February 26, 2014

keputusan ibuku terbaik


Pengalaman tadi sore mungkin adalah salah satu pengalaman unik, lucu, menggelikan bahkan memicu emosiku. Bercampur aduk rasanya mengingat pengalaman tadi meski saat sekarang ini. hanya kelucuan tertinggal mengingat peristiwa tadi dan sesekali aku senyum tipis saat membayangkannya. 


Bermula saat aku berangkat ke kampus B UA mengambil kartu pendaftaran tes toefl. Saat di ruang tunggu kulihat begitu banyak peserta yang antri. Kutekan tombol di samping pintu masuk untuk nomor antrian, kulirik kemudian dan ternyata aku harus menunggu 20 orang. ah, benarbenar agak lama menurutku namun karena aku juga tidak ada urusan yang mendesak sehingga tetap kutunggu giliranku. Aku duduk di pojok ruang tunggu sambil mengamati mahasiswa-mahasiswi yang asyik bercengkerama dengan teman-temannya sambil menunggu giliran, ada juga yang sendirian kemudian asyik mempermainkan HPnya. Aku yang sedari tadi bingung terpaksa hanya duduk diam dan sesekali mengecek HPku. Tepat saat urutan 150, tersisa 4 orang lagi karena urutanku 154 tiba-tiba saja HPku berdering. aku melihat sms yang masuk ternyata panggilan dari PT Freeport untuk mengikuti tes. betapa senang hatiku saat itu meski sedikit agak bingung karena tesnya di Jakarta. Aku galau memutuskan apakah tetap mengambil kartu tes toefl atau tidak karena konsekuensinya ketika tes diadakan bersamaan maka salah satunya akan kukorbankan. Mulailah berkomat-kamit mulutku untuk berdoa semoga diberi ketetapan hati hingga pada akhirnya aku keputusanku tetap mengambil kartu tes dan jika memang tesnya bersamaan maka hitung-hitung pembayaran tes toefl yang hangus sembagai sumbangan.


Setelah mendapat kartu tes, aku bergegas menuju kediamanku di jojoran 3, segera kubuka emailku dan kudapati memang benar ada surat panggilan tes yang tersusun rapi dengan TORnya. Aku meminta pertimbangan dari beberapa orang terdekatku mulai dari windi dan ibunya. Kalau windi agak sedikit ragu karena penempatan di PAPUA sedangkan ibunya sedikit setuju untuk dijadikan pengalaman. Lama berpikir keras, aku telepon ibuku karena bagaimanapun ketika keputusanku mentok pada kebingungan yang super duper bingung maka ibukulah pengambil keputusan yang paling bijak. 


Saat kutelepon ibuku, mula-mula menanyakan kabar kemudian kuutarakan ada panggilan tes namun penempatan di PAPUA, sejurus kemudian dengan amat sangat yakin, ibuku tidak mengijinkan kemudian mengatakan bahwa cari dimanapun namun yang penting di tempat aman titik. Keputusan itu tidak bisa lagi diganggu gugat dan itu pula yang menjadi keputusanku, sesaat kemudian ketelpon balik windi dan ketika aku menelpon ibuku ternyata windi googling tentang pemanggilan tes tersebut dan ternyata adalah sebuah penipuan.


Ah, benarbenar ibuku yang tahu mana yang terbaik. Aku sadar bahwa meski ibuku tidak tahu itu penipuan namun  perasaan sebagai ibu yang sangat kuat membuatnya tahu mana yang terbaik untukku.


Setelah itu, aku menghubungi terus-menerus kontak person sang penipu dan kesal karena aku Tanya macam-macam dan mungkin juga dia sudah sadar bahwa aku sudah tahu kalau itu penipuan dan akhirnya dia berbicara dalam bahasa bugis dan sialnya lagi bagi dia karena aku paham bahasa bugis dan aku ancam akan menelusurinya dan mencari identitasnya sampai akhirnya dia tidak mau sama sekali mengangkat teleponnya.

Ah, benar-benar hari yang amat melelahkan…!!!

No comments: