February 24, 2014

Surat Untuk Gadis Bernama W

Surat ini kubuat untukmu di tengah malam yang pekat saat malam sebentar lagi menjatuhkan dirinya dalam subuh. Disaat aku berpikir tentang semua apa yang aku lakukan kepadamu sehingga setiap hal yang terjadi di dirimu, orangorang akan menunjuk hidungku sebagai penyebabnya. ah penat juga aku dengan keadaan seperti ini. Aku memang berjanji untuk tidak meninggalkanmu namun sampai kapan aku harus dianggap sebagai semua penyebab kesedihanmu. Aku terima itu namun senja dan malam yang menjadi temanku tidak akan pernah menerima itu semua. Aku harus selalu menjadi kambing hitam atas semua laramu meski aku sendiri tak tahu itu. 

Aku tak tahu lagi harus bilang apa ke kamu. Begitu banyak katakata mutiara bahkan puisi yang aku sendiri tak kumengerti kutulis untukmu untuk menyenangkan hatimu namun apa,? Aku tahu engkau membalas dengan sangat tulus cinta yang kuulurkan kepadamu namun benarbenar aku tak mengerti ketika engkau setiap kali harus menangis dan setiap kali itu pula aku yang harus disalahkan. Di suratku yang lain atau mungkin puisiku memintamu untuk menangis jika memang ingin menangis namun tidak seperti menangis yang sering engkau pertontonkan. Bukan menangis histeris seperti yang sering engkau lakukan dan tidak juga harus setiap saat harus mengucurkan air mata. Aku memang suka dengan mata yang selalu basah namun bukan basah karena amarah tetapi mata yang basah karena muhasabah.

Ah, entahlah ini sampai kapan?

Mungkin dan mungkin saja memang kadang aku kelewat mencandaimu ataupun purapura membuatmu sedih namun kukira engkau sudah amat paham akan watakku yang sering usil disetiap hal dan kenapa engkau harus balas dengan tangismu yang sering mengganggu orang di sekitarmu hingga akhirnya aku lagi yang menjadi hal semua kesedihanmu.

Akupun tak bisa merubah setiap tingkahku karena itulah aku apa adanya. jika engkau memintaku untuk menjadi seperti yang engkau inginkan. Bukankah itu bukan lagi diriku dan aku menjadi orang lain. Seperti gambaran orang yang ada di kepalamu lalu kemudian ketika seperti itu, bukankah ternyata engkau tidak menerimaku apa adanya? lalu buat apa aku disini? Untuk menjadi boneka mainanmu. 

Ah, aku tidak tidak sedang menulis pledoi untuk membela diriku, benarbenar tidak sama sekali. Aku juga amat sangat menyadari bahwa sudah begitu banyak kesalahan yang kubuat kepadamu dan membuatmu sedih, aku akui itu namun untuk kali ini. Aku hanya akan diam, diam dalam beribu bahasa sehingga engkau tidak lagi tersinggung dan tidak lagi bersedih. Aku akan menjadi orang lain seperti yang engkau angankan. Tidak ada lagi canda dan usilku kepadamu. Aku akan mengikuti maumu jika seperti itu yang selama ini engkau inginkan.

Engkau memintaku untuk tidak meninggalkanmu, yah, aku penuhi itu tidak akan meninggalkanmu dan selalu ada untukmu namun satu hal yang engkau harus tahu, aku akan menjadi pribadi yang lain di depanmu, bukan lagi seperti aku yang engkau kenal dulu saat aku masih di kota seblah kotamu. Aku akan menjadi pribadi yang diam dan tidak akan usil lagi hingga engkau tidak merasa terganggu lagi.

Malam, cepatlah bawa ragaku kedalam mimpimimpi malam ini. Sudah penuh sesak kepalaku dengan pikiranpikiran yang seakan meremukkan rongga otakku. Aku harus istirahat malam ini menjemput mimpi yang mungkin saja lebih indah dari realitas yang sedang aku jalani. Gadis yang katanya begitu tulus mencintaiku selalu mencampakkanku dalam perasaan bersalah. Ah, tidak seharusnya aku ngomong seperti itu karena aku mencintainya tanpa satu alasan pun meski dia melakukan berbagai hal yang menyiksa sukmaku. Bukankah mencinta itu harus juga siap menderita dan inilah aku. Tetap akan mencinta meski siap dengan sesak yang tertahan di dada.


Malam tlah larut
Semoga surat ini sampai kepadamu
Esok pagi atau tahun depan

No comments: