Kembali
menulis tanpa tahu apa yang kutulis, daripada tidak ada yang kuhasilkan Selama
masa vakum lebih baik aku nyampah lewat tulisan yang benar-benar tidak ada
ujung pangkalnya. Menulis adalah cara
paling ampuh untuk membunuh waktuku dan malam ini tepat 23.05, mataku tak jua
kompromi untuk terpejam meski di hari biasanya saat aku masih bekerja di ngawi.
di saat jam seperti ini, bisa dipastikan aku sudah terbuai mimpi namun sejak
pindah ke kota ini dan dalam masa vakum yang tak jelas, mataku sulit terpejam
dan hanya memandang setiap sudut kamar ini. Berkali-kali kupaksa untuk
memejamkan mataku namun sia-sia
Kembali
ke soal tulisan ini, tadi saat mataku tidak bisa terpejam. aku iseng stalking
teman-temanku di SMA dulu, ada diantara mereka yang mengupload foto-foto masa
SMA. sedetik kemudian, semua memoriku merekam setiap momen yang masih sanggup
kuingat di SMA dulu, bahkan komen-komen mereka membuatku semakin merasakan masa
itu, begitu polosnya dulu hingga tak terasa hampir 9 tahun lamanya masa itu
sudah berlalu dan semua telah hidup dengan jalan mereka sendiri. ada yang sudah
menikah, ada yang masih seperti saya, bahkan ada yang sudah dipanggil Allah. Tali persahabatan diantara kami tidak pernah
terputus, masih selalu mengingat meski tidak terungkap. Aku bahkan sudah hampir, meski tetap ada, tidak
pernah menjumpai teman-teman yang tulus setelah lulus SMA. mungkin ini amat
sangat subjektif namun aku harus mengatakan itu karena hatiku yang merasakan.
di bangku kuliah, aku memang menjumpai begitu banyak teman dari berbagai suku di
negeri ini namun perasaan yang muncul hanya sekedar perasaan berteman dengan
mereka tidak sampai menjadi sahabat, seperti ada penghalang meski terkadang kuterka
karena sebagian dari mereka sangat
kompetitif dan menganggap kompetisi sehingga harus saling mengalahkan. mungkin
karakter-karakter seperti itu yang menjadi hijab sehingga hati tidak
merasakan ketulusan persahabatan diantara mereka yang berbeda dari sebagian
sahabatku di SMA dulu. Aku bahkan sempat mengiyakan seorang teman di kampus
dulu yang mengatakan bahwa dia tidak akan mencari seorang sahabat karena
seringkali mengecewakan, dia hanya ingin berteman. Begitulah masa-masa kuliah
dulu yang tidak apa adanya, kelihatan amat akrab namun hati tetap terhijab.
Benar
saja, selepas sarjana, aku bahkan amat jarang berkomunikasi dengan teman-teman
kuliahku bahkan lebih sering dengan teman SMA yang notabene sudah lama tidak
bersua. Akupun tidak menyalahkan mereka dan tetap menjalani hidupku secara
normal. Hingga akhirnya kini, aku temui 2
orang yang mungkin bisa dikatakan sahabatku, meski dari pulau yang berbeda dan
kenal setelah berada di kota ini namun benarbenar ketika dengan mereka, aku
merasa tidak ada ada hijab dan tidak ada rasa ingin berkompetisi dengan mereka
meski dulu kami satu pekerjaan yang harus saling berlomba. Pertama adalah Lind
yang sekarang sudah menikah dan tinggal di Tuban, ada banyak fakta kenapa aku
mengatakan bahwa dia memang amat tulus, saat di pekerjaan yang dulu, dia bantu
semua teman tanpa pilih dan tidak merasa terbebani bahkan dia sama sekali tidak
ingin bergosip karena katanya semua orang baik.
Orang
yang kedua adalah wind, sekarang dia di madiun dan mempersiapkan segala
sesuatunya untuk berangkat ke ibu kota karena dia diterima sebagai abdi Negara di
ibu kota. Orang yang kedua ini mungkin yang selalu menjadi sahabat terdekatku
selama setahun ini, dia selalu ada saat aku butuh dan setia mendengar
keluhanku, tak pernah terlihat di wajahnya rasa bosan saat aku menceritakan
semua uneg-unegku tentang apa saja. Orang yang kedua juga ini yang selalu
kusebut di dalam doadoaku semoga saja di suatu waktu yang tepat, aku bisa
menjadikannya sahabatku seumur hidup. Dia sosok yang amat sabar dan sayang
kepada ibunya. Aku bahkan harus angkat tangan jika harus bertaruh kesabaran
dengannya karena memang dia benar-benar pribadi yang sabar, bahkan di beberapa
episode kehidupannya yang sulit, dia tetap bersabar dan amat sangat tenang,
satu lagi yang kutahu darinya bahwa dia amat dermawan. Aku sendiri yang
menyaksikan kedermawannya di mana saja, tak perduli siapapun itu, dia akan
bantu saat masih bisa, jangankan teman-temannya, orang tak dikenalpun akan
dibantu. Dia bahkan membantu SPP temannya yang kesulitan biaya dan membantu
semua persiapan saat ujian sidang hingga akhirnya temannya itu sarjana. Tak perlu
rasanya menulis detail kebaikannya karena banyak yang terlewat kusaksikan,
cukup melihat mukanya maka orang akan yakin bahwa dia orang yang sangat baik,
semoga saja dia menjadi pendamping hidupku meski sahabat hidupku dalam setiap situasi yang akan kuhadapi. Dalam berteman, hati punya peran
penting menilai orang yang benar-benar tulus dan yang tidak karena kata orang
bahwa apa yang dari hati itu akan terasa oleh hati pula. Jika seorang berteman
dengan kita dengan perasaan tulus maka yakinlah bahwa hati kita akan merasakan
ketulusan mereka dan begitupun sebaliknya.
No comments:
Post a Comment