December 23, 2014

Meratapi Pagi

Pagi yang menyebalkan. Hampir di sisa pagi yang sejuk, aku selalu membenci jarum jam yang melaju cepat ke angka tujuh. Aku membenci itu di lima hari dalam seminggu. Benakku diracuni oleh pekerjaan-pekerjaan kantor yang menguras hampir sebagian waktu dan pikiranku. Aku beranjak dari tempat tidur, mengambil handuk kemudian dengan langkah gontai masuk kedalam kamar mandi. Perlahan dan seperti tak terbayangkan bahwa aku berada di situasi yang dulu pernah kuhindari. Aku benci dengan rutinitas, muak dengan semua aturan yang mengekang bahkan aku tidak rela hidupku terpenjara dengan hal yang berbau materi. Namun apa ini semua, aku terkadang menertawai diriku yang tak berdaya dan seringkali pula menangisi diriku yang akhirnya harus berjibaku dengan kehidupan yang sesak di ibu kota.

Aku mungkin satu dari sedikit lelaki yang benci terlalu lama di kamar mandi. hanya membasuh 2-3 kali badanku mengoleskan sabun ke seluruh tubuh kemudian membasuh lagi dan bergegas keluar. Jam dinding benar-benar telah menunjuk angka 7 tandanya rutinitasku sebentar lagi akan kumulai. Datang di kantor pagi hari, bertemu dengan 2 ob yang baik hati kemudian naik di lantai 2 dan duduk manis di meja kerjaku bagian pojok. Bergelut dengan penawaran bengkel, berkas motor hilang dan klaim kecelakaan diri dari berbagai perusahaan. aku penat bahkan lebih dari sekedar penat raga bahkan jiwaku pun tergerus. Bertemu dengan berbagai karakter manusia di kantor. saling sapa dengan senyuman meski kutahu terkadang palsu, menjumpai karyawan yang mencoba berbaik hati dengan bos bahkan dengan anak PKL yang harus rela disuruh menjadi tukang foto copy.

Aku sesekali menoleh jam di layar PC. Berharap angka 12 muncul, itu artinya istirahat siang namun terkadang masih berputar di angka 10. Mungkin aku yang jenuh atau bahkan aku yang tidak pernah bekerja dengan baik. Semua seakan mulai berjalan begitu berat. aku menghakimi diriku, menghujat apa yang terjadi dan bahkan meratap kehidupan. ingin rasanya mengganti kehidupan yang baru.

Mungkin, di kampung sana, di kampungku yang damai. Orang-orang mengira aku telah merengkuh sukses. hidup di tengah gemerlap ibu kota dengan segala kemewahan yang ada. Prestise di mata setiap orang namun jiwa disini menjadi lemah.

Aku selalu menantikan senja yang bergerak begitu lambat. Bergegas pulang kantor dan merayakan malam di kamar kos sembari membayangkan semua keindahan dalam mimpi. Jauh dari gedung yang menjulang tinggi di kota ini. Lepas dari keruwetan lalu lintas yang membunuh kedamaian dan orang-orang yang berlagak sok tanpa saling memperdulikan. jiwaku semakin lemah dalam setiap hal yang kulalui. hidupku akan kuhabiskan dengan rutinitas seperti ini.

Menjadi orang urban memang terkadang mengorbankan kedamaian, menjual ketenangan dengan berbagai kemewahan bahkan menggadaikan kebebasan dengan segal hal yang absurd. Dipandang sukses oleh orang di pelosok meski kuyakin, seringkali jiwa orang urban jauh dari ketenangan, percayalah.

Meratapi pagi yang menjemukan.

231214

No comments: