Jiwa yang semakin menua. Tiap raga yang mulai
penat. Akan meretas sebuah perjalanan dengan hanya sebuah mimpi bagaimana tidak
semua panca indera telah mengalami kelelahan. Tak mampu lagi memenuhi
permintaan diri. Hati hanyalah bisa menaburkan doadoa suci yang entah menyirami
sukma yang mengering namun entah pula hanya penawar sementara seperti meminum
air laut di tengah gurun. Oh jiwa yang lelah. Tak pernah berhenti berangan
mesti tahun waktu telah habis, bahkan bunga di taman telah berguguran mengikuti
tiupan angin kesetiap penjuru mata angin. Hanya satu pesan hati, jangan pernah
menceraikan kebenaran karena kebenaran akan tetap menjadi dirinya meski setiap
jiwa berhenti mengakuinya namun kebenaran akan tetap setia kepada dirinya.
Lihatlah rembulan di malam yang basah. Sekilas
cahayanya menembus dimensi, namun ini lain karena rembulan kali ini tentang
cinta yang tak pernah usai. Dia selalu datang meski dibenci dan dia akan pergi
meski dirindu karena dia ada dengan tasbihnya.malam yang belum matang pun tak
jua mampu meluluhkan temaramnya sinar rembulan yang begitu indah hingga hampir
setiap raga yang lelah diam memandanginya meresapi hangatnya dan berhenti
mencaci
Tapi aku lain, dari mereka yang sedang
mencicipi rembulan. Aku memilih berdiam diri dengan burung yang menunggu
induknya. Menanyakan kabar tentang saudara di negeri tetangga, apakah mereka baik-baik
saja? Beribu kabar kudengar, tentang mereka yang tidak lagi memendam rasa cinta
bahkan kebencian menyelimuti. Entahlah namun bukan di negeri ini karena setiap
jiwa di negeri ini adalah jiwajiwa tenang.
Dunia sekarang adalah cinta, tentang apa
saja. Cinta terhadap udara yang kuhirup, cinta terhadap musuh yang selalu
mengintai bahkan cinta terhadap yang tidak pernah mencintaiku. Hidupku adalah
cinta diatas semua hal yang kujumpai dan sekarang yang kupandangi hanyalah
sesuatu yang penuh dengan kecintaan abadi.
No comments:
Post a Comment