February 23, 2014

gadis dan kereta malam


Senja itu.
Dengan kereta arjuno kita berangkat ke kotamu.
Senja itu,
ah aku lupa harinya. Aku sangat sulit mengingat tentang hari
Aku hanya menebak-nebak senja itu hari minggu.
Kita berdua melaju ke stasiun gubeng tepat disamping hotel terbesar kota ini.
Berkalikali kutangkap senyum sumringah dari wajahmu.
Entahlah apa yang ada di benakmu tapi aku yakin karena keinginanmu terkabul,

Bukankah dulu bahkan saat kita masih belum  sekota, engkau ingin sekali naik kereta bersamaku, hingga akhirnya berkali-kali engkau katakan amat sangat senang naik kereta bersamaku. Di sepanjang jalan menuju stasiun saat ku bonceng dirimu, entah sudah berapa kali engkau menyanyikan lagu dangdut yang lagi nge hits “kereta malam”. Aku bahkan harus menutup mulutku untuk menyembunyikan senyumku melihat tingkah lucumu itu.

Ah, aku tak berpikir apaapa. Hanya ikut senang melihatmu bahagia. Di stasiun itu tak pernah sekalipun tanganmu lepas dari tanganku.
Ruang tunggu sudah sesak dengan penumpang dengan wajahwajah lelah namun wajahmu, tak ada setitik pun goresan kepenatan terlukis disana, benarbenar engkau menikmati kebersamaan kita dengan kereta malam ini.

Kereta dengan 4 gerbong tiba. Sejurus kita bergabung dalam rombongan penumpang yang lain. Bergegas naik dan mencari tempat duduk
Ah, lagilagi kita sial. Kita kebagian tempat duduk tepat di depan toilet kereta, aku terbahak menertawakan kesialan kita, engkau hanya menampakkan sedikit muka masam

Dengan kereta warna orange ini
Melaju membawa kita ke barat pulau ini
Sesekali berhenti di setiap stasiun
Tak lama
Dirimu dibuai mimpi
Kurebahkan kepalamu dipundakku
Sepanjang jalan menuju kotamu
Kupandangi wajah polosmu

Ah, perjalanan kali ini teramat singkat. Belum puas aku menikmati wajahmu, kereta telah memasuki kotamu, kota yang sering engkau ceritakan kepadaku tentang alamnya yang damai. Hujan menyambut kedatangan kita. Dingin menembus tulangku hingga seakan meremukkan seluruh persendianku. Ternyata kota ini amat dingin, gumamku.

Engkau menarikku, mencari tukang becak yang mungkin saja masih setia mangkal di depan stasiun ini menunggu sedikit rejeki. Benar saja, seorang tukang becak dengan topi kusam tanpa berjaket menawarkan jasa. Ini saja, hitunghitung menambah rejeki bapak ini. Ujarmu.

Tentang kereta malam itu
Dan tentang gadisku penyuka kucing
Tentang bahagianya
Bahwa hidup adalah bahagia
Tentang dia yang tidak suka durian
Sementara durian favoritku
Tentang dia yang doyan nanas
Sementara aku alergi nanas
Tentang dia penyuka film korea
Sementara aku suka india

Ah, aku bingung tentang kami
Selalu saja berbeda apa yang kami suka
Namun satu hal yang pasti
Hati kami satu dan impian kami pun Satu
Hidup kelak bersama.

Semua tentangmu ada kenangan terindah
Hingga kini
Engkau tak lagi disampingku
Tlah jauh di kota sana
Semoga saja
Impian yang kita rangkai
Tak pernah engkau hapus dari diarymu
Sampai akhirnya
Suatu sat nanti
Kita bertemu di simpang kota tua
Mengulangi masamasa itu

Kutulis saat rindu menghantamku
Ah, benarbenar rindu ini membosankan
Selalu saja datang tak kenal waktu

No comments: