Sudah pukul 00.30, aku masih saja stalking FB teman-teman lama. Mataku
tak kunjung memberikan gejala ingin diistirahatkan, dia tetap saja terang memandang
laptop, lagi asyik stalking, aku temui FB salah satu temanku. Melihatnya
langsung menggugah seleraku untuk menulis tentang dirinya sejauh yang kukenal
selama ini. Apalagi dia selama 6 tahun bersamaku sejak SMP-SMA. selepas SMA, kami benar-benar lose kontak,
hanya sekali-kali bertemu saat pulang kampung.
Namanya Alfriansyah sering dipanggil ian atau nama kerennya bui, yang aku tahu bahwa asal muasal julukan bui disematkan oleh teman-temannya di SD
karena kawan yang satu ini menurut mereka hitam, hehe. Meski aku lebih hitam
darinya. oh iya, buyi "bubur itam". Ada banyak yang menarik darinya, dia terlahir dari seorang bapak yang
berprofesi sebagai polisi. Ibunya sejak dulu ingin jika kelak setamat SMA, dia menjadi seorang polisi
mengikuti jejak ayahnya namun kawan yang satu ini bersikukuh untuk tidak
menjadi polisi dan lebih memilih melanjutkan studinya di bangku kuliah. Sejak masa
SMP dan SMA, dia dikenal sebagai uztadz, aku harus akui bahwa sejak kebersamaan
kami selama 6 tahun, dia memang salah satu teman yang amat sangat taat
berjamaah dan konsentrasi pikirannya pada pelajaran agama hingga sampai pada
saat SMA, dia mulai menerapkan semua aturan syariah agama yang diapahaminya
mulai dari memendekkan celana diatas mata kaki yang disebut isbal sampai
memelihara jenggot. Meski begitu dia
tidak membatasi pergaulannya dan aku rasa dia pun lumayan sangat dekat
denganku. Aku bisa merasakan itu.
Hingga saat lulus SMA, kami benar-benar amat sangat jarang
komunikasi, yang kutahu bahwa dia melanjutkan studinya di fakultas Ekonomi UNM
tahun 2005 dan di saat yang sama aku menganggur karena tidak lulus SPMB saat
itu alhasil jarak dan waktu semakin membatasi interaksi kami. Aku hanya sesekali menanyakan kabarnya kepada
teman-teman yang masih sering bersua dengannya. satu hal yang kuketahui bahwa
dia semakin frontal ikut organisasi keagamaan yang lebih ekstrim. aku saat itu
bersyukur karena pergaulan Makassar terkenal bisa merubah arah seorang namun
ternyata dia masih tetap di jalurnya. Pernah sekali aku berkunjung ke kosnya,
saat itu aku sudah kuliah namun aku benar-benar lupa tahun berapa. Saat di
kosnya, yang kulihat di laptopnya mayoritas video perjuangan kaum muslim di
timur tengah, ada sedikit kekhawatiran menghinggapiku karena takutnya dia
berubah menjadi ekstrimis.
Singkat cerita, setelah kunjunganku tersebut, kami kembali jarang
berkomunikasi karena kesibukan masing-masing hingga akhirnya kami sarjana. Cerita
yang kudengar tentang dirinya saat
selesai sarjana berbanding 180 derajat, dia yang dulunya sangat konsen pada
keagamanan berubah haluan bahkan dulu dia tidak pernah meninggalkan shalat
jamaah sekarang malah tidak sama sekali, rokok yang dulu dihindarinya sekarang
menjadi temannya. Salah seorang kawan menceritakan kepadaku bahwa hal itu
terjadi kepada dirinya karena ada rasa kekecewaan yang dipendamnya, entahlah
kekecewaan seperti apa namun pada akhirnya aku tetap berdoa dan berharap semoga
dia kembali seperti dulu, meski aku bukan orang yang suka menjastifikasi
kepribadian orang dari luar namun tetap saja dari beberapa hal yang dia
lakukan, aku harus bilang ada kebaikan-kebaikan yang ditinggalkan yang dulunya
dia sering kerjakan meski sekali lagi aku harus bilang bahwa itu bukan garansi
salah karena justifikasi salah benar seseorang ada di dalam hati dan hak mutlak
hanya pada Allah untuk menjastifikasi seseoarang ketika sudah berhubungan
dengan hati karena hanya Dia yang lebih tahu hati semua orang.
No comments:
Post a Comment