December 15, 2025

Romantisme Merantau

Enrekang-Bandung ternyata terlalu jauh membawaku dalam sepi. 

Dulu aku pernah  menyaksikan seorang pria yang harus merantau dan hanya pulang sekali dalam beberapa tahun. Ketika pulang, seakan sangat keren.

Dulu, beberapa orang di kampungku merantau jauh ke Irian, Malaysia, dan Kalimantan dalam waktu yang cukup lama bahkan puluhan tahun.

Dulu, aku pernah mendengar kisah alegori seorang bayi yang hidup di bawah perlindungan pohon tua. Semakin beranjak dewasa, si anak mengambil satu persatu pohon tersebut untuk kesenangannya. mulai dari buah, daun, ranting, sampai batang. Hingga tiba masa ketika dia sadar bahwa tidak ada lagi yang tersisa dari pelindungnya si pohon.

Itu dulu, dan sekarang aku menyadari mereka adalah aku yang terdampar jauh di tanah rantau. Tempat yang tidak pernah benar-benar menawan jiwaku. 

Aku tetap merasa anak kampung yang terpaksa harus mendekap diri dan menjejak langkah di tempat ini, terperangkap dalam kesedihan berkepanjangan sambil menahan rindu kepadamu, ibu.

Aku naif mempercayai metaforik tentang merantau;

Merantaulah.. agar kamu tahu bagaimana rasanya rindu dan kemana harus pulang

Merantaulah... engkau akan tau betapa berharganya waktu bersama keluarga

Merantaulah... engkau kan mengerti alasan kenapa harus kembali.

....

Romantisasi merantau menjebakku dan memaksa mencerabut jiwaku dari akarnya.

Seringkali aku tak kuasa dan ingin melepaskan semua namun tak ada daya. Aku merasa bahwa hidupku tertinggal di umur 25 tahun dan sisanya hanya hampa.

December 2, 2025

Berita Awal Bulan

November cukup menguras energi dengan berbagai dinamikanya. Saya bahkan pada titik menyerahkan semua pada semesta sambil terus tertatih. Semua masalah muncul dari berbagai arah yang tak terduga, di lingkungan keluarga, di kerjaan, dan berbagai masalah yang membuat kepala serasa akan meledak.
Saya berharap pergantian bulan sedikit meredakan pikiran yang kacau, namun tidak. Semesta tetap menjalankan caranya sendiri.
Kemarin tepat di tanggal satu, berita yang selalu dikhawatirkan sampai di telinga saya. Salah seorang Tante yang cukup dekat dengan saya, sudah tiba pada titik akhir. Meski saya sadar bahwa dia begitu sepuh dan waktunya pasti tiba, tetapi tetap saja ada ruang kosong yang tersisa di sanubari saat memori merecall semua potongan waktu bersamanya, tentang bagaimana beliau yang dulu pernah menjadi penyelamat hidup saat masih kuliah.
Saya tidak tahu pasti usianya berapa tetapi perkiraan saya, beliau sudah mencapai angka 100.