February 22, 2014

AKU SENDIRI TAK PAHAM


Jiwa yang semakin menua. Tiap raga yang mulai penat. Akan meretas sebuah perjalanan dengan hanya sebuah mimpi bagaimana tidak semua panca indera telah mengalami kelelahan. Tak mampu lagi memenuhi permintaan diri. Hati hanyalah bisa menaburkan doadoa suci yang entah menyirami sukma yang mengering namun entah pula hanya penawar sementara seperti meminum air laut di tengah gurun. Oh jiwa yang lelah. Tak pernah berhenti berangan mesti tahun waktu telah habis, bahkan bunga di taman telah berguguran mengikuti tiupan angin kesetiap penjuru mata angin. Hanya satu pesan hati, jangan pernah menceraikan kebenaran karena kebenaran akan tetap menjadi dirinya meski setiap jiwa berhenti mengakuinya namun kebenaran akan tetap setia kepada dirinya.
Lihatlah rembulan di malam yang basah. Sekilas cahayanya menembus dimensi, namun ini lain karena rembulan kali ini tentang cinta yang tak pernah usai. Dia selalu datang meski dibenci dan dia akan pergi meski dirindu karena dia ada dengan tasbihnya.malam yang belum matang pun tak jua mampu meluluhkan temaramnya sinar rembulan yang begitu indah hingga hampir setiap raga yang lelah diam memandanginya meresapi hangatnya dan berhenti mencaci
Tapi aku lain, dari mereka yang sedang mencicipi rembulan. Aku memilih berdiam diri dengan burung yang menunggu induknya. Menanyakan kabar tentang saudara di negeri tetangga, apakah mereka baik-baik saja? Beribu kabar kudengar, tentang mereka yang tidak lagi memendam rasa cinta bahkan kebencian menyelimuti. Entahlah namun bukan di negeri ini karena setiap jiwa di negeri ini adalah jiwajiwa tenang.
Dunia sekarang adalah cinta, tentang apa saja. Cinta terhadap udara yang kuhirup, cinta terhadap musuh yang selalu mengintai bahkan cinta terhadap yang tidak pernah mencintaiku. Hidupku adalah cinta diatas semua hal yang kujumpai dan sekarang yang kupandangi hanyalah sesuatu yang penuh dengan kecintaan abadi.

No comments: