February 20, 2014

PUJIAN ADALAH MUSIBAH BESAR



Pujian sesungguhnya adalah musibah besar bagi mentalitas. Di satu sisi pujian adalah hal yang baik ketika kita menjadi  subjeknya dalam artian kita yang memuji sesuatu atau seseorang sebagaimana adanya bahkan orang yang berjiwa besar selalu melontarkan pujian terhadap orang lain ketika orang lain tersebut pantas untuk dipuji namun sebaliknya bahwa pujian yang menjadi musibah itu ketika kita menjadi objeknya dalam artian bahwa kita yang dipuji maka tunggulah bahwa pujian itu akan membawa dampak yang amat buruk ketika kita terlena dengan pujian tersebut.
Begitu banyak contoh ketika seseorang berada dipuncak popularitas dan bergelimang pujian yang pada akhirnya terlena sehingga mentalitasnya menjadi lembek dan karakter ingin dipuji. Lihat saja artis yang dipuja-puja disetiap pelosok desa akhirnya masuk dalam jurang kehancuran, ada yang terseret narkoba, video porno bahkan berbagai kehancuran yang mengiringi dirinya ketika mereka sudah merasa diatas angin dan tidak lagi menginjak bumi. Tuhanlah yang tahu segalanya dan begitu gampangnya Dia menggelincirkan kita ketika kita sombong.
Diatas saya mengatakan baihwa pujian dari orang lain itu adalah musibah besar apatahlagi kalau diri kita sendiri yang memuji diri sendiri, haha. Ini musibah yang sesungguhnya dan pada level tertentu akan menjadi paham narsisme. Lihatlah Fir’aun yang diliputi perasaan seperti itu dan mengganggap dirinya sebagai tuhan, benar-benar akan menghancurkan diri sendiri. Di tingkatan Negara, beberapa decade silam, ada Adolf Hitler yang terkena sydrom ini dan menganggap rasnya paling suci sehingga semua ras diluar rasnya ingin dimusnahkan.
Dalam beberapa kasus, pujian yang dialamtkan kepada kita akan membuat kita angkuh, sombong, riya atau sifat yang mengagung-agungkan diri dari yang lain. Perasaan seperti itu kadang muncul tanpa disengaja bahkan ketika kita selalu berusaha menghalaunya. Misalnya saja karena kehendak Allah SWT, kita diterima di universitas Harvard.  Saat kebetulan bertemu dengan teman yang juga mendaftar namun tidak lulus lalu kemudian memuji kita setinggi langit. Mungkin saja pada saat itu keluar dari mulut kita bahwa biasa saja dan ini karena Allah namun kadang muncul dalam hati bahwa memang saya lebih pintar apatahlagi ketika dia mulai menanyakan tips kenapa kita bisa lulus maka dengan semangat 45 kita menjelaskan ini itu, begini begitu lalu diakhiri dengan kalimat yang bijak namun harus diakui bahwa ketika kita sudah kelihatan menceramahi dengan langkah-langkah yang kita lakukan maka dari situ setan mulai mendapat cela untuk menyisipkan perasaan sombong ataupun ujub ke dalam hati kita tanpa kita sadari karena memang perasaan seperti itu amat sangat halus. Seringkali kita katakan bahwa jangan anggap tips saya ini sebagai pernyataan sombong namun ketika sudah kita berkata seperti itu maka itulah titik-titik dari kesombongan, lebih bijak ketika kita memilih untuk tetap menunduk dan rendah hati kemudian memperbaiki diri sambil tetap mengembangkan potensi yang kita miliki. Kita memang sekali-kali butuh pujian namun hati-hati terhadap pujian karena seringkali menghancurkan. 
Anti tesa dari pujian adalah kritik. Kita seringkali menghindari kritik namun pada dasarnya kritik itulah yang akan menjadikan kita lebih dewasa karena kritik tersebut akan menelanjangi kekurangan kita dan dengan begitu kita akan lebih mudah mengenal kekurangan kita kemudian memperbaikinya.
Inti dari tulisan ini adalah bahwa pujian itu menutupi kekurangan kita dan akan sulit bagi kita untuk mengetahui dan memperbaiki kekurangan kemudian kritik senantiasa mengajarkan kita kekurangan-kekurangan kita yang pada akhirnya kita dengan mudah memperbaikinya.
Poin yang kedua tentang pujian adalah, sebagai pribadi yang sering berinteraksi dengan teman-teman maka berikanlah pujian kepada mereka sebagaimana adanya namun jangan lupa mengkritik ketika mereka salah dan pada akhirnya ketika kita memperoleh anugerah lalu dipuji maka coba untuk tetap menahan diri dan rendah hati.
NB. ini tulisan untuk mengingatkan diriku sendiri.

No comments: