Aku sudah terlalu sering menulis tentang apa yang sering engkau lakukan kepada sesama. bahkan amat sangat sering. namun aku tidak ingin melewatkan untuk menulis kebiasaanmu mendatangi seorang ibu yang dengan setianya duduk di depan parkiran Mall Ambassador bersama kucingnya. menurut perkiraanku, ibu itu sebaya dengan ibuku. aku bahkan tak tahu apakah ibu itu adalah seorang pengemis atau seorang pemulung namun yang kulihat bahwa ibu itu tidak pernah sekalipun mendahkan tangan ketika orang berjalan di depannya. hal itu yang membuatku yakin bahwa ibu itu bukan pengemis, hanya seorang pemulung yang selalu melepas penat di tempat itu.
Engkau selalu mengingat ibu itu saat ada makanan bahkan selalu menyisihkan beberapa lembar ribuan saat kita lewat di depannya bahkan terkadang engkau menyempatkan untuk bercerita dengannya. ketika kutanya tentang ibu itu, ternyata engkau tidak pernah menanyakan hal yang detail tentangnya.
Mungkin cerita tentang ibu itu dan orang yang tidak beruntung di kota ini adalah hal yang lumrah dan amat sangat mudah ditemui di setiap sudut kota ini. aku yang sering melewati perempatan lampu merah di menteng pun sering menjumpai tiga orang bocah yang menjual tissue dan koran.
Mereka melakukannya pada malam hari karena ketika aku lewat siang hari, mereka tidak aku. pernah sekali waktu aku melewati mereka, kulihat bocah yang kira-kira umurnya 5 tahun sedang menyuap bocah yang kira-kira berumur 2 tahun tanpa sekalipun memperdulikan lalu lalang kendaraan yang begitu amat padat. beberapa pengendara melirik kepada mereka dengan wajah datar, entah lah apa yang ada di pikiran mereka saat melihat pemandangan seperti itu.
Kota ini mengajarkanku tentang banyak hal bahkan tentang hidup. Ketika ada perasaan ingin menyerah maka aku selalu bertemu dengan orang masih lebih tidak beruntung dari apa yang sudah aku dapatkan sampai saat ini. sampai aku harus tegar dengan apa yang sedang kujalani.
No comments:
Post a Comment