Tadi,
seperti minggu sebelumnya. Ingatanku tidak pernah berhenti tentangmu. Seperti minggu
sebelumnya dan bahkan seperti kebiasaan kita sabtu dan minggu pagi, menyusuri
bilangan kampusmu sambil menikmati sepoi angin pagi.
Masih ingatkah
engkau saat kujemput dirimu di depan kosmu, dengan kaus kesukaanku yang merah
dan topi yang tak pernah lepas dari kepalaku. Aku setia menunggu di depan kosmu
setiap pagi bahkan saat mungkin dirimu belum merapikan tempat tidurmu. Sering engkau
menegurku tentang topi, sering engkau katakan tidak terlalu suka melihatku memakai
topi yang sudah usang namun aku selalu saja memakai.
Pagi tadi,
setelah kepergianmu, begitu teganya waktu memisahkan dua insan yang sedang
berusaha menyatukan hati dan tadi pagi seperti saat bersamamu.
Aku berjalan
sendiri. Menyusuri setiap jalan kenangan kita.
Setiap langkahku
terhenti di setiap persimpangan yang kita datangi dulu
Dimana jelas
terukir kisah kita di setiap tempat itu.
Aku tak
mampu menghitungnya karena perasaanku sangat kuat, disaat itulah menyeruak
beribu kenangan tentangmu, tentang langkah kita yang diayun beriringan tanpa
ada yang tertinggal atau yang terlampaui, kita benarbenar beriringan kemanapun
pergi
Danau itu,
portal itu, angsa yang bercengkerama dengan saudaranya, ikan itu, ikan yang
berenang dengan riangnya, ah masih ingatkah engkau dik…? Ataukah engkau
tibatiba amnesia dan melupakan semua kenangan itu.
Masih ingatkah
saat engkau menjulurkan kakimu ke kolam, lalu seekor lele sebesar betisku
datang mengampiri dan dengan manjamu engkau berteriak dan merangkulku sambil
mendekap kepalamu di bahuku, ah betapa bahagia dik waktu itu
Hingga akhirnya
tadi, aku hanya bisa merekam semua sisasisa kenangan itu lalu kemudian berusaha
untuk memungut potonganpotongan kisah itu meski kutahu siasia karena yang
tersisa adalah kenangan yang pedih
Belum selesai
di situ dik, kita menyusuri jalan di depan fakultasmu, brecengkerama seakan
hanya kita yang disana, engkau sekalikali merajut manja terhadapku,sekalikali
terpingkal-pingkal menahan tawa saat aku bertingkah aneh atau sekali waktu
sinis saat aku melirik cewek manis yang kebetulan lewat, sekali waktu aku
meludah dan sudah kuduga engkau mengeluarkan beribu petuah tentang itu.
saat akan menuju parkiran tempat kita memarkir motor kesayanganmu, engkau merajut manja minta digendong, alasanmu karena penat dan betismu tak kuat lagi melangkah, ah kutahu hanya alasanmu saja namun aku senang, engkau bergelayut di punggungku dan kubawa engkau ke parkiran.
Kutanya dirimu apakah tidak malu terhadap lalu lalang orangorang, engkau menampik dan sama sekali tidak perduli
benarbenar jalanan itu serasa milik kita
Ah,
benarbenar indah masa itu dik, seakan baru kemarin namun ternyata semua telah
berkeping menjadi kenangan, engkau yang sekarang jauh di kotamu mempersiapkan
segalanya untuk menjemput impianmu sedang aku terdampar di kota ini dalam
laraku yang tak terperi. Huh, waktu kali ini sepakat menyiksaku.
Tega nian
engkau pergi, meninggalkanku sendiri dalam kerinduan yang tak tertahan. Apakah engkau
tidak ingin mengulang kisah kita, mengitari kota tanpa rasa lelah meski
seharian tak pernah melepas penat.
pagi tadi
dik, saat ingin kembali ke peraduanku, aku ingat kebiasaan kita. Mampir di
warung perempatan depan pasar. Memesan kopi yang juga kesukaanmu, aku ingat itu
dik dan tahukah kamu, ibu langganan kita menanyakanmu, menanyakan keberadaanmu
Aku tak
kuasa menjawab dik, aku hanya terpaku memandangnya dan tak mengeluarkan
katakata, aku tak tega berterus terang bahwa
engkau telah pergi dari kota ini,
Ibu itu
dik, kasihan melihatku dari tatapan matanya yang nanar seakan ingin menghiburku
meski tak terucap tak tak apalah biarkan kenangan ini kulipat dalam buku
catatanku yang suatu saat akan kukirim lewat pos ke istanamu
Hanya yang
kupinta dik, saat engkau mengingatku berdoalah untukku.
Dari sang
pemuda yang tertinggal di kota ini
No comments:
Post a Comment