Dulu, sudah
lama sekali saat aku masih kecil, bocah yang suka bermain. aku dapati sebutan
kelud di permainan wayang. Permainan yang sering kami jadikan permaianan
favorit untuk dijadikan taruhan, semakin banyak mengoleksi jumlah wayang tersebut
maka kita menjadi favorit di permainan itu. Salah satu merek wayang yang paling
diminati saat itu adalah kelud, nama yang persis sama dengan gunung di
perbatasan blitar, Kediri dan malang. Gunung yang sekarang ramai diperincangkan
karena batuknya. Tidak ada yang salah sama gunung kelud, hanya karena dia batuk
tiba-tiba saja ramai diberitakan meski itu hal yang biasa saja. Kelud sama saja
dengan kita, butuh batuk saat gatal dan dengan batuknya itu sekaligus dia
bertasbih maka jangan pernah sekalipun mengutuk kelud hanya karena lendirnya
mengenai kita toh ternyata dengan semburan dari dalam perutnya ternyata bisa
menyuburkan tanaman.
Tidak salah
jika aku amat sangat asing dengan gunung berapi, di kampungku nan jauh disana
sama sekali tidak terdapat gunung yang aktif meski kampungku adalah daerah
pegunungan namun tidak satupun gunung tersebut yang aktif alhasil aku hanya
tahu gunung berapi dari bacaan dan dari berita namun kita, sekarang ini aku
benar-benar merasakan anugerah dari gunung kelud. Butiran halus dari dalam
perut kelud menyapa sampai kota ini dan akupun bersenandung dengan rezeki dari
kelud, merasakan tenggorokan yang gatal akibat menghirup abu vulkanik dan
terkadang batuk namun aku tidak sekalipun mengutuk kelud. Aku bahkan merasakan
hangatnya sapaan kelud yang tidak pernah kurasakan. Di saat semua orang
menggunakan masker untuk menghindari debu vulkanik, aku bahkan melepas baju
untuk memaksa tubuhku merasakan sapaan abu vulkanik kiriman dari kelud. Kurasakan
dalam-dalam dan merasuk hingga ke sukmaku, begitu hangat.
Ya, semua
semesta datang tidak untuk menghancurkan, entah gunung merapi yang sedang
batuk, atau sungai yang sedang meluap bahkan bumi yang sedang berguncang,
mereka sedang bertasbih dan mengajarkan kita cara penyembahan kepada Sang Maha
Pemilik semesta. Jangan pernah membenci mereka karena mereka datang bukan untuk
dibenci namun untuk disambut dengan kehangat.
No comments:
Post a Comment