February 19, 2014

Kawan Ian


Sudah pukul 00.30, aku masih saja stalking FB teman-teman lama. Mataku tak kunjung memberikan gejala ingin diistirahatkan, dia tetap saja terang memandang laptop, lagi asyik stalking, aku temui FB salah satu temanku. Melihatnya langsung menggugah seleraku untuk menulis tentang dirinya sejauh yang kukenal selama ini. Apalagi dia selama 6 tahun bersamaku sejak SMP-SMA.  selepas SMA, kami benar-benar lose kontak, hanya sekali-kali bertemu saat pulang kampung.

Namanya Alfriansyah sering dipanggil ian atau nama kerennya bui, yang aku tahu bahwa asal muasal julukan bui disematkan oleh teman-temannya di SD karena kawan yang satu ini menurut mereka hitam, hehe. Meski aku lebih hitam darinya. oh iya, buyi "bubur itam". Ada banyak yang menarik darinya, dia terlahir dari seorang bapak yang berprofesi sebagai polisi. Ibunya sejak dulu ingin jika kelak setamat SMA, dia menjadi seorang polisi mengikuti jejak ayahnya namun kawan yang satu ini bersikukuh untuk tidak menjadi polisi dan lebih memilih melanjutkan studinya di bangku kuliah. Sejak masa SMP dan SMA, dia dikenal sebagai uztadz, aku harus akui bahwa sejak kebersamaan kami selama 6 tahun, dia memang salah satu teman yang amat sangat taat berjamaah dan konsentrasi pikirannya pada pelajaran agama hingga sampai pada saat SMA, dia mulai menerapkan semua aturan syariah agama yang diapahaminya mulai dari memendekkan celana diatas mata kaki yang disebut isbal sampai memelihara  jenggot. Meski begitu dia tidak membatasi pergaulannya dan aku rasa dia pun lumayan sangat dekat denganku. Aku bisa merasakan itu.
Hingga saat lulus SMA, kami benar-benar amat sangat jarang komunikasi, yang kutahu bahwa dia melanjutkan studinya di fakultas Ekonomi UNM tahun 2005 dan di saat yang sama aku menganggur karena tidak lulus SPMB saat itu alhasil jarak dan waktu semakin membatasi interaksi kami.  Aku hanya sesekali menanyakan kabarnya kepada teman-teman yang masih sering bersua dengannya. satu hal yang kuketahui bahwa dia semakin frontal ikut organisasi keagamaan yang lebih ekstrim. aku saat itu bersyukur karena pergaulan Makassar terkenal bisa merubah arah seorang namun ternyata dia masih tetap di jalurnya. Pernah sekali aku berkunjung ke kosnya, saat itu aku sudah kuliah namun aku benar-benar lupa tahun berapa. Saat di kosnya, yang kulihat di laptopnya mayoritas video perjuangan kaum muslim di timur tengah, ada sedikit kekhawatiran menghinggapiku karena takutnya dia berubah menjadi ekstrimis.
Singkat cerita, setelah kunjunganku tersebut, kami kembali jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing hingga akhirnya kami sarjana. Cerita yang kudengar tentang dirinya  saat selesai sarjana berbanding 180 derajat, dia yang dulunya sangat konsen pada keagamanan berubah haluan bahkan dulu dia tidak pernah meninggalkan shalat jamaah sekarang malah tidak sama sekali, rokok yang dulu dihindarinya sekarang menjadi temannya. Salah seorang kawan menceritakan kepadaku bahwa hal itu terjadi kepada dirinya karena ada rasa kekecewaan yang dipendamnya, entahlah kekecewaan seperti apa namun pada akhirnya aku tetap berdoa dan berharap semoga dia kembali seperti dulu, meski aku bukan orang yang suka menjastifikasi kepribadian orang dari luar namun tetap saja dari beberapa hal yang dia lakukan, aku harus bilang ada kebaikan-kebaikan yang ditinggalkan yang dulunya dia sering kerjakan meski sekali lagi aku harus bilang bahwa itu bukan garansi salah karena justifikasi salah benar seseorang ada di dalam hati dan hak mutlak hanya pada Allah untuk menjastifikasi seseoarang ketika sudah berhubungan dengan hati karena hanya Dia yang lebih tahu hati semua orang.

No comments: