March 13, 2014

Pembaca Setia

Kegemaranku menulis memang sudah lama terbentuk di dalam diriku meski kuakui bahwa kualitas menulisku sangatlah di bawah standar. Aku selalu saja minder dengan apa yang sudah kutulis bahkan di saat mahasiswa dulu, aku selalu saja tidak percaya diri memperlihatkan tulisanku kepada teman-temanku untuk dibaca. Bahkan di beberapa tulisanku, aku mengangap nyampah. hanya karena ingin menulis, jadi setiap hal kujadikan tulisan. Aku lebih suka menulis di buku kemudian kusimpan rapat-rapat dan kubaca sendiri. Berbagai jenis tulisan kucoba untuk kutulis, tergantung moodku saat akan menulis.

Aku sudah beberapa kali mencoba untuk mengirim tulisanku ke media namun tidak sekalipun berhasil diterbitkan, alhasil itu yang kemudian memperparah gairahku dalam mempublikasikan tulisanku meski suatu kesyukuran bahwa passionku tidak serta merta ikut down. Satu hal yang membuatku terus menulis adalah ada perasaan tidak enak ketika dalam waktu yang lama aku tidak menulis apapun.

Saat mulai bekerja di GreenPeace sebagai DDC, aku tetap menulis hal-hal di sekitarku dan mencoba untuk mengarang cerpen. Ada salah seorang kawanku, si Linda menjadi objek pembacaku. Aku selalu saja tersipu saat mengenang masa itu, terkadang tersipu malu dan seringkali pula lucu. Ceritanya begini, setiap kali aku selesai mengarang cerpen, aku meminta linda untuk membacanya bahkan terkesan memaksanya. Aku mengirimkan ke emailnya cerpen-cerpenku dan setiap kali bertemu di tempat kerja, aku menagihnya apakah sudah membaca cerpenku atau belum. Sialnya lagi Linda selalu saja mengatakan belum namun aku tidak menyerah untuk memintanya membaca cerpenku. Saat dia selesai membaca, aku meminta pendapatnya dengan harapan dia mengapresiasi cerpenku namun nihil, sama sekali dia memberi tanggapan dengan dingin..haha. aku rasa hasil tulisanku memang hanya untuk konsumsi pribadiku. kawanku itu sekarang bermukin di Tuban pasca menikah dan sekarang sedang hamil. Semoga saja dia sehat selalu dan bahagia bersama keluarganya.

Resign dari GP, lalu kemudian aku bergabung dengan penerbit Erlangga, harapanku bahwa libido menulisku bisa kutuangkan di wadah yang tepat namun terkadang apa yang kita impikan selalu saja tidak sama dengan kenyataan dan bahwa kita harus tetap berjuang. Di Penerbit Erlangga, aku bekerja sebagai salah satu bagian di divisi pemasaran, alih-alih meluangkan waktuku untuk menulis, semua waktu tercurah pada target yang harus dicapai. Namun tidak menyurutkan aku untuk tetap saja menulis. Untungnya di mes kantor ada computer yang bebas kugunakan kapan saja alhasil saat menjelang malam dan sudah tidak ada pekerjaan kantor, mulailah kualih sungsikan komputer kantor sebagai wadah untuk menulis.

Setelah setahun bekerja di Penerbit Erlangga, aku memutuskan untuk resign dengan alasan yang prinsipil dan tidak bisa kuuraikan secara detail disini. Kusadari juga bahwa prestasiku sebagai divisi pemasaran di Penerbit Erlangga jauh dari kata memuaskan namun tak apalah, hidup memang antara sukses dan gagal dan saat kegagalan menghampiri maka kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki dan ini yang sedang coba kubangun dalam diriku.

Sekarang saat aku masih vakum dari pekerjaan setelah resign dari Penerbit Erlangga, aku belum punya pekerjaan meski begitu, waktuku bisa kugunakan untuk menulis apatahlagi sekarang sudah punya laptop sendiri hasil keringat dari pekerjaan di Penerbit Erlangga. Kuakui bahwa terkadang waktu luang seringkali bukan jaminan buatku untuk lebih produktif menulis karena keterbatasan ide dari pengalaman. Saat di Penerbit erlangga dulu, memang waktu sangat kurang namun ide mengalir begitu saja karena interaksi yang intens dengan orang-orang sekitar jadi aku bebas menulis setiap orang atau pengalaman pribadi saat tugas kantor dalam bahan tulisan.

Meski begitu, aku tidak kehilangan Akal. Saat ini memang aku jarang beraktivitas dan praktis jarang mendapatkan ide menulis namun aku punya cara. Minimal dua jam sehari aku ke toga mas atapun ke gramedia untuk sekedar baca buku dan dari isi buku itulah aku coba untuk merangkum apa saja nilai yang seharusnya kuingat terus dan kutuangkan dalam tulisanku.

Saat ini juga, aku harus bersyukur karena aku sudah mendapatkan satu pembaca setiaku yang tidak harus kupaksa untuk membaca tulisan-tulisanku seperti linda dulu. Meskipun tidak kusuruh maka dia dengan setianya akan menanti postingan tulisanku di blogku. Aku yakin dia seperti Linda dulu tidak terlalu menyukai tulisan-tulisanku hanya saja karena sungkan kepadaku jadi tetap saja membacanya, tapi tak apalah, hitung-hitung ada yang menikmati tulisanku. Hehe. Toh kalau nantinya dia sudah bosan, dia berhenti sendiri menjadi penikmat tulisanku.  Dialah salah satu pengunjung blogku yang paling setia dan mungkin juga dia satu-satunya pengunjung blogku.

caraku membunuh waktu luang dengan menulis sudah menghadirkan kesenangan yang luar biasa. Bukankah dalam hidup kita harus melakukan apa yang kita senangi selama tidak bertentangan dengan keyakinan.

Buat pembaca setiaku, terima kasih telah mengunjungi blogku setiap hari dan siapaun dirimu, terima kasih telah merelakan membaca tulisan-tulisanku yang mungkin lebih mirip nyampah daripada tulisan itu sendiri.

Terakhir untukmu, tetaplah bahagia karena hidup hanya sekali dan hidup itu sendiri harusnya dilewati dengan kebahagiaan..
Jojoran 3/61
13’3’14
14;26

No comments: