December 29, 2014

Ikrar

Minggu 29 Desember 2013, aku pernah menulis tentang sepasang cincin yang kita pesan di sudut alun-alun kota. aku masih ingat jelas di tulisan itu bahwa cincin yang kita beli itu hanyalah terbuat dari besi tua yang sama sekali bukan penanda bahwa kita telah tunangan. masih segar pun dalam ingatanku asal muasal kenapa kita membeli cincin tersebut. saat menghabiskan senja di alun-alun madiun, kita melewati penjual cincin. kita iseng menanyakan apakah bisa ditulis nama di masing-masing cincin tersebut dan ternyata bisa. kita membelinya dengan menuliskan nama di cincin tersebut. itu hanyalah keisengan yang kita buat.

hal yang membuatku kagum adalah cincin itu sampai sekarang tidak pernah sekalipun engkau lepaskan dari jari manismu. seringkali kita bertengkar dan seringkali aku membuatmu menangis namun tidak sekalipun keluar ucapan dari mulutmu untuk melepaskan cincin tersebut malah yang ada bahwa engkau akan mempertahankan dengan segala cara hubungan yang telah kita jalin memasuki tahun kedua. kenyataan itu menguatkanku untuk menjadikanmu seorang pendamping hidupku mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan tanda tanya.

kemarin, yah tepatnya liburan natal kemarin. kita berdua pulang ke kampungmu. merekat kebersamaan di dalam kereta Gajayana. tujuan kita satu adalah membeli sepasang cincin emas putih yang benar-benar akan menjadi pengikat kita tahun depan. kita bertiga dengan ibumu berangkat ke sebuah toko emas di utara alun-alun. setelah tawar menawar yang sangat alot, akhirnya aku bisa membelikanmu cincin emas putih yang menurutmu amat cantik. itu adalah langkah awal kita menuju pernikahan yang Insya Allah kita rencanakan september 2015.

begitu banyak hal yang berkecamuk di dalam rongga kepalaku. satu hal yang membuatku bertekad adalah menjaga kesucian kita. sudah berkali-kali kita larut dalam hal yang menjijikkan dan itu yang ingin kuperbaiki. cincin yang kubelikan untukmu adalah tanda keseriusanku untuk meminangmu.

No comments: