PELAJARAN TENTANG MEMPERLAKUKAN UANG
aku sudah berjalan sejauh ini menyusuri jalan di pulau ini. dan tentunya sudah banyak orang yang kutemui dalam setiap jejak langkah yang kususuri. semakin banyak manusia yang kujumpai maka semakin banyak juga pelajaran yang kuhadirkan dalam buku kehidupanku. itu yang kutau. kujumpai orang yang rela berjuang apa saja demi anaknya, tentang manusia yang menghargai dan bahkan tentang manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki.
kali ini aku menjumpai sesosok manusia yang juga menjadi bosku di kantor. sejak pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini, aku selalu memahami dan berusaha mendapatkan pelajaran dari semua orang termasuk bosku ini. seiring berjalannya waktu, aku mulai belajar dari beliau tentang bagaimana caranya menghargai uang. itu yang kutahu dari beliau.
posisinya sebagai bos di kantor menjadikan beliau bisa saja mengumpulkan pundi-pundi uang dengan berbagai bonus-bonus produksi namun sejauh pengetahuanku tentang beliau, tidak pernah sekalipun dilakukan hal seperti itu.
suatu sore, seperti biasa sebelum pulang, beliau selalu suka duduk di samping mushalah lt 1 sambil bercerita banyak tentang apa saja kepada karyawannya. disuatu sore itu, hanya aku dan temanku yang di bagian staff teknik yang menemaninya bercerita. beliau bercerita tentang bonus perusahaan yang bisa saja diambilnya, tentang uang dari nasabah yang ditolak. meski beliau sadar bahwa sedang membutuhkan dana karena dalam proses membangun rumah namun tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk melakukan hal seperti itu.
uang memanglah hal yang amat sangat menggoda, melenakan dan bahkan terkadang membutakan. semakin dikuasai hati kita dengan uang maka akan semakin takut kita kehilangan dan semakin merasa kurang dengan yang dimiliki. aku bisikkan baik-baik bahwa aku beberapa kali menjumpai orang kaya raya yang bahkan bayar tol mereka masih memperhitungkan. aku juga punya cerita dari sahabatku yang bekerja di kemenkes. dia punya bos yang semua kebutuhan bahkan sampai uang kondangan harus menggunakan uang kantor. terlepas dari itu semua, bisa saja aku juga seperti mereka namun aku selalu berdoa semoga hatiku tidak pernah dikuasai oleh kerajaan uang.
151214
aku sudah berjalan sejauh ini menyusuri jalan di pulau ini. dan tentunya sudah banyak orang yang kutemui dalam setiap jejak langkah yang kususuri. semakin banyak manusia yang kujumpai maka semakin banyak juga pelajaran yang kuhadirkan dalam buku kehidupanku. itu yang kutau. kujumpai orang yang rela berjuang apa saja demi anaknya, tentang manusia yang menghargai dan bahkan tentang manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki.
kali ini aku menjumpai sesosok manusia yang juga menjadi bosku di kantor. sejak pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini, aku selalu memahami dan berusaha mendapatkan pelajaran dari semua orang termasuk bosku ini. seiring berjalannya waktu, aku mulai belajar dari beliau tentang bagaimana caranya menghargai uang. itu yang kutahu dari beliau.
posisinya sebagai bos di kantor menjadikan beliau bisa saja mengumpulkan pundi-pundi uang dengan berbagai bonus-bonus produksi namun sejauh pengetahuanku tentang beliau, tidak pernah sekalipun dilakukan hal seperti itu.
suatu sore, seperti biasa sebelum pulang, beliau selalu suka duduk di samping mushalah lt 1 sambil bercerita banyak tentang apa saja kepada karyawannya. disuatu sore itu, hanya aku dan temanku yang di bagian staff teknik yang menemaninya bercerita. beliau bercerita tentang bonus perusahaan yang bisa saja diambilnya, tentang uang dari nasabah yang ditolak. meski beliau sadar bahwa sedang membutuhkan dana karena dalam proses membangun rumah namun tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk melakukan hal seperti itu.
uang memanglah hal yang amat sangat menggoda, melenakan dan bahkan terkadang membutakan. semakin dikuasai hati kita dengan uang maka akan semakin takut kita kehilangan dan semakin merasa kurang dengan yang dimiliki. aku bisikkan baik-baik bahwa aku beberapa kali menjumpai orang kaya raya yang bahkan bayar tol mereka masih memperhitungkan. aku juga punya cerita dari sahabatku yang bekerja di kemenkes. dia punya bos yang semua kebutuhan bahkan sampai uang kondangan harus menggunakan uang kantor. terlepas dari itu semua, bisa saja aku juga seperti mereka namun aku selalu berdoa semoga hatiku tidak pernah dikuasai oleh kerajaan uang.
151214
No comments:
Post a Comment