December 31, 2014

Aku Merusak Rasamu

"jika raga ini tidak mendatangimu yang sedang mematung di taman indah kota itu bersama ibumu, jika aku tidak menyatakan rasa ini, mungkin jalinan kasihmu kepada ibumu tetap erat.aku merusak rasa rindumu terhadap ibumu,meruntuhkan semua ikatan bhatin kalian berdua".

aku membenci diri yang tidak tahu malu. meretakkan semua hubungan gadis dan ibunya. aku meredupkan cahaya rindumu terhadap ibumu. aku bagai menggenggam gelas kemudian membanting di sudut ubin yang keras. hancur tak beraturan. itu aku,

sejak aku membawa sebuah cinta kepadamu dan menawarkan untuk kau balas, sejak saat itu adalah awal keretakan hubunganmu dengan ibumu. cintaku mengorbankan semua perasaanmu yang tulus terhadap ibumu. langit mungkin saja suatu saat akan menghukumku dengan seberat-beratnya. memekakkan gendang telingaku dengan petir kedukaan.

Hujan datang tibatiba. merusak semua rindu yang terjalin. jika aku adalah hujan yang datang di penghujung desember ini, kalian adalah keluarga merpati yang sedang berteduh saling menyayangi. aku datang tiba-tiba, merusak dan mengancurkan semua kasih yang kalian jalin. tak tersisa sedikit dari setiap memori yang ada bahkan aku hanyalah makhluk tak berarti untuk kalian.

jika dalam perjumpaan ada bahagia dan di setiap perpisahan ada airmata yang mengalir deras dari sudut mata. itu adalah aku.

kini, semua seakan menjadi kelam tak berarti. sirna dalam tatapan mata yang nanar. aku membenci dengan pertemuan di sudut kota pahlawan. aku meratapi diriku yang mendatangimu bersama ibumu di suatu senja di kediamanmu. awal keresahan bermula dari itu semua.

aku muak dengan kata-kata gombalku yang ingin bersamamu. aku benar-benar jemu karena semua itu merusak indahnya hubungan kalian berdua. pertalian kasih yang terjalin antara seorang gadis sendu dengan ibu yang sabar. kemudian kenapa aku harus datang dan merusak semua itu. ah, ini jejak yang engkau tinggalkan betapa engkau erat dengan ibumu.

pertemuan itu telah terjadi. tidak mungkin waktu berbaik hati kepadaku mengembalikan semua yang telah berlalu. namun perpisahan, entahlah aku tidak berani meyakinkan diriku bahwa itu adalah jalan terbaik mengembalikan jiwa kalian yang retak. aku sama sekali tidak yakin.

harusnya tidak ada aku diantara kalian. mestinya semua rasa yang kupunya kusimpan hingga waktu yang membuatnya sirna. pada setiap hati yang kubuat menangis.

311214

Malam

dari bibir yang tak mampu melafalkan doadoa
pun mata yang sudah tidak awas lagi membedakan setiap hal yang hitam
bahkan raga yang selalu bergelut dengan kelabu dunia

aku menunggu malam. menunggu sampai senja disapu malam yang kelam
aku menunggu gelap
menunggu terang yang diburamkan oleh pekatnya malam

aku ingin bercerita pada sang rembulan yang tenang
aku ingin mendamaikan hati bersamanya
melepaskan semua penat yang melekat

lelah sudah
jalan yang telah kutempuh
mungkin harus duduk sejenak

301214


Penghujung tahun 2014

Entah apa yang harus kutuliskan di penghujung tahun 2014 ini. tahun yang mungkin terlalu indah untuk dilewatkan tanpa di jejak dengan tulisan-tulisan singkat di blog ini. aku harus akui bahwa di tahun 2014 ini, aku masih penuh dengan lumpur dosa yang begitu memilukan bahkan untuk mengingat dosa-dosa tersebut pun tak sanggup namun di tahun ini pula, ada sebuah titik terang dari apa yang aku inginkan.

Januari adalah hari-hari terakhir aku bekerja sebagai karyawan Penerbit. di bulan tersebut, aku habiskan untuk mengurus semua saldoku di perusahaan tersebut sambil berpamitan kepada para guru yang pernah kukenal di daerah ngawi. januari pun menjadi saksi bahwa sebentar lagi aku akan kembali ke suarabaya, kota dimana aku pertama kali menginjakkan kaki ini jawa timur.

Februari-Maret merupakan bulan pertama aku kembali menetap di surabaya. menyewa sebuah kamar kos di Jl. Jojoran III. bulan tersebut kulewati sama sekali tanpa kegiatan. melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan namun tidak ada yang diterima. aku kadang hanya di kamar mengurung diri. menerawang masa depan yang kelabu. aku bahkan harus melewati hari-hariku dengan kebosanan yang maksimal.

April menjadi titik awal karena aku memutuskan hijrah ke Ibu kota. beberapa hari sebelum pemilihan Caleg. aku menumpang di kos salah satu temanku yang berasal dari kota asalku. kosnya yang sudah tidak asing bagiku karena agustus 2012, aku pernah tinggal beberapa hari di kosnya yang beralamatkan di Cilandak. bulan itu masih kulewati dengan baik dan sesekali melamar di perusahaan.

Mei-Agustus. ini adalah masa dimana benar-benar aku mengalami titik anti klimaks.selama 4 bulan tidak bekerja di jakarta adalah hal yang mengerikan yang pernah kurasakan. aku pernah lama tidak bekerja di kota asalku namun situasinya berbeda dengan di Ibu kota. selama itu, aku menyewa kos di Cilandak milik mpok E. setiap hari aku hanya mendekam di dalam kamar bagai orang yang dipenjara. aku bahkan tidak sanggup bertemu dengan tetangga kos karena khawatir ditanya tentang pekerjaan. hal yang mengherankan bagi mereka jika tinggal dan ngekos di jakarta tetapi tidak bekerja sama sekali. aku hampir saja putus asa dalam rentang bulan tersebut. hingga akhirnya di akhir agustus, aku diterima bekerja di Perusahaan B sebagai staff.

September-Desember. hari-hariku kini kuhabiskan di perusahaan B. bertemu dengan orang baru dan bekerja sebagai staff surveyor. aku melewati dengan beberap masalah bahkan masih sering melakukan kesalahan. hal yang paling sering adalah saat nginput pekerjaan ke aplikasi. aku terkadang keliru namun bagaimanapun aku harus melewati semua ini. aku mungkin orang yang terlalu berhati-hati dan terlalu takut salah sehingga jadinya malah berabe. bahkan di saat aku menulis ini pun, aku masih melakukan satu kesalahan yaitu berkas PT. Adhikarya Makmur sentosa tidak sesuai dengan penjelasan di klausulanya. ah, mungkin aku lelah.

Itulah 2014 kulewati dengan berbagai dinamika yang menantang. dibandingkan dengan tahun 2013 yang lebih statis karena selama itu aku hanya bekerja di Penerbit. di tahun mendatang 2015 yang akan dimulai esok hari, aku hanya mempunyai beberapa harapan dan Impian

-menikah 
-menghindari dari perbuatan dosa
-bekerja tetap di jakarta
-mempunyai rumah di sekitaran jakarta

itu saja dari beberapa impianku yang ingin kuwujudkan di tahun 2015
Aaamiin Ya Rabb

Kantor B  311214 08:05

December 30, 2014

dan Kau

Semakin lekat nama itu di sanubariku. menghempaskan semua akal sehatku
selalu dan akan selalu ada menjelma menjadi diriku sendiri
betapa tidak, sejauh jalan ini telah kami jejak bersama
entah itu senang ataupun sedih, namun aku selalu mensyukuri
meski terkadang aku harus memaki diriku yang berani mengerayangi tubuh mungilnya

kalau ada yang berani berkata
" engkau adalah dosa yang kusyukuri"
mungkin itu aku meski aku juga tidak mengamini

kalaupun ada yang berkata
engkau adalah pertemuan yang kusesali dan itu juga aku
semua tentangku berubah ketika mengenalmu

kita sering bercerita kepada  pagi
mengitari danau di kampus mulyosari

kitapun bercerita kepada senja
di setiap alun-alun kota yang pernah disinggahi bersama bahkan taman di setiap sudut kota

bahkan dengan malam
kita berbagi kasih dengannya. di setiap sudut mall yang pernah kita kunjungi

beribu bait puisi yang kita rangkai bersama bersama cerita dalam cerpen yang norak
bahkan nyanyian tak berirama pun kita suarakan

aku dengan dirimu
dengan segala cerita yang pernah kita ukir
engkau menangisi semua perbuatanku yang membuatmu sakit.

aku dan dirimu
menghabiskan waktu bersama, menjelma menjadi sepasang merpati yang melanglang buana
dan hinggap di setiap dahan yang rapuh

aku dan dirimu
telah sekian kali bertemu dengan manusiamanusia
kemudia kita tinggalkan mereka sebagai kenangan

namun aku dan dirimu
tak sekalipun akan saling melepaskan

301214

Engkau

aku dan kamu.
menyatu dalam cita yang panjang.
mengukir kebersamaan yang tak terduga

sering ku tertawa mengingat momen yang kita lalu
sering tersipu malu namun juga seringkali aku menangis

kutertawa mengingat kekonyolan kita berdua
namun kumenangis.

aku dan kamu adalah harapan yang tidak pernah pudar
ah, perasaanku teraduk-aduk mengingat semuanya

sejak pertama kali aku datang ke rumahmu menemui ibu
sejak aku mulai berani memboncengmu,
dan sejak pertama kali kita mencium kening masing-masing


serasa dunia berputar begitu cepat
meninggalkan semua kenangan yang indah
namun kenangan sejatinya hanyalah kenangan
engkau dan aku menatap harapan di depan mata

301214

Ibu Menangis Lagi

kemarin malam, setelah sekian lama tidak mendengar ibu menangis
akhirnya dia meneteskan airmatanya.
meski tak kulihat namun suara dari balik hp tersebut menjelaskan bahwa ibuku sedang menangis
dengan suara parau dan terbata-bata

aku ingat 2 tahun lalu
ibu menangis saat aku pindah kos di surabaya
entah apa yang ada di pikirannya
namun aku yakin saat itu, ibu menangis karena mengkhawatirkanku
lalu kemudian setelah itu, tak pernah lagi ibu menangis saat meneleponku

hingga kemarin malam
saat mengabarkan bahwa aku ingin menikahi gadis di pulau ini
ibu kembali menangis
entah tangisan apa atau bahkan merasa seperti ditinggal nikah anak-anaknya
ibu menangis sesegukan.
aku mendengar kalimat singkat dari mulutnya
"aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu karena terlalu jauh"

 aku sesak mendengar ucapan ibu.
sejurus kemudian, aku mengalihkan pembicaraan. mengatakan bahwa itu masih lama
kemudian bercerita tentang cucu-cucunya
ibu kembali tersenyum

aku tahu bagaimana rahasianya membuat ibu tersenyum
hanya menanyakan bagaimana kabarnya maisya.
ibu akan bercerita panjang lebar tentang ponakanku yang cerewet
tentang tingkah polahnya yang selalu membuat orang tertawa terpingkal-pingkal
ibu menceritakan itu dengan hati yang senang
itu rahasianya mengalihkan pikiran ibu dari semua masalah yang ada.

301214

December 29, 2014

Ceritaku Kepadamu #6

Di sore yang mulai menjelang malam ini. aku masih setia di depan PC. hari yang melelahkan setelah libur panjang. hari ini aku gagal melalui dengan baik. semula aku berniat puasa namun harus batal siang tadi. ah, terlalu lemah iman ini dalam hatiku. masih banyak godaan yang harus kutahan karena semua hal tersebut membuatku lebih lemah lagi.

 

Seringkali aku bercerita apa saja kepadamu di pagi hari, namun kali ini, aku ingin bercerita kepadamu di senja yang menguning. mungkin cerita ini adalah tentang dirimu. dirimu yang begitu tulus mencintaiku tanpa peduli apapun yang kulakukan untukmu. aku seharusnya bersyukur memilikimu dan menjagamu dengan baik namun seringkali aku malah memarahimu dan menjauhimu meski harus engkau tahu, aku tidak pernah benar-benar melakukan itu. aku juga terlalu mengasihimu. aku seringkali terlalu egois dan seringkali masalahku dari luar kutumpahkan dengan memarahimu, benar-benar aku tidak adil terhadapmu. bahkan engkau tidak pernah sekalipun marah dan kesal kepadaku. rasa sayangmu terhadapku terlalu besar mengalahkan semua kelakuan burukku.

 

Kemarin saat kita di kampungmu. pagi hari aku keluar berjalan sendiri. menjauh dari rumahmu dan aku tidak menyangka sama sekali bahwa engkau akan mencariku kemana-mana. sampai engkau menjumpaiku di stadion. aku amat sangat terharu sebenarnya saat melihat dirimu namun karena egoisku malah memandangmu dengan sinis. tahukah engkau saat aku mengganti bbm ku dengan stadion itu, aku sebenarnya berharap engkau datang dan benar saja dugaanku, dengan wajah sendu engkau datang yang malah kusambut dengan senyum tipis yang membuatmu sakit hati.

 

aku akan berusaha untuk menjagamu selamanya. aku akan menjaga diriku melakukan hal yang membuatmu sakit hati. aku pun akan menjaga kesucian cinta kita. semua dosa yang pernah kita lakukan akan aku campakkan jauh dan menganti dengan hari yang lebih dekat dengan Allah. semoga kita sama-sama bisa menjaga diri.

 

aku sangat menyayangimu lebih dari apa yang engkau lihat di diriku setiap hari

 

291214

 

Ikrar

Minggu 29 Desember 2013, aku pernah menulis tentang sepasang cincin yang kita pesan di sudut alun-alun kota. aku masih ingat jelas di tulisan itu bahwa cincin yang kita beli itu hanyalah terbuat dari besi tua yang sama sekali bukan penanda bahwa kita telah tunangan. masih segar pun dalam ingatanku asal muasal kenapa kita membeli cincin tersebut. saat menghabiskan senja di alun-alun madiun, kita melewati penjual cincin. kita iseng menanyakan apakah bisa ditulis nama di masing-masing cincin tersebut dan ternyata bisa. kita membelinya dengan menuliskan nama di cincin tersebut. itu hanyalah keisengan yang kita buat.

hal yang membuatku kagum adalah cincin itu sampai sekarang tidak pernah sekalipun engkau lepaskan dari jari manismu. seringkali kita bertengkar dan seringkali aku membuatmu menangis namun tidak sekalipun keluar ucapan dari mulutmu untuk melepaskan cincin tersebut malah yang ada bahwa engkau akan mempertahankan dengan segala cara hubungan yang telah kita jalin memasuki tahun kedua. kenyataan itu menguatkanku untuk menjadikanmu seorang pendamping hidupku mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan tanda tanya.

kemarin, yah tepatnya liburan natal kemarin. kita berdua pulang ke kampungmu. merekat kebersamaan di dalam kereta Gajayana. tujuan kita satu adalah membeli sepasang cincin emas putih yang benar-benar akan menjadi pengikat kita tahun depan. kita bertiga dengan ibumu berangkat ke sebuah toko emas di utara alun-alun. setelah tawar menawar yang sangat alot, akhirnya aku bisa membelikanmu cincin emas putih yang menurutmu amat cantik. itu adalah langkah awal kita menuju pernikahan yang Insya Allah kita rencanakan september 2015.

begitu banyak hal yang berkecamuk di dalam rongga kepalaku. satu hal yang membuatku bertekad adalah menjaga kesucian kita. sudah berkali-kali kita larut dalam hal yang menjijikkan dan itu yang ingin kuperbaiki. cincin yang kubelikan untukmu adalah tanda keseriusanku untuk meminangmu.

Dream 2015

ya Allah, di penghujung 2014 ini kami kembali menuliskan resolusi yg ingin diraih di thn mendatang. setelah di tahun 2014 dilimpahkan oleh Allah berkah yg begitu luar biasa. begitu berkah yg dilimpahkan namun belum mampu disyukuri dengan hati dan perbuatan. masih sering mengumpat dalam hati dan terlebih masih sering melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah. semoga permulaan tahun 2015 menjadi awal yang baik bagi semua. pandai bersyukur dan berhenti melakukan maksiat dan saling mengingatkan hal yang baik.

insya Allah getting married, stopping something wrong in our relationship like close the zinah and stopping to mad each other. semoga Allah menguatkan, getting stability on working in Jakarta, having home in around jakarta. giving more sedekah

aamiiin.

indomaret pendurenan, 281214

December 27, 2014

Ibuuu

"Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menerangi dunia".

Lantunan lagu tersebut akrab ditelingaku tiga hari ini dari 2 orang ibu sekaligus nenek dari dua orang cucu. Penggalan lagu yang dinyanyikan secara satir oleh kedua ibu yang sudah mulai sepuh. Aku menanggkap dua makna sekaligus ketika kedua ibu tersebut secara bergantian menyanyikan kepada cucunya. Makna pertama ada ungkapan perasaan kedua ibu tersebut yang amat menyayangi kedua anaknya meskipun anak-anaknya berlaku kasar kepada mereka bahkan memperlakukan mereka layaknya pembantu. Makna kedua adalah mereka sedang mencoba menggugah perasaan kedua anaknya dengan sengaja mengeraskan lagu tersebut agar supaya anaknya sedikit lebih mengerti. Entahlah karena hanya kedua ibu tersebut yang tahu.

Berada disini berlibur selama 3 hari benar-benar mengaduk emosiku tentang relasi antara seorang ibu dan anak. Aku pun menyadari bahwa aku bukan seorang anak yang terlalu taat kepada ibu namun aku selalu berjanji tidak akan lagi menyusahkannya setidaknya kalau aku belum mampu memberikan apa-apa kepadanya.

Aku sebenarnya tidak sampai hati menuliskan kisah ini. Kisah tentang kesabaran ibu dalam menghadapi anak-anaknya. Seorang ibu yang dengan tabah merawat cucu dari anak-anaknya meski anaknya tersebut terlihat hampir memperlakukannya seperti seorang pembantu. Ibu yang dengan diamnya saat disuruh memakai masker oleh anaknya ketika mengemong cucunya. Ibu yang dengan sabar mengurus cucunya meski anaknya yang notabene adalah ibu dari cucu tersebut hanya menonton TV. Ibu yang dengan rela mengisap ingus cucunya yang aku sendiri yakin ibu dari cucunya tersebut tidak akan melakukannya.

Emosiku benar-benar terkuras dengan apa yang ada dihadapanku. pemandangan yang begitu memilukan. Aku ingin menangis karena kutahu bahwa tidak selayaknya ibu diperlakukan seperti itu. Aku bahkan harus membayangkan kapan ibu tersebut menikmati hari tuanya. mereka benar-benar merelakan hidupnya untuk kebahagiaan anaknya.

Hidup memang selalu tidak berjalan sesuai harapan. ada saja pemandangan yang membuat kita harus mengambil sisi dari sebaliknya tersebut. aku tersedu dan bayangan tentang ibuku yang mulai sepuh selalu menari-nari indah di kepalaku saat menyaksikan apa yang telah terjadi kepada kedua ibu tersebut.

271214

December 26, 2014

Harapan itu Kecewa

Sumpek dengan semua.
Tidak sesuai dengan harapan yang menari di kepalaku.
Inginku melepas penat di kota ini.
Ingin bergembira dengan semua kenangan yang pernah kutinggalkan disini.
Melepas kepenatan di kota metro
Namun tidak, sama sekali tidak
Aku mengharapkan ketenangan namun semua yang kudapat adalah muak.

Kemarin aku berharap disini lebih lama.
Bertahan lebih lama
Namun tidak,
Aku ingin pulang. Pulang ke kota itu.
Biarkan aku kembali bergelut dengan kesibukanku.

Rencanaku gagal total di tempat ini
Hanya menyisakan semua hal yang tidak kubayangkan
Engkau menangisiku namun aku terlalu egois
entah apa yang meracuni kepalaku senja kemarin
ingin kudepak dirimu lekat memohon maaf hari ini

kemarin hari
badmood merajaiku
membuatku tidak menikmati liburan kali ini
maaf aku membuatmu menangis tepat di depan ibumu
berkali kuingin membautmu selalu bahagia
namun berkali aku membuatmu menangis
sekali lagi maaf liburan kali ini dek.
aku menyayangimu lebih dari semua sikapku yang engkau lihat.

lain kali kita mengulangi liburan yang lebih indah
Mdn. 261214

December 24, 2014

CERITAKU KEPADAMU #5

dek, aku masih berpikir apa yang harus kuceritkan padamu hari ini. ada beberapa kisah yang kutemui namun kurasa belum tahu bagaimana menceritakannya kepadamu. cerita tentang kantor, tentang rutinitas sehari-hari dan tentang ruwetnya kota ini. banyak dek yang bisa kuceritakan namun aku takut engkau lebih punya cerita yang bermakna untukku.

aku suka dengan orang yang saling berbagi dek. berbagi apa saja bahkan hanya sekedar cerita bermakna. dalam setiap perjalanan kita, selalu dipertemukan dengan momen yang entah itu kita suka ataupun tidak suka namun inti dari semua itu adalah kita bisa mengambil hikmah dari semua itu. jika hal yang baik maka kita contoh dan jika hal yang kurang baik maka kita jadikan pembelajaran yang terbalik.

aku berteman dengan banyak orang dek. meski kutahu bahwa aku bukanlah orang yang terlalu asyik ditemani berteman karena sesungguhnya aku lebih suka menyendiri. sangat sering dalam hidupku dek ingin menyendiri bahkan aku tidak terlalu suka dengan keramaian yang memekakkan telinga. aku lebih suka duduk menyendiri di pinggir sungai kampungku dulu atau bahkan menghabiskan hari-hariku di kebun yang terletak di lereng bukit. itu adalah momen-momen menyenangkan bagiku dek.

namun aku pun sadar dek. bukan solusi untuk selalu menyendiri karena kita tidak bisa bermanfaat kepada orang lain kalau hanya menyendiri. hidup adalah tentang manfaat dek. kalau kita hidup bahagia sendiri tanpa berbagi kebahagiaan dengan orang lain sama saja dengan mengacuhkan nurani dalam diri kita dek. aku yakin dek kalau semua oran gitu sama dan kita harus menganggap orang lain seperti diri kita sendiri yang ingin bahagia.

kita jangan memonopoli kebahagiaan dek.


December 23, 2014

jemu

gedung itu. jalanan yang sesak itu, orangorang yang lalu lalang seperti zombie
bukan ilusi namun seperti itu adanya
aku menerobos mereka
menjadi seperti mereka, menjadi zombie yang tak berperasaan

datang di kantor, duduk di depan PC
mengejar deadline, melayani nasabah
bergelut dengan hal yang maya
merenggut semua kebebasan

menanti senja kembali ke kos

Meratapi Pagi

Pagi yang menyebalkan. Hampir di sisa pagi yang sejuk, aku selalu membenci jarum jam yang melaju cepat ke angka tujuh. Aku membenci itu di lima hari dalam seminggu. Benakku diracuni oleh pekerjaan-pekerjaan kantor yang menguras hampir sebagian waktu dan pikiranku. Aku beranjak dari tempat tidur, mengambil handuk kemudian dengan langkah gontai masuk kedalam kamar mandi. Perlahan dan seperti tak terbayangkan bahwa aku berada di situasi yang dulu pernah kuhindari. Aku benci dengan rutinitas, muak dengan semua aturan yang mengekang bahkan aku tidak rela hidupku terpenjara dengan hal yang berbau materi. Namun apa ini semua, aku terkadang menertawai diriku yang tak berdaya dan seringkali pula menangisi diriku yang akhirnya harus berjibaku dengan kehidupan yang sesak di ibu kota.

Aku mungkin satu dari sedikit lelaki yang benci terlalu lama di kamar mandi. hanya membasuh 2-3 kali badanku mengoleskan sabun ke seluruh tubuh kemudian membasuh lagi dan bergegas keluar. Jam dinding benar-benar telah menunjuk angka 7 tandanya rutinitasku sebentar lagi akan kumulai. Datang di kantor pagi hari, bertemu dengan 2 ob yang baik hati kemudian naik di lantai 2 dan duduk manis di meja kerjaku bagian pojok. Bergelut dengan penawaran bengkel, berkas motor hilang dan klaim kecelakaan diri dari berbagai perusahaan. aku penat bahkan lebih dari sekedar penat raga bahkan jiwaku pun tergerus. Bertemu dengan berbagai karakter manusia di kantor. saling sapa dengan senyuman meski kutahu terkadang palsu, menjumpai karyawan yang mencoba berbaik hati dengan bos bahkan dengan anak PKL yang harus rela disuruh menjadi tukang foto copy.

Aku sesekali menoleh jam di layar PC. Berharap angka 12 muncul, itu artinya istirahat siang namun terkadang masih berputar di angka 10. Mungkin aku yang jenuh atau bahkan aku yang tidak pernah bekerja dengan baik. Semua seakan mulai berjalan begitu berat. aku menghakimi diriku, menghujat apa yang terjadi dan bahkan meratap kehidupan. ingin rasanya mengganti kehidupan yang baru.

Mungkin, di kampung sana, di kampungku yang damai. Orang-orang mengira aku telah merengkuh sukses. hidup di tengah gemerlap ibu kota dengan segala kemewahan yang ada. Prestise di mata setiap orang namun jiwa disini menjadi lemah.

Aku selalu menantikan senja yang bergerak begitu lambat. Bergegas pulang kantor dan merayakan malam di kamar kos sembari membayangkan semua keindahan dalam mimpi. Jauh dari gedung yang menjulang tinggi di kota ini. Lepas dari keruwetan lalu lintas yang membunuh kedamaian dan orang-orang yang berlagak sok tanpa saling memperdulikan. jiwaku semakin lemah dalam setiap hal yang kulalui. hidupku akan kuhabiskan dengan rutinitas seperti ini.

Menjadi orang urban memang terkadang mengorbankan kedamaian, menjual ketenangan dengan berbagai kemewahan bahkan menggadaikan kebebasan dengan segal hal yang absurd. Dipandang sukses oleh orang di pelosok meski kuyakin, seringkali jiwa orang urban jauh dari ketenangan, percayalah.

Meratapi pagi yang menjemukan.

231214

December 19, 2014

Ceritaku Kepadamu #4

Pagi ini aku merasa kurang sehat de'. Tidak tahu kenapa namun dari semalam, tenggorokanku tidak nyaman dan ada rasa seperti mau flu. Sedikit curhat kepadamu dek sebelum memulai ceritaku padamu hari ini, hehe. Tidak apa-apa kan.

Semakin banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu namun semakin sedikit saja yang bisa kutuliskan. Hanya bergumul di kepalaku dan menguap begitu saja. Pagi ini dek, aku ingin becerita yang sedikit lebih serius dari kemarin pagi. tentang suatu fenomena di negeri kita yang sedang memanas. Kamu pasti pernah membaca tentang kontroversi pelarangan jilbab di Bali atau yang masih lebih hangat isu tentang menteri BUMN melarang penggunaan jilbab. Berita yang belum tentu benarnya dek.

Dek, sebenarnya aku sama sekali sudah bosan dengan fenomena seperti ini. isu tentang agama. Bukan apa-apa dek, aku sudah sampai pada kesimpulan bahwa agama itu ada dalam hati dek. Bukan aku mengingkari adanya syariat namun ada hal yang lebih hakiki dalam beragama yaitu bagaimana hati bisa menjadi lebih tenang dan damai. Tenang dan damai disini bukan berarti hati kita tenang-tenang saja ketika melihat orang kesusahan, malah sebaliknya namun hal yang kita lakukan untuk itu lebih bijaksana misalnya dengan membantu orang kesusahan bukan malah mengumpat pemerintah yang tidak becus atau yang lebih parahnya mengumpat orang kesusahan dengan dalih mereka tidak bekerja keras. Tidak sama sekali seperti itu dek.

Kembali ke alasan pelarangan jilbab atau penggunaan atribut natal bagi karyawan menjelang natal. Aku adalah orang yang tidak terlalu pusing dengan semua itu dek dalam artian bahwa agama seseorang bersemayam dalam hati. Ambil contohnya mama dek. di sekolah tempatnya mengajar, mama diharuskan melepas jilbab ketika mengajar karena mama mengajar di sekolah kristen, namun apakah itu salah dek. Kalau menurutku, meski mama harus melepas jilbab namun ada beribu hikmah mulia dibalik kekuatan mama tetap bertahan mengajar disana. Mama telah membuatmu sarjana dan mas mu, bahkan dengan tetap mengajar di sekolah kristen tersebut, mama telah dikenal oleh murid-muridnya sebagai guru yang paling sabar. Tidak kah kita menyadari bahwa secara tidak langsung, mama telah memperlihatkan sikap yang Islami kepada murid-muridnya dengan kesabarannya meski harus melepas jilbabnya untuk sesaat di dalam kelas.

Dek, selama kita hidup, perdebatan tentang agama akan selalu menjadi topik yang menarik. itu tidak bisa dibantah dek. Aku juga tidak bisa menarik kesimpulan kenapa perdebatan itu selalu menjadi hal menarik. mungkin karena menyangkut ketenangan bhatin atau apalah namun sama sekali aku tidak tahu alasannya. Aku adalah salah satu yang sangat menggandrungi diskusi tersebut saat mahasiswa meski sekarang aku sudah mulai sadar bahwa perdebatan itu tidak akan pernah ada habisnya. Aku hanya ingin menjadikan keyakinanku kepada Tuhan menjadi hal yang privacy tanpa harus mengumbar di forum diskusi.

Aku hanya ingin menarik kesimpulan dek bahwa ketika hatimu tenang dan damai tentang semua, tenang ketika berbagi kepada sesama dan susah ketika melihat orang kesusahan maka itulah sejatinya agama telah bersemayam dalam hati dek. itu semua pun butuh pembiasaan. Kita tidak perlu ikut-ikutan diskusi panjang lebar tentang perdebatan masalah agama.

Ah, terlalu serius ceritaku pagi ini dek. mungkin karena pengaruh kondisi badan yang sedang tidak fit. huhu.

191214

December 18, 2014

Ceritaku Kepadamu #3

Dek, aku tidak tahu harus bercerita apa lagi pagi ini. Serasa sehari kemarin aku tidak mendapatkan apa yang bisa kuceritakan kepadamu. bahkan kemarin pun salah satu hari yang kusesali karena kita melakukan khilaf yang sama. Aku selalu berjanji kepadamu untuk bercerita apa saja namun tidak kuasa karena memori seakan dipenuhi oleh permasalahan seputar pekerjaan. Namun aku terlanjur berjanji untuk menceritakanmu apa saja dek. baiklah aku akan bercerita tentang seorang anak PKL di kantorku.

Aku baru saja sarapan roti pagi ini dek kemudian langsung menuliskan ceritaku ini. Tadi saat sementara sarapan roti, anak PKl yang cewek, ratih namanya dek, datang kemudian aku tawari roti meski kutahu roti tinggal 1. Itu belum intinya dek, saat kutawari, dia ternyata puasa sunnah kamis dek. Aku kagum sama dia. Kemudian aku tanya apakah dia memang rutin puasa senin kamis, dia bilang iya. Aku salut dek sama anak itu karena mulai sma dia sudah rutin puasa sunnah dibanding aku yang baru mulai itupun belum tertib.

Emang anak PKL yang satu ini beda dek. dia rajin banget shalat bahkan ketika waktu shalat sudah tiba, dia pasti akan turun ke LT 1 tempat mushalah berada dan menunggu karyawan lain yang akan shalat untuk shalat jamaah. Semoga saja anak ini istiqomah. Aku tidak membandingkan dengan anak PKL yang sebelumnya namun anak yang satu ini memang berbeda dalam  beberapa hal. meski terkadang seperti dia cepat naik emosinya ketika ada hal yang tidak sesuai keinginannya namun waktu akan membuatnya dewasa.

Banyak kekagumanku terhadap orang yang kuat memegang prinsip di tengah kota jakarta dek. bahkan di berbagai penjuru, ada saja godaan-godaan yang datang menerpa dan butuh hati yang kuat memegang prinsip yang diyakini. aku bahkan salah satu orang yang takluk dengan apa yang kuyakini. Melanggar janjiku terhadap diriku dan kedua orang tuaku.

Itu saja ceritaku hari ini dek. aku bahkan tidak tahu apa hikmah dari ceritaku ini sendiri karena hanya janji untuk bercerita saja yang membuatku harus menuliskan ini.

December 17, 2014

Ceritaku Kepadamu #2

Kemarin aku berjanji kepadamu dek. Menceritakan lagi apa yang pernah kutemui. Kemarin aku berjanji kepadamu tentang nasehat sahabatku yang mengingatkanku masalah wanita.

Aku ceritakan sedikit dulu mengenai temanku dek.dia itu seorang perempuan juga dek. Dia sudah berkeluarga dan sudah memiliki seorang puteri. dulu saat masih kuliah, kami satu jurusan dan juga satu angkatan. Dia salah satu temanku yang baik dek. kuingat dulu saat kosku dekat kosnya dek. Saat persiapan ransumku habis maka dia sering mengirimiku mie instant ataupun makanan lain yang dia punya. Dia perempuan yang kuat memegang prinsipnya dek. sampai pada akhirnya dia menikah dan memilih menjadi ibu rumah tangga ketimbang mengejar karir dan pendidikan seperti teman-temanku yang lain.

Kembali ke nasehatnya kepadaku dek. kemarin itu ceritanya seperti ini. Aku iseng mengirim foto cewek di group wa yang dia juga salah satu anggotanya. Singkat banget tanggapannya namun sangat menohok dek. Aku bahkan berpikir bahwa ternyata aku masih punya banyak hal yang harus diperbaiki tentang semua. Dia hanya bilang seperti ini, "kamu kok masih mengoleksi foto cewek padahal kamu sudah punya komitmen dengan seorang perempuan, itu tidak baik". 

Tanggapan yang singkat namun benar-benar membuat kepalaku berputar memikirkan semua tentang itu. Meski engkau tahu dek aku masih sering mengganggu cewek ataupun melirik cewek lain yang lewat namun itu tidak baik. ada hal yang bisa dijadikan bahan candaan dan ada yang tidak. Mungkin bagian ini memang bukan sebuah candaan. Bahkan aku menyesal masih sering menggoda tary yang mungkin saja dia benar-benar berharap sedangkan engkau dek, tidak pernah sekalipun engkau melirik cowok lain setelah berkomitmen denganku bahkan idolamu SJ pun sudah engkau hapus dari daftar idola.

Sejak kemarin dek, aku berusaha untuk lebih berhati-hati masalah wanita karena aku sadar bagian terlemah dari diriku adalah syahwat terhadap wanita. Kemarin aku sudah menghapus semua foto cewek di hpku dan semua hal tentang wanita lain. Bukan apa-apa dek, aku hanya ingin belajar berkomitmen seperti yang engkau lakukan.

Ini ceritaku hari ini dek. cerita tentang nasehat dari seorang kawan untuk bagaimana berkomitmen dari awal dan bagaimana memilah hal yang bisa dijadikan bahan candaan atau tidak. Semoga esok hari masih ada cerita yang bisa kubagi untukmu dek.

rwmngn, 171214

December 16, 2014

ceritaku Kepadamu #1

Aku ingin bercerita kepadamu setiap hari, dek. Tentang apa saja yang bisa kita jadikan pelajaran kelak. Masa dimana kita Insya Allah sudah bersama-sama. banyak cerita, banyak hikmah bahkan begitu banyak hal yang selalu kujumpai dan selalu ingin kubagi kepadamu namun selalu saja otakku beku saat akan menuliskan jejak-jejak cerita yang kutemui. kali ini tidak dek, aku ingin bercerita sesuatu tentang penjual lontong yang menjadi langgananku setiap hari. Mari dekat disini dek dan jangan bilang siapa-siapa karena hanya kita berdua yang punya cerita ini.

Tadi pagi dek, seperti biasa ketika akan berangkat ke kantor. aku mampir di warung persis depan kos ku. ibu itu menjual lontong sayur dan nasi uduk serta berbagai macam gorengan. aku tidak perlu memesan karena dia sudah hapal seleraku. Lontong sayur dengan sedikit kuah dan gorengan tempe satu potong, itu sarapanku setiap pagi dek. 

Aku tidak sedang promosi tentang jualan ibu itu dek. Bukan itu intinya yang ingin aku ceritakan kepadamu dek. Aku ingin bercerita tentang ibu itu yang nampaknya tidak suka berutang dek. itu sekilas yang menjadi kesimpulanku saat setiap kali memperhatikannya. Tadi pagi dek, ada 2 orang yang membeli gorengan namun karena uang kecilnya tidak ada, si pembeli memberi uang lebih dan katanya besok aja. Jawaban singkat ibu itu bahwa ibu saja yang bawa uangnya, besok kalau kesini lagi baru bayar. Begitulah orang yang sangat berhati-hati kepada yang namanya utang dek.

Ceritaku yang kedua pagi ini adalah tentang penjual lontong juga. Kali ini penjual lontong yang berada di belakang kantorku dek. pernah dulu aku beli lontong disana. Ceritanya hampir sama. banyak orang yang membeli namun tidak ada uang kecilnya, kali ini penjual lontong tersebut seringkali lebih berani mengambil uang lebih dan berkata besok kalau ke sini lagi, uangnya baru dipotong. itu seperti memaksa orang datang lagi membeli dek.

Ada lagi ceritaku yang lain dek. Tentang temanku yang sudah nikah dan sekarang di sultra sana. Dia menegurku dek masalah perempuan. Nanti saja aku ceritakan lagi dek di edisi selanjutnya yah.

Rwmngn, 161214

December 15, 2014

TENTANG MANUSIA DALAM PERJALANANKU #3

MEYAKINI REZEKI DARI TUHAN

Ini cerita dari sahabatku di jawa tengah sana. pertemanan kami bermula saat bekerja di perusahaan penerbitan di jawa timur. setahun bersama memang sudah cukup membuat kami begitu akrab karena tinggal di mes kantor dan sekamar. aku tahu banyak tentang dia dan begitupun adanya dirinya tentangku. kurasa dia pribadi yang kuat. dia pernah mondok di lamongan namun dia pun pernah menjadi penjual asongan di terminal Bungurasih. menjual buku, rokok dan apa saja. dia kawan yang mengajarkan bahwa hidup adalah tentang ketegaran.

kami bersama di ngawi selama setahun. kutahu kadang kami selisih paham namun seringkali satu pikiran. perjuangan selama bekerja di penerbitan tersebut memang keras. harus menjadi sales, kolektor bahkan ekspedisi. butuh tenaga dan pikiran memang namun itulah yang membentuk karakter menjadi lebih kuat lagi.

dulu dia sering bercerita tentang keinginannya memulai usaha. bagaimana dia bercita-cita untuk menjadi pengusaha yang tidak tergantung pada gaji bulanan. kami sering nongkrong di alun-alun, di pinggir jalan atau dimana saja yang ada warung kopi sambil melepas penat dikejar target jualanan. sering kami bercanda dan sering pula kami berkaroke ria. dia sangat piawai menyanyikan lagu oplosan sedangkan aku pun tidak pernah sama sekali berani bernyanyi, hanya ikut bergoyang. aku sadar karena suaraku yang cempreng seperti drum yang ditabuh. hehe

setahun berjalan seperti tidak terduga. kami kemudian resign dari perusahaan penerbitan tersebut. kami memulai hidup yang berbeda. dia pulang ke kampung dan ikut berkegiatan di sebuah yayasan sekolah. kami sama sekali tidak pernah loss contact. hingga pertengahan tahun, dia mengirimiku pesan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya. aku bahagia mendengar bahwa dia akan melepas masa lajangnya.

satu hal yang aku harus angkat topi kepadanya karena dia menikah setelah resign. meski sebenarnya itu hal lumrah namun tidak banyak orang yang berani dengan keputusan itu. setelah menikah, dia memulai usahanya berjualan aneka macam jajanan dengan modal dua gerobak. hal yang luar biasa menurutku karena tidak pernah sekalipun kawanku itu ragu akan rezeki dari Tuhan. dia mengajarkan bagaimana meyakini Tuhan sebagai sesuatu yang Maha atas segala.

151214

TENTANG MANUSIA DALAM PERJALANANKU #2

BAGAIMANA MENGHARGAI SEMUA ORANG

pelajaran ini kudapat dari salah satu karyawan senior di kantorku sekarang. ini tidaklah subjektif karena beliau sering memperlakukanku dengan baik, tidak sama sekali karena semua orang diperlakukan sama olehnya. ada banyak cerita tentangnya yang membuatku menarik kesimpulan bahwa dia benar-benar menghargai semua orang. aku bisa merasakan hal tersebut.

seringkali saat ada acara, kami yang dia tahu orang perantauan menjadi perhatiannya bahkan ketika ada makanan lebih, saya dan para OB pun pasti di kasih jatah makanan.

kemarin semakin menguatkan kesimpulanku ketika ada meeting di kantor. ada sesi di meeting itu yang setiap staff ditanya oleh kacab bahwa siapa karyawan yang menjadi panutan, saat giliran kasi teknik yang ditanya makan yang menjadi panutannya adalah ibu itu. aku salut karena memang seperti itu adanya dia. baik dan menghargai semua orang

TENTANG MANUSIA DALAM PERJALANANKU #1

PELAJARAN TENTANG MEMPERLAKUKAN UANG

aku sudah berjalan sejauh ini menyusuri jalan di pulau ini. dan tentunya sudah banyak orang yang kutemui dalam setiap jejak langkah yang kususuri. semakin banyak manusia yang kujumpai maka semakin banyak juga pelajaran yang kuhadirkan dalam buku kehidupanku. itu yang kutau. kujumpai orang yang rela berjuang apa saja demi anaknya, tentang manusia yang menghargai dan bahkan tentang manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki.

kali ini aku menjumpai sesosok manusia yang juga menjadi bosku di kantor. sejak pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini, aku selalu memahami dan berusaha mendapatkan pelajaran dari semua orang termasuk bosku ini. seiring berjalannya waktu, aku mulai belajar dari beliau tentang bagaimana caranya menghargai uang. itu yang kutahu dari beliau.

posisinya sebagai bos di kantor menjadikan beliau bisa saja mengumpulkan pundi-pundi uang dengan berbagai bonus-bonus produksi namun sejauh pengetahuanku tentang beliau, tidak pernah sekalipun dilakukan hal seperti itu.

suatu sore, seperti biasa sebelum pulang, beliau selalu suka duduk di samping mushalah lt 1 sambil bercerita banyak tentang apa saja kepada karyawannya. disuatu sore itu, hanya aku dan temanku yang di bagian staff teknik yang menemaninya bercerita. beliau bercerita tentang bonus perusahaan yang bisa saja diambilnya, tentang uang dari nasabah yang ditolak. meski beliau sadar bahwa sedang membutuhkan dana karena dalam proses membangun rumah namun tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk melakukan hal seperti itu.

uang memanglah hal yang amat sangat menggoda, melenakan dan bahkan terkadang membutakan. semakin dikuasai hati kita dengan uang maka akan semakin takut kita kehilangan dan semakin merasa kurang dengan yang dimiliki. aku bisikkan baik-baik bahwa aku beberapa kali menjumpai orang kaya raya yang bahkan bayar tol mereka masih memperhitungkan. aku juga punya cerita dari sahabatku yang bekerja di kemenkes. dia punya bos yang semua kebutuhan bahkan sampai uang kondangan harus menggunakan uang kantor. terlepas dari itu semua, bisa saja aku juga seperti mereka namun aku selalu berdoa semoga hatiku tidak pernah dikuasai oleh kerajaan uang.

151214

December 11, 2014

Kenangan Itu

Aku harus menulis tentangmu lagi. setelah sekian lama aku mencoba menghapus memoriku tentangmu. Saat luka sudah mulai mengering dan perihnya hati sudah mulai terobati. Aku kembali harus menulis pagi ini, tentangmu dan tentang apa yang telah terjadi diantara kita. Meski cerita itu datang dari sahabatmu namun lumayan membuka luka lama yang sudah aku sembuhkan dengan berbagai caraku, menghapus nomor kontakmu, unfriend akun fb mu dari pertemananku dan semua foto tentangmu kuhapus dari folder laptopku. itulah caraku menyembuhkan semua luka yang engkau tinggalkan di hatiku, namun pagi ini semua terbuka kembali.

Pagi ini aku berkirim kabar lewat line dengan sahabatmu yang sudah engkau anggap saudara sendiri. Persis seperti drama mini AADC yang kembali dipertemukan oleh aplikasi line namun aku sama sekali tidak berharap seperti itu. Kebetulan saja sahabatmu mengirimkan aku pesan line. Aku pun akrab dengan sahabatmu itu sehingga kami tidak canggung bertukar kabar. Hanya itu namun kemudian kami bercerita tentangmu. 

Aku tahu dari dia engkau jadi PR trans studio Makassar, aku tahu engkau pernah hampir dilamar oleh seorang namun tidak jadi karena tidak cocok. Hal yang membuat lukaku kembali basah saat sahabatmu menyarankanku untuk melamarmu. Perih yang kurasa saat mendengar itu dan sejurus semua hal tentangmu memenuhi rongga kepalaku. Bagaimana dulu saat kita masih kuliah selama 4 tahun, aku naksir dirimu namun tidak pernah berani mengatakannya, atau bagaimana 2 tahun lalu saat kita di Jakarta, engkau dan aku sudah berkomitmen lalu kemudian engkau meninggalkanku tanpa alasan apa-apa dan tanpa pesan apa-apa.

Aku mendapat alasan dari sahabatmu tadi tentang kenapa engkau pergi begitu saja. Entah itu alasan yang sesungguhnya ataupun alasan yang ingin meredakan kekecewaaanku. engkau pergi karena takut kita pacaran, engkau pergi supaya saat aku sudah siap aku langsung melamarmu, engkau pergi supaya kita jangan memancing pacaran, terakhir sahabatmu mengatakan bahwa kita hanya miskom.

Entahlah alasan itu murni datang darimu ataukah mungkin dari sahabatmu untuk menenangkan lukaku. Aku sepakat dengan niatmu untuk menjaga supaya tidak pacaran karena setahun terakhir ini akupun sudah dalam keadaan tidak seperti yang kau bayangkan. Semua prinsip yang pernah kuamini sudah kulanggar karena tidak bisa menahan diri namun alasan itupun sepenuhnya tidak bisa kuterima. 

Dulu saat intens komunikasi denganmu, aku hanya ingin menjalin komunikasi di saat aku berjuang namun tidak bagimu, engkau memutus semua. Alasanmu bahwa ketika aku sudah siap maka aku langsung melamar namun engkau harus tahu, dua tahun tanpa kepastian adalah hal yang menyakitkan dan dengan mudahnya engkau melakukan itu bahkan smsku tidak pernah kau balas.

Ada banyak alasanku berusaha melupakanmu. selama 2 tahun belakang, aku mengalami banyak hal yang mungkin aku sendiri tidak bisa membayangkan akan seperti ini. aku bukan laki-laki yang dulu mampu mempertahankan prinsip, aku pun sudah keluar dari jalurku sendiri. Kasihan dirimu yang mampu dengan prinsip semua itu. biarlah kita berjalan di jalan masing-masing. saling mendoakan yang terbaik.

salam

Jkt 121114

December 10, 2014

Hidup manfaat

Ada beribu mimpi yang antre untuk diwujudkan.
Ada deretan janji yang belum ditunaikan
Ada jiwajiwa kosong yg merindu teduhnya nasehat
Ada manusia yg kesepian mendamba kasih

Itulah siklus dalam hidup
Namun apakah sebatas itu?
Ataukah itukah semua yg menjadi tujuan?
Tidak bahkan sama sekali hanya secuil dari perjuangan hidup
Aku mengerti itu

Beribu langkah telah kupacu
Barisan jejak telah kutingkalkan jauh dibelakang
Hingga akhirnya aku mengerti
Bahwa hidup adalah tentang manfaat
Manfaat untuk alam semesta

Rawamangun,101214

December 5, 2014

Kumpulan Puisi Soe Hok Gie


Sebuah Tanya
Akhirnya semua akan tiba
Pada hari yang biasa
Pada suatu ketika
Yang tak pernah kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku meminum susu dan tidur lelap
Sambil membenarkan leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelanpelan di lembah kasi
Lembah mandala wangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan yang mulai suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku seperti dulu
Ketika ku dekap kau dekap lebih mesra
Lebih dekap
Apakah kau masih berkata
Ku dengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta
Hari pun menjadi malam
Wajahwajah mulai muram
Wajahwajah yang tidak kita kenal
Berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti
Seperti kabut pagi itu
Karena kemanusiaan
Aku tak tau mengapa
Aku merasa melankoli malam ini
Aku melihat lampulampu kerucut
Dan lalu lintas Jakarta dengan warnawarna baru
Seolah-olah semuanya di terjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan
Semuanya terasa mesra
Tapi kosong
Seolah-olah aku merasa diriku yang lepas
Dan bayangbayang menjadi puitis sekali di jalanjalan
Perasaan yang amat kuat menguasaiku aku ingin memberikan rasa cinta kepada manusia.
Tentang Tujuan
Ada orang yang menghabiskan waktunya di mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya di miraza
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu sayangku
Bicara tentang anjinganjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bungabunga yang manis di lembah mandala wangi
Ada serdaduserdadu amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayibayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang satu setanpun tak tahu
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra
Yang pernah baik padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa

puisi semu

kita mencinta apa yang semu
kita mencari absurditas
tidak ada sama sekali milik kita
kata soe hok gie
"Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa".

lalu apa yang harus dibanggakan
diri yang semakin menua
atau harta yang tidak membahagiakan

aku hampa dengan semua ini
menjalani dengan setiap hembusan nafas yang berat
lalu kemudian semua akan sirna
menuju tempat yang sepi dan kemudian menyadari semua yang telah dilalui

kita adalah orangorang penyesal
kita adalah pendamba masa lalu
dan kita pula adalah sesosok jiwa yang beku ditengah keramaian

aku muak
benarbenar muak dengan semua yang telah terjadi
ingin kuakhiri dengan semua

December 4, 2014

Hidup Adalah Tentang Datang dan Pergi

kemarin pagi aku menulis semua apa yang ada di kepalaku tentang nenek ku yang baru saja berangkat ke sisiNya. Tepatnya itu pagi dan kutahu di ruang yang lain, kakakku sedan menunggu kelahiran anaknya. Entahlah apa ini yang disebut tentang pergantian dalam hidup namun benar-benar menakjubkan. pagi hari aku harus meneteskan air mata karena kepergian nenek untuk selamanya namun di siang harinya, aku tersenyum menyambut sesosok laki-laki yang hadir di keluarga kami, dialah ponakanku yang ketiga.

Aku belum sempat menanyakan banyak hal tentang kelahiran ponakanku itu. Aku bahkan baru mengetahui setelah di kirimi BBM dari kakak bahkan dengan fotonya yang mungil namun aku bersyukur semua selamat dengan sehat. hidup memang seperti ini. selalu ada saja yang pernah tanpa diduga dan juga akan ada yang datang dalam waktu yang tepat.

Hidup selalu bergerak dalam pergantian generasi. keniscayaan itu akan selalu terjadi dalam kehidupan ini dan yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi hidup yang akan selalu bergerak. Terkadang aku muak dengan semua yang kuhadapi namun aku yakin pula bahwa tidak ada yang sia-sia. Hidup setiap orang punya maknanya masing-masing.

Selamat jalan nenek. sampai jumpa di alam sana suatu waktu.

Selamat datang nak, rayakanlah hidupmu dengan hati dan bermanfaat untuk semua makhluk.

December 3, 2014

Daftar Kesalahan

Aku kok gini ya Allah. Selalu saja ada kesalahan kecil dalam pekerjaanku.
Apa aku memang kurang teliti, atau bahkan aku tidak cocok dengan pekerjaan seperti ini.
Tapi aku menikmatinya ya Allah.


Daftar kesalahan kecilku :
1. salah dalam perhitungan JKDK An Sopiah

2. salah input agen PAR CV Sinar Agung Kencana

3. salah nulis nama tertanggung polis marine Hull yang preminya Rp. 93.782.000

4. salah input alamat tertanggung PAR Nasrizal

5. salah input polis CAR formalitas

6. salah input indemnity klaim motor pak ghondo
 
Nb. masih ada yang tidak kuingat

Kematian

Seperti kebiasaanku pada subuh dinihari saat selesai melaksanakan kewajiban sembahyang, aku memainkan hp sekedar membaca berita ataupun dengar musik. berselang beberapa saat kemudian, ada telepon masuk dan ternyata dari kakak perempuanku di kampung. aku membatin mungkin hanya urusan biasa saja. kuangkat telepon dan sejurus kemudian, kudengar sesegukan dari suaranya di balik hp. dengan terbata-bata, dia mengatakan bahwa doakan nenek karena sudah berpulang baru saja. itu saja kata-kata yang keluar dari mulutnya kemudian menutup telepon.

Aku terdiam sejenak. perasaan hampa menghinggapi rongga sukmaku paling dalam. kepergian demi kepergian selalu menjemput. aku yakin itu dan kali ini nenek yang mendapat giliran dipanggil oleh Allah. air mataku tumpah. aku tak tahu perasaan apa itu namun harus kuakui bahwa aku hidup dengan barisan jasa dari beliau. sampai akhirnya dia stroke ringan 10 tahun lalu, sebelum itu, beliau menjadi orang tua kedua bagiku. aku ingat dengan amat sangat jelas semua tentangnya dan semua apa yang pernah kujalani selama bersamanya.

Dulu, saat aku masih kecil sampai berumur 17 tahun, sering aku melalui hari-hariku di rumahnya yang berjarak 2 km dari rumahku. setiap 2 kali sehari dalam seminggu, dia ke pasar menjajakan kuenya dan setiap pagi hari sebelum beliau ke pasar, aku dan saudaraku membawakan barang dagangannya ke pasar. beliau pun akan menjadi pelarianku meminta uang jajan tambahan.

Aku ingat dengan jelas kehidupan beliau. begitu kuatnya melalui hidup dengan sendiri setelah ditinggal pergi oleh kakek berapa tahun sebelumnya. beliau ke pasar melewati jembatan gantung. menjalani hidup sendiri di rumahnya. berkebun dan semua dilakukan sendiri. aku ingat kerang kali beliau memberiku uang jajan setelah pulang pasar atau bahkan membelikanku makanan.

Di kampung kami setiap kali bulan ramadhan, pada malam hari sebelum tauziah ramadhan, anak-anak muda disuruh naik mengaji di mimbar. masih ingat dalam ingatanku suatu waktu, aku mendapat giliran untuk tampil. karena malam sebelumnya sudah diumumkan bahwa yang akan membacakan Al-Qur'an besok malam adalah aku, maka sepanjang hari aku sudah deg-degan. bagaimana tidak harus tampil di depan umum dan umurku saat itu mungkin 10 tahun. Alhasil nenek membelikanku sebuah baju baru untuk dikenakan saat tampil dan supaya aku senang. aku ingat sekali itu dan baju itupun sepengetahuanku masih ada di rumah.

Aku pun sering menghabiskan masa kecilku di samping rumahnya sambil mengembala sapi. aku menghabiskan masa kecilku di rumahnya sambil bercerita dengannya. aku menghabiskan banyak cerita bersamanya. entahlah karena semua memang tinggal cerita masa lalu. aku bahkan tidak pernah melewatkan hariku di rumahnya ketika pulang kampung.

selamat jalan nek. damailah disisiNya. semua akan menyusulmu karena hanya waktu yang menjawab

2.12.14

December 2, 2014

Raga Yang Letih

Aku kehilangan katakata
menyelip dalam sebuah resah yang mendera
aku kehilangan semua barisan kalimat
menguap dalam lara yang tak berujung

aku memburu nafas dalam diam yang tak bergerak
aku membiarkan semuanya hampa
mengalun indah dalam derap jejak yang tak beraturan
sampai akhirnya nafasnya memberi tanda tak sanggup

entahlah
semua hanyalah bias yang tak berarti
tak bermakna bahkan siasia
aku ingin mengakhiri dengan sisa khidmat di benak
tentang rasa dan karsa yang masih tersisa

raga yang letih

Ibu Samping Mall

Aku sudah terlalu sering menulis tentang apa yang sering engkau lakukan kepada sesama. bahkan amat sangat sering. namun aku tidak ingin melewatkan untuk menulis kebiasaanmu mendatangi seorang ibu yang dengan setianya duduk di depan parkiran Mall Ambassador bersama kucingnya. menurut perkiraanku, ibu itu sebaya dengan ibuku. aku bahkan tak tahu apakah ibu itu adalah seorang pengemis atau seorang pemulung namun yang kulihat bahwa ibu itu tidak pernah sekalipun mendahkan tangan ketika orang berjalan di depannya. hal itu yang membuatku yakin bahwa ibu itu bukan pengemis, hanya seorang pemulung yang selalu melepas penat di tempat itu.

Engkau selalu mengingat ibu itu saat ada makanan bahkan selalu menyisihkan beberapa lembar ribuan saat kita lewat di depannya bahkan terkadang engkau menyempatkan untuk bercerita dengannya. ketika kutanya tentang ibu itu, ternyata engkau tidak pernah menanyakan hal yang detail tentangnya.

Mungkin cerita tentang ibu itu dan orang yang tidak beruntung di kota ini adalah hal yang lumrah dan amat sangat mudah ditemui di setiap sudut kota ini. aku yang sering melewati perempatan lampu merah di menteng pun sering menjumpai tiga orang bocah yang menjual tissue dan koran. 

Mereka melakukannya pada malam hari karena ketika aku lewat siang hari, mereka tidak aku. pernah sekali waktu aku melewati mereka, kulihat bocah yang kira-kira umurnya 5 tahun sedang menyuap bocah yang kira-kira berumur 2 tahun tanpa sekalipun memperdulikan lalu lalang kendaraan yang begitu amat padat. beberapa pengendara melirik kepada mereka dengan wajah datar, entah lah apa yang ada di pikiran mereka saat melihat pemandangan seperti itu.

Kota ini mengajarkanku tentang banyak hal bahkan tentang hidup. Ketika ada perasaan ingin menyerah maka aku selalu bertemu dengan orang masih lebih tidak beruntung dari apa yang sudah aku dapatkan sampai saat ini. sampai aku harus tegar dengan apa yang sedang kujalani.

2 Desember 2 Tahun Lalu

kamu ingat kan 2 tahun lalu. aku yakin kamu pasti ingat.
tepat 2 tahun lalu aku bertemu dirimu. di sebuah training LSM GP.
dengan wajah sendu dan polos pun dengan lugumu menyimak semua penjelasan dari Cepi
kamu ingat cepi kan? itu loh koordinator tempat kita bekerja yang orangnya asyik diajak ngobrol.
sejak saat itu aku mengenalmu. aku tidak mampu mengingat semua memori yang sudah berjalan dengan rapinya tentang perkenalan kita karena yang kutahu aku sudah seringkali menulisnya bahkan di semua deretan kosong yang masih tersisa entah itu di blogku ataupun di lembaran buku.

masih segar dalam ingatanku, engkau yang dengan begitu lugunya selalu datang dengan motor butut warna merah. aku yakin sebagian perempuan sebayamu minder dengan motor butut seperti itu namun tidak bagimu, engkau tetap setia dengan apa yang engkau punya.
seriiring berjalannya waktu. aku mulai mengenal kalian termasuk engkau. entahlah namun sejak mengenalmu dan seorang lagi gadis dari gresik, aku kagum pada kalian berdua. memang aku tipe cowok yang mengagumi perempuan yang apa adanya dan punya hati yang tulus dan kalian berdua memiliki itu. seketika prasangkaku tentang karakter orang jawa melunak saat mengenal kalian berdua.

aku mencoba mengingat semua memori tentangmu di awal pertemuan kita namun tidak ada satupun yang membuatku harus menilaimu tidak baik. semua yang kulihat hanyalah engkau yang tulus dan apa adanya bahkan amat sangat sabar.

ingatkah engkau saat musa memaksamu masuk disaat engkau demam. aku yakin engkau masih mengingatnya dengan baik. saat itu di royal plaza. tahukah engkau apa yang kurasakan saat itu? aku ingin sekali menonjok musa dengan semua kekuatanku hingga dia bisa merasakan namanya solidaritas namun aku masih menahan diri. meski kusadari perasaanku saat itu masih sebatas ingin menjagamu.

aku memang orang yang suka akrab dengan orang baik. tahukah kamu bahwa dulu, aku sudah mengikrarkan diri untuk menjaga engkau dan linda. kalian berdua dulu menjadi temanku yang sesungguhnya. bahkan saat aku tahu ada yang mengganggu kalian berdua, aku orang yang pertama melindungi kalian.

kemudian waktulah yang selalu menjadi jurang pemisah. linda mendapatkan belahan hatinya dan kuyakin laki-laki itu pasti baik karena linda orang baik dan aku merasa sudah tidak punya hak untuk terlalu dekat dengannya.

kemudian cerita tentang kita. waktu pulalah yang membuat kita seperti ini. menjadi amat dekat kemudian berikrar untuk hidup bersama. engkau harus tahu bahwa semenjak dulu pun aku ingin melindungimu, apatahlagi sekarang saat engkau telah menjadi teman terdekatku. aku akan melindungimu tiap waktu bahkan percayalah, aku ingin menikmati hidup bersamamu.

hingga detik ini, Hal yang paling kusesali tentang kebersamaan kita adalah banyaknya khilaf yang masih sering kita lakukan. namun di momen 2 tahun perkenalan kita, aku ingin memperbaiki semua.

2 Des 2014

November 17, 2014

Bersimpuh

aku memeluk bulan. mendekap dengan erat. aku mencium aroma yang begitu khas
aku mencumbu rembulan dan mengabaikan matahari
aku pencinta malam dan perindu senja
aku menyusuri semua lorong di setiap sudut bumi
entah sampai kapan?

namun aku selalu yakin bahwa perjalanan ini akan terhenti suatu saat
entah di mana dan entah kapan

apakah aku akan menjadi pengecut
menjadi bandit tak berguna
atau apalah istilahnya

satu hal yang kuyakini
Tuhanku selalu punya celah memaafkan makhlukNya

itu yang menguatkanku sampai saat ini
bahkan saat aku jauh berjalan

November 13, 2014

Anak Gadis Itu

Aku sedikit harus menyamarkan kejadian yang kutulis ini karena terlalu sensitif. Terlalu sensitif memang karena aku masih terkurung dalam kejadian yang membuat dilema. Setiap hari harus bergulat dengan kondisi ini dan tentunya aku pun merasa tidak nyaman meski kutahu bahwa orang-orang di sampingku menganggap bahwa aku cuek dengan keadaan sekarang namun tidak, tidak sama sekali. Aku pun terganggu dengan keadaan ini. 

Meski sebenarnya aku tidak punya urusan sama sekali dengan kondisi ini dan tidak tahu asal muasalnya namun bagaimana pun aku berada di lingkungan ini yang mungkin tidak sedang baik-baik saja. Masalah memang adalah hal niscaya yang muncul dalam hidup. Dalam artian bahwa ketika hidup maka
bersiaplah berkawan dengan masalah namun bukan berarti itu menjadi pembenaran bahwa ketika ada masalah maka kita mendiamkan begitu saja. Apatahlagi ketika masalah dengan orang lain maka seharusnya itu diselesaikan. 

Memang benar bahwa kita tidak akan pernah cocok dengan semua manusia di bumi ini karena perbedaan karakter namun pernyataan tersebut tidak cukup menjadi alasan itu berseteru. Perbedaan karakter tersebut tidak pernah membatasi kita untuk akur dan mungkin hanya sekedar untuk menyambung silaturahim. Hanya kita perlu sedikit menurunkan ego kita untuk tidak terlalu pongah dan merasa selalu benar. 

Mungkin yang membaca tulisan ini bingung apa hubungan anak gadis dengan tulisanku ini namun percayalah bahwa apa yang sedang kutulis ini adalah tentang seorang gadis yang amat sangat tidak merasa nyaman karena sebuah kondisi yang tidak sedang baik-baik saja. Aku mungkin orang yang amat sangat kompromistis dan menghindari konflik. 

Yah memang aku seperti itu bahwa ketika tidak bisa akrab dengan seseorang maka aku akan berusaha untuk tidak berkonflik setidaknya ketika berpapasan tidak ada rasa canggung. Coba bayangkan ketika ketika berkonflik dan harus bertemu setiap hari dan berada di tempat. Betapa canggungnya perasaan itu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan hal tersebut.

November 12, 2014

Puisi yang Tenggelam

aku dan kau adalah butirbutir waktu
berlalu dan tidak akan pernah berjalan mundur seperti pada puisi film itu
aku dan kau adalah kenangan suatu waktu
tentang cita dan cinta yang menyatu

lama tak menulis sebuah puisi.
membeku katakataku dalam setiap lembaran hari yang kujejak
aku sesekali menyadari namun tak kuasa untuk mengisinya dengan goresan panah yang mulai menyusut
aku dan kau akhirnya sampai disini
di ruang dan waktu yang sama sekali tidak pernah disadari
dulu hanyalah khayalan dan anganangan semata
namun tidakkah kita percaya bahwa pikiran selalu saja terbaca oleh semesta

aku ingin memelukmu malam ini
dengan bayangbayang hitam tersisa untukku
namun apa daya
hanya serpihan kasih yang terbentang kujumpai

aku hanyalah wajahwajah tak berbentuk
yang merindukan pelangi
aku hanyalah seonggok jasad tak berguna
yang merindukan hidup di istana
 

Gibah

Percayalah bahwa gibah itu tidak benar. Itu saja yang ingin kutulis hari ini. Mau penjelasan lebih lanjut yang subjektif atau pun objektif selalu saja kesimpulannya bahwa gibah itu sesuatu yang merusak. 

Mungkin di sepanjang hidupku selalu saja ditemui orang yang bergibah dan aku pun harus jujur dulu sering melakukan itu. Memang ada perasaan senang saat membicarakan kejelekan orang karena sejatinya manusia itu suka melebihkan dirinya dari orang lain meski di sisi lain manusia saat tidak ingin diremehkan. 

Dalam hal ini bahwa manusia suka bergibah dan sangat tidak suka ketika dibicarakan kejelekannya. Itulah yang sangat paradoksial bagi manusia.

Rumusnya bahwa hindari bergibah jika tidak mau dibicarakan kejelekan orang lain. Ketika ada teman bergibah, jangan sekali-kali untuk menambah-nambahi karena percayalah dengan sangat percaya ketika suatu waktu pun teman yang suka bergibah itu akan membicarakan kejelekanmu jadi diam saja.

Untuk beberapa hari ini aku harus bisa menahan diri untuk semua itu. Menahan untuk tidak mengotori hari-hariku dengan gibah makanya kupilih untuk diam seribu bahasa. Aku sampai sekarang percaya bahwa gibah akan menggerogoti pikiran sehat manusia dan aku tidak mau digerogoti oleh gibah.

Belajar menahan diri untuk meningkatkan kualitas diri tanpa harus menjatuhkan orang lain. Semakin kita menjatuhkan orang lain, semakin susah kita merangkak naik.

November 11, 2014

setia

seperti saat dulu kau mengecupku.
seperti saat dulu kau meminta untuk sekedar bersandar di bahuku
itu dulu
dan seperti saat ini saat kau masih meminta itu
kau mengajarkanku tentang kesetiaan.

Menulislah

Saya selalu mencoba untuk menulis komedi atau apalah yang berhubungan dengan hal-hal yang lucu namun selalu saja gagal. Payah memang isi kepala saya kalau mengenai hal yang lucu meski saya suka dengan hal yang lucu. 

mungkin juga sense of humor saya yang kurang karena tidak pernah sekalipun saya berhasil menulis hal yang lucu meski beberapa referensi saya lahap habis. Saya bahkan merasa masih lebih bisa menulis hal yang mengharu biru atau tentang renungan-renungan dan juga puisi karbitan. 

Entahlah namun saya merasa seperti itu. Saya bercita-cita membuat buku namun melihat track record saya dalam memulai sebagai penulis karbitan, mungkin hal yang kutulis nantinya yang bergenre renungan-renungan hidup karena menulis tentang politik pun saya takluk, meski secara empiris saya adalah alumni mahasiswa sosial politik. 

Banyak referensi memang untuk menulis segala sesuatu tentang passion kita hanya saja kita mau memulai atau tidak. Kalau ditanya apakah yang bisa saya tulis maka saya katakan adalah saya bisa menulis hal-hal yang sederhana dalam hidup. Realita yang mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain namun terkadang saya memperhatikannya karena sejatinya semua hal berkesan hanya saja kita sering menganggap remeh hal yang kita temui. 

Saya juga percaya bahwa setiap detik momen yang kita jumpai selalu punya makna dalam hidup kita. Saya percaya bahwa hidup bukan tentang kebetulan namun kehidupan ini adalah grand design by Sang Maha Pencipta yang tidak pernah mempertemukan kita dengan momen yang tidak ada manfaatnya. 

Manusia hanya butuh sedikit menurunkan ego untuk membaca setiap momen tersebut karena ketika manusia masih dikuasai oleh ego maka yakinlah semua akan berlalu dengan begitu saja tanpa bisa mengambil hikmah dalam setiap detik kehidupan yang dilalui dan nantinya bahwa keyakinan saya, akan ada buku renungan yang akan terbit dan dijual di gramedia yang penulisnya bernama sama dengan namaku. 

CAMKAN ITU BAIK_BAIK...!!!! 

Mentari selalu terbit di pemula hari acapkali berlalu di awal malam namun percaya, dia bukan yang kemarin, bukan pula seribu tahun lalu mentari hanya mengajarkan kepada kita bahwa setiap waktu selalu ada kesempatan dan sebelum kesempatan itu benar-benar menguap biarkan dirimu larut bersama keindahan senja mengukir pelangi bahkan saat hujan pergi. 

Rawamangun, 111114

November 10, 2014

Ini Tentang Hidup

Hidup adalah tentang suka duka, tentang cinta benci, tentang cocok dan ketidakcocokan. Hidup bagaikan pelangi dengan warna warni yang indah, itu hakekatnya. 

Ketika kita sudah menanamkan itu dalam hati yang paling dalam bahwa hidup itu adalah tentang keberagaman maka dengan sendirinya kita akan menikmati setiap perbedaan yang ada tanpa mencela satu sama lain. Aku tahu itu dan aku sudah mendapati beberapa momen seperti itu.

Aku sudah bekerja di tiga tempat yang berbeda. Ini bukan masalah gaji atau materi semata. ini tentang hati. Di setiap tempat aku mendapati manusia dengan berbagai macam karakter dan pastinya bahwa sebagian diantara mereka tidak cocok denganku, namun apakah aku akan mundur? 

Sama sekali tidak karena aku memang sudah mengetahui hakekatnya bahwa hidup tentang beberapa orang yang tidak cocok denganku, bukan berarti konflik namun sejatinya tidak bisa sejalan

Ajaran Tentang Ibu

Sedih juga mendengar alasan kenapa adikku yang ada di kalimantan jarang menelepon orang tua di kampung. Sedih dan amat sangat menyesakkan mendengar alasannya yang cuma sepele. Aku yang bahkan hampir setiap kali menelepon orang tua terkadang harus menahan rindu yang tertinggal di wajah mereka. Aku bahkan tidak punya alasan apapun untuk tidak menelepon mereka dalam seminggu apatahlagi untuk marah kepada mereka, tidak ada alasan untuk itu.

Kemarin malam saat menelepon adikku tersebut, kutanya kepada jarang menelepon ke kampung, dia jawab dengan singkat, "karena saat menelepon, seringkali baru sekitar beberapa menit menelepon, ibu sudah mengatakan tidak tahu lagi apa yang mau dibicarakan.

Sebegitu piciknya alasan untuk tidak mengabari keadaan kita kepada orang tua di kampung. Sebegitu picik dan sesederhana itu kita tidak mau untuk menelepon mereka hanya untuk mengabari keadaan kita meski harus disadari bahwa orang tua itu hanya ingin mendengar suara anaknya dan itu cukup bagi mereka, tidak perlu panjang lebar untuk bercerita apa saja namun ternyata adikku yang di kalimantan mengartikan salah. 

Ah, sesak dada ini mendengar alasannya untuk tidak menelepon orang tua di kampung.

Beberapa waktu lalu, w dinas di Semarang selama dua hari. ibunya mengirimiku sms bahwa dia meminta w mampir di Madiun beberapa hari namun ternyata w tidak mau mampir. Sesak rasanya mengingat hal itu. Permintaan ibu untuk bertemu anaknya ditolak. 

Aku bahkan harus meneteskan air mata saat membaca sms ibunya. Bagaimana tidak, pikiranku langsung tertuju saat ibunya ke Jakarta hanya untuk bertemu anaknya, beberapa kali bahkan harus bolak balik tanpa memperdulikan kesehatannya dan sedihnya lagi, terakhir kali ibunya ke Jakarta, dia dijambret di kereta dan semua isi tas amblas. 

Itu demi apa? Hanya ingin melihat anak gadisnya, merangkul anak gadisnya dan bercerita banyak tentang kehidupan baru anak gadisnya, tidak lebih dari itu. Namun sebegitu susah kah kita memenuhi permintaan ibu kita.

Aku tidak sedang meracu namun sampai saat ini, aku bahkan selalu memenuhi permintaan ibuku. Aku tidak ingin menyesal suatu saat nanti. Apapun itu bahkan jika seandainya ibuku memintaku untuk pulang menjaganya maka itu pun yang akan aku lakukan. 

Aku bertahan disini karena kemauan ibuku. Dia tidak mau kalau aku pulang dan tidak ada aktifitas di kampung. Dia rela aku jauh demi aku bukan demi dirinya. 

Betapa tidak disadari saat masih kecil, pernahkah mereka mengabaikan kita saat kita nakal, pernahkah mereka berhenti mendoakan kita hanya karena kita tidak mematuhi aturannya ataukah pernahkah mereka merasa letih saat harus bangun dini hari hanya untuk menyiapkan adonan kue untuk dijual di pasar demi kebutuhan sehari-hari kita. 

Pernahkah kita memikirkan itu semua? kasih orang tua tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Kita sama sekali tidak punya alasan untuk mengabaikan mereka meski hanya sekadar memberi kabar kepada mereka bahwa kita baik-baik saja di perantauan, itu saja.

Aku juga bukan anak yang terlalu penurut, bukan anak seperti anak lain yang begitu amat berbakti kepada orang tua namun aku berusaha untuk itu. Terbentang ruang dan waktu dengan orang tua menyadarkanku bahwa kasih mereka tidak akan pernah putus. air mataku sering menetes dengan hangat ketika beberapa kali ibu meneleponku saat dia memasak makanan enak dan berkata "apakah aku sudah makan?" Kemudian dengan kata yang terbata dia mengatakan bahwa ini banyak masakan ibu di sini namun engkau jauh. 

Momen seperti itu seringkali dia ungkapkan terkhusus saat hari raya lebaran. Apakah aku pernah mengingatnya saat aku sedang makan makanan enak? jarang sekali mungkin.

Ibu mengajarkanku kasih yang tak berbalas, ibu mengajarkanku bagaimana caranya mencintai. Hal yang kutahu sekarang adalah mengabarkan keadaanku setiap saat tanpa harus punya alasan apa-apa. 

Ibu, aku sayang engkau, saat ini dan selamanya
engkau mengajarkanku kasih Tuhan yang tulus

Rawamangun, 10-Nov-2014

Amarah

Aku bukanlah orang yang terlalu sosial. Aku bukanlah orang yang terlalu peduli dengan sesama bahkan aku menyadari bahwa seringkali aku tidak sabaran dalam segala hal. Aku pun seringkali marah pada apa saja yang tidak sesuai keinginanku namun aku masih bisa memilih hal apa yang harus membuatku marah. Ketika marah maka logika dan rasionalitas otak tidak berjalan dengan baik maka yang ada hanyalah ego yang ingin menang. Ini yang seringkali merusak.

Aku bahkan terkadang menganjurkan untuk sesekali marah kepada apapun yang bertentangan dengan prinsip namun bukan marah yang merusak. Aku selalu menyesali setiap hariku dimana ada amarah yang keluar. Aku selalu membenci diriku yang marah tanpa sebab hanya karena suasana hati yang tidak stabil. Aku memang seperti itu meski aku terkadang mencoba untuk selalu menenangkan diriku.

Kemarin saat kembali dari pengajian Aa gym di Istiqlal, aku berputar melewati kantor pos di depan masjid tersebut, oleh sebab ada sedikit keperluan di ATM. Maka aku memarkir kendaraanku di depan kantor pos dan masuk ke dalam dimana ATM berada. Berselang beberapa saat aku setelah urusan mengenai ATM selesai, aku keluar menuju tempat parkir motor. Tepat di depan pagar kantor pos, aku mendengar ada ribut-ribut, seorang yang bermata sipit sedang mengertak pesuruh kantor pos tersebut. 

Aku memperhatikan adegan tersebut di atas motor sambil sesekali melirik HP supaya tidak dianggap kepo. Lama-lama aku mengerti akar masalahnya bahwa si pria paruh baya yang menurut tebakanku adalah orang Tionghoa amat sangat murka karena pesuruh kantor pos tersebut melarang masuk dengan alasan kantor sedang tutup karena memang pada saat itu hari minggu. si pria tersebut tidak terima dan terus saja meracu tanpa jelas dengan muka yang menahan amarah.

Sebelumnya aku mencoba untuk fair masalah tersebut namun benar-benar aku tidak bisa menahan amarah melihat si pesuruh tersebut dimaki dengan segala macam kata-kata dan tangan yang ditunjuk-tunjuk ke mukanya.

Rawamangun, 9 nov 2014

November 7, 2014

Aku Menangisi Rindu

Aku menangisi rindu. meratapi yang datang tiba-tiba. Menyesakkan dada, membuncah dan hampir pasti pergi tak berjejak. Aduh betapa perih luka ini. Merobek sukma yang menahan semua rindu yang tersisa. 

Aku berjalan sepanjang jalan setapak yang berdebu. menghitung jejak langkah yang keluar dari jalurnya. Aku bersedih dan tersungkur melihat begitu banyak jejak hitam yang tak berada di jalan yang kutuju. Haruskah aku berlari dan terus melanjutkan perjalanan ini? 

Tidak, tidak sama sekali. Aku sesekali menatap kebelakang, memandang lurus dan mencoba untuk kembali ke jalur yang kujejak, kemudian melangkah pelan menuju Cahaya Ilahi.

Terkadang aku merasa hampa, untuk apa sebenarnya aku di dunia ini? 

Kenapa tiba-tiba aku ada dan bertumbuh di tempat yang sama sekali tidak kukenali. Perih teramat dengan semua dosa yang melumuri perjalananku, ah, Tuhan, sampai kapan rindu untukMu ini berhenti? 

Sampai kapan Engkau menjadikan hatiku tenang mengingatmu. Jikalau memang harus ada dosa, tetapi apakah Engkau akan mengampuniku, meski aku dengan amat sangat yakin bahwa KasihMu meliputi segala dan Maha Besar atas semua dosa yang diperbuat oleh manusia bahkan aku percaya bahwa jika semua dosa-dosa manusia dikumpulkan maka KasihMu masih lebih besar dari itu semua namun aku tidak ingin menjadikan itu sebagai alasan untuk selalu berdosa dan mengulangi kesalahanku. 

Aku tidak tahu kapan waktu yang Engkau titipkan kepadaku berlalu dan kapan aku harus mengakhiri perjalanan panjang di dunia ini.

Aku tersungkur menangisi rindu ini. rindu yang sublim terhadapMu.

November 5, 2014

Policy

Aku mendapati diriku melongo di depan PC. tak kukenali karena mukanya yang sudah mulai memudar bahkan wajahnya yang dulu memperlihatkan keceriaan sepanjang hari sudah tertutupi oleh keriput di jidat dan dahinya. 

Entahlah apa yang dia pikirkan namun diriku tetap terpaku memandang dalam PC di depannya dengan sebuah tulisan yang tak kumengerti. Berkali-kali kusapa dia namun diabaikan bahkan tidak lebih seperti aktor di film horor yang diam dengan wajah yang memerah. aku berlalu dan kubiarkan diriku dengan aktivitas yang sedang dijalaninya karena kutahu mungkin saja dia sedang sibuk dengan aktivitasnya di depan komputer.

Aku bertemu dengan diriku di bantaran kali samping rumahnya. Aku mengenalinya dengan baik, dia yang menyapaku lebih dulu. Wajahnya amat berseri, entahlah aku tiba-tiba saja merindukan masa lalu di mana kami menikmati hidup dengan cara kami sendiri tanpa memperdulikan masa yang belum datang, bagi kami hidup itu adalah hari ini maka bercanda dan keceriaanlah yang selalu menghiasi hari-hari kami.

Tentang Rezeki

Beberapa waktu lalu, aku ikut tes pegawai pemerintah. Bukan sendirian bahkan ribuan orang yang mendambakan pekerjaan tersebut. Tidak ada yang salah, yah memang sama sekali tidak ada yang salah dari itu semua. Mendaftar pns adalah salah satu usaha untuk mendapatkan pekerjaan dan tidak merepotkan keluarga bahkan mungkin semua orang sepakat dengan hal tersebut. 

Bejibun orang setiap harinya selama hampir dua bulan di berbagai penjuru nusantara berseragam hitam putih antri panjang mengikuti tes pns di semua instansi. Pemandangan itu nyata di negeri ini, fenomena tentang pekerjaan favorit di negeri ini dan dianggap sebagai pekerjaan paling aman. 

Bagaimana tidak, menjadi pns berarti hidup kita sudah safe, tidak gampang di PHK, kerjaan tidak terlalu bejibun, gaji tetap jalan, pulang tepat waktu dan pada suatu nanti saat sudah pensiun pun masih dapat uang pensiunan setiap bulan. siapa yang tidak tertarik dengan pekerjaan itu dan mungkin orang yang mendaftar pns paling tidak memiliki salah satu alasan yang aku sebutkan di atas. Aku mafhum dengan semua itu.

Terlepas dari apa yang saya utarakan di atas. Ada satu hal yang selalu mengganggu kepalaku, selalu berkecamuk dan terkadang aku berpikir tentang fenomena tersebut. kegilaan menjadi pns sudah sebegitu mengerikan bahkan beberapa oknum berani menyogok dalam jumlah yang amat besar bahkan perlu bertahun-tahun untuk menutupi uang tersebut dari gaji pns. Pekerjaan ini bahkan sudah menghilangkan akal sehat dengan melakukan segala cara untuk itu.

Hal yang lain yang menggangu pikiranku adalah adanya kekhawatiran bahkan ini untuk diriku sendiri, jangan sampai pekerjaan ini di dewakan melebihi Tuhan. Kita sudah merasa bahwa rezeki hanya dari pekerjaan ini dan tidak percaya bahwa sebenarnya pekerjaan itu hanyalah fasilitas atau wadah namun sesungguhnya rejeki itu dari Allah. 

Ketika sudah mendewakan pekerjaan maka sesungguhnya kita telah mengurangi porsi Tuhan di dalam hati kita. Kita telah menghilangkan kepercayaan akan kuasa Tuhan memberikan kita rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Aku hanya berusaha agar semua hal yang berhubungan dengan duniawi tidak mereduksi kepercayaanku terhadap Tuhan. Bahkan dalam pekerjaan pun harus tetap percaya bahwa Tuhan lah yang memberikan rezeki.