February 23, 2014

Perjalanan Diri

Inilah perjalanan seorang musafir kehidupan. Mengarungi samudera yang luas tanpa tujuan yang jelas. Entah mengapa, setiap episode yang dilalui selalu penuh dengan dinamika dan tak terterka. Kadang membenci angin,  sering menolak hujan bahkan menghindar dari kegelapan. itu dulu ketika dia tidak tahu tentang cinta. Semua menjadi musuh bahkan tak tersisa hanya dirinya yang dianggap paling benar namun itu semua sudah berlalu ketika dia memiliki cinta dalam hati.   
Dulu sang musafir tersebut bertanya tentang tentang, kenapa mesti dia ada di jalan ini atau kenapa mesti semua menjadi serba sulit dan kenapa ada yang lebih beruntung dari yang lainnya atau yang paling inti kenapa Tuhan menciptakan keburukan dan menjadikan orang menjadi berbeda dalam keyakinan. Apakah dunia ini dan segala isinya adalah permainan sehingga semuanya harus pasrah dan menjalani apa adanya? Dan masih banyak pertanyaan yang menggumpal di kepala sang musafir hingga dia mencari jawaban di setiap langkah yang diayun, 

kadang menjadi hitam bahkan kadang pula putih.
Itu dulu, saat pikiran merajai dan saat keangkuhan memenuhi ruang hati yang harusnya dengan cinta. Semesta mengajarkannya di titik klimaks. Saat kegelapan datang menghempaskan tanpa ampun dan merobek sukma yang tak pernah bersujud. Menelanjanginya di depan khalayak yang menertawakannya. Dalam kesunyian katakata dia hanya berharap akan secercah kesempatan menghampirinya. Entah dari mana asalnya, tibatiba saja keyakinan itu memenuhi rongga hati yang kosong.

Setitik kemerdekaan hati terlihat di pelupuk mata. Perjalanannya dilanjutkan tanpa penyesalan dan kecemasan, hanya hati yang dipergunakan. Seluruh panca indera dibutakan bahkan pikiran pun sudah tidak berguna lagi. Semua tentang rasa yang dimiliki dan tentang cinta kepada semua. Kalau dulu membenci malam sekarang berteman dengan kegelapan. Dulu tidak mengharapkan hujan namun sekarang bercengkerama dengan basah. Semua menyatu dalam kecintaannya yang mendalam tanpa memendam perasaan yang tertinggal karena dia berada di bumi Tuhan  

No comments: