Surat ini kubuat untukmu di
tengah malam yang pekat saat malam sebentar lagi menjatuhkan dirinya dalam
subuh. Disaat aku berpikir tentang semua apa yang aku lakukan kepadamu sehingga
setiap hal yang terjadi di dirimu, orangorang akan menunjuk hidungku sebagai
penyebabnya. ah penat juga aku dengan keadaan seperti ini. Aku memang berjanji
untuk tidak meninggalkanmu namun sampai kapan aku harus dianggap sebagai semua
penyebab kesedihanmu. Aku terima itu namun senja dan malam yang menjadi temanku
tidak akan pernah menerima itu semua. Aku harus selalu menjadi kambing hitam
atas semua laramu meski aku sendiri tak tahu itu.
Aku tak tahu lagi harus bilang
apa ke kamu. Begitu banyak katakata mutiara bahkan puisi yang aku sendiri tak
kumengerti kutulis untukmu untuk menyenangkan hatimu namun apa,? Aku tahu
engkau membalas dengan sangat tulus cinta yang kuulurkan kepadamu namun
benarbenar aku tak mengerti ketika engkau setiap kali harus menangis dan setiap
kali itu pula aku yang harus disalahkan. Di suratku yang lain atau mungkin
puisiku memintamu untuk menangis jika memang ingin menangis namun tidak seperti
menangis yang sering engkau pertontonkan. Bukan menangis histeris seperti yang
sering engkau lakukan dan tidak juga harus setiap saat harus mengucurkan air
mata. Aku memang suka dengan mata yang selalu basah namun bukan basah karena
amarah tetapi mata yang basah karena muhasabah.
Ah, entahlah ini sampai kapan?
Mungkin dan mungkin saja
memang kadang aku kelewat mencandaimu ataupun purapura membuatmu sedih namun
kukira engkau sudah amat paham akan watakku yang sering usil disetiap hal dan
kenapa engkau harus balas dengan tangismu yang sering mengganggu orang di
sekitarmu hingga akhirnya aku lagi yang menjadi hal semua kesedihanmu.
Akupun tak bisa merubah setiap
tingkahku karena itulah aku apa adanya. jika engkau memintaku untuk menjadi
seperti yang engkau inginkan. Bukankah itu bukan lagi diriku dan aku menjadi
orang lain. Seperti gambaran orang yang ada di kepalamu lalu kemudian ketika
seperti itu, bukankah ternyata engkau tidak menerimaku apa adanya? lalu buat
apa aku disini? Untuk menjadi boneka mainanmu.
Ah, aku tidak tidak sedang
menulis pledoi untuk membela diriku, benarbenar tidak sama sekali. Aku juga
amat sangat menyadari bahwa sudah begitu banyak kesalahan yang kubuat kepadamu
dan membuatmu sedih, aku akui itu namun untuk kali ini. Aku hanya akan diam,
diam dalam beribu bahasa sehingga engkau tidak lagi tersinggung dan tidak lagi bersedih.
Aku akan menjadi orang lain seperti yang engkau angankan. Tidak ada lagi canda
dan usilku kepadamu. Aku akan mengikuti maumu jika seperti itu yang selama ini
engkau inginkan.
Engkau memintaku untuk tidak
meninggalkanmu, yah, aku penuhi itu tidak akan meninggalkanmu dan selalu ada
untukmu namun satu hal yang engkau harus tahu, aku akan menjadi pribadi yang
lain di depanmu, bukan lagi seperti aku yang engkau kenal dulu saat aku masih
di kota seblah kotamu. Aku akan menjadi pribadi yang diam dan tidak akan usil
lagi hingga engkau tidak merasa terganggu lagi.
Malam, cepatlah bawa ragaku
kedalam mimpimimpi malam ini. Sudah penuh sesak kepalaku dengan pikiranpikiran
yang seakan meremukkan rongga otakku. Aku harus istirahat malam ini menjemput
mimpi yang mungkin saja lebih indah dari realitas yang sedang aku jalani. Gadis
yang katanya begitu tulus mencintaiku selalu mencampakkanku dalam perasaan
bersalah. Ah, tidak seharusnya aku ngomong seperti itu karena aku mencintainya
tanpa satu alasan pun meski dia melakukan berbagai hal yang menyiksa sukmaku. Bukankah
mencinta itu harus juga siap menderita dan inilah aku. Tetap akan mencinta
meski siap dengan sesak yang tertahan di dada.
Malam tlah
larut
Semoga
surat ini sampai kepadamu
Esok
pagi atau tahun depan
No comments:
Post a Comment