Aku bukanlah orang yang terlalu sosial. Aku bukanlah orang yang terlalu peduli dengan sesama bahkan aku menyadari bahwa seringkali aku tidak sabaran dalam segala hal. Aku pun seringkali marah pada apa saja yang tidak sesuai keinginanku namun aku masih bisa memilih hal apa yang harus membuatku marah. Ketika marah maka logika dan rasionalitas otak tidak berjalan dengan baik maka yang ada hanyalah ego yang ingin menang. Ini yang seringkali merusak.
Aku bahkan terkadang menganjurkan untuk sesekali marah kepada apapun yang bertentangan dengan prinsip namun bukan marah yang merusak. Aku selalu menyesali setiap hariku dimana ada amarah yang keluar. Aku selalu membenci diriku yang marah tanpa sebab hanya karena suasana hati yang tidak stabil. Aku memang seperti itu meski aku terkadang mencoba untuk selalu menenangkan diriku.
Kemarin saat kembali dari pengajian Aa gym di Istiqlal, aku berputar melewati kantor pos di depan masjid tersebut, oleh sebab ada sedikit keperluan di ATM. Maka aku memarkir kendaraanku di depan kantor pos dan masuk ke dalam dimana ATM berada. Berselang beberapa saat aku setelah urusan mengenai ATM selesai, aku keluar menuju tempat parkir motor. Tepat di depan pagar kantor pos, aku mendengar ada ribut-ribut, seorang yang bermata sipit sedang mengertak pesuruh kantor pos tersebut.
Aku memperhatikan adegan tersebut di atas motor sambil sesekali melirik HP supaya tidak dianggap kepo. Lama-lama aku mengerti akar masalahnya bahwa si pria paruh baya yang menurut tebakanku adalah orang Tionghoa amat sangat murka karena pesuruh kantor pos tersebut melarang masuk dengan alasan kantor sedang tutup karena memang pada saat itu hari minggu. si pria tersebut tidak terima dan terus saja meracu tanpa jelas dengan muka yang menahan amarah.
Sebelumnya aku mencoba untuk fair masalah tersebut namun benar-benar aku tidak bisa menahan amarah melihat si pesuruh tersebut dimaki dengan segala macam kata-kata dan tangan yang ditunjuk-tunjuk ke mukanya.
Rawamangun, 9 nov 2014
No comments:
Post a Comment