Bukan kuliah seperti yang kulakoni sejak aku masih berstatus mahasiswa namun kuliah pagi ini adalah kuliah dari pelaku sejarah sebenarnya. seorang guru kelahiran tahun 1937 yang bertempat di sebuah kecamatan di magetan tepatnya di kecamatan barat.
Mbahkung itu adalah kakek dari rekan kerjaku, riko. Semalam, aku menumpang tidur di rumahnya di bilangan barat Maospati. Pukul 20.30, aku tiba di rumahnya dan langsung masuk kamar si rico merebahkan badan karena agak capek. Jam setengah 10 malam, aku sudah terbuai mimpi, rico yang sejatinya mau mengajakku main PSan akhirnya kecewa karena aku lebih memilih terlelap dalam tidur.
Kurang jam 6 pagi, aku sudah terbangun dan menunaikan shalat subuh, lumayan cepat shalat subuhku kali ini meski untuk ukuran waktu subuh sudah sangat terlambat,hehe. Setelah shalat subuh, aku menonton berita olahraga pagi. Tak lama kemudian, rico mengajakku sarapan nasi pecel. Setelah menyantap nasi pecel dengan teh hangat, mbahkung yang sedari tadi menimba air di sumur belakang mulai mengajakku ngobrol, aku diajak keruang tamu depan rumah sambil mencicipi jajan dan mengobral apa saja dengan mbahkung dan mulai dari sinilah kuliah sejarah dari mbahkung dimulai.
Awalnya aku mengira bahwa umur mbahkung yang sudah begitu sepuh tidak memungkinkan bercerita panjang lebar dan lagian kebanyakan orang tua di daerah seperti ini akan menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa komunikasi yang praktis tidak akan mengerti dengan jelas. Namun setelah mulai bercerita ternyata semua prasangkaku meleset, pertama bahwa mbahkung sangat fasih menggunakan bahasa indonesia untuk berkomunikasi dan kedua bahwa beliau masih sangat nyambung diajak bercerita apa saja bahkan untuk seumuran beliau, masih sangat kuat bercerita banyak hal.
Awalnya beliau bercerita bahwa dulunya dia seorang guru yang mengajar berpindah-pindah, sejak tahun 1957 sudah mulai mengajar dan itu berarti bahwa ketika ibuku lahir, mbahkung sudah mulai mengajar dan sampai saat ini beliau sudah 16 tahun pensiun jadi guru.
Setelah bercerita tentang perjalanan hidupnya, kini giliran beliau bercerita tentang sejarah indonesia dan mulai saat bercerita tentang sejarah indonesia membuatku terperangah, semua pelajaran sejarah masih terekam jelas dalam memorinya bahkan beliau bercerita kepadaku dengan sangat baik. Mulai dari bung karno yang sangat dikaguminya dan pemerintahan suharto yang inkonstitusional sampai pada sejarah PKI yang memang dekat dari tempat tinggalnya.
Bung Karno sangat dikaguminya bahkan beberapa kali di tengah-tengah beliau bercerita tentang sejarah indonesia, selalu dia menyelipkan kata-kata "Sukarno memang orang pintar". Bahkan beliau memberikan beberapa contoh yang sedikit agak mistis misalnya saat terjadi gelombang di Flores, semua apa saja rusak di sana kecuali rumah tempat Sukarno pernah ditahan bahkan letak lemari dan kursinya pun tidak berubah sama halnya saat terjadi angin puting beliung di Bengkulu yang merusak semua apa saja namun rumah bekas Sukarno di sana sama sekali tidak terkena dampaknya.
Cerita yang agak sedikit mistis tersebut namun nyata diceritakan pula kepadaku sebagai bukti kekagumannya kepada sukarno.
Hal lain yang membuatku sangat menikmati kuliahnya pagi ini adalah ternyata beliau mantan anggota PNI. Mungkin salah satu alasan kekagumannya terhadap sukarno karena beliau kader langsung di PNI. Pernah suatu waktu beliau harus dipaksa masuk ke golkar, beliau sempat mogok mengajar gara-gara hal tersebut namun pada akhirnya beliau harus mengikuti instruksi pemerintah.
Dari penuturannya, aku yakin bahwa beliau masuk golkar bukan menjual idealismenya demi keamanannya namun lebih dari itu, tugas mulia untuk tetap mengajar membuatnya harus ikut pemerintahan suharto. Dugaanku diperkuat dengan penuturannya yang tetap mengagumi Sukarno dan sangat geram terhadap pemerintahan Suharto bahkan saat kutanya tentang supersemar, beliau sama sekali tidak percaya akan adanya surat wasiat tersebut bahkan beliau berani mengatakan bahwa itu hanyalah diada-adakan.
Kegeramannya bertambah saat bercerita tentang tragedi Sukarno yang tidak boleh dijeguk siapa pun saat sakit dan beliau sepakat bahwa sebenarnya Suharto telah menyingkirkan Sukarno
No comments:
Post a Comment