Kegemaranku
menulis memang sudah lama terbentuk di dalam diriku meski kuakui bahwa kualitas
menulisku sangatlah di bawah standar. Aku selalu saja minder dengan apa yang
sudah kutulis bahkan di saat mahasiswa dulu, aku selalu saja tidak percaya diri
memperlihatkan tulisanku kepada teman-temanku untuk dibaca. Bahkan di beberapa
tulisanku, aku mengangap nyampah. hanya karena ingin menulis, jadi setiap hal
kujadikan tulisan. Aku lebih suka menulis di buku kemudian kusimpan rapat-rapat
dan kubaca sendiri. Berbagai jenis tulisan kucoba untuk kutulis, tergantung
moodku saat akan menulis.
Aku sudah
beberapa kali mencoba untuk mengirim tulisanku ke media namun tidak sekalipun
berhasil diterbitkan, alhasil itu yang kemudian memperparah gairahku dalam
mempublikasikan tulisanku meski suatu kesyukuran bahwa passionku tidak serta
merta ikut down. Satu hal yang membuatku terus menulis adalah ada perasaan
tidak enak ketika dalam waktu yang lama aku tidak menulis apapun.
Saat
mulai bekerja di GreenPeace sebagai DDC, aku tetap menulis hal-hal di sekitarku
dan mencoba untuk mengarang cerpen. Ada salah seorang kawanku, si Linda menjadi
objek pembacaku. Aku selalu saja tersipu saat mengenang masa itu, terkadang
tersipu malu dan seringkali pula lucu. Ceritanya begini, setiap kali aku
selesai mengarang cerpen, aku meminta linda untuk membacanya bahkan terkesan
memaksanya. Aku mengirimkan ke emailnya cerpen-cerpenku dan setiap kali bertemu
di tempat kerja, aku menagihnya apakah sudah membaca cerpenku atau belum. Sialnya
lagi Linda selalu saja mengatakan belum namun aku tidak menyerah untuk
memintanya membaca cerpenku. Saat dia selesai membaca, aku meminta pendapatnya
dengan harapan dia mengapresiasi cerpenku namun nihil, sama sekali dia memberi
tanggapan dengan dingin..haha. aku rasa hasil tulisanku memang hanya untuk
konsumsi pribadiku. kawanku itu sekarang bermukin di Tuban pasca menikah dan
sekarang sedang hamil. Semoga saja dia sehat selalu dan bahagia bersama
keluarganya.
Resign
dari GP, lalu kemudian aku bergabung dengan penerbit Erlangga, harapanku bahwa
libido menulisku bisa kutuangkan di wadah yang tepat namun terkadang apa yang
kita impikan selalu saja tidak sama dengan kenyataan dan bahwa kita harus tetap
berjuang. Di Penerbit Erlangga, aku bekerja sebagai salah satu bagian di divisi
pemasaran, alih-alih meluangkan waktuku untuk menulis, semua waktu tercurah
pada target yang harus dicapai. Namun tidak menyurutkan aku untuk tetap saja
menulis. Untungnya di mes kantor ada computer yang bebas kugunakan kapan saja
alhasil saat menjelang malam dan sudah tidak ada pekerjaan kantor, mulailah
kualih sungsikan komputer kantor sebagai wadah untuk menulis.
Setelah
setahun bekerja di Penerbit Erlangga, aku memutuskan untuk resign dengan alasan
yang prinsipil dan tidak bisa kuuraikan secara detail disini. Kusadari juga
bahwa prestasiku sebagai divisi pemasaran di Penerbit Erlangga jauh dari kata
memuaskan namun tak apalah, hidup memang antara sukses dan gagal dan saat kegagalan
menghampiri maka kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki dan ini yang
sedang coba kubangun dalam diriku.
Sekarang
saat aku masih vakum dari pekerjaan setelah resign dari Penerbit Erlangga, aku
belum punya pekerjaan meski begitu, waktuku bisa kugunakan untuk menulis
apatahlagi sekarang sudah punya laptop sendiri hasil keringat dari pekerjaan di
Penerbit Erlangga. Kuakui bahwa terkadang waktu luang seringkali bukan jaminan
buatku untuk lebih produktif menulis karena keterbatasan ide dari pengalaman. Saat
di Penerbit erlangga dulu, memang waktu sangat kurang namun ide mengalir begitu
saja karena interaksi yang intens dengan orang-orang sekitar jadi aku bebas
menulis setiap orang atau pengalaman pribadi saat tugas kantor dalam bahan
tulisan.
Meski
begitu, aku tidak kehilangan Akal. Saat ini memang aku jarang beraktivitas dan
praktis jarang mendapatkan ide menulis namun aku punya cara. Minimal dua jam
sehari aku ke toga mas atapun ke gramedia untuk sekedar baca buku dan dari isi
buku itulah aku coba untuk merangkum apa saja nilai yang seharusnya kuingat
terus dan kutuangkan dalam tulisanku.
Saat
ini juga, aku harus bersyukur karena aku sudah mendapatkan satu pembaca setiaku
yang tidak harus kupaksa untuk membaca tulisan-tulisanku seperti linda dulu. Meskipun
tidak kusuruh maka dia dengan setianya akan menanti postingan tulisanku di
blogku. Aku yakin dia seperti Linda dulu tidak terlalu menyukai
tulisan-tulisanku hanya saja karena sungkan kepadaku jadi tetap saja membacanya,
tapi tak apalah, hitung-hitung ada yang menikmati tulisanku. Hehe. Toh kalau
nantinya dia sudah bosan, dia berhenti sendiri menjadi penikmat tulisanku. Dialah salah satu pengunjung blogku yang
paling setia dan mungkin juga dia satu-satunya pengunjung blogku.
caraku
membunuh waktu luang dengan menulis sudah menghadirkan kesenangan yang luar
biasa. Bukankah dalam hidup kita harus melakukan apa yang kita senangi selama
tidak bertentangan dengan keyakinan.
Buat
pembaca setiaku, terima kasih telah mengunjungi blogku setiap hari dan siapaun
dirimu, terima kasih telah merelakan membaca tulisan-tulisanku yang mungkin
lebih mirip nyampah daripada tulisan itu sendiri.
Terakhir
untukmu, tetaplah bahagia karena hidup hanya sekali dan hidup itu sendiri
harusnya dilewati dengan kebahagiaan..
Jojoran
3/61
13’3’14
14;26
No comments:
Post a Comment