tank yang ternyata tidak ada. Akhirnya kami minta maaf kepada karyawan jasa penyedot tinja dan memberinya tip sebagai pengganti bensin. Kemudian kami berinisatif membiayai pembuatan septic tank dengan harapan, sang empunya kontrakan mengganti biayanya.

Di luar dugaan, setelah proses pengerjaan septic tank selesai, pemilik kontrakan tidak mau mengganti penuh biaya dengan berbagai alasan. Dia hanya mengganti sepertiga dari seluruh biaya. sejak saat itu, kami berdoa semoga tahun ini terakhir mengontrak di rumah ini dan mencari rumah kontrakan baru. masalah lain muncul ketika mesin air bermasalah dan dia pun tidak bersedia bertanggung jawab sedangkan seharusnya, kerusakan inventaris yang bukan merupakan sebab dari yang mengontrak, seharusnya menjadi tanggung jawab pemilik.

Kami mengikhlaskan hal tersebut sementara terus berdoa semoga bisa mendapat kontrakan yang lebih layak. namun Tuhan memberikan sesuatu yang lebih baik. Dia membuka jalan membeli rumah untuk segera pindah dari kontrakan ini. prosesnya sementara berjalan tinggal menunggu proses di Notaris.

Demikianlah Allah bekerja dengan tak terduga. manusia hanya berusaha memastikan kaki, tangan, hati dan semua gerak geriknya melakukan hal-hal baik. Meskipun sebagian dana untuk membeli rumah berasal dari pinjaman bank yang masih menjadi perdebatan namun setidaknya, saya sudah berkonsultasi dengan salah seorang ustadz yang kuanggap kapabel dan memahami hukum Islam.

4 august 18

July 11, 2018

Tengah Tahun

sudah awal juli berarti sudah setengah tahun berlalu di 2018. Belum ada pencapaian yang memuaskan sesuai dengan target bahkan banyak yang meleset. Banyak hal konyol maupun kebiasaan buruk yang masih saja dilakoni yang seharusnya sudah dicampakkan jauh jauh, jika tidak mampu berubah ke arah lebih baik maka bersiaplah untuk hal yang biasa saja di tahun berikutnya, masih beruntung kalau tidak mundur.

Target tahun ini memang harus meningkat dari tahun lalu dan zona yang sedang dijalani sekarang semoga bisa berganti dengan alasan yang prinsipil. Meski pada akhirnya harus bermandi keringat namun tak apalah, demi yang lebih baik untuk indrawi maupun nurani yang semakin berontak.

Hanya saja, perwujudan dalam usaha ril masih sangat minim bahkan boleh dikata 1 persen dari usaha 100 persen yang harus dijalani. Selalu saja ada alasan mengada ada untuk menunda yang akhirnya melewatkan waktu. Tidak nampak keseriusan dalam diri untuk fokus paling tidak beberapa menit dalam sehari.

Harus sadar diri bahwa waktu terus berlalu dan menyadari bahwa bilangan umur sudah lebih dari yang seharusnya. Di angka seperti sekarang ini, seharusnya fokus hidup beberapa jengkal lebih maju dari apa yang sedang kujalani saat ini namun apa daya, saya adalah barisan dari serdadu manusia labil yang masih terus berputar di masalah yang sama dan tak menemukan titik keluar untuk menatap tujuan hidup yang hakiki.

Semoga saja Rabb mengamini usaha dan doa yang tak henti kurapal dan tahun ini bisa meninggalkan sumber yang menggelisakan jiwa dan menjemput cita untuk kemudian menata target yang menenangkan jiwa. Semoga tahun ini bisa meninggalkan zona yang nyaman di jasad namun membuat suasana hati tak menentu. 

Ini bukan sebuah ungkapan ketidaksyukuran namun lebih pada menjaga prinsipil supaya tidak terlalu jauh terperosok. Amin. Engkau Rabb yang Maha Tahu Segala melebihi pengetahuanku.

Juli 18

June 15, 2018

Ironi Perantau Saat Musim Mudik

Merantau seperti menghitung hari dalam setahun untuk mudik, menandai hari libur dan hari berburu tiket. Bukan tak mungkin bahwa momen mudik inilah yang menjadi kekuatan bagi para perantau untuk tetap bertahan di tanah rantau. Bagaimana tidak, hidup di kampung halaman beribu kali lipat menyenangkan dibandingkan dengan harus hidup di rantau namun urusan perut seringkali memaksa seseorang untuk tetap bertahanan.  

Saya dan keluarga sudah berburu tiket 4 bulan sebelum momen mudik. ini harus dilakukan untuk mengantisipasi melonjaknya harga tiket menjelang mudik. dugaan kami benar. saat membeli tiket pesawat 4 bulan lalu, kami masih bisa mendapatkan tiket seharga 700 ribu an namun beberapa hari menjelang mudik, harga tiket pesawat yang sama sudah mencapai 2 juta. 

Mudik serupa oase bagi perantau. dia datang sekali dalam setahun membasuh dahaga perantau untuk memulihkan energi yang habis dimakan duniawi. 

Terlalu banyak cerita di luar nalar tentang mudik. bagaimana pemudik berdesak-desakan di kapal laut, di mobil maupun di pesawat dengan biaya yang tidak murah. namun apakah itu mengurungkan niat para pemudik? Tidak, sama sekali tidak malah bahkan sebaliknya, semua kisah tersebut menjadi lelucon di kemudian hari. 

Mudik memang secara indrawi hanya layaknya para perantau yang pulang kampung melepas kangen, melintasi kembali serpihan masa lalu, namun lebih dari itu, mudik punya sisi spritual. pulang memeluk orang tua, melepas energi negatif dan mengganti dengan energi positif untuk selanjutnya mengarungi kembali kehidupan rantau yang durjana.

June 14, 2018

Random tentang Ramadan

Ramadan menyisakan satu hari lagi namun belum ada satu pun renungan yang kusisakan di ruang ini. momen yang sebenarnya menyisakan banyak hikmah terlewatkan yang sudah seharusnya cukup menjadi sedikit dari banyak perenungan yang ada. 

Ramadan yang datang sekali dalam setahun dan dalam rentang waktu tersebut, akan banyak hal yang akan dilewati bahkan belum tentu Ramadan tahun depan akan menjumpai kita namun demikian, kita tetap disunnahkan untuk berdoa semoga  masih bisa dipertemukan dengan Ramadan tahun depan. 

Secara random, ada beberapa nasehat yang ingin kucatat tentang hal yang ingin kujadikan sedikit dari beberapa referensi untuk mengarungi jalan kedepan. 

Hidup adalah dosis. rumusan teori yang disampaikan oleh Cak Nun namun sejatinya saya sudah lama memikirkan hal seperti ini namun belum mampu menemukan kata yang pas dan penyampaian Cak Nun menegaskan apa yang selama ini kurenungkan. jadi seperti ini, hidup adalah takaran, apapun ini semuanya punya dosis yang kita sendiri mengetahui seberapa banyak yang seharusnya. kita mengetahui takaran makanan yang kita makanan dan harus mengukur makanan tersebut tanpa melebihi dosis. bahkan berdoa pun punya dosis. kita sadar diri terhadap apa yang akan kita minta kepada Tuhan dan bukan karena nafsu untuk meminta semuanya meski sebenarnya tidak salah. 

Sebagai suami isteri, kita tahu batasan maksimal berhubungan yang tidak berlebihan. kita tahu seberapa banyak dosis yang dibutuhkan dalam bekerja maupun istirahat bahkan semuanya punya dosis yang jika over dari dosis maka tidak baik untuk diri.

Tafsir Al Misbah dari Prof Quraish Shibab mengeksplorasi tentang perlunya bersikap sabar ketika kita teraniaya. tingkatannya seperti ini, jika kita diperlakukan buruk, tidak jadi soal jika membalas namun tidak melebihi keburukan yang diterima namun lebih baik lagi jika kita bersabar atas keburukan yang diterima. langkah ketiga dan yang paling terbaik adalah membalas keburukan yang diterima dengan perbuatan baik. itulah tingkatan yang sebaik-baiknya untuk mendapatkan ganjaran yang baik dari Allah. 

Menurut Buya Hamkah yang dikisahkan kembali Prof Quraish bahwa shalat ini laksana mencari gelombang pada radio. sedikit demi sedikit kita memutar tombol untuk mendapatkan salurna yang jernih. begitu pun dengan shalat, jangan pernah lelah menunaikan shalat untuk menemukan kenikmatan bersama Tuhan. 

Berdoa pasti akan dikabulkan namun ingat bahwa bagaimana mungkin Tuhan akan mengabulkan doa jika makanan kita masih haram, pakaian masih haram.

29 Ramadan 1439 H

April 30, 2018

Sesal

aku menghakimi diriku dengan berbagai macam kekhawatiran yang tak seharusnya. aku menuduh diriku gagal dalam menjalani hidup dan mencapai banyak impian di masa lalu hingga akhirnya aku terdampar di tempat ini. merana, sungguh merana hati yang tak berbesar atas setiap yang sudah terjadi.

aku bersedih atas duniawi yang terlewati. bersedih mengingat diriku yang masih berkutat pada tempat seperti ini di mana mereka yang seusiaku sudah fokus pada kehidupan masing-masing bahkan pada tujuan yang bukan duniawi lagi. tetapi aku..? ah ironi.

aku bersedih pada beberapa keputusanku yang menurutku tidak seharusnya kupilih. mungkin pada hal yang paling pribadi sekali pun. menyesal tidak terlalu keras pada diri untuk menjadi lebih baik dan yang lebih parah, tidak keras pada diri untuk memeluk prinsip sehingga apa yang kujalani sekarang adalah sesuatu yang sangat kontras dengan prinsipku. lalu apa..? ingin berlari jauh namun banyak pertimbangan yang membuatku berkubang dalam kondisi yang tidak mengenakkan.

kemana saja diriku selama ini. membuang begitu banyak kesempatan yang berseliweran di depanku kemudian berlarut-larut dan berakhir pada penyesalan.

tapi,

aku tidak mau kalah. aku masih punya Tuhan yang berjanji akan membantuku dalam setiap masalah yang kutemui. akan kubisiki Tuhan dengan bujukanku di setiap helaan nafasku untuk membuat kondisi menjadi lebih baik. kurayu Tuhan untuk mempertemukanku dengan harapan-harapanku yang tertunda dan yang lebih penting lagi, kuberserah kepada Tuhanku untuk menjauhkanku dari apa yang Dia haramkan dan disyubhatkan dari setiap makanan dan harta yang harus kuberikan kepada keluargaku.

paling tidak,

aku lepas dari sesuai yang masih abu-abu. sesuatu yang menguras pikiran dan tenagaku sedangkan hatiku sudah ingin berlepas. 

Tuhan. kau lebih tahu apa yang kubutuhkan dan kau tahu bahwa ada prinsip yang melekat dalam diriku. apa yang kukerjakan sekarang mungkin tidak terlalu menentramkan jiwaku dan semoga Engkau mendengar bujukanku di setiap sadarku.
Amin.

Awal Mei 18

March 28, 2018

OTS #11

Sebenarnya cerita tentang kota selanjutnya yang kujejaki seharusnya sudah selesai di dua minggu lalu namun karena handphone saya hilang dan akun Blogger saya sempat terhapus atas kecerobohan yang seharusnya tidak terjadi, alhasil cerita ini mengendap dan belum kutuliskan.

Saya mulai dari musibah kehilangan hp. jadi hari minggu, sehari sebelum berangkat ke Kota Kembang dalam rangka #OTS, saya bertandang ke tempat salah seorang teman yang datang dari Makassar. dia menginap di Apartemen Sudirman Park, tempat kakaknya. sebenarnya sih kami hanya mengobrol di Lobby namun ketika hendak pulang, saya sadar bahwa hp saya sudah tidak ada di tas, saya balik ke Lobby namun nihil, tidak ada juga di sofa tempat saya duduk sebelumnya. saya bertanya ke Resepsionis tetapi belum ada yang melapor menemukan hp. saya akhirnya pulang dan pasrah. saya dan isteri membeli hp baru di mall Ambassador. 

Esok hari, saya berangkat ke Bandung. biasanya menjelang pulang atau sehari setelah pulang, saya sudah menuliskan perjalanan menjejak tanah yang asing namun kehilangan hp benar-benar membuat moodku tidak terlalu baik untuk bercerita.

Kasus kedua yang semakin memperparah moodku ketika saya salah menghapus akun gmail. tadinya mertua saya meminta untuk menghapus akun google ku dari hpnya namun ternyata saya salah mengikuti instruksi, saya bahkan menghapus permanen akun googleku. hal ini berimbas pada hilangnya akun gmail dan blog. lebih parah lagi karena pada saat mencoba memulihkan akun tersebut, nomor hp yang kudaftar saat membuat akun gmail adalah nomor hp yang sudah lama tidak kugunakan dan entah sudah dimana rimbanya.

Tiga hari lamanya saya mendiamkan hal ini terjadi. jalan satu-satunya adalah mengurus kembali nomorku yang kugunakan untuk memulihkan akun. akhirnya saya ke gerai tempat mengurus kartu yang sudah hilang. saya was-was apakah kartu tersebut masih digunakan atau tidak. ternyata Semesta masih memberkati. nomor tersebut masih bisa digunakan dan saya hanya perlu membayar 25 ribu sebagai biaya administrasi penggantian kartu. setelah aktif, saya mencoba memulihkan akun google ku dan tralalala, DONE....!!! akun google ku aktif kembali.

Mulai cerita tentang Kota Bandung.

***
Saya bersama dua orang tim dari kantor berangkat ke Bandung via kereta Argo Parahayangan. kereta membawa kami dari Gambir pukul 07.15 WIB membelah kota Jakarta menuju Jawa Barat. penumpang lumayan padat padahal hari itu adalah awal hari ngantor, mungkin sebagian dari mereka juga melakukan perjalanan tugas sama sepertiku. seingat saya, kereta hanya berhenti di dua stasiun, Cimahi dan Bandung.

Kami tiba di Bandung jam setengah 11 siang. rencana awal ingin menikmati kuliner di sekitar stasiun Bandung namun ternyata warung sate yang merupakan usulan dari temanku ternyata sudah pindah tempat. kami memutuskan untuk langsung ke kantor Cabang via mobil online. butuh sekitar 40 menit dari Stasiun Bandung ke Jl. Amir Machmud Cimahi.

Sore harinya, kami memesan kamar di Hotel Vio di bilangan Pasteur, hotel yang menurutku tidak terlalu mewah namun lumayan untuk ukuran karyawan kelas teri seperti saya.

dari hari Selasa sampai Jumat, rutinitas berlangsung seperti biasa. jam tujuh pagi sarapan di hotel, bersiap ke tempat aktivitas, kemudian sehabis Maghrib pulang ke hotel istirahat. saya tidak benar-benar menikmati kota Bandung karena tempat berkegiatan kami masih berada di wilayah Cimahi.

Waktu kami tersita oleh masalah di tempat aktivitas. ada beberapa hal yang harus diselesaikan sehingga tidak ada waktu untuk menikmati malam dengan mengitari kota seperti yang biasa saya lakukan ketika sedang kegiatan #OTS. akhirnya sampai jumat malam, saya benar-benar hanya fokus pada kegiatan utama yang harus saya selesaikan.

oleh sebab kami hanya booking kamar di Vio hotel sampai jumat siang dan ternyata kegiatan baru selesai di jumat malam jam 11, akhirnya kami menginap secara mendadak di Hotel Tjimahi. pengalaman menginap di sebuah hotel tua yang menurutku lebih mirip dengan wisma. kamar tanpa AC maupun kipas angin dan ada tiga buah ranjang tua dengan banderol harga 350 ribu per malam.

Esok hari, saya ke kawasan Pasirleutik via ojek online. saya sudah janji dengan salah seorang teman yang menetap di kota ini. Saya mengingat-ingat kota ini yang kujejak tiga tahun yang lalu. tidak ada yang bersisa selain ketika masuk di kawasan Dago. ingatan saya mulai pulih karena di tiga tahun yang lalu, saya menginap di kontrakan belakang kantor Telkom di depan gedung sate.

Saya sampai di rumah teman setelah menyusuri jalanan dari Cimahi sekitar 40 menit. sejatinya saya sama sekali belum puas menikmati udara di kota Kembang karena hujan yang tak berhenti mengguyur. malam harinya, saya harus kembali ke Ibu Kota.

kapan-kapan plesiran lagi ke kota itu.
28 3 18

March 26, 2018

Gagal

Saya menjadi begitu inferior beberapa tahun belakangan atas pencapaian yang sudah saya dapatkan, oh iya kalau pun itu dianggap sebuah pencapaian. Pilihan hidup yang sama sekali tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku 10 tahun yang lalu. namun bukan berarti bahwa saya tidak mensyukuri seperti apa saya sekarang namun penekanannya lebih pada pilihan.

Bukan, sama sekali bukan karena materi sehingga saya terkadang menyesali pilihan ini namun lebih pada sebuah tanggung jawab moral atas apa yang sudah kupelajari selama ini, Setidaknya ada faktor dominan yang menegasikan pilihan hidup ini. faktor yang menurutku sulit untuk kuhindari atau bahkan kunaifkan untuk sekedar tetap memperoleh setiap bulannya pembeli sesuap nasi.

Pertama, pertengahan 2000-an, setahun sebelum masuk bangku kuliah, saya sudah ikut di sebuah organisasi yang kegiatannya di lingkungan masjid. organisasi yang menekankan pada nilai moral. dalam setiap dimensi kehidupan yang dijalani termasuk pula dalam sumber penghidupan. baik dari sumbernya, dzatnya atau apapun yang harus dinilai dari sisi moral. 

Nah, saya terjebak dalam sebuah lingkup pekerjaan yang menurutku bertentangan dengan apa yang sudah kupelajari. pekerjaan yang masih debatable secara hukum sharia, apakah masuk dalam kategori haram atau halal meski pada kenyataannnya, mayoritas ulama menganggapnya haram dan sebagian menghalalkan dengan beberapa catatan dalam hal ini, jika mau ambil jalan tengahnya, berarti jenis pekerjaan ini syubhat, hal yang seharusnya kutinggalkan. mungkin hanya satu hal yang membuatku bertahan adalah nasehat dari salah seorang guruku yang menyarankan untuk tidak gegabah, tetap bertahan sebelum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena lebih dzalim jika saya keluar dan tidak mampu memberi nafkah kepada keluarga.

kedua, saya pernah belajar tentang varian ilmu ekonomi yang seharusnya dijalani. mungkin sedikit geli mengatakan tentang sistem ekonomi yang adil dan tidak semata berpatron pada profit namun lebih luas berguna bagi masyarakat. namun apa yang kujalani sekarang alih-alih untuk masyarakat, semua hanya untuk profit yang menguntungkan Perusahaan. bahkan terkadang banyak hal yang menurutku memang sepantasnya saya harus mencari pekerjaan yang lebih menentramkan hati. 

Saya menghabiskan sebagian besar waktuku memikirkan hal ini bahkan benar-benar bekerja hanya menggugurkan kewajiban. pikiranku benar-benar sudah mentok pada strategi apa yang harus kulakukan untuk melepaskan diri dari penjara pikiran, rasa bersalah atas nurani dan hal semacamnya yang sifatnya tak bisa diindrawi.

Saya memutar memoriku ke tahun-tahun yang sudah berlalu.entah kenapa, setiap pekerjaan yang memang kuidamkan begitu sulit kuraih dan selalu saja keadaan sepertinya menarikku masuk dalam ruang yang tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan namun hanya demi kebutuhan perut, hal tersebut tetap kujalani meski demikian isi kepala berontak. 

atau kah saya yang tidak bersetia pada nurani? melawan bisikan nurani demi sebuah prestise. merasa mampu menjadi diri sendiri dan menafkahi orang lain. menganggap bahwa hal tersebut bisa dikompromikan meski ternyata berakhir dengan ironi. hidup sungguh tidak menyenangkan dan tidak membanggakan apa yang sedang dijalani. harus bersusah payah untuk tetap bersembunyi dari keadaan bahkan lebih parah jika harus selalu berdusta demi sebuah prestise.

entahlah, satu hal yang pasti bahwa saya akan tetap berusaha untuk melangkahkan kaki menjauh dari tempat yang tidak membuat nuraniku tidur nyenyak, dan lebih cepat mungkin lebih baik namun dengan pertimbangan yang matang dan tetap punya pegangan untuk memberi nafkah keluargaku.

kapan? sekali lagi entah kapan, biarkan tangan Sang Pemilik Semesta yang bekerja.

26 3 18

March 5, 2018

Islam Tuhan, Islam Manusia


Judul:           Islam Tuhan Islam Manusia
Penulis:        Haidar Bagir
Penerbit:       Mizan
Tahun terbit: 20
Tebal:           288

Haidar Bagir adalah salah seorang cendikiawan muslim di Indonesia yang tidak perlu diragukan lagi kedalaman ilmunya dan juga tebaran pengetahuan yang beliau pupuk selama ini. Selain mengurus sebuah penerbitan beliau juga sibuk mengelolah yayasan pendidikan, dimana salah seorang kawan saya mengajar di salah satu sekolahnya.

Tak terkira berapa buku yang sudah dihasilkan dari olah pikirnya salah satunya buku "Islam Tuhan Islam Manusia." bagian belakang buku ini dihiasi testimoni orang-orang besar di negeri ini. K.H Ahmad Mustofa Bisri, Goenawan Muhammad, Mochtar Pabottingi dan Franz Magnis-Suseno.

Pada bagian awal buku ini pada tulisan "Aku dan Islamku" Haidar Bagir menjelaskan dengan runut seperti apa beliau mengenali dirinya terlepas dari tudingan-tudingan orang yang tidak bersepakat dengannya. Entah berapa kali beliau mengklarifikasi secara langsung maupun tidak langsung atas tuduhan bahwa dirinya penganut Syiah namun klarifikasi tersebut tidak menyurutkan tuduhan dari orang-orang yang tidak bersepakat dengan dirinya.

Beliau meyakini bahwa akal ada anugerah Tuhan meski di lain sisi, beliau juga menyadari bahwa akal memiliki keterbatasannya sendiri. Dalam pencarian opini yang benar, fokusnya terletak pada kebenaran bukan pada popularitas. Sebelum mengkritik, kita harus memahami pendapat yang akan kita kritik seperti pemahaman penganutnya. Beliau melakukan pendekatan terhadap teks Al-Qur'an, sunnah dan tradisi Islam bersifat hermeneutika. Meski di lain sisi, beliau percaya bahwa pendekatan hermenutika memiliki jebakan-jebakannya tersendiri.

Isi buku ini sendiri terbagi ke dalam 5 bagian: Masalah, "Islam di zaman kacau. Khazanah Pemikiran Islam. Pendekatan, "Dialog Intra Islam". Pendekatan, " Dialog Islam, Budaya dan Peradaban".dan Solusi, "Islam,Cinta dan Spritualitas".

Pada bagian pertama, beliau mengelaborasi tentang masalah yang sedang dihadapi umat Islam secara spesifik. Tentang radikalisme, asal usul takfirisme dan negara yang disebutnya sebagai tuna budaya.

Saya akan menuliskan ulang beberapa inti pemikiran beliau dari setiap lembar tulisannya yang dijelaskan secara runut di buku ini.

Budaya adalah soal menjadi manusia secara komprehensif. Manusia spritual, bermoral, berestetika, sadar dan berpikir.berakar dari concern kemanusiaan paling dalam sebagai pengejawantahan dari Ketuhanan yang cirinya memiliki fitrah cinta kebenaran, kebaikan dan keindahan. Selain dari hal tersebut adalah antibudaya. Negara ini sudah lama menanggalkan budayanya dan menjadi santapan hegemoni ekonomi, komersialisasi cukong kapital besar berkolaborasi dengan politik busuk untuk menyerap seluruh saripati negara ini tanpa sisa. Meski demikian, budaya juga tidak seharusnya statis tetapi harus berkembang secara organis. Peran Pemerintah dalam revitalisasi kesadaran kolektif bangsa dalam meletakkan budaya sebagai persemaian seluruh aspek kehidupan.

"Information spill over" telah membuat orang mengalami diorientasi. Terlalu banyak informasi justru membuat orang kebingungan, hilangnya kedalaman dan lahirnya generasi baru pengguna internet, "orang-orang dangkal" (The shallows) menuruut Nicholas Carr. Orang-orang yang terbiasa menyantap informasi instan tanpa kedalaman.

Situasi yang mengkhawatirkan ini masih ditambah dengan perilaku tidak kritis masyarakat yang dengan mudahnya menggandakan dan menyebarluaskan apa saja yang dibacanya, ke ruang publik baik via WA, Twitter, Facebook dan sebagainya. Lebih parahnya lagi, sebagian media mendasarkan informasi dari sumber yang tidak dipertanggungjawabkan ini.

Keberlimpahan dan kemajuan sains dan teknologi yang tadinya dianggap bisa menjadi penopang kebahagiaan hidup, justru meninggalkan kehampaan psikologis dan spritual karena hanya menegaskan kenyataan bahwa setelah semua keberlimpahan itu tercapai, kebahagiaan hidup tidak ditemukan di sana.

Maka menjadi tugas para agamawan dan pemikir keagamaan moderat untuk menawarkan suatu paham atau penafsiran keagamaan yang mampu menjadi tandingan pemahaman sempit kaum fundamentalis dan radikal. Haidar Bagir merasa bahwa sejenis pemahaman keagamaan yang bersifat mistik (sufistik) merupakan alternatif paling efektif.

Mengenai Hermeneutika, Haidar Bagir mengutip pemikiran Friederich Schleimermacher yang mengandung dua langkah. Pertama, pemahaman teks melalui penguasaan aturan-aturan sintaksis bahasa komunitas si pengarang. kedua, penangkapan muatan emosianal dan batiniah pengarang secara intuinitif dengan jalan menempatkan diri subjek dalam benak pengarang.

Tentang Takwil, Haidar Bagir mengutip pahaman Ibn' Arabi dalam futuhat menyatakan bahwa "sesungguhnya setiap orang punya akses kepada pemahaman atas teks Al-Qur'an selama bersifat terbuka, tulus yakni dengan pemikiran sehat dan hati bersih yang tak tercampuri nafsu. Baik pemahaman yang bersifat 'ardhi (horizontal/tafsir) maupun thuli (Vertikal/Takwil).

Naql dipahami dengan aql, karena aql bisa keliru, dicek lagi dengan naql begitu seterusnya. Persis ketika kita membaca maknanya kita bisa simpulkan dari konteks kalimat tetapi untuk mendapatkan terjemahan yang pas, kita cek kesimpulan kita dengan membuka kamus, makna kamus pun pada gilirannya akan kita pahami dengan pas dalam konteks kalimat, begitu prosesnya terus menerus.

Dalam sebuah konfrensi Sains dan Agama di Yogyakarta, para ilmuwan ditanya mengenai sebab kemunduran Sains di wilayah ini. Prof. Osman mengatakan bahwa permusuhan terhadap filsafat di negara Islam selama beberapa abad menjadi sebab utama persoalan ini.

Manusia modern mengalami kehampaan spritual, krisis makna, legitimasi hidup serta kehilangan visi dan mengalami keterasingan terhadap dirinya sendiri. Seyyed Hossein Nasr dalam the Plight of Modern Man mengatakan bahwa krisis eksistensial berawal dari pemberontakan manusia modern terhadap Tuhan. Mereka telah kehilangan harapan akan kebahagiaan masa depan seperti yang dijanjikan Renaisans.

Dalam sebuah wawancara, Haidar Bagir menjelaskan bahwa dalam berbicara ekonomi yang ideal itu apakah kapitalistik atau sosialistik atau yang bersifat lain, mau tidak mau kita diskusi defenisi tentang keadilan. Ketika membedah politik. apakah yang bagus itu demokrasi atau otoritarianisme maka mesti kita diskusi tentang tujuan politik itu apa?

Tentang Mazhab. Imam Syafii secara luas diriwayatkan pernah berkata, "pendapatku benar, namun sangat potensial keliru sementara pendapat orang selainku keliru namun sangat mungkin benar." di lain waktu  Beliau berkata "jika suatu Hadist itu sahih,  maka itulah mazhabku."

Pada prinsipnya setiap perbuatan bersifat netral nilai. Tindakan baikdan buruk dinilai berbeda bergantung pada penerapannya. Mencuri bisa dinilai terlarang tetapi bisa juga sunnah bahkan wajib. Ibn Hazn al-Zhahiri dalam bukunya yang berjudul al-Muhalla pernah mengatakan bahwa seorang pencuri yang mengambil harta dari seorang kaya dikarenakan haknya tidak diberikan kemudian tertangkap dan terbunuh,maka dipercaya mati syahid.

Tentang fenomena Sunni-Syiah. ada dua sebab yang memperkeruh konflik antara Sunni-Syiah. Pertama, sejak revolusi Iran, ada sekelompok di dalam negeri Iran yang ingin mengekspor Revolusi Islam ke negara lain. Kedua, ada ketakukan dari negara teluk monarki kalau revolusi yang terjadi di Iran akan merembet ke negara mereka. Harus diingat bahwa Iran menjadi negara Islam bukan karena revolusi tetapi lewat referendum.

Di masing-masing kubu Sunni-Syiah, ada kelompok ekstrim, mereka inilah yang memanas-manasi keadaan akibatnya timbul ketegangan yang terus menguat.

Tentang pembahasan Kafir.

Abu Sufyan tetap bertahan dengan agama arab jahiliah bukan karena percaya dan mengimaninya sebagai sebuah kebenaran, namun lebih karena sistem purba itu menguntungkannya secara politik dan sosial. Doktrin Islam terkait reformasi sosial yang memberatkan orang semacam Abu Sufyan untuk memeluk Islam bukan soal pengakuan dan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, artinya faktor ekonomi dan politik bukan faktor teologis yang menjadi dasar penyangkalan terhadap Islam.

Sebuah perkataan Nabi Ibrahim seperti yang disitir Al-Qur'an, kebencian dan permusuhan diarahkan kepada sifat/perbuatan buruk orang, bukan kepada orang/pelakunya sendiri (QS. Mumtahanah 60:4).

Beragama, betapa pun melibatkan fisik dalam menjalankan ritual-ritualnya, adalah urusan "rumah", urusan hati yang ada di dalam diri. urusan rohani. Ritual, seberapa pun pentingnya dalam kehidupan beragama, adalah simbol. baik agama maupun politik dan hukum, kesemuanya itu dimaksudkan untuk membantu manusia agar dapat meraih kehidupan yang baik/bahagia.

Ketika ditanya tentang apakah beliau Syiah atau Sunni, inilah jawabannya. "Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga."


5 3 18

 

February 28, 2018

Auditor dan Jurnalis

Ada banyak bidang kerja yang butuh ketekunan ekstra untuk mendapatkan hasil. Mulai dari hal remeh temeh sebelum memasuki ruang yang lebih besar. Jika pola kerja seperti itu tidak dilaksanakan maka hasilnya akan mengecewakan bahkan tergolong gagal.

Menjadi seorang Jurnalis adalah mengenai pekerjaan verifikasi. Harus ada bukti rinci dari setiap berita yang akan diangkat ke permukaan. Bahkan seharusnya dari sumber primer. Kemajuan teknologi saat ini bukan memudahkan cara kerja seorang Jurnalis namun malah sebaliknya, semakin memberikan tantangan bagi para Jurnalis yang seaungguhnya untuk memberitakan sesuatu fenomena yang benar-benar sudah diverifikasi kebenarannya. Kebanyakaan saat ini, berita yang kita konsumsi hanya dari sumber kesekian bahkan mungkin menggunakan metode googling.

Kemudian bidang kerja audit. Pekerjaan ini juga adalah bidang yang paling menyenangkan karena butuh ketekunan yang lebih untuk memverifikasi data temuan. Auditor yang gagal bukanlah Auditor yang kurang pintar namun auditor gagal adalah mereka yang gagal menguatkan ketekunan dalam mempelajari suatu kasus. Mulai dari temuan, mempelajari pola kasus, memverifikasi ke pihak terkait, menemukan bukti valid sebagai penunjang sebelum akhirnya menyimpulkan suatu kasus yang sedang dikerjakan. 

Saya yang sudah lebih dari setahun di divisi audit benar-benar menyadari bahwa pekerjaan seperti ini tidak akan pernah berhasil untuk orang yang gampang bosan dan tidak menyukai sesuatu yang remeh temeh. 

Auditor dan Jurnalis memiliki pola kerja yang hampir sama.

28 2 18

January 30, 2018

OTS #10

Perjalanan kali ini terasa spesial. pertama  kalinya menjejak langkah di tanah paling timur negeri ini. Tanah bagi mereka yang sering "dianggap" primitif oleh mereka yang sok modern, pun sering mengalami diskriminasi dari banyak faktor.

Perjalanan yang cukup melelahkan dari Cengkareng ke Sentani. Enam jam lamanya berkutat dengan rapalan doa di atas Pesawat yang menantang cuaca ekstrim. Tak henti-hentinya mulut melafalkan doa untuk keselamatan.

Jam 11.55 tengah malam, Pesawat Batik mulai menerbangkan kami ke udara menuju pulau paling Timur. Angin malam seakan menusuk sekujur tubuh menambah kebekuan malam.

Sejam, dua jam perjalanan masih mulus dilalui. Pesawat seakan tidak mengalami hambatan berarti. Namun menjelang daerah tujuan, beberapa kali pemberitahuan dari pihak Pesawat untuk mengencangkan safety belt. Pesawat bergoyang layaknya mobil yang sedang berjalan di atas jalanan berlubang. Cuaca di luar berkabut. Saya mencoba untuk memejamkan mata dan meyakinkan diri bahwa semesta menjaga Pesawat yang sedang melaju.

Akhirnya saat pagi sudah mulai menua, tanah pulau itu sudah nampak. Cuaca juga sepertinya bersahabat. Saat pesawat akan mendarat, hamparan bukit, hutan dan danau menyambut. Lumayan mengobati perjalanan yang melelahkan. Pesawat mendarat dengan mulus.

Jarak bandara menuju pusat ibukota provinsi masih ditempuh sejam lamanya. Jalanan berkelok mengikuti lereng gunung di samping kiri dan danau di samping kanan.

Menjelang siang, akhirnya tiba di pusat kota. Ada yang aneh karena saya jarang menjumpai suku asli di pulau ini. Bahkan saya seperti pulang kampung karena pusat kota dipenuhi perantau dari daerah asalku.

Seminggu di kota ini. Saya tidak banyak menjelajah ke beberapa spot yang indah. Meski begitu lumayan mengikis inginku untuk melihat luasnya negeri ini.

Oh iya, di kota ini, sangat umum menjumpai pedagang pinang dan di sepanjang tempat, kita seringkali melihat bekas pinang yang tersebar di mana-mana.

Semoga ada kesempatan di lain waktu untuk kembali menuntaskan keinginan menapaki banyak tempat yang belum disinggahi.

30 1 18