March 1, 2014

perpisahan semalam

Nampaknya aku sangat pas jika mendengarkan lagu dangdut “malam terakhir”. Benar-benar tadi malam seperti di lirik lagu itu bahwa malam ini adalah malam terakhir untuk mencurahkan rasa rindu. Besok engkau akan pergi jauh ke ibu kota. Kuharapkan engkau sabar menanti. Kita akan berjumpa di saat bahagai, di saat malam pesta perkawinan kita”.

Mungkin saja kita berjumpa sebelum malam perkawinan namun salah satu doa yang kukuatkan untuk saat ini adalah semoga saja kita dipertemukan di waktu yang tepat. Waktu dimana kita sudah bisa merencakan yang lebih jauh lagi tentang masa depan kita berdua. Ada banyak alasan kenapa aku berdoa untuk tidak dipertemukan saat belum ada kejelasan dan salah satunya yang paling utama adalah untuk menjaga diri kita berdua dari khilaf yang mungkin saja akan selalu terulang kalau kita bersama. Yah itulah kekhawatiran terbesarku saat kita selalu bersama dalam waktu yang belum tepat dan mungkin alasan itu pulalah, semalam ada perasaan sedikit agak lega yang menyelinap diantara setumpuk perasaan rindu, sedih bahkan sesak di dada yang harus berpisah jauh darimu. Perasaan lega yang tiba-tiba menyelinap di dalam hatiku adalah kita bisa lebih menjaga diri dari khilaf yang amat sangat dibenci oleh Sang Maha Kuasa. Bukankah kita sudah sepakat bahwa perasaan kita harus dibangun diatas pondasi keridhaan Sang Pencipta dan berpisah dalam waktu seperti ini adalah salah satu cara kita untuk membuktikan janji kita tersebut. Kebersamaan kita yang lalu sudah begitu banyak meninggalkan titik-titik khilaf yang sudah semestinya harus kita sesali dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik lagi.

Oh yah, sebenarnya aku mau cerita tentang perpisahan kita semalam. Tepatnya rabu malam, engkau memintaku untuk mendatangimu di kotamu karena ada kabar bahwa engkau akan berangkat ke ibu kota hari sabtu. Meskipun kabar tersebut masih simpang siur karena bukan pengumuman resmi dari instansi tempatmu diterima di ibu kota namun kekhawatiranmu tidak bertemu denganku sebelum keberangkatanmu membuatmu memintaku untuk mengunjungimu lebih awal. Kita sepakati aku berangkat kamis subuh ke kotamu. Sengaja aku pura-pura marah malam itu dan mengatakan bahwa aku berangkat kamis siang hanya semata-mata memberimu kejutan dan benar saja, engkau berurai air mata ketika tahu bahwa aku tidak berangkat pagi. Tepat jam 9 pagi, aku sudah berada di terminal kotamu lalu kukirimi engkau sms mengenai kedatanganku, tunggu kak, hanya itu balasan singkatmu lalu kemudian engkau memapakku di terminal tersebut. Seperti tempat pertemuan kita sebelumnya, aku tunggu engkau di mushalah depan terminal sambil membaringkan tubuhku, sesaat kemudian engkau datang dengan cerianya dan tak henti-hentinya engkau  memegang tanganku lalu mencium berkali-kali.

Untuk dua hari sebelum keberangkatanmu, kita sudah berjanji mengitari kabe sudut kota ini yang dulu sering kita lakukan. Engkau mencatat tempat yang kita akan kunjungi bahkan sampai rumah makan sekalipun. Aku hanya mengikuti kemauanmu untuk menyenangkanmu sebelum kita benar-benar berpisah malam sabtu. Bahkan seperti janjimu engkau membelikanku durian di depan stadion dan tak lupa juga es degan gula jawa kesukaanku di depan alfamart. Ah sesak hati ini menuliskan hari-hari terakhir perpisahan kita dik.

Dan akhirnya salah satu momen yang paling kubenci adalah perpisahan dan itu terjadi juga bagi kita. kamis sore, engkau di sms dari instansi tempatmu diterima di ibu kota bahwa senin pecan depan harus sudah masuk kerja dan itu artinya jumat malam engkau akan berangkat ke ibu kota. Benarbenar sesak di dadaku dan mungkin juga engkau merasakan hal yang kurasakan atau tidak, entahlah aku tidak tahu sama sekali perasaanmu saat itu. Akhirnya kamis malam, aku menemanimu ke stasiun memesan tiket kereta untuk keberangkatanmu jumat malam. Sepanjang jalan aku tidak terlalu banyak bercerita karena sibuk dengan perasaanku bahwa engkau benar-benar harus berangkat secepat ini. Kita memesan tiket kereta gajayana malang-jakarta.

Waktu sehari sangat cepat berlalu, jumat sore engkau dan mama sudah siap dengan 4 tas besar. Kita makan malam terakhir di rumahmu sambil menunggu taksi pesanan. Tak lama kemudian, taksi datang memapakmu dan kuantar dirimu ke stasiun. Detik-detik yang benar sesak saat sudah di depan pintu masuk stasiun. Aku benar-benar sesak hingga berkali-kali harus menghindar dari depanmu pura-pura melihat jadwal kereta di layar depan pintu masuk dan mungkin engkau tidak tahu bahwa sebenarnya aku menghindar dari depanmu untuk menghapus butir-butir air yang tak tertahankan keluar dari kelopak mataku. Sesekali aku melihat matamu namun nampaknya tidak ada raut sedih apalagi air mata yang menetes dan benar-benar engkau lebih tegar dariku, pikirku atau memang engkau tidak sedih sama sekali harus berpisah denganku untuk waktu yang tak tentu, kuharap engkau juga sedih. Setelah memasuki ruang tunggu stasiun, aku sudah tidak bisa masuk namun tidakkah engkau menyadari bahwa aku tidak beranjak dari pintu masuk stasiun sebelum engkau benar-benar hilang diantara kerumunan penumpang lainnya bahkan sesekali aku masih berharap melihat wajahmu dan lalu lalang penumpang membuatku tidak bisa melihatmu dengan jelas. Ah, aku sudah amat merindukanmu bahkan saat 5 menit tidak melihat wajahmu dan jangan ditanya tentang rinduku malam ini yang baru 12 jam tidak melihatmu dan kedepan semakin banyak jam tidak melihatmu. Engkau pikirkan saja gadisku betapa rindunya diriku. Baru 5 menit tidak melihatmu sudah membuat diriku dilanda rindu apalagi bulan atau bahkan tahun.

Aku naik becak ke terminal. Melewati perlintasan kereta yang sebentar lagi engkau akan lalu dan dari jauh kulihat kerumunan penumpang yang masih menunggu kereta gajayana dan salah satunya adalah dirimu. Aku kirim sms bahwa aku sudah ke terminal berangkat ke ibu kota provinsi menggapai mimpiku sambil berdoa semoga saja aku diberi rejeki untuk segera menjemputmu dan membawamu ke pelaminan seperti yang sering kita rencanakan akhir-akhir ini.
  

Jumat senja
Tepat penghujung bulan februari 2014   

No comments: