March 10, 2014

bocah hujan


Tiba-tiba saja bapak marah. Saat senja telah berlalu namun kita belum pulang. Memang senja adalah sahabat kita. Selalu dinantikan karena ketika dia datang. Itu artinya kita bisa bermain sebebas-bebasnya di lapangan setelah seharian membantu bapak di sawah. Dan senja saat itu, kita bermain bola kaki sampai larut malam. Hujan yang mengguyur tak jua kita hiraukan. kau dan aku tetap saja asyik dengan bola kaki hadiah dari nenek.

Maghrib menjelang. Bapak menunggu kita di depan pintu dengan dengan sapu lidi di tangan. Aku meringis namun engkau maju terlebih dahulu. Baju yang bermotif lumpur semakin menambah amarah bapak. Diraihnya tanganku dan tanganmu, disabit dengan sapu lidi.  

Ah, Betapa sakitnya saat itu dan malam itu tak ada makanan untukku dan untukmu meski saat larut ibu mengantarkan sepiring nasi jagung ke kamar yang kita santap berdua. 

tidakkah engkau tahu aku bahkan selalu merindukan hal tersebut tetapi  harus bersamamu karena aku selalu percaya bahwa engkau akan berani menjalaninya seperti saat ini aku sangat percaya padamu engkau  bertanggung jawab dengan keluargamu


coratcoret
jojoran 3/61
10’3’14

No comments: