February 18, 2014

BENARBENAR SAHABAT


Kembali menulis tanpa tahu apa yang kutulis, daripada tidak ada yang kuhasilkan Selama masa vakum lebih baik aku nyampah lewat tulisan yang benar-benar tidak ada ujung pangkalnya.  Menulis adalah cara paling ampuh untuk membunuh waktuku dan malam ini tepat 23.05, mataku tak jua kompromi untuk terpejam meski di hari biasanya saat aku masih bekerja di ngawi. di saat jam seperti ini, bisa dipastikan aku sudah terbuai mimpi namun sejak pindah ke kota ini dan dalam masa vakum yang tak jelas, mataku sulit terpejam dan hanya memandang setiap sudut kamar ini. Berkali-kali kupaksa untuk memejamkan mataku namun sia-sia
Kembali ke soal tulisan ini, tadi saat mataku tidak bisa terpejam. aku iseng stalking teman-temanku di SMA dulu, ada diantara mereka yang mengupload foto-foto masa SMA. sedetik kemudian, semua memoriku merekam setiap momen yang masih sanggup kuingat di SMA dulu, bahkan komen-komen mereka membuatku semakin merasakan masa itu, begitu polosnya dulu hingga tak terasa hampir 9 tahun lamanya masa itu sudah berlalu dan semua telah hidup dengan jalan mereka sendiri. ada yang sudah menikah, ada yang masih seperti saya, bahkan ada yang sudah dipanggil Allah.  Tali persahabatan diantara kami tidak pernah terputus, masih selalu mengingat meski tidak terungkap. Aku bahkan sudah hampir, meski tetap ada, tidak pernah menjumpai teman-teman yang tulus setelah lulus SMA. mungkin ini amat sangat subjektif namun aku harus mengatakan itu karena hatiku yang merasakan. di bangku kuliah, aku memang menjumpai begitu banyak teman dari berbagai suku di negeri ini namun perasaan yang muncul hanya sekedar perasaan berteman dengan mereka tidak sampai menjadi sahabat, seperti ada penghalang meski terkadang kuterka  karena sebagian dari mereka sangat kompetitif dan menganggap kompetisi sehingga harus saling mengalahkan. mungkin karakter-karakter seperti itu yang menjadi hijab sehingga hati tidak merasakan ketulusan persahabatan diantara mereka yang berbeda dari sebagian sahabatku di SMA dulu. Aku bahkan sempat mengiyakan seorang teman di kampus dulu yang mengatakan bahwa dia tidak akan mencari seorang sahabat karena seringkali mengecewakan, dia hanya ingin berteman. Begitulah masa-masa kuliah dulu yang tidak apa adanya, kelihatan amat akrab namun hati tetap terhijab.
Benar saja, selepas sarjana, aku bahkan amat jarang berkomunikasi dengan teman-teman kuliahku bahkan lebih sering dengan teman SMA yang notabene sudah lama tidak bersua. Akupun tidak menyalahkan mereka dan tetap menjalani hidupku secara normal.  Hingga akhirnya kini, aku temui 2 orang yang mungkin bisa dikatakan sahabatku, meski dari pulau yang berbeda dan kenal setelah berada di kota ini namun benarbenar ketika dengan mereka, aku merasa tidak ada ada hijab dan tidak ada rasa ingin berkompetisi dengan mereka meski dulu kami satu pekerjaan yang harus saling berlomba. Pertama adalah Lind yang sekarang sudah menikah dan tinggal di Tuban, ada banyak fakta kenapa aku mengatakan bahwa dia memang amat tulus, saat di pekerjaan yang dulu, dia bantu semua teman tanpa pilih dan tidak merasa terbebani bahkan dia sama sekali tidak ingin bergosip karena katanya semua orang baik.
Orang yang kedua adalah wind, sekarang dia di madiun dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke ibu kota karena dia diterima sebagai abdi Negara di ibu kota. Orang yang kedua ini mungkin yang selalu menjadi sahabat terdekatku selama setahun ini, dia selalu ada saat aku butuh dan setia mendengar keluhanku, tak pernah terlihat di wajahnya rasa bosan saat aku menceritakan semua uneg-unegku tentang apa saja. Orang yang kedua juga ini yang selalu kusebut di dalam doadoaku semoga saja di suatu waktu yang tepat, aku bisa menjadikannya sahabatku seumur hidup. Dia sosok yang amat sabar dan sayang kepada ibunya. Aku bahkan harus angkat tangan jika harus bertaruh kesabaran dengannya karena memang dia benar-benar pribadi yang sabar, bahkan di beberapa episode kehidupannya yang sulit, dia tetap bersabar dan amat sangat tenang, satu lagi yang kutahu darinya bahwa dia amat dermawan. Aku sendiri yang menyaksikan kedermawannya di mana saja, tak perduli siapapun itu, dia akan bantu saat masih bisa, jangankan teman-temannya, orang tak dikenalpun akan dibantu. Dia bahkan membantu SPP temannya yang kesulitan biaya dan membantu semua persiapan saat ujian sidang hingga akhirnya temannya itu sarjana. Tak perlu rasanya menulis detail kebaikannya karena banyak yang terlewat kusaksikan, cukup melihat mukanya maka orang akan yakin bahwa dia orang yang sangat baik, semoga saja dia menjadi pendamping hidupku meski sahabat hidupku dalam setiap situasi yang akan kuhadapi. Dalam berteman, hati punya peran penting menilai orang yang benar-benar tulus dan yang tidak karena kata orang bahwa apa yang dari hati itu akan terasa oleh hati pula. Jika seorang berteman dengan kita dengan perasaan tulus maka yakinlah bahwa hati kita akan merasakan ketulusan mereka dan begitupun sebaliknya.


No comments: