February 22, 2014

Seperti Saat Bersama


Tadi, seperti minggu sebelumnya. Ingatanku tidak pernah berhenti tentangmu. Seperti minggu sebelumnya dan bahkan seperti kebiasaan kita sabtu dan minggu pagi, menyusuri bilangan kampusmu sambil menikmati sepoi angin pagi.

Masih ingatkah engkau saat kujemput dirimu di depan kosmu, dengan kaus kesukaanku yang merah dan topi yang tak pernah lepas dari kepalaku. Aku setia menunggu di depan kosmu setiap pagi bahkan saat mungkin dirimu belum merapikan tempat tidurmu. Sering engkau menegurku tentang topi, sering engkau katakan tidak terlalu suka melihatku memakai topi yang sudah usang namun aku selalu saja memakai.

Pagi tadi, setelah kepergianmu, begitu teganya waktu memisahkan dua insan yang sedang berusaha menyatukan hati dan tadi pagi seperti saat bersamamu.
Aku berjalan sendiri. Menyusuri setiap jalan kenangan kita.
Setiap langkahku terhenti di setiap persimpangan yang kita datangi dulu
Dimana jelas terukir kisah kita di setiap tempat itu.

Aku tak mampu menghitungnya karena perasaanku sangat kuat, disaat itulah menyeruak beribu kenangan tentangmu, tentang langkah kita yang diayun beriringan tanpa ada yang tertinggal atau yang terlampaui, kita benarbenar beriringan kemanapun pergi

Danau itu, portal itu, angsa yang bercengkerama dengan saudaranya, ikan itu, ikan yang berenang dengan riangnya, ah masih ingatkah engkau dik…? Ataukah engkau tibatiba amnesia dan melupakan semua kenangan itu.
Masih ingatkah saat engkau menjulurkan kakimu ke kolam, lalu seekor lele sebesar betisku datang mengampiri dan dengan manjamu engkau berteriak dan merangkulku sambil mendekap kepalamu di bahuku, ah betapa bahagia dik waktu itu

Hingga akhirnya tadi, aku hanya bisa merekam semua sisasisa kenangan itu lalu kemudian berusaha untuk memungut potonganpotongan kisah itu meski kutahu siasia karena yang tersisa adalah kenangan yang pedih

Belum selesai di situ dik, kita menyusuri jalan di depan fakultasmu, brecengkerama seakan hanya kita yang disana, engkau sekalikali merajut manja terhadapku,sekalikali terpingkal-pingkal menahan tawa saat aku bertingkah aneh atau sekali waktu sinis saat aku melirik cewek manis yang kebetulan lewat, sekali waktu aku meludah dan sudah kuduga engkau mengeluarkan beribu petuah tentang itu.
saat akan menuju parkiran tempat kita memarkir motor kesayanganmu, engkau merajut manja minta digendong, alasanmu karena penat dan betismu tak kuat lagi melangkah, ah kutahu hanya alasanmu saja namun aku senang, engkau bergelayut di punggungku dan kubawa engkau ke parkiran. 

Kutanya dirimu apakah tidak malu terhadap lalu lalang orangorang, engkau menampik dan sama sekali tidak perduli
benarbenar jalanan itu serasa milik kita

Ah, benarbenar indah masa itu dik, seakan baru kemarin namun ternyata semua telah berkeping menjadi kenangan, engkau yang sekarang jauh di kotamu mempersiapkan segalanya untuk menjemput impianmu sedang aku terdampar di kota ini dalam laraku yang tak terperi. Huh, waktu kali ini sepakat menyiksaku.

Tega nian engkau pergi, meninggalkanku sendiri dalam kerinduan yang tak tertahan. Apakah engkau tidak ingin mengulang kisah kita, mengitari kota tanpa rasa lelah meski seharian tak pernah melepas penat.

pagi tadi dik, saat ingin kembali ke peraduanku, aku ingat kebiasaan kita. Mampir di warung perempatan depan pasar. Memesan kopi yang juga kesukaanmu, aku ingat itu dik dan tahukah kamu, ibu langganan kita menanyakanmu, menanyakan keberadaanmu
Aku tak kuasa menjawab dik, aku hanya terpaku memandangnya dan tak mengeluarkan katakata, aku tak tega berterus terang  bahwa engkau telah pergi dari kota ini,

Ibu itu dik, kasihan melihatku dari tatapan matanya yang nanar seakan ingin menghiburku meski tak terucap tak tak apalah biarkan kenangan ini kulipat dalam buku catatanku yang suatu saat akan kukirim lewat pos ke istanamu
Hanya yang kupinta dik, saat engkau mengingatku berdoalah untukku.

Dari sang pemuda yang tertinggal di kota ini

No comments: