Pengalaman tadi sore mungkin adalah
salah satu pengalaman unik, lucu, menggelikan bahkan memicu emosiku. Bercampur
aduk rasanya mengingat pengalaman tadi meski saat sekarang ini. hanya kelucuan
tertinggal mengingat peristiwa tadi dan sesekali aku senyum tipis saat
membayangkannya.
Bermula saat aku berangkat ke kampus B
UA mengambil kartu pendaftaran tes toefl. Saat di ruang tunggu kulihat begitu
banyak peserta yang antri. Kutekan tombol di samping pintu masuk untuk nomor
antrian, kulirik kemudian dan ternyata aku harus menunggu 20 orang. ah,
benarbenar agak lama menurutku namun karena aku juga tidak ada urusan yang
mendesak sehingga tetap kutunggu giliranku. Aku duduk di pojok ruang tunggu
sambil mengamati mahasiswa-mahasiswi yang asyik bercengkerama dengan
teman-temannya sambil menunggu giliran, ada juga yang sendirian kemudian asyik
mempermainkan HPnya. Aku yang sedari tadi bingung terpaksa hanya duduk diam dan
sesekali mengecek HPku. Tepat saat urutan 150, tersisa 4 orang lagi karena
urutanku 154 tiba-tiba saja HPku berdering. aku melihat sms yang masuk ternyata
panggilan dari PT Freeport untuk mengikuti tes. betapa senang hatiku saat itu
meski sedikit agak bingung karena tesnya di Jakarta. Aku galau memutuskan
apakah tetap mengambil kartu tes toefl atau tidak karena konsekuensinya ketika
tes diadakan bersamaan maka salah satunya akan kukorbankan. Mulailah berkomat-kamit
mulutku untuk berdoa semoga diberi ketetapan hati hingga pada akhirnya aku
keputusanku tetap mengambil kartu tes dan jika memang tesnya bersamaan maka
hitung-hitung pembayaran tes toefl yang hangus sembagai sumbangan.
Setelah mendapat kartu tes, aku
bergegas menuju kediamanku di jojoran 3, segera kubuka emailku dan kudapati
memang benar ada surat panggilan tes yang tersusun rapi dengan TORnya. Aku meminta
pertimbangan dari beberapa orang terdekatku mulai dari windi dan ibunya. Kalau windi
agak sedikit ragu karena penempatan di PAPUA sedangkan ibunya sedikit setuju
untuk dijadikan pengalaman. Lama berpikir keras, aku telepon ibuku karena
bagaimanapun ketika keputusanku mentok pada kebingungan yang super duper
bingung maka ibukulah pengambil keputusan yang paling bijak.
Saat kutelepon ibuku, mula-mula
menanyakan kabar kemudian kuutarakan ada panggilan tes namun penempatan di
PAPUA, sejurus kemudian dengan amat sangat yakin, ibuku tidak mengijinkan
kemudian mengatakan bahwa cari dimanapun namun yang penting di tempat aman
titik. Keputusan itu tidak bisa lagi diganggu gugat dan itu pula yang menjadi
keputusanku, sesaat kemudian ketelpon balik windi dan ketika aku menelpon ibuku
ternyata windi googling tentang pemanggilan tes tersebut dan ternyata adalah
sebuah penipuan.
Ah, benarbenar ibuku yang tahu mana
yang terbaik. Aku sadar bahwa meski ibuku tidak tahu itu penipuan namun perasaan sebagai ibu yang sangat kuat
membuatnya tahu mana yang terbaik untukku.
Setelah itu, aku menghubungi
terus-menerus kontak person sang penipu dan kesal karena aku Tanya macam-macam
dan mungkin juga dia sudah sadar bahwa aku sudah tahu kalau itu penipuan dan
akhirnya dia berbicara dalam bahasa bugis dan sialnya lagi bagi dia karena aku
paham bahasa bugis dan aku ancam akan menelusurinya dan mencari identitasnya
sampai akhirnya dia tidak mau sama sekali mengangkat teleponnya.
Ah, benar-benar hari yang amat
melelahkan…!!!
No comments:
Post a Comment