Tiba-tiba
saja bapak marah. Saat senja telah berlalu namun kita belum pulang. Memang senja
adalah sahabat kita. Selalu dinantikan karena ketika dia datang. Itu artinya
kita bisa bermain sebebas-bebasnya di lapangan setelah seharian membantu bapak
di sawah. Dan senja saat itu, kita bermain bola kaki sampai larut malam. Hujan yang
mengguyur tak jua kita hiraukan. kau dan aku tetap saja asyik dengan bola kaki
hadiah dari nenek.
Maghrib menjelang.
Bapak menunggu kita di depan pintu dengan dengan sapu lidi di tangan. Aku meringis
namun engkau maju terlebih dahulu. Baju yang bermotif lumpur semakin menambah
amarah bapak. Diraihnya tanganku dan tanganmu, disabit dengan sapu lidi.
Ah, Betapa sakitnya saat itu dan malam
itu tak ada makanan untukku dan untukmu meski saat larut ibu mengantarkan
sepiring nasi jagung ke kamar yang kita santap berdua.
tidakkah
engkau tahu aku bahkan selalu merindukan hal tersebut tetapi harus bersamamu karena aku selalu percaya
bahwa engkau akan berani menjalaninya seperti saat ini aku sangat percaya
padamu engkau bertanggung jawab dengan keluargamu
coratcoret
jojoran 3/61
10’3’14

No comments:
Post a Comment