February 25, 2014

aku dan kehidupan samping rel

simpang rel
gubeng lama
19'12'12

#1
ibu renta samping rel
masih memintal asa dalam gelap
demi takdir yang harus dijalani
walau sering cibiran menghampiri


di rel gubeng
23'1'2013
#2
bocah kumal itu
seperti yang kulihat senja kemarin
mengais harapan yang tak pasti
menunggu makhluk dermawan
dengan kaleng susu dipinggang
dan seringkali hujatan menyapa


simpang rel
ngagel jaya
18'8'13
 bapak itu
topi yang nampaknya tak asing
masih setia mengayuh becaknya
menunggu  rejeki dari penumpang kereta
untuk diantar sampai ke tujuan

dia tetap disana
tetap setia dengan sisa air di botol bekas
untuk penghilang dahaga
kadang kulihat makan siang saat dhuhur
tepat saat rejeki cepat menghampiri
namun seringkali kudapati dirinya
menyantap makan siap di senja hari
saat tak ada yang bermurah menumpang becaknya
ah, bapak itu
benarbenar menikmati hidupnya


Simpang rel
wonokromo
20'2'14
#3
wanita itu
nampaknya paruh baya
dengan pakaian yang serba irit
dada yang menonjol
dan bokong yang sengaja digoyangkan
mata yang awas menunggu lelaki haus
remang malam tak menghalangi
bahkan bising kereta yang lewat pun tak masalah

ah, wanita itu
dengan hanya beratap tenda terpal
beralaskan dipan
memuaskan setiap lelaki pencari kenikmatan

kutanya ia malam itu
sudah 5 lelaki yang menikmati tubuh sintalnya
dan saat sepi pelanggan
ia menyusu bayi yang disampingnya 



#1
kejadian itu selalu kudapati saat masih bekerja di LSM surabaya. beberapa ibuibu yang mungkin saja seumuran dengan ibuku kudapati di perlintasan rel di samping gubeng baru. jalanan itu kerap kali kulewati saat hendak berangkat maupun pulang bekerja. jalanan tersebut adalah jalanan pintas dari kediamananku di gubeng kerjataya ke arah kawasan jl pemuda. saat itu jalur angkot masih membingunganku dan juga untuk mengirit ongkos maka kuputuskan untuk memanfaatkan kakiku menuju tempat kerja di bilangan basuki rakhmat. sebenarnya alasan utama jalan kaki adalah mengirit ongkos, hehe.. dan saat seperti itulah, aku selalu mendapati mereka di perlintasan rel yang kulewati entah pagi siang atau malam. pekerjaanku yang menggunakan sistem shift mengharuskanku kadang pulang malam dan tetap saja pemandangan itu akan kudapati.





#2

sama seperti halnya diatas. seringkali pula bocahbocah usia sekolah yang seharusnya menghabiskan masa kanakkanak mereka di sekolah namun terpaksa mangkan di samping rel, entah mereka mengemis, mengamen sambel mengemis atau bahkan copet. bedanya bahwa mereka lebih gesit dari orang tua tersebut untuk menghampiri orangorang yang lalu lalang. 


#3
nah yang ini aku jumpai di sekitar jalan ngagel menuju gubeng. deretan tukang becak yang sudah renta menunggu rejeki tanpa kenal waktu. terkadang mereka membunuh waktu menunggu dengan tidur, sekedar ngobrol dengan sesama teman atau bahkan mandi di kali dekat jalan tersebut. seringkali saat kulewati jalan tersebut pukul 23.00, mereka tetap saja disitu, sekali dua kali melihat mereka di sana sampai larut malam membuatku menerka-nerka bahwa mereka memang masih menunggu rejeki tengah malam namun setelah seringkali melewati jalan tersebut dan seringkali pula kudapati mereka sudah lelap diatas becak dengan berselimut sarung kumal dan becak yang diikat di batang pohon membuatku yakin bahwa mereka memang benar-benar tinggal disana. entahlah apakah mereka tidak mempunyai rumah namun hidup dan lahan mereka adalah becak itu. aku berpikir kenapa saat malam becak mereka diikat di batang pohon dan ternyata mereka khawatir sewaktu-waktu angin menggoyang-goyangkan becak mereka karena kota itu sering kali dihampiri angin kencang saat tengah malam atau saat hujan akan turun


#4
nah, pemandangan yang terakhir ini kudapati saat aku sudah bekerja di salah satu kota di perbatasan kedua provinsi ini. setiap bulan kami terkadang harus ke kantor cabang di ibu kota provinsi. pernah beberapa kali aku bersama rekan kerjaku ke kota ini untuk mengantar barang perusahaan. dia memang sudah hapal dengan seluk beluk kehidupan kota ini karena kuliah disini meskipun dia berasal dari provinsi jawa tengah sedangkan aku bahkan belum tahu karena baru menginjakkan kaki di kota ini 1 tahun lalu. setelah menyelesaikan urusan kantor dan harus lembur sampai malam larut, dia iseng mengajakku ke pinggir rel di barat stasiun kereta. aku menjumpai begitu banyak pengunjung di sana bahkan serasa baru jam 8 malam sedangkan saat kutengok jam tanganku sudah bergerak ke jam 2 subuh. kami mengitari kumpulan orang di sana. ada judi yang ramai sekali, entahlah bagaimana sistem perjudiannya namu aku lihat jelas setiap orang menyetor uang ke bandar dengan nominal yang bervariasi kemudian bandarnya mulai memainkan dadu dan tak lama kemudian ada raut yang sumringah dan raut yang kecewa. aku menebak raut yang sumringah adalah pemenangnya dan raut yang kecewa tidak beruntung. aku sama sekali tidak paham caranya namun durasi waktunya hanya sekitar 10-20 menit. menyetor uang kebandar, kemudian bandar mengocok dadu dan keluar pemenang. begitu seterusnya.

setelah puas menyaksikan perjudian yang merangkat, kami mengitari tendatenda yang berjejeran di pinggir rel itu. sesekali ketengok kedalam tenda untuk memastikan penghuninya siapa ternyata mereka setia menunggu di luar tenda. saat melewati tenda, sapaan halus dari para wanita terus kami dengan. ada yang paruh baya namun ada pula yang masih sangat muda. semua berpakaian yang menonjolkan lekuk tubuh. dengan suara yang dilembutkan terus menyapa kami. meski dalam bahasa jawa namun aku yakin mereka meminta untuk membeli tubuh mereka. terkadang saat melewati tenda yang kelihatan sepi, maka penunggunya sedang melayani pelangganan di dalam tenda dan terkadang terlihat tenda yang begoyang atapun erangan kesakitan dari wanitawanita tersebut.

No comments: