Saat ini, mungkin lagu yang tidak akan bosan kuputar adalah lagu
“Malam terakhir”, Mungkin ini amat sangat sentimental. Untuk beberapa saat, aku
tidak merasakan hal seperti ini namun tadi sore, aku tidak tahu kenapa ada
perasaan yang amat berbeda saat dia mau pergi dari kota ini dan akan bekerja di
ibu kota. Setahun lamanya kami bersama memang meninggalkan kesan yang tidak
bisa dicampakkan begitu saja, akupun menyadari itu meski dalam episode
perjalanan kami diselingi dengan berbagai khilaf yang sering kami lakukan namun
itu bukanlah inti dari hubungan kami karena keputusan untuk bersama dan selalu
bersama kelak telah kami rangkai dalam sebuah cerita yang lebih dari sebuah hal
yang orang lain pikirkan. Aku bahkan tidak bisa menuliskan setiap potongan
cerita yang telah kami lalu karena begitu indahnya.
Benar-benar aku takluk akan perasaanku dan anehnya dia yang
berhasil membuatku sedih, tidak ada seorangpun yang berhasil selama ini
membuatku bersedih saat berpisah selain keluargaku, seingatku ibuku adalah
orang yang selalu saja berhasil membuatku menangis setiap kami akan berpisah dan juga keluargaku,
selain mereka belum ada yang membuatku berkaca-kaca, namun dia yang akan pergi
ke ibukota senja tadi benar-benar berhasil membuat mataku berkaca-kaca.
Dan akhirnya momen tadi senja tiba juga, setelah 2 minggu lamanya
aku mencoba menghalau momen ini namun tak sanggup aku melawan dengan waktu yang
datang selalu menepati janjinya.
Perpisahan yang memang sebenarnya kami inginkan karena dia akan
berangkat ke ibu kota memenuhi panggilan kerja yang sejak lama dia impikan.
Perpisahan tadi amat sangat sentimental karena harus terjadi sesaat setelah
kami terbiasa bersama setiap harinya. Seringkali senja bersahabat denganku
namun tidak untuk senja tadi, amat sangat tidak bersahabat dengan mentarinya
yang mulai menguning. Melihat kami hanyut dalam pelukan tanpa perasaan syahdu yang tak
tertahankan kemudian mobil rental akhirnya datang menjemputnya, akupun
menguatkan hatiku melepasnya, akhirnya senja senin ini menjadi saksi perpisahan
kami dan aku dan dia sepakat menamai perpisahan senja tadi sebagai “berpisah
untuk bersama”.
aku sebenarnya amat sangat menyesal tiga hari lalu, membiarkan air
matanya bercucuran saat itu. Aku benar-benar tega. Dia menungguiku shalat jumat
dengan tegarnya disamping masjid kampus itu, terik matahari dan debu vulkanik
gunung kelud yang sampai di kota ini sama sekali tidak dihiraukannya, dia tetap
setia di tempatnya menantiku namun aku bahkan berbalik arah meninggalkannya
menuju kosku dan tetap saja dia menyusulku, di depan kos pun aku masih rela
memaksanya pulang dan bahkan dengan teganya aku mengunci pagar di saat dia
merengek-rengek minta maaf, sesal memang yang kurasa dan amat sangat sesak di
dada. Akhirnya di awal malam, aku menjemputnya, makan malam dan kuucap beribu
maaf kemudian kumanjakan dia dalam dekapanku dan air matanya pun reda begitu
saja.
Sudahnya, mungkin untuk meneruskan tulisan ini hanya akan membuat
perasaanku larut, aku dan dia telah sepakat untuk tegar berpisah sementara
waktu, yah untuk sementara karena kami telah menyusun berbagai cerita bahagia
saat pertemuan kami. Tentang semua hal yang menjadi impian kami, dan hal yang
paling utama sekarang adalah menyerahkan semua rencana-rencana kami kepada
Allah untuk mengaturnya. Aku dan dia yakin Allah tetap bersama kami dan
menemani setiap perjalanan kami. AAmiin Ya Rabb
Senja hari
Saat melepasmu dngn sedihku
Mobil itu menjemputmu
Membawamu meninggalkanku
Senin senja
17.2.14
No comments:
Post a Comment