Sedih juga mendengar alasan kenapa adikku yang ada di kalimantan jarang menelepon orang tua di kampung. Sedih dan amat sangat menyesakkan mendengar alasannya yang cuma sepele. Aku yang bahkan hampir setiap kali menelepon orang tua terkadang harus menahan rindu yang tertinggal di wajah mereka. Aku bahkan tidak punya alasan apapun untuk tidak menelepon mereka dalam seminggu apatahlagi untuk marah kepada mereka, tidak ada alasan untuk itu.
Kemarin malam saat menelepon adikku tersebut, kutanya kepada jarang menelepon ke kampung, dia jawab dengan singkat, "karena saat menelepon, seringkali baru sekitar beberapa menit menelepon, ibu sudah mengatakan tidak tahu lagi apa yang mau dibicarakan."
Sebegitu piciknya alasan untuk tidak mengabari keadaan kita kepada orang tua di kampung. Sebegitu picik dan sesederhana itu kita tidak mau untuk menelepon mereka hanya untuk mengabari keadaan kita meski harus disadari bahwa orang tua itu hanya ingin mendengar suara anaknya dan itu cukup bagi mereka, tidak perlu panjang lebar untuk bercerita apa saja namun ternyata adikku yang di kalimantan mengartikan salah.
Ah, sesak dada ini mendengar alasannya untuk tidak menelepon orang tua di kampung.
Beberapa waktu lalu, w dinas di Semarang selama dua hari. ibunya mengirimiku sms bahwa dia meminta w mampir di Madiun beberapa hari namun ternyata w tidak mau mampir. Sesak rasanya mengingat hal itu. Permintaan ibu untuk bertemu anaknya ditolak.
Aku bahkan harus meneteskan air mata saat membaca sms ibunya. Bagaimana tidak, pikiranku langsung tertuju saat ibunya ke Jakarta hanya untuk bertemu anaknya, beberapa kali bahkan harus bolak balik tanpa memperdulikan kesehatannya dan sedihnya lagi, terakhir kali ibunya ke Jakarta, dia dijambret di kereta dan semua isi tas amblas.
Itu demi apa? Hanya ingin melihat anak gadisnya, merangkul anak gadisnya dan bercerita banyak tentang kehidupan baru anak gadisnya, tidak lebih dari itu. Namun sebegitu susah kah kita memenuhi permintaan ibu kita.
Aku tidak sedang meracu namun sampai saat ini, aku bahkan selalu memenuhi permintaan ibuku. Aku tidak ingin menyesal suatu saat nanti. Apapun itu bahkan jika seandainya ibuku memintaku untuk pulang menjaganya maka itu pun yang akan aku lakukan.
Aku bertahan disini karena kemauan ibuku. Dia tidak mau kalau aku pulang dan tidak ada aktifitas di kampung. Dia rela aku jauh demi aku bukan demi dirinya.
Betapa tidak disadari saat masih kecil, pernahkah mereka mengabaikan kita saat kita nakal, pernahkah mereka berhenti mendoakan kita hanya karena kita tidak mematuhi aturannya ataukah pernahkah mereka merasa letih saat harus bangun dini hari hanya untuk menyiapkan adonan kue untuk dijual di pasar demi kebutuhan sehari-hari kita.
Pernahkah kita memikirkan itu semua? kasih orang tua tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Kita sama sekali tidak punya alasan untuk mengabaikan mereka meski hanya sekadar memberi kabar kepada mereka bahwa kita baik-baik saja di perantauan, itu saja.
Aku juga bukan anak yang terlalu penurut, bukan anak seperti anak lain yang begitu amat berbakti kepada orang tua namun aku berusaha untuk itu. Terbentang ruang dan waktu dengan orang tua menyadarkanku bahwa kasih mereka tidak akan pernah putus. air mataku sering menetes dengan hangat ketika beberapa kali ibu meneleponku saat dia memasak makanan enak dan berkata "apakah aku sudah makan?" Kemudian dengan kata yang terbata dia mengatakan bahwa ini banyak masakan ibu di sini namun engkau jauh.
Momen seperti itu seringkali dia ungkapkan terkhusus saat hari raya lebaran. Apakah aku pernah mengingatnya saat aku sedang makan makanan enak? jarang sekali mungkin.
Ibu mengajarkanku kasih yang tak berbalas, ibu mengajarkanku bagaimana caranya mencintai. Hal yang kutahu sekarang adalah mengabarkan keadaanku setiap saat tanpa harus punya alasan apa-apa.
Ibu, aku sayang engkau, saat ini dan selamanya
engkau mengajarkanku kasih Tuhan yang tulus
Rawamangun, 10-Nov-2014