Puisi ini
akan kubuat panjang sekali. Akan kubuat sampai benar-benar aku kehabisan
kata-kata puitis untuk menggambarkan windi sebagai sesosok gadis yang kukenal
bahkan untuk sampai saat ini. Kalau ada yang bertanya , kau kan sudah sering
menulis tentangnya? Tentu saja namun setiap tulisan yang pernah kubuat rasanya
tak sanggup melukiskan perasaanku kepadanya dan juga belum menggambarkan dia
apa adanya hingga akhirnya mala mini aku putuskan untuk merangkai puisi yang
panjang sekali untuk menghabiskan kata-kataku terhadapnya.
Apa kabarmu malam ini rembulan
Masihkah engkau sudi menampakkan seberkas
cahayamu
Sekedar untuk menerangiku
Melihat tampilanmu,
Meski lucu
Karena baru kemarin hari
Engkau meninggalkanku
Kembali ke kotamu
Namun tetap saja rindu ini bercokol
Entahlah
Seperti katamu senja kemarin
Tak peduli sehari ataupun sebulan
Aku akan tetap merindumu
Yah merindu semua tentangmu
Akupun juga begitu adanya
Hehehe
Ternyata semua hal akan sehati
Tadi aku punya usul
Usul gila sih sebenarnya
Kita tak usah komunikasi untuk waktu sebulan
Dan apa yang terjadi
Sudah kuduga reaksimu, pesekku
Kau menolak mentahmentah
Bahkan katamu lagi
Engkau bisa saraf
Hahaha,
mungkin berlebihan
Namun aku begitu adanya
Ingin selalu di dekatmu
Mencubit pipimu dengan gemas
Membelai rambutmu
Mendekapku dalam pelukanku
Merasakan aroma tubuhmu yang khas
Hingga sekali-kali aku iseng dan nakal
Mengecup bibir dan lehermu
Sampai akhirnya
Matamu terpejam
Jika puisi tersebut diatas masih kurang panjang menurut kalian
maka akan ku rangkai katakata indah buatnya. Tentang semua tingkah lucunya
bahkan tentang manjanya terhadapku. Tak sekalipun dia ingin melepas
pandangannya dariku ketika kami bersama. Kami terkadang kelihatan konyol saat
berdua namun bukankalh begitu adanya orang yang sedang bercinta, sering dalam
kekonyolan yang anehnya lagi mereka tidak sadar tentang itu dan mungkin aku dan
pesek sering seperti itu.
Katamu lagi
Perasaan kita
sangat dalam
Katamu lagi
Cintamu
sangat besar
Aku harus
mengakui itu
Mengakui akan
ketulusanmu
Tanpa harus
engkau ucapkan
Matamu bahkan
menceritakanku segalanya
Tentang isi
hatimu
Yang mata
itu
Mata yang
sering berair karenaku
Namun entah
Tak sekalipun
engkau meninggalkanku
Bahkan mencoba
membenciku pun tidak
Hmmm
Engkau setia
Dalam setiap
apa yang kuhadapi
Engkau selalu
hadir
Tapi aku
Yang menurutmu
egois dan sensitif
Wkwkwkw
Aku selalu
terbahak sendiri
Ketika engkau
merasa aku sensitif
Meski tak
kupungkiri
Seringnya aku
purapura marah
Membuatmu berpikir
seperti itu
Tapi tak
apalah pesekku,
Toh kita
tetap baikbaik saja
Tidak ada
yang perlu dikhawatirkan kok
Itu masih belum romantic, aku hanya merangkai katakata pesekku
menjadi barisan puisi. Aku sudah terlalu banyak beromantis ria terhadapnya dan
nampaknya selalu saja berhasil membuatnya tersenyum meski dia sendiri tidak
tahu dan bahkan aku pun tak tahu tentang makna puisipuisi sampah yang sering
kubuat. Pesekku amat sangat bangga ketika aku menulis apapun dan kutulis pula
namanya, dia akan sangat bahagia dan beribu kali mengucap terima kasih meski
dia tahu hanya sekali kusebut namanya di puisi yang nampaknya seperti pemeran
piguran, hehehe. Baiklah jika memang dia amat sangat suka tentang puisi yang
ada namanya maka akan kubuat puisi dan namanya beserta doadoa untuk aku dan
dia.
Gadis
Jalan telah
kita lalui bersama
Tidak sehari
bahkan seminggu
Namun hampir
setahun
Gadis
Kita bukan
lagi anak bau kencur
Kita tidak
sedang mainmain
Dari dulu
saat menaksirmu
Akupun tak
pernah sedang bercanda
Bahkan untuk
sampai sekarang
Semua ingin
kuakhiri dengan bahagia
Gadis
Tahukah kamu
selama ini
Ibuku dan
engkau sering kutanyakan kepada Tuhan
Tentang kabar
kalian setiap waktu
Diakhir
kebersamaan kita di kota ini
Aku bahkan
merelakan mataku basah
Itu demi
melepasmu
Jika saja
engkau tahu
Hanya ibuku
yang sanggup membuatku sedih saat berpisah
Namun engkau
Entah kenapa
Ikut membuatku
terenyuh
Gadis
Jalan yang
kita retas sudah jauh
Meski kadang
tergelincir
Namun jangan
berhenti
Dan jangan
menyerah
Sebab aku
disampingku
Menyusuri jalan
bersama
Gadis
Di depan itu
ada persimpangan
Dan dipersimpangan
itu ada pilihan jalan
Kumohon
Engkau akan
berbelok ke kanan
Karena itu
adalah jalurku
Gadis
Sekarang waktunya
berbenah
Mental dan
fisik harus memadai
Kemudian kita
berikrar
Untuk selalu
bersama di jalan yang sama.
Nampaknya puisi diatas masih kurang romantic, aku tak tahu lagi
bagaimana merangkai katakata sehingga kedengarannya seperti karya kahlil Gibran.
Aku tak tahu lagi karena semua katakata romantisku ada di dalam dirimu.
Sudah dulu untuk malam ini, seperti pesannya pesekku untuk tidak
tidak terlalu larut. Katanya lagi bahwa aku akan terlambat menyembah kalau telat
tidur. Besok akan kuceritakan lebih panjang lagi tentang gadis yang sering
kupanggil pesekku, sebenarnya sih dia tidak pesek-pesek amat hanya saja dia
mancung ke dalam. Wkwkwkw. Semoga saja besok pagi saat dia terjaga, dia tidak
memakiku karena menuduh hidungnya mancung kedalam padahal hidung itu sering
kucubit dan kukecup saat rindu terhadapnya melandaku.
No comments:
Post a Comment