February 20, 2014

Kelud tasbih semesta



Dulu, sudah lama sekali saat aku masih kecil, bocah yang suka bermain. aku dapati sebutan kelud di permainan wayang. Permainan yang sering kami jadikan permaianan favorit untuk dijadikan taruhan, semakin banyak mengoleksi jumlah wayang tersebut maka kita menjadi favorit di permainan itu. Salah satu merek wayang yang paling diminati saat itu adalah kelud, nama yang persis sama dengan gunung di perbatasan blitar, Kediri dan malang. Gunung yang sekarang ramai diperincangkan karena batuknya. Tidak ada yang salah sama gunung kelud, hanya karena dia batuk tiba-tiba saja ramai diberitakan meski itu hal yang biasa saja. Kelud sama saja dengan kita, butuh batuk saat gatal dan dengan batuknya itu sekaligus dia bertasbih maka jangan pernah sekalipun mengutuk kelud hanya karena lendirnya mengenai kita toh ternyata dengan semburan dari dalam perutnya ternyata bisa menyuburkan tanaman.
Tidak salah jika aku amat sangat asing dengan gunung berapi, di kampungku nan jauh disana sama sekali tidak terdapat gunung yang aktif meski kampungku adalah daerah pegunungan namun tidak satupun gunung tersebut yang aktif alhasil aku hanya tahu gunung berapi dari bacaan dan dari berita namun kita, sekarang ini aku benar-benar merasakan anugerah dari gunung kelud. Butiran halus dari dalam perut kelud menyapa sampai kota ini dan akupun bersenandung dengan rezeki dari kelud, merasakan tenggorokan yang gatal akibat menghirup abu vulkanik dan terkadang batuk namun aku tidak sekalipun mengutuk kelud. Aku bahkan merasakan hangatnya sapaan kelud yang tidak pernah kurasakan. Di saat semua orang menggunakan masker untuk menghindari debu vulkanik, aku bahkan melepas baju untuk memaksa tubuhku merasakan sapaan abu vulkanik kiriman dari kelud. Kurasakan dalam-dalam dan merasuk hingga ke sukmaku, begitu hangat.
Ya, semua semesta datang tidak untuk menghancurkan, entah gunung merapi yang sedang batuk, atau sungai yang sedang meluap bahkan bumi yang sedang berguncang, mereka sedang bertasbih dan mengajarkan kita cara penyembahan kepada Sang Maha Pemilik semesta. Jangan pernah membenci mereka karena mereka datang bukan untuk dibenci namun untuk disambut dengan kehangat.

No comments: