Dek, aku tidak tahu harus bercerita apa lagi pagi ini. Serasa sehari kemarin aku tidak mendapatkan apa yang bisa kuceritakan kepadamu. bahkan kemarin pun salah satu hari yang kusesali karena kita melakukan khilaf yang sama. Aku selalu berjanji kepadamu untuk bercerita apa saja namun tidak kuasa karena memori seakan dipenuhi oleh permasalahan seputar pekerjaan. Namun aku terlanjur berjanji untuk menceritakanmu apa saja dek. baiklah aku akan bercerita tentang seorang anak PKL di kantorku.
Aku baru saja sarapan roti pagi ini dek kemudian langsung menuliskan ceritaku ini. Tadi saat sementara sarapan roti, anak PKl yang cewek, ratih namanya dek, datang kemudian aku tawari roti meski kutahu roti tinggal 1. Itu belum intinya dek, saat kutawari, dia ternyata puasa sunnah kamis dek. Aku kagum sama dia. Kemudian aku tanya apakah dia memang rutin puasa senin kamis, dia bilang iya. Aku salut dek sama anak itu karena mulai sma dia sudah rutin puasa sunnah dibanding aku yang baru mulai itupun belum tertib.
Emang anak PKL yang satu ini beda dek. dia rajin banget shalat bahkan ketika waktu shalat sudah tiba, dia pasti akan turun ke LT 1 tempat mushalah berada dan menunggu karyawan lain yang akan shalat untuk shalat jamaah. Semoga saja anak ini istiqomah. Aku tidak membandingkan dengan anak PKL yang sebelumnya namun anak yang satu ini memang berbeda dalam beberapa hal. meski terkadang seperti dia cepat naik emosinya ketika ada hal yang tidak sesuai keinginannya namun waktu akan membuatnya dewasa.
Banyak kekagumanku terhadap orang yang kuat memegang prinsip di tengah kota jakarta dek. bahkan di berbagai penjuru, ada saja godaan-godaan yang datang menerpa dan butuh hati yang kuat memegang prinsip yang diyakini. aku bahkan salah satu orang yang takluk dengan apa yang kuyakini. Melanggar janjiku terhadap diriku dan kedua orang tuaku.
Itu saja ceritaku hari ini dek. aku bahkan tidak tahu apa hikmah dari ceritaku ini sendiri karena hanya janji untuk bercerita saja yang membuatku harus menuliskan ini.
No comments:
Post a Comment