February 28, 2014

Hikmah Jum'at Ini

Aku benar-benar harus mengamini beberapa potongan ceramah jumat di mesjid syuhada kota Madiun yang baru saja kuikuti. Bagaimana tidak, entah kebetulan atau memang telah digariskan untuk kuambil hikmahnya namun ceramah tadi seakan khusus ditujukan buat diriku pribadi.

Pertama, sang uztadz mengatakan bahwa begitu banyak orang yang kelihatan sangat alim dari luar namun akhlak dari dalam hatinya sangat bobrok, harus kuakui bahwa akhir-akhir ini, aku begitu banyak melakukan hal yang sudah melampaui batas dan selalu saja aku terus begitu meski seringkali aku berusaha untuk melawan dan seringkali pula aku khilaf dan untuk kesekian kalinya aku harus memperbaiki diriku untuk lebih baik tanpa menengok kiri kanan

Potongan ceramah  yang kedua adalah tentang pemimpin. Kita kerap kali menyalahkan sistem dan terus menerus membully pemimpin saat terjadi sesuatu di luar apa yang diinginkan. Seringkali berteriak tentang pemimpin yang dzalim dan di lain sisi, ternyata pribadi kita masih terus saja dzalim. 

Kita adalah pemimpin untuk diri sendiri dan jangan pernah sok mengkritik ketika kita masih sering dzalim terhadap diri sendiri. Orang yang paling lantang berteriak tentang korupsi dan menentang mati-matian korupsi adalah orang yang ketika mendapat kesempatan melakukannya akan melakukannya juga.

Di bagian kedua tulisanku ini, aku harus menjelaskan secara terperinci supaya tidak terdistorsi dengan hal-hal yang sering kita saksikan. Pertama yang aku maksudkan menyalahkan sistem adalah kita teriak sana sini tentang sistem dalam di dalam hati kita melakukannya karena belum mendapat kesempatan tergabung di dalamnya jadi untuk dilirik dan bergabung di dalamnya, kita ambil jalan kontradiktif dengan menentang padahal menginginkan akan hal tersebut. 

Kedua bahwa aku tidak pernah menyalahkan orang yang aksi dimana-mana tentang pemberantasan korupsi atau pun setiap hari menulis tentang bahaya laten korupsi namun aku hanya berharap seiring dengan itu mereka juga menyiapkan mental untuk tidak benar-benar melakukan korupsi ketika mendapat kesempatan karena akupun saat masih kuliah begitu menggebu-gebu aksi seperti itu dan beberapa teman yang kulihat dan pada akhirnya sebagian dari mereka ikut dalam sistem yang mereka tentang.

Terakhir kesimpulanku adalah hiduplah dengan hati, ketika mengkritik jangan sampai emosi, saat kepala sedang panas dan hati ikut mendidih. hiduplah dengan hati yang tenang dan berdamai dengan apa saja. Bukan maksudku berdamai dengan perilaku akhlak buruk seperti korupsi namun dengan cara yang elegan tanpa menghancurkan nilai kemanusiaan. 

Percayalah bahwa ketika kita hidup dengan hati yang damai maka pada saat itu kita sedang berada di perjalanan hidup yang benar


madiun
mesjid At Taqwa
12.30
28.2.14

No comments: