Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

May 15, 2021

Idul Fitri 1442 H

Idul Fitri 1442 H sudah berlalu dua hari yang lalu. idul fitri kedua yang sedikit kehilangan sensasinya karena masih dalam masa pandemi sehingga larangan mudik masih diberlakukan. tanpa mengurangi kesakralan Idul Fitri dalam hal nilai yang terkandung di dalamnya, namun dengan kondisi seperti saat ini, ada hal yang hilang dari tradisi Idul Fitri yang seringkali menjadi bagian penting yang ditunggu oleh para perantau, ya tradisi Mudik.

Jangan sepelekan mudik hanya sebagai bagian dari uforia perantau pulang ke kampung sebagai ajang memamerkan eksistensinya di tempat rantau bahwa mereka sukses, tidak sekedar itu. core dari mudik itu adalah bagaimana melepaskan serpihan rindu yang membuncah selama setahun, rindu pada keluarga, rindu rumah, rindu semerbak tanah kampung halaman saat hujan sore hari, rindu sungai di kampung dan segala kenangan masa kecil yang menyatu dalam jiwa seorang perantau.

absennya mudik di lebaran kali ini membuat saya merenung, apa yang harus saya perbaiki dalam momentum Idul Fitri kali ini?

jangan sampai momentun Idul Fitri 1442 H berlalu begitu saja tanpa ada perbaikan dari diri saya, minimal ada satu atau dua hal yang bisa saya ubah dari karakter saya selama ini.

setelah sekian lama merenungi diri ini, saya berada pada kesimpulan bahwa sebagian waktu saya habis di rumah dan kantor sehingga di kedua tempat itulah, harus diratapi kebiasaan buruk yang harus diperbaiki.

pertama mungkin kehidupan di kantor. ada dua hal yang akan saya ubah yaitu kebiasaan gibah yang membuat saya tidak nyaman dan terlalu over dalam bercanda. saya akan senantiasa mengingat ikrar saya ini di kantor jika keinginan bergibah menghampiri saya dan jika bercanda saya sudah melewati batas yang saya tolerir.

kedua di rumah. saya akan lebih hangat kepada keluarga saya di rumah, sedikit lebih sabar dan tidak menampakkan muka masam meskipun saya sedang ada masalah.

semoga ikrar saya di atas bisa saya jalankan minimal hari demi hari.

2 Syawal 1442 H

August 22, 2020

Masalah Repetitif

 Saya punya masalah  yang seakan terus datang dengan pola yang sama. masalah ini sudah berlangsung sejak 5-6 tahun terakhir. sebuah masalah yang menyadarkanku bahwa ternyata cerita-cerita di sinetron Indosiar yang selama ini saya anggap fiktif ternyata benar adanya di dunia nyata bahkan sangat dekat dengan diriku, walau saya sadari bahwa masalah tersebut di luar kendaliku. 

Masalah ini tentang pola interaksi antara seorang Ibu dengan Puteranya. pola relasi yang seakan hanya terjadi dalam sebuah narasi fiktif yang sering saya baca di buku cerpen namun ternyata cerita fiktif tidak ada yang fiktif di dunia ini, yang ada bahwa cerita tersebut belum kita temui dalam kehidupan kita sendiri. 

Ibu tersebut sudah sejak 16 tahun yang lalu ditinggal mati oleh suaminya. dia harus berjuang keras menghidupi seorang putera dan seorang puteri. sebuah perjuangan yang tidak mudah karena dia hanya seorang guru swasta yang gajinya tidak terlalu besar, beruntung karena dia masih menerima uang pensiunan suaminya setiap bulan dan masih dibantu oleh saudaranya. meski demikian, tetap saja bahwa urusan membesarkan anak bukan hanya melulu mengenai materai namun ada banyak sisi yang harus diperhatikan. 

Nampaknya tidak ada masalah yang terlalu serius sampai akhirnya si putera yang sulung masuk kuliah. di tahun-tahun pertama, belum ada hal yang mencemaskan namun kenyataan pahit menghampiri ketika si putera sudah menjelang akhir kuliah. berbagai permintaan aneh mulai menyusahkan si Ibu namun masih dalam batas normal.

Beberapa tahun setelah lulus, si putera sudah bekerja di sebuah bank dan menikah dengan gadis pilihannya. momen ini nampaknya akan menjadi momentum balik dari si Ibu untuk merayakan kerja kerasnya selama ini dan sedikit mengendorkan punggungnya yang sudah terlalu lama memikul beban berat. si putera sudah selesai pada masalah materi karena sudah bekerja dan juga sudah menikah sehingga tanggung jawabnya sudah lepas. 

Namun ternyata, momentum menikahkan puteranya yang seharusnya menjadi titik bahagia ternyata menjadi bumerang bagi si Ibu. pasca menikah, berbagai masalah besar datang dari perilaku si putera yang nampaknya tidak pernah memiliki sedikitpun rasa iba terhadap ibunya. mulai saat dia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di bank kemudian sebuah beban anak isterinya yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya, dibebankan kepada ibunya bahkan pada puncak masalah, satu-satunya rumah peninggalan bapaknya dijual demi melunasi utang si puteranya.

Meskipun rumah sudah dijual, ternyata sama sekali tidak mengubah pola berpikir si puteranya, dia seakan semakin menjadi-jadi apatahlagi setelah tidak bekerja sama sekali. semua kebutuhan keluarnya beserta ketiga anaknya, dipikul oleh Ibunya yang anehnya, si Ibu selalu memenuhi permintaan apapun dari si puteranya.

Si Ibu yang sudah semakin menipis tabungannya tidak kehabisan akal, berapa pun puteranya meminta uang dalam jumlah jutaan, si Ibu selalu berusaha memenuhi meskipun harus berutang kepada saudara-saudaranya. perilaku si Puteranya diperparah dengan isterinya yang meskipun sebagai seorang menantu, sama sekali tidak memiliki rasa sungkan untuk meminta apa saja kepada si Ibu yang hanya seorang mertuanya.

Perjalanan kisah pedih tidak sudah berlangsung bertahun-tahun dan minggu lalu, si Putera dan isterinya kembali meminta uang 15 juta kepada Ibunya dengan alasan untuk membayar utangnya di rentenir karena jika tidak dibayar, akan mengancam keluarganya. tanpa pikir panjang, si Ibu meminjam uang kepada adik laki-lakinya yang akhirnya diberikan pinjaman 10 juta dan 5 juta diambil dari tabungannya sendiri untuk menggenapi permintaan puteranya.

Entah kapan berakhirnya kisah ironi ini namun sebagai orang yang sama sekali tidak punya kuasa untuk masuk memberikan sedikit masukan, maka saya hanya mengambil hikmah dari kisah ini untuk sedikit lebih empati kepada Ibu saya bahwa jika tidak mampu membahagiakannya, paling tidak saya tidak memberatinya dengan masalah saya.

22 8 2020

April 13, 2020

Pernahkah Kamu..???

Pernahkah kalian menginginkan sesuatu selama bartahun-tahun dalam setiap kesempatan datang, selalu gagal dan kegagalan itu membuatmu terperosok? jika iya, kita sama.

Pernahkah kalian dalam suatu momen sedang menunggu sesuatu dan sudah mempersiapkan segalanya namun berlalu begitu saja karena ternyata waktunya salah? iya saya juga. kuliah online jam 1 siang dan saya sudah mempersiapkan segalanya sebelum jam satu namun kuliah tersebut terlewat karena saya mengira bahwa akan dimulai jam 4 sore. hal yang paling menyakitkan karena informasi baru diberitahukan tepat setelah kuliah selesai dan saya masih duduk di depan laptop seperti sedang menunggu.

Atau pernahkah kalian sudah merencanakan mudik dari awal tahun namun tiba-tiba gagal karena adanya virus yang mewabah sedangkan sebelumnya, pikiran tentang kampung sudah sering menari-nari di pikiranmu? kali ini kita sama lagi. sebuah kondisi yang mengharuskan untuk membatalkan mudik sedangkan rindu yang tak terlunasi sudah membayangi.

Pernahkah kamu dengan sebitu inginnya hidup dalam sebuah perjalanan yang sesuai dengan prinsip yang selama ini diagung-agungkan dan menghindari pekerjaan yang dianggap tidak sejalan dengan prinsip tersebut namun ternyata realitas hidup mencampakkan kalian dalam pekerjaan yang selama ini dihindari bahkan belum bisa lepas? iya saya itu.

atau pernahkah menginginkan sesuatu yang kemudian terwujud dalam dalam kondisi yang kalian tidak sepakati? iya saya seperti itu.

***
Dalam banyak hal, hidup selalu menghadirkan kejutan-kejutan yang sama sekali tak terduga. perjalanan semakin panjang namun diri seperti kehilangan arah. diri tercerabut dari nilai yang semakin samar dan tak terbaca sehuruf pun. hidup menjadi sangat pragmatis dan segalanya dikalkulasi dengan nilai duniawi sedangkan semua akan sirna dalam sekejap, lalu bagaimana melepaskan semuanya? 

Belum ada jawaban yang pasti..!!!

Diri masih bertarung dengan diri yang lainnya tanpa henti. semakin jauh pertarungan ini maka arah hidup semakin kabur dan kesasar. setiap kali mencoba untuk melepaskan semuanya namun beberapa kali lipat keadaan hidup datang dan memaksa kemudian berkata, 

"jalani saja..!!!"

Apa yang harus dibanggakan dengan kehidupan seperti ini. kehidupan yang tidak diperjuangkan dengan semangat nilai kemanusiaan. hidup yang atas nama tanggung jawab terhadap keluarga kemudian berubah menjadi pragmatis sedangkan tanggung jawab terhadap keluarga tidak pernah sekalipun melarang untuk berbuat yang juga menjunjung tinggi nilai yang hakiki.

Lalu apa jika seperti demikian..???

Saya juga tidak tahu. saya takluk di depan Semesta yang tidak jua menuntunku untuk menjadi manusia yang seutuhnya. manusia yang menjalani hidupnya dengan semangat perjuangan yang tak kenal lelah. sebuah kehidupan yang dipupuk dalam nilai yang tak terhingga dan tak terbatasi dengan kalkulasi keuntungan duniawi.

14 04 20

April 10, 2020

2020

2020 sudah memasuki bulan keempat. proses perjalanan dalam setahun yang belum genap mencukupi setengahnya, namun nampaknya tahun ini menjadi sebuah perjalanan panjang yang melelahkan bukan hanya fisik namun juga psikis bahkan bukan masalah yang relatif maka masing-masing orang namun menjadi masalah yang universal. sebuah tahun yang benar-benar tidak terbayangkan sebelumnya. saya tidak sedang menghakimi sebuah perjalanan dari sudut pandang orang secara psikis namun saya hanya ingin mengatakan bahwa secara lahiriah, semua orang marasakan dampak dari musibah yang sedang terjadi.

Mungkin di akhir tahun kemarin, semua orang sudah menyusun resolusi dengan sistematis dan penuh dengan optimisme yang tinggi dengan bayang-bayang akan berjumpa dengan mimpi-mimpi di tahun ini namun baru tiga bulan berjalan, saya yakin bahwa semua relosusi tersebut porak-poranda dengan makhluk yang begitu sangat kecil dan tak kasat mata. sesuatu yang tak terlihat secara indrawi memang lebih membahayakan.

Virus Corona atau yang sering dikenal dengan nama Covid-19...!!!

Pandemi virus ini benar-benar menciptakan sebuah horor bagi seluruh manusia di bumi ini. Akhir Desember 2019, virus ini sudah mengirimkan pesan kepada seluruh Manusia untuk menyiapkan amunisi dengan sebaik-baiknya namun nampaknya Manusia tidak pernah mau belajar terhadap alam. apa yang mereka raih selama ini dalam hal yang mereka sebut sebagai sebuah "peradaban" membuat manusia lupa akan asalnya. Manusia menjadikan dirinya sebagai pusat dari alam semesta yang segalanya bisa mereka kendalikan.

Peringatan yang sudah sangat jelas dari makhlus tak kasat mata ini bahkan disikapi dengan pongah oleh para Manusia pemegang otoritas di beberapa negara. Presiden di negeri saya bahkan dengan cerobohnya melakukan langkah yang berani ketika periode Februari 2020, virus ini belum menyerang negeriku, Presiden membuka jalur wisata dari negara yang sudah terpapar, bahkan Menteri Kesehatan mengerdilkan virus ini bahwa hanya virus biasa yang bisa disembuhkan sendiri oleh tubuh Manusia. pun demikian dengan negara yang mendaku pemimpin dunia, Presidennya meremehkan virus ini.

Kemudian apa yang terjadi tidak lama setelah itu, virus ini kemudian dengan membabi buta menyerang semua Manusia tanpa kecuali. Negara yang sebelumnya meremehkan ternyata kewalahan dari menghadapi makhluk yang sama sekali tak terlihat. 

Peringatan yang sangat jelas dari Alam...!!!

Teori-teori sudah berseliweran di linimasa tentang asal muasal munculnya virus ini. bagi para aktivitis lingkungan, mereka mungkin mengatakan bahwa virus ini lahir dari keserakahan Manusia dalam mengeksploitasi alam tanpa batas. bagi para pengamatan ekonomi politik, mungkin akan berpikir bahwa ini adalah hasil dari design perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. bagi para Ilmuwan Alam bahwa virus ini sebenarnya sesuatu yang lazim karena dalam proses perjalanan alam semesta ini, setiap makhluk akan saling menyerang untuk tetap eksis, di balik makhluk yang eksis hari ini, ada berbagai jenis makhluk lain yang dikorbankan. bagi para teori konspirasi, Mereka meyakini bahwa virus ini dibuat di laboratorium sebagai senjata kimia.

Bayangkan di sekitar Jakarta dan kota satelitnya, setiap orang melihat tanah kosong sebagai potensi untuk membangun perumahan yang kemudian dijual dengan harga yang tidak masuk akal. membangun rumah tidak lagi membangun sebuah bangunan sebagai tempat istirahatnya jiwa namun membangun rumah semata untuk sebuah bangunan kokoh yang dinilai dengan bebeberapa lembar kertas yang kemudian dijadikan pride sebagai sebuah simbol keberhasilan, kemewahan dan simbol duniawi lainnya.

Di kota ini, tidak ada lagi ruang untuk makhluk selain Manusia selain Makhluk yang bisa dimanfaatkan oleh mereka.

Terlepas dari semua teori yang ada, saya tidak terlalu tertarik untuk meyakini salah satunya. satu hal yang pasti bahwa ancaman virus ini nyata dan sedang menyerang eksistensi Manusia. setiap individu seharusnya mengambil bagian dalam proses penyelesaian masalah ini dalam ranahnya masing-masing. jika seorang Dokter maka akan bahu membahu di rumah sakit, jika seperti saya yang tidak terlalu berkepentingan di luar, maka tinggal di rumah sesuai anjuran Pemerintah.

Saya yakin bahwa eksistensi Manusia masih akan tetap berlanjut dan momen akan akan berlalu suatu saat nanti meskipun tidak bisa dipastikan kapan akan berakhir. namun bukan pada persoalan apakah Manusia masih tetap eksis atau tidak namun pada persoalan bahwa seberapa Manusia yang harus takluk di depan virus ini. kematian memang sesuatu yang pasti namun kematian massal adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang harus disikapi. atau jangan-jangan memang kita hidup hanya untuk mempertahankan eksistensi masing-masing. mungkin kebetulan saya bahwa kita menghadapi musuh yang sama sehingga saling membantu mempertahankan eksistensi, jika badai ini berlalu, kita akan kembali lagi ke pola lama untuk saling mengalahkan demi sebuah pride yang namanya eksistensi.



Dampaknya menghancurkan semua lini kehidupan bahkan salah satu lini yang selama ini diagungkan-agungkan oleh Manusia adalah keagamaan yang juga porak poranda. lihatlah Gereja, Masjid, Pura, Sinagoge dan semua tempat yang selalu dijadikan tempat penyembahan. semua dikosongkan atas nama virus ini. lalu kemudian apa yang tersisa dan keegoan Manusia selama ini tentang siapa yang benar dalam beribadah kepada Sang Pemilik semesta. semua terdiam menyadari bahwa tidak ada yang patut mendaku kelompoknya sebagai paling suci. rumah-rumah ibadah tersebut hanyalah bangunan sebagai sebuah simbol yang paling sering hanya dijadikan sebagai sebuah pengukuhan diri sebagai paling suci, namun yang paling hakiki bahwa Tuhan sebenarnya tidak membutuhkan itu semua. Tuhan membutuhkan hati Manusia yang jernih dalam benar-benar mencariNya dalam keheningan terlepas dari kalkulasi duniawi.

Salah satu gambar yang entah benar atau tidak, terlihat seorang Manuasia duduk di depan Kabbah sambil berlutut. gambar tersebut disertai dengan caption kurang lebih seperti ini bahwa bukan raja, buka orang kaya namun hanya seorang tukang bersih yang boleh beribadah di depan Kabbah. 

Semua orang harus tinggal di rumah. banyak hal yang harus ditarik garis lurusnya. menjadi pelajaran bagi Manusia bahwa rumah bukan hanya tempat singgah untuk berbaring namun juga harus dihidupkan dengan kehangatan antar anggota keluarga. selama ini sesama keluarga hanya bertatapan pada subuh sebelum berangkat dan pada malam hari sepulang kantor dan ini adalah momen untuk kemudian merekonstruksi kembali apa makna rumah sebenarnya. sejatinya rumah bukan hanya bagunan fisik semata untuk berteduh dan sebagai pride bagi sebagian orang berpunya yang mempunyai rumah bak istana, namun rumah lebih dari itu semua.

Tinggal di rumah juga mengajarkan kita bahwa betapa tersiksanya hewan yang dikurung dalam kandang tanpa dikeluarkan. meskipun sebenarnya saya masih sangat awam untuk menarik garis dengan ranah ini karena beberapa hewan yang sudah didomestikasi memang perlu dikandangkan.

Namun terlalu jauh jika saya melihat apa yang ada di luar diri saya tanpa melihat apa yang sudah berubah dalam diri saya setelah hampir tiga minggu harus mendekam di rumah karena makhluk yang tak kasat mata.

Nampaknya belum ada yang terlalu signifikan terjadi di dalam diri saya. rencana-rencana yang seharusnya sudah bisa saya selesaikan di rumah tidak tercapai. hati saya masih picik dalam menghadapi musibah ini dan jarang sekali berbisik ke dalam diri saya, apa yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang Manusia, dan jika momen ini berlalu, langkah apa selanjutnya yang harus kuteruskan supaya hidup sedikit lebih bermakna? 

December 18, 2019

Sadar Diri

Saya menyimpan sebuah file ceramah Cak Nun tentang mengukur makanan yang masuk ke dalam diri. intinya bahwa kita harus selalu memperhatikan apa saja yang masuk ke dalam tubuh karena akan menjadi anasir yang bercampur dengan darah dan menjadi tulang belulang. nasehata Cak Nun tersebut seringkali saya dengarkan di kantor ketika waktu luang.

Di lain hal, saya benar-benar menjadi anomali karena pada banyak waktu, saya sering menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, lebih parahnya dua bulan terakhir. bahan kuliah sering saya download di kantor bahkan waktu kerja seringkali saya gunakan untuk mengerjakan tugas kulah.

Meski bukan sari makanan yang saya masukkan ke dalam tubuh melalui hal yang tidak baik menurut Cak Nun namun menurut perenungan saya bahwa selama ini, saya tidak berhati-hati dalam memilih sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. menggunakan fasilitas kantor untuk mendownload bahan bacaan atau menggunakan jam kerja mengerjakan tugas kuliah merupakan sesuatu yang seharusnya tidak saya lakukan. memperoleh pengetahuan yang terdapat di dalamnya cara yang tidak baik, kemungkinan tidak berkah.

saya harus memulai untuk mengukur kembali diri. sadar akan posisi dan sadar akan ruang dan waktu untuk lebih bijak dalam banyak hal. saya memutuskan untuk menghapus data bahan bacaan yang saya download di kantor dan berusaha untuk tidak menggunakan jam kerja mengerjakan PR kuliah. paling tidak jika waktu istirahat, saya bisa menggunakannya untuk mengerjakan tugas.

Hidup memang tentang perenungan dan kontemplasi yang tak berujung. semua langkah harus diukur dengan kepantasan sesuai dengan nilai yang dianut. saya menganut nilai ajaran agama saya yang mengatur tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. kantor tempat saya bekerja telah mengatur bahwa saya digaji 8 jam mulai dari jam 8 sampai dengan jam 5 dipotong istirahat 1 jam dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sudah diatur dengan jelas. maka dari itu, jika saya ingin melakukan sesuatu yang sifatnya pribadi maka saya punya waktu 1 jam yang diperuntukkan untuk istirahat.

Sebenarnya tidak menjadi menjadi idealis namun fokusnya bahwa saya mempunyai anak isteri yang setiap hari saya doadakan untuk dihidarkan dari sesuatu yang sifatnya haram bahkan yang syubhat sekalipun, nah jika saya sendiri tidak mengukur diri maka bagaimana saya bisa menjadi anak isteri saya.

18 12 19

September 24, 2019

Persoalan Moral di Kantor

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi panjang lebar dengan salah seorang kolega di kantor. permasalahan sederhana sebenarnya dan sudah sering digaungkan namun tidak pernah saya tanggapi. hanya saja momen saat itu tepat dengan keadaan sehingga saya butuh meresponnya dengan berbagai alasan yang menurutku rasional dan saya bisa pertanggungjawabkan berdasarkan regulasi di kantor dan secara moral yang saya yakini.

Jadi awalnya, saya berniat mengajukan surat over time dan pada saat yang sama, rekan saya tersebut bersuara, entah serius atau bercanda, bahwa dia tidak masalah siapapun yang lembur sepanjang bisa dipertanggungjawabkan di hari kemudian. track recordnya, dia memang menjadi rekan yang paling menentang over time entah dengan alasan apa.

Saya yang sedang dalam mood yang ingin berdiskusi langsung menyambar perkataannya. saya mengeluarkan semua isi kepala yang selama ini saya yakini. dengan detail saya katakan padanya tentang sikap saya terkait over time:
  1. Saya tidak ada urusan dan tidak akan campur tangan siapa pun yang ingin mengajukan over time sepanjang dia mengikuti alur regulasi yang berlaku di Perusahaan ini. misalnya surat pengajuan Over time ditandatangani oleh Kepala Bagian maka hal tersebut sudah tidak ada masalah.
  2. Terkait asumsinya yang yang menjurus ke arah moralitas bahwa terkadang di jam kerja tidak dimanfaatkan oleh si karyawan namun di luar jam kantor mengajukan over time. menurut saya bahwa hal tersebut tidak relevan diurusi oleh sesama staf karena fungsi kontrol ada di Kepala bagian.
  3. Terkaik klaimnya bahwa dia khawatir jika di akherat dihisab atas over time yang tidak pantas. saya menimpali bahwa wilayah moralitas sama sekali bukan wilayah kontrol sesama staf. semua karyawan sudah punya pengendalian dirinya terkait wilayah moral apa yang pantas atau tidak pantas.
  4. Jika ingin melakukan masuk pada wilayah moral maka seharusnya dibuat regulasi yang bisa diukur, sehingga jatuhnya tidak subjektif, misalnya dia merasa bahwa ada staf yang pada jam kerja mengerjakan kepentingan pribadi namun di jam kantor mengajukan over time maka seharusnya jika ingin mengukur hal tersebut, ada regulasi bahwa staf harus melaporkan apa yang dikerjakan pada jam kerja.
Main Game

Tidak, saya tidak sedang mengerdilkan seseorang yang ingin menjadikan wilayah moral sebagai alat kontrol di kantor namun menurut saya bahwa lebih bijak jika pegangan kita dalam melakukan kontrol adalah regulasi yang bisa ditakar dan bisa dipertanggungjawabkan secara tertulis. di regulasi dijelaskan apa yang harus dikerjakan dan sanksi apa yang diberikan jika tidak dikerjakan bukan memvonis niat seseorang dengan nilai yang sangat subjektif.

Persoalan moralitas seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing dan dijadikan kontrol bagi di sendiri.

Dunia pekerjaan adalah dunia tempat manusia yang sudah mempunyai kehendak bebas dan tidak sudi diperlakukan seperti manusia yang baru belajar nilai. saya yakin bahwa setiap orang di dunia kerja membawa nilai diri masing-masing dan tidak perlu dipersinggungkan dengan nilai orang lain.

Self reminder agar lebih bijak dalam menegur seseorang.
24 September 2019

July 20, 2019

Tentang Batasan

Saya mulai membiasakan diri untuk selalu berada di dalam garis, dalam bidang apapun itu namun saya selalu menarik garis sebagai batasan untuk setiap apa yang boleh atau tidak bileh saya lakukan bahkan untuk hal-hal yang remeh sekalipun. misalnya dalam hal makan. sejak dua bulan belakang, saya membatasi diri untuk menyantap makanan yang mungkin sebelumnya menjadi kegemaranku bahkan saya selalu berusaha menakar perut saya untuk urusan makanan. isteri saya terkadang mengingatkan untuk makan namun selalu saya timpali bahwa ukuran makan ada di perutku dan batasannya pun sudah saya gariskan. ini bukan perkara diet sekedar untuk menurunkan berat badan namun lebih dari hal itu bahwa batasan itu saya coba diterapkan dari hadist:.

"Cukuplah bagi bani Adam makanan yang dapat menegakkan tulang rusuknya kalau tidak boleh tidak (harus memenuhi perutnya) hendaklah 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk nafasnya"

Bukan sebuah kebanggaan namun di beberapa doa yang kulafalkan, saya sering menyelipkan permintaan agar Allah swt menjaga saya, anak isteri dan keluarga lainnya dari makanan yang subhat dan haram. agak klise karena sering memang karena sudah sangat sering kita mendengar ceramah tentang makanan yang haram akan merusak sendi kehidupan namun saya sangat percaya akan hal tersebut. makanan adalah salah sebagian faktor dan pertumbuhan fisik dan batiniah manusia sehingga makanan menjadi elemen penting untuk diperhatikan.

Pekerjaan sebagai karyawan swasta membuat saya harus ekstra hati-hati untuk memilah mana menjadi hak saya dan yang bukan hak apatahlagi saya sebagai Auditor yang saban bulan harus melakukan perjalanan dinas dengan sistem reimbursment. sebelum berangkat, saya dibekali uang kas sebagai bon yang dipergunakan selama perjalanan sampai selesai tugas dengan batasan yang sudah diatur di regulasi. 

Beberapa hal yang mungkin sebisa mungkin saya hindari dari penggunaan bon tersebut misalnya belanja makanan ringan termasuk kopi kemasan dalam jumlah banyak dengan niat setelah selesai audit, kopi atau jajanan lain masih tersisa dan dibawa pulang. menyelipkan biaya yang seharusnya tidak diperbolehkan seperti laundering. membeli oleh-oleh menggunakan bon. uang dinas yang dilebihkan dari yang seharusnya dan sederet hal remeh teme yang sering luput dari pengamatan.

Selain yang tersebut di atas, saya juga menakar diri tentang uang over time. sejatinya saya bisa dengan leluasa menambah penghasilan dari over time namun kesadaran diri terkadang membuat saya harus menakar kembali bahwa sejauh mana tanggung jawab moral terhadap isteri dan anak yang harus saya nafkahi. apakah memang benar bahwa over time adalah sebuah kebutuhan atau sudah menjadi kebutuhan demi tambahan penghasilan. kembali lagi bahwa seharusnya saya bisa merevisi apa yang saya lakukan di kantor sebagai sebuah karya. jika tujuannya adalah karya maka akan saya jalani namun jika tujuan utama adalah uang maka saya harus berani untuk bersikap, siapapun yang akan menjadi benturan saya.

Saat ini yang menjadi soal bagaimana mengekspresikan itu semua untuk menghindari stigma dari teman sejawat bahkan dari Supervisor sendiri yang nampaknya terkadang mengamini hal seperti itu dengan pengalaman yang sudah saya alami. celakanya, saya menjadi korban cerita dari ketidakhati-hatian tersebut sehingga mengganggu komitmen saya untuk menjaga integritas. hal yang saya agung-agungkan dalam memulai pekerjaan sebagai karyawan.

semoga diberikan jalan terbaik menurut Sang Pemberi Solusi.

20 Juli 2019. 09.56 WIB

September 7, 2018

Semakin Menua

Tepat hari ini, berkali lipat tahun yang lalu, saya dihadirkan ke dunia ini tanpa kesadaranku secara kalkulasi manusia. Tuhan memilihku menjadi salah satu penghuni bumi sampai pada detik ini. 

Di saat manusia lain sudah menemukan misinya dihadirkan sebagai manusia, saya masih bingung sampai sekarang, apa sebenarnya tujuan Tuhan mengirimku ke dunia ini dalam wujud manusia. jika banyak orang dengan klise mengatakan bahwa jadilah manusia dan berbuat baiklah namun menurutku tidak berhenti sampai di situ. ada hal lain kenapa setiap orang dihadirkan. saya yakin semua punya misi khusus dan itu yang sampai sekarnag belum kutemukan.

"ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِÙ†ْسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
“Dan, AKu tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku.” [Adz-Dzariat/51 : 56]"
Ayat di atas menurutku misi umum bagi semua manusia, namun pribadi masing-masing punya kekhasan dan itu yang harus digali, sialnya saya yang sudah hidup hampir dua kali lipat usia Nabi Muhammad Saw belum menemukan apa sebenarnya keunikan atau potensi yang diselipkan Tuhan dalam diriku yang bermanfaat bagi orang lain. 

Umur yang semakin menua, saya masih berada pada pergulatan pekerjaan yang tidak sesuai dengan prinsip namun tetap bertahan karena kebutuhan. oh mengerikan memang namun pada puncak kegelisahan pun belum ada jalan keluar sampai pada detik ini. perasaan paling bersalah apalagi yang melebih rasa bersalah terhadap penghianatan kata hati. kita bergulat dengan rasa bersalah setiap saat namun tidak kuasa mengikuti kata hati, hanya mengeluh tanpa berada bertindak.

Saya kembali berikrar kepada nuraniku bahwa tahun ini terakhir berada di pekerjaan yang tidak sejalan dengan prinsipku, kekuatan hati dan doa-doa yang mengalir deras dari lisanku senantiasa membangkitkan harapanku bahwa Tuhan sang Pemilik semesta akan berkenan mengamini doaku karena sekeras apapun usaha dan tekad jika Sang Maha belum berkenan maka tidak ada yang bisa mengubah apapun. saya sudah mengalami banyak hal yang menurutku memang tidak bisa diganggu gugat terkait kejadian-kejadian yang tidak disangka.

paling tidak kita hanya bisa berdoa yang terbaik dengan meenyerahkan keputusan yang terbaik menurut-Nya. "jika memang impian ini terbaik untuk diri dan keluarga, dunia dan akhirat maka ridhailah karena yang tahu segalanya adalah Engkau Ya Tuhanku." mungkin seperti itu redaksi yang lebih baik dibandingkan dengan redaksi meminta untuk diluluskan dengan nada yang menggebu.

Tahun ini, saya punya impian keluar dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan hati. saya berencana dan berusaha mendaftar di instansi yang menurutku lebih aman. ironinya lagi bahwa ini yang kesekian kalinya saya mencoba. saya tidak tahu di tempat mana saya terdampar namun saya akan berusaha dan berdoa kemudian menyerahkan segala keputusan kepada Tuhanku dengan mengandalkan intervensi doa. saya yakin Tuhanku akan selalu mengiringi jalanku dan menunaikan impianku. 

Ibuku, ibu dari anakku dan Ibu dari ibu anakku akan bahagia ketika impian ini terwujud. mereka adalah kebahagianku.

sampai jumpa di akhir tahun ini. semoga Tuhanku menunjukkan kuasanya kepadaku dan mengamini doa-doaku untuk impianku dengan keridhaanNya.

7 9 18

August 5, 2018

Rezeki

"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah SWT niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka. (QS. Ath Tholaq: 2-3)"

Sungguh sangat sulit menjelaskan seperti apa itu rezeki dan bagaimana dia mendatangi kita. Penjelasan yang paling lazim hanya seputar bahwa jika kita bekerja maka kita akan mendapatkan hasil sesuai yang diusahakan. Hanya sebatas pada penjelasan lurus seperti itu meski tanpa disadari, ada beberapa orang yang tidak terlalu bekerja keras namun hasilnya maksimal. Lebih dari yang mereka harapkan sedangkan di sisi lain, ada orang yang sudah sekeras baja mengusahakan sesuatu namun hasilnya nihil. "mungkin" seperti itulah "cara kerja Allah" memberikan rezeki kepada hambaNya karena sesungguhnya ada faktor x dibalik kemurahan Allah atas karunia kepada Makhluknya.

Ini bukan cerita yang menyanjung diri namun sekedar renungan untuk merekonstruksi kembali pemahaman tentang rezeki. Sebuah sebab yang sama sekali masuk dalam kalkulasi manusia tetapi pada kenyataannya, hal tersebut terjadi namun bukan berarti bahwa yang diusahakan dan didoakan tidak akan terwujud. Semua tergantung kepada Allah apakah Dia akan merealisasikan atau menunda dan mengganti dengan yang lain.

Dua bulan lalu, mimpi membeli rumah masih sekedar angan-angan.belum ada usaha untuk mewujudkan mimpi tersebut karena menganggap masih mustahil adanya. tabungan belum seberapa sedangkan harga rumah di kota ini minta ampun harganya. setelah lebaran, mulai terbersit untuk lebih serius mencari rumah murah namun layak untuk ditempati bersama keluarga.

Tiga minggu terakhir, saya memberanikan diri mencari rumah di sekitar Jak-sel dan daerah Depok setelah berhitung dengan dana maksimal yang bisa dikeluarkan. beberapa rumah sangat ideal namun tidak terjangkau. Ada yang terjangkau namun jarak terlalu jauh. Ada yang terjangkau, jarak dekat namun rumahnya tidak layak. 

Tiga minggu kemudian, kami dipertemukan dengan rumah sederhana di daerah Kebagusan. Rumah second namun sangat terawat dengan baik. Harga yang ditawarkan pun masih terjangkau meski akses masuk tidak bisa dilalui mobil namun setidaknya prioritas saat ini adalah rumah yang berjarak dekat dari kantor.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami memutuskan membeli rumah tersebut meski sebagian dari dana dipinjam dari bank yang harus dilunasi dalam sepuluh tahun. Hal tersebut sedikit menjadi beban namun pertimbangan yang lebih jauh lagi bahwa jika tidak memberanikan diri maka akan semakin sulit merealisasikan impian mempunyai rumah. Saat ini masih dalam proses transaksi, semoga berjalan sesuai dengan harapan tanpa ada rintangan yang berarti.

Hal yang ingin kuceritakan bukan impian yang terwujud namun proses bagaimana kami menjalaninya. Proses yang sangat cepat hanya sekitar satu bulan sedangkan ada beberapa orang yang bertahun-tahun mencari rumah sebelum menemukan yang sesuai dengan keinginan.

Mungkin seperti teori cocoklogi namun saya pikir ada benang merah dengan kejadian beberapa waktu lalu yang kami alami di rumah kontrakan. Setahun di rumah kontrakan, kloset mampet sehingga tidak bisa digunakan. Kami memanggil jasa penyedot tinja karena berpikir pasti tampungan kotoran penuh. Setelah jasa penyedot datang, kami mencari septic tank yang ternyata tidak ada. Akhirnya kami minta maaf kepada karyawan jasa penyedot tinja dan memberinya tip sebagai pengganti bensin. Kemudian kami berinisatif membiayai pembuatan septic tank dengan harapan, sang empunya kontrakan mengganti biayanya.

Di luar dugaan, setelah proses pengerjaan septic tank selesai, pemilik kontrakan tidak mau mengganti penuh biaya dengan berbagai alasan. Dia hanya mengganti sepertiga dari seluruh biaya. sejak saat itu, kami berdoa semoga tahun ini terakhir mengontrak di rumah ini dan mencari rumah kontrakan baru. masalah lain muncul ketika mesin air bermasalah dan dia pun tidak bersedia bertanggung jawab sedangkan seharusnya, kerusakan inventaris yang bukan merupakan sebab dari yang mengontrak, seharusnya menjadi tanggung jawab pemilik.

Kami mengikhlaskan hal tersebut sementara terus berdoa semoga bisa mendapat kontrakan yang lebih layak. namun Tuhan memberikan sesuatu yang lebih baik. Dia membuka jalan membeli rumah untuk segera pindah dari kontrakan ini. prosesnya sementara berjalan tinggal menunggu proses di Notaris.

Demikianlah Allah bekerja dengan tak terduga. manusia hanya berusaha memastikan kaki, tangan, hati dan semua gerak geriknya melakukan hal-hal baik. Meskipun sebagian dana untuk membeli rumah berasal dari pinjaman bank yang masih menjadi perdebatan namun setidaknya, saya sudah berkonsultasi dengan salah seorang ustadz yang kuanggap kapabel dan memahami hukum Islam.

4 august 18

August 15, 2017

Tentang Materi dan Ibu Kota

Tidak sedang berusaha menafikan kebutuhan akan uang dan tidak mendiskreditkan orang di Kota ini namun apa yang kualami akhir pekan lalu sedikit membuka mataku akan relasi hubungan orang-orang dan kalkulasi materi di Ibu Kota serta semoga tidak mengeneralisir.

Akhir pekan kemarin, toilet di rumah kontrakan mampet. Setelah ditelusuri ternyata rumah kontrakan yang sedang kami tempati tidak mempunyai septic tank alhasil karena yang empunya kontrakan tinggal di daerah Kemayoran dan beberapa kali dihubungi tidak terkoneksi maka Kami memutuskan untuk membuat Septic Tank.

di sini Saya tidak hendak bercerita tentang tetek bengek masalah toilet yang mampet ataupun bagaimana ribetnya membuat septic tank namun ada beberapa bagian yang ingin Saya ceritakan. 

Septic tank yang dalamnya 1,5 meter harus digali dan menjadi masalah di mana harus dibuang tanah galian yang banyaknya sekitar 20-30 gerobak. ternyata di Kota yang sumpek ini, semua harus dikalkulasi dengan uang. kami harus membayar 100 ribu untuk menumpuk tanah galian di sebuah kebun kecil yang ditumbuhi pohon pisang. jika dirasionalisasikan maka seharusnya yang punya kebun sudah mendapatkan keuntungan dari tanah hasil galian karena mengandung pupuk dan berguna untuk tanaman pisangnya namun karena butuh, maka suka tidak suka harus dibayar.

tidak berhenti sampai di situ. sesaat setelah membeli pasir dan batako, kami kesulitan menurunkannya di depan rumah karena jalanan di depan rumah tidak bisa dilewati mobil. pasir dan batako tersebut harus diturunkan di depan rumah salah seorang tetangga yang berjarak sekitar 40 meter dari rumah kami. tidak ada yang aneh karena kami sudah minta izin namun kejanggalan memenuhi benakku ketika mengetahui bahwa untuk sekedar numpang menurunkan pasir dan batako tersebut, kami harus membayar 30 ribu kepada pemilik rumah padahal hanya sekedar diturunkan kemudian diangkut dengan gerobak.

Mungkin tidak jadi soal jika tukang yang mengerjakan septic tank tidak kenal dengan sang pemilik rumah namun pada kenyataannya, mereka sangat akrab.

Setiap kali menumpang untuk sekedar menurunkan pasir dan Batako, kami harus membayar 30 ribu karena esok hari ketika membeli kekurangan pasir, kami harus membayar lagi.

Sebenarnya ini bukan tentang nilai uang atau kalkulasi untung rugi namun lebih pada sebuah interaksi sosial di dalam Masyarakat yang benar-benar harus diukur dengan uang.

Saya tidak sedang menghakimi relasi sosial seperti itu karena mungkin sudah menjadi tradisi di Kota ini namun perlu Saya tegaskan bahwa hal seperti di atas sering kutemui di kota ini dalam bentuk yang lain, semua diukur dengan uang. Amat sangat sulit menemukan relasi sosial yang berdasar atas rasa saling tolong menolong.

15 8 17

August 14, 2017

Menakar Diri

Hal yang paling menakutkan dalam perjalanan hidup adalah momen di mana diri terjerembab dalam masa futur. klise untuk mengatakan hal tersebut manusiawi namun beranjak dari kefuturan sangat berat apatahlagi berhubungan dengan hal duniawi.

apalagi yang lebih mengerikan dari diri yang sedang berjalan jauh di luar koridor. menabrak semua tabu yang merusak hati dan mengamini tingkah yang menghitamkan jejak. itu sedang terjadi dan membuat diriku tidak sanggup melakukan perbaikan. kata-kata sudah meluncur dari lidah dan mustahil dipungut kembali.

Saya selalu berandai-andai tentang semua momen yang silih berganti datang menghampiri. berandai akan keindahan dan semua urusan yang dipermudah namun pada kenyataannya, hal tersebut jauh dari harapan. selalu ada kerikil yang menjegal. Saya mengukur diri mengenai unsur-unsur makanan yang masuk ke dalam diri, mungkin dominan unsur haram yang menjelma menjadi butir-butir makanan dan melebur dalam aliran darah.

dua minggu terakhir, Saya diperhadapkan dengan masalah yang menurutku sangat duniawi namun Saya gagal melewatinya. reaksi terhadap masalah terlalu berlebihan. Saya terlalu menggunakan rasionalisasi pikiran yang seringkali tidak seperti yang dipikirkan. 


kalkulasi material tentang hidup terlalu mendominasi pikiran yang membuat perasaan merasa was-was atau bahkan insecure di masa datang padahal kenyataannya semua akan berjalan baik-baik saja. Saya sudah berada pada beberapa momen yang menguatkanku bahwa tidak semua mesti dikalkulasi dengan pikiran karena sejatinya, tangan Tuhan bekerja melebihi apa yang kita pikirkan.

Langkah berikutnya, Saya harus menguatkan diri untuk kembali ke jalur yang seharusnya. menjalani hidup dengan mengurangi cara berpikir yang licik dan mengikuti cara kerja Tuhan. tidak mudah memang untuk kembali menstabilkan hati namun hal tersebut adalah sebuah keharusan, tidak ada tawar menawar.

14 8 17

July 14, 2017

Mulai Kembali

ada banyak hal yang harus saya evaluasi dari semua ucapan maupun tingkah laku. hal ini terkait dengan posisi sebagai auditor di Kantor. bukan untuk menjaga image namun lebih pada usaha untuk bekerja profesional. Saya seharusnya sudah bisa memisahkan antara interaksi dalam lingkup pertemanan dengan kerja-kerja kantor, meski sebenarnya untuk setiap bagian di Kantor pun seharusnya seperti itu.
belajar profesional tidak harus melulu menjadi orang yang sok serius maupun jaim terhadap teman sendiri ataupun orang lain. belajar bekerja profesional lebih pada aspek sadar ruang dan posisi. tidak semua hal harus diungkapkan. porsi dalam setiap hal sudah ditakar masing-masing sesuai ukurannnya.
hal lain yang seharusnya menjadi evaluasi untuk diriku lebih pada pemetaan terhadap setiap masalah yang harus dibicarakan dengan orang lain. setiap porsi kerja yang memang harus dirahasiakan jangan sampai menjadi candaan.

Saya beberapa kali gagal menuntaskan banyak hal karena ketidaktekunan maupun tidak serius dalam mengerjakan hal-hal kecil. pembentukan karakter mungkin menjadi salah satu penyebab dari kegagalan yang Saya alami.

penekanan seperti ini bukan untuk mengubah kepribadian bukan pula untuk gaya-gayaan tetapi lebih pada apa yang sudah menjadi komitmen dan mencoba untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus meng upgrade kemampuan.

entahlah, berikutnya hanya dibutuhkan komitmen dan kerja keras untuk mewujudkan setiap yang sudah direncanakan di pikiran bukan hanya membeku kemudian menguap entah kemana yang selanjutnya hanya menjadi cita-cita basi.

saya terlalu sering seperti itu. merangkai hal-hal idealis dalam pikiran namun kemudian menguap seperti air yang dimasak tanpa bersisa sedikit pun. namun setidaknya kali ini saya akan memulai lagi hal-hal baik yang menurutku sudah terlalu lama terlupakan.

draft tulisan yang terlalu lama mengendap dipublish kembali
14 7 17

Mudik

Merantau adalah satu satunya cara untuk merasakan euforia mudik. setiap kali momen tersebut tiba, aroma wewangian tanah leluhur sudah menyerbak bahkan seminggu sebelum pulang. pikiran berangkat sebelum raga menyusul. tidak ada lagi rasa yang tertinggal di kota ini.

mudik kali ini mungkin terasa lebih spesial karena saya sudah mempunyai putra. ada semacam rasa senang membawa putra saya menyusuri kampung halaman apatahlagi kali ini adalah mudik pertama baginya. Ramadhan 1437 H tahun lalu adalah momen kehadirannya di dunia dan itu terjadi di kampung halaman ibunya.

hari rabu dinihari 22 Juni 2017 sekira pukul 02:00 WIB. kami sudah siap ke Bandara. sedikit merasa bersalah juga sudah membangunkan anakku di jam yang seharusnya dia menikmati tidurnya dengan pulas namun mengingat pesawat yang akan membawa kami ke Sulawesi akan take off pukul 05:00 WIB maka kami harus siap sedari awal.

kami tidak mengalami hambatan yang berarti di perjalanan bahkan putraku tidak rewel di dalam pesawat sampai pada akhirnya kami tiba di bandara Hasanuddin pukul 08:30 WITA. kami harus bersabar karena jarak dari bandara ke kampung masih memakan waktu sekitar 6-8 jam. untungnya kali ini, kami tidak perlu bersusah payah ke terminal menunggu mobil sewaan karena kakakku berbaik hati menjemput kami di bandara.

perjalanan ke kampung benar-benar menguras tenaga ditambah lagi dengan cuaca yang lumayan panas. kami baru tiba di kampung pukul 19:00 WIB karena mampir di 2 titik dalam perjalanan. pertama mampir di daerah Bojo istirahat sekaligus shalat kemudian mampir di Pare-Pare membeli oleh-oleh.

menginjakkan kaki di rumah setelah sekian lama meninggalkannya selalu mengharu biru apatahlagi disambut oleh wajah sendu seorang wanita yang mulai menua yang selalu merapalkan doa-doa terbaiknya untukku selama di perantauan. saya selalu yakin bahwa kiriman doanya untukku selama di tanah rantau yang membuat jiwa dan ragaku masih terjaga dari cobaan yang dahsyat, tanpa doa tulusnya yang dipanjatkan ke Pemilik Semesta setiap selesai sujud, mungkin saya sudah sering salah langkah.

Saya selalu menikmati wajahnya yang mematung di pintu setiap kali beliau tahu saya mudik. tidak banyak kata yang terucap dari mulutnya pertama kali melihatku, hanya senyum tipis yang menghiasi wajahnya namun itu lebih dari semua apa yang kuinginkan. senyumnya sudah cukup meruntuhkan segala penat yang kubawa dari tanah rantau. saya menyayangi wanita yang rambutnya sudah didominasi warna putih. saya menyayanginya dengan sepenuh hatiku.

hari-hari di kampung berjalanan seperti biasanya. 10 hari di kampung hanya terasa seperti 3 hari. Saya tidak terlalu banyak mengeksplorasi setiap sudut kampung halaman karena putra saya terlalu rewel bahkan dia tidak mau digendong oleh orang lain.

Dua hari menjelang arus balik, saya selalu merasakan hal-hal yang tidak mengenakkan. kembali harus meninggalkan bau rumah, aroma masakan ibu dan setiap kemesraan bersama handai tauladan. saya harus kembali ke ibu kota yang benar-benar memekakkan telingaku. arus kehidupan ibu kota sepertinya sudah menggerus begitu banyak sisi manusiaku sampai rasanya saya berjalan seperti robot yang mengikuti alunan kehidupan yang terlalu cepat dan keras.

momen arus balik tiba dan saya kembali mencium setiap sudut wajah Ibu. aroma badannya kubiarkan menempel abadi di tubuhku dan kujadikan sebagai penyicil rindu saat saya di tanah rantau karena kusadari betul bahwa rindu untuknya kembali hadir bahkan sebelum mobil meninggalkan batas kampung.

arus balik lebih menguras tenaga daripada saat mudik. saya dan keluarga menderita flu bahkan putra saya beberapa kali menangis di dalam Pesawat saat perjalanan pulang. meski begitu, tidak mengurangi kesyukuran saya untuk mudik kali ini.

semoga Ibu dan Bapak serta handai tauladan sehat selalu di kampung halaman. saya akan mengunjungi mereka minimal sekali setahun.

Catatan Mudik
minggu ke-2 Syawal

April 18, 2017

Membincang Kembali Dampak Teknologi

Kemajuan teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. ruang dan waktu sudah menjadi wacana yang usang. sepertinya ruang dan waktu hanya ilusi dalam tataran komunikasi di era seperti sekarang. semua serba modern dan ternafikan dengan kemajuan teknologi. kendala apa lagi yang harus dikeluhkan atas setiap hal yang serba ada dan serba bisa seperti sekarang.

memutar kembali diskursus yang lampau ternyata semakin menguatkan pada kenyataan sekarang, bahwa teknologi bisa mendekatkan orang dengan jarak bermil-mil baik via suara, video atau segala fitur-fitur yang disiapkan oleh kecanggihan teknologi namun di sisi yang lain, teknologi pun seakan melebarkan jarak antar mereka yang hanya berada beberapa jengkal namun komunikasi lewat handphone, benar-benar ironi. interaksi antar sesama hanya sebatas chat maupun telepon. itulah mengapa kita sering melihat gerembolan zombie di setiap tempat, mereka menunduk sembari memandang layar handpone tanpa mengerti dan peduli apa yang terjadi di sekitarnya.

Betapa absurnya mereka yang duduk di taman, berjalan bersama handai tauladan, menghabiskan makan malam dengan keluarga di rumah namun tangan tidak lepas dari tombol hp dan mata tidak sekalipun luput memandangi layar hp yang entah apa daya tarik dari benda kecil tersebut yang dengan jelas telah merenggut kemanusiaan kita.

setiap kali berkunjung ke Swalayan atau gerai HP maka kenyataan yang kita temui adalah orang bejibun mengantri di setiap stand handphone. setiap hari, penjualan hp tidak pernah sepi dan sebenarnya, fungsinya sudah menggantikan fungsi manusia itu sendiri. mereka atau sesungguhnya kita semua mencurahkan waktu dan tenaga bekerja berjam-jam kemudian melempar hasil keringat di setiap gerai hp. betapa mengerikan.

mereka bekerja untuk membeli barang yang menjadi simbol bahwa mereka bisa survive di tengah manusia-manusia "modern."

pada suatu titik, manusia akan merasa hampa dengan setiap apa tersedia secara instan. seharusnya kemudahan dalam mengakses segala hal tentunya berbanding lurus dengan kualitas diri namun pada kenyataan tidak. kita muda mengakses informasi, mengetahui banyak hal namun tidak mendalam. seringkali hanya mengambil sedikit manfaat untuk dijadikan bahan debat supaya terlihat cerdas. 

kenyataan lain mungkin tentang janji. bagaimana generasi pra milenium mampu menepati janji dengan baik tanpa komunikasi via telepon dibandingkan generasi sekarang yang selalu keteteran mengatur waktu. jalinan silaturrahim generasi sebelumnya selalu terjalin dengan erat namun manusia sekarang tidak mampu menjaga silaturrahim dengan baik karena tergadaikan dengan barang-barang teknologi. mereka seakan tidak bisa jauh dari benda kecil.
ada guyonan yang entah dimana saya baca. "seberapa lama kita bisa hidup tanpa paket internet?"

18 4 17

April 17, 2017

Mengikuti Tahlilan tanpa ikut Makan

Beberapa waktu yang lalu, tetangga sebelah rumah meninggal. seorang Ibu paruh baya dengan tiga orang anak namun sampai ajal menjemput, dia hanya berdua dengan anak sulungnya. dua anak perempuannya sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing. 

Si Ibu sudah lama menderita penyakit darah tinggi dan gula. setiap harinya hanya dihabiskan di rumah dan bercengkerama dengan para tetangga.

pagi hari menjelang kematiannya, dia tidak menampakkan sesuatu yang menjadi firasat. dia masih bercengkerama dengan mertua saya dan duduk di gang depan rumah. dia hanya bercerita bahwa anaknya yang sudah menikah selalu menolak jika diajak menginap di rumahnya sedangkan si Ibu ingin bercengkerama dengan cucunya yang belum genap berumur setahun.

mendekati ajalnya, si Ibu diajak bepergian oleh anaknya namun di tengah perjalanan, si Ibu kejang dan langsung dilarikan ke rumah sakit. selang beberapa jam kemudian, ajal sudah menjemputnya.

sudah menjadi tradisi di kalangan mayoritas orang Jawa bahwa ketika meninggal dunia, maka akan diadakan tahlilal selama tujuh hari berturut-turut kemudian 40 hari, 100 hari dan seterusnya. saya yang tumbuh dan besar di kalangan Muhammadiyah sudah tidak melakukan tradisi seperti itu bahkan terkadang hanya tahlilan 3 hari setelah kematian itupun sangat tidak dianjurkan untuk memotong hewan ternak untuk dihidangkan pagi para tetangga yang ikut tahlilan, paling mewah hanya kue.

pada dasarnya, saya suka ikut tahlilan. melantunkan shalawat nabi dan kalimatullah secara berjamaah bahkan seringkali saya larut dalam rasa yang haru ketika lantunan kalimatullah menggema dan merasuki sanubari namun di sisi lain, saya sebisa mungkin menolak dengan cara halus untuk tidak makann daging yang dihidangkan.

pada saat tahlilan tetangga, saya selalu memilih tempat di dekat pintu sehingga memungkinkan saya  untuk pamit lebih dulu setelah doa sebelum makanan dihindangkan. itu cara yang menurutku paling aman saya lakukan. saya bisa ikut tahlilan namun tidak ikut makan daging yang dihidangkan.

semoga sikap yang saya tempuh tidak salah.

April 17

March 29, 2017

Pulang Kampung

Pulang kampung ibarat melampiaskan rindu yang menggumpal. Mengisi energi positif yang terkuras habis atas bias kehidupan kota bahkan memastikan semua keluarga terkasih dalam baik-baik saja di kampung halaman yang sudah tertinggal jauh. menahan sesak memandangi memori masa lalu dan menghirup udara yang telah membesarkan raga.
saya berkesempatan pulang kampung di minggu-minggu yang sibuk atas rutinitas di kantor. perjalanan dinas ke salah satu daerah di Sulawesi menjadi peluang bagiku untuk pulang kampung mengingat setiap pesawat yang terbang dari Ibukota ke tempat dinasku harus transit di Makassar.

2 hari di kampung sudah lumayan mengisi energi rindu.saya tiba di kampung sabtu pagi dinihari. tidak ada yang terlalu berubah begitu mencolok dari kampung yang kutinggalkan 5 tahun lalu. jalanan yang masih sama dan bangunan yang tidak terlalu banyak bertambah.

satu hal yang membuatku meringis ketika melihat gunung di sekeliling kampungku sebagian besar terlihat gundul. beberapa tahun terakhir, mayoritas penduduk di kampungku semakin bersemangat membuka lahan baru untuk ditanami bawang bahkan bukit yang dulunya ditumbuhi pepohonan pun dibabat dan disulap sebagai lahan perkebunan bawang.

tidak, sama sekali tidak ada rasa iri melihat gairah penduduk kampung yang semakin giat bekerja di kebun bahkan sebaliknya, saya bergembira atas fenomena tersebut mengingat mata pencaharian di kampungku adalah bertani. namun menurutku beberapa dari mereka kebablasan dan terlalu bersemangat membuka lahan baru untuk perkebunan bawang merah. bayangkan saja sampai di puncak gunung pun, sudah tidak terlihat hijaunya pepohonan dan berganti dengan tanaman bawang merah.

dampak dari pembukaan lahan besar-besaran terlihat ketika kita melewati jalanan yang menjulur sepanjang kaki gunung. aspal penuh dengan lumpur yang berasal dari tetesan sisa hasil siraman dari perkebunan bawang merah bahkan sungai yang dulunya jernih terlihat seperti susu cokelat di musim hujan. salah satu kampung dilanda banjir bandang padahal sejak dari dulu, tidak pernah ada sejarah banjir bandang terjadi di sana.

hasil dari bawang merah yang menggiurkan benar-benar membuat gelap mata beberapa mereka. bahkan salah satu cerita ada seorang petani yang mendapat keuntungan sampai 1 miliar dari hasil penjualan bawang merah.

dari banyaknya cerita keberhasilan petani bawang, juga terselip kisah pilu. salah satu musuh terbesar bagi petani bawang adalah ulat. untuk menanggulanginya, maka para Petani mengandalkan racun ulat yang dicampur dari 5 jenis racun ulat yang berbeda. dalam sehari, paling tidak petani melakukan sekali penyemprotan. salah satu cerita yang kudengar ada seorang petani yang mati sesaat setelah makan roti sehabis menyemprot ulat. diduga bahwa racun tersebut mencemari roti yang dimakannya.

berita kematian petani akibat terpapar racun ulat sudah beberapa kali terjadi bahkan setidaknya ketika kita tidak memakai masker dan berada beberapa meter dari orang yang sedang menyemprot ulat maka  seringkali kita akan mengalami gejala mual bahkan muntah.

saya membayangkan beberapa tahun ke depan, ketika tidak ada pertimbangan rasional dalam pembukaan lahan bawang merah maka kemungkinan akan terjadi bencana yang tidak diinginkan. meski sama sekali saya tidak mengharapkan hal tersebut terjadi.

29 03 17

February 6, 2017

Berhati-hati dalam menilai

Suatu hari ketika seseorang memuji kawannya dalam persaksian sebagai orang baik, ‘ Umar bin Khattab bertanya padanya,

Apakah engkau pernah memiliki hubungan dagang atau hutang piutang dengannya, sehingga engkau mengetahui sifat jujur dan amanahnya ?”
” Belum,” jawabnya ragu.
Pernahkah engkau,” cecar Umar, ” Berselisih perkara dan bertengkar hebat dengannya sehingga tahu bahwa dia tidak fajir dalam berbantahan ?”
” Ehm, juga belum…”
Pernahkah engkau bepergian dengannya selama 10 hari sehingga telah habis kesabarannya untuk berpura-pura lalu kamu mengenali watak-watak aslinya ?”
” Itu juga belum. “
Kalau begitu pergilah kau, hai hamba Allah. Demi Allah kau sama sekali tidak mengenalnya
mudahnya kita menghakimi seseorang, mencaci dan mengumpat serasa sudah kenal dari semua sisi padahal mungkin saja hanya berselisih pendapat. kita harus membedakan antara mengkritisi pikiran seseorang dan menghakimi.

saya selalu berpatokan pada keyakinan bahwa apa yang telah kupelajari dan menjadi landasan pengetahuanku mungkin saja salah dan tidak selalu benar.

keyakinan seperti ini penting dalam menilai pendapat seseorang karena amat sulit mengamini pendapat seseorang yang bertentangan dengan pendapat pribadi. pada akhirnya saya bersepakat bahwa kebenaran mutlak tidak ada pada diri manusia. kebenaran tersebut hanya berada dalam kekuasaan Tuhan.

kasus menyalahkan orang lain sedang merajalela di negeri ini. semua orang menunjuk hidung sendiri bahwa dialah yang paling benar sembari menihilkan pendapat orang lain. fenomena seperti ini berbahaya bagi kesehatan otak karena kita tidak berpikir lagi untuk belajar saat hati sudah berkeyakinan penuh bahwa kita mutlak benar.

wallahu alam bissawab.

Cipaku 6 2 17

November 25, 2016

Tetirah

Betapa sulitnya aku menemukan getaranMu Tuhan. betapa saya begitu hampa dalam setiap hari yang kujalani. rutinitas yang memuakkan yang menyerang jiwaku.

bangun dari tempat tidur, menunaikan dua rakaat sebisaku, mandi tanpa pernah merasakan hangatnya air kemudian menyusuri jalanan yang sesak di kota ini.

duduk di sebuah ruangan ber AC yang hampir pasti meremukkan semua tulang belulangku. memandangi layar dengan tatapan kosong kemudian menunggu mentari menjatuhkan dirinya pada senja, lalu berbalik arah pulang.

selalu berulang lima kali dalam seminggu.

kemudian setiap nafasku, setiap gerakku yang kutujukan untuk menemuiMu tetapi selalu gagal. jasadku ada dan bersujud berpuluh-puluh kali namun jiwaku entah kemana.

Aku ingin kembali bermesraan denganMu.

adakah langkahku yang keliru? adakah niatku yang tidak tertuju kepadamu atau mungkin adakah sari-sari makanan yang seharusnya masuk ke dalam aliran tubuhku? sehingga begitu sulitnya aku menangkap iramaMu.

sekali lagi, ingin kudekap setiap pesonaMu, setiap tanda yang Engkau curahkan kepadaku meski dengan cara apa, aku tak tahu.

aku ingin meneteskan air mata ini mengingat betapa Engkau begitu menyayangiku namun kusia-siakan semua kasihMu. aku terbenam dalam angan-angan palsu yang melenakan.

Tuhan, bantulah aku menjemput diriku membawa kembali ke arah yang lurus, hanya lurus kepadaMu, tidak kepada siapa-siapa.

ini diriku yang nampaknya telah jauh melangkah dariMu, namun langkahku tetap kuarahkan menuju hakekatMu.

25 11 16


September 26, 2016

Idul Adha

Entah sudah berapa kali aku melewatkan momen Idul Adha di kampung. Tidak lagi menyaksikan euforia masyarakat ketika menjelang pemotongan hewan qurban. masa yang dulu selalu meninggalkan kenangan yang tertawan di sudut hati.

Tahun lalu, Saya menikmati momen Idul Adha di kawasan Cibubur tepatnya di kota wisata. Rumah salah seorang kerabat isteri Saya. Tidak terlalu banyak hal yang membuatku harus mengingat momen Idul Adha tahun lalu. toh hanya mengikuti shalat Idul Adha kemudian kembali ke rumah dan berdiam diri di kamar.

Idul Adha kali ini kemungkinan akan kembali kuhabiskan di Ibu Kota. Saya tidak punya cukup waktu untuk mudik ke kampung halaman. Namun ada kesyukuran lain karena seminggu sebelum Idul Adha, Saya punya kesempatan pulang kampung bertepatan dengan tugas kantor di kota Provinsi.

Menelisik kembali momen Idul Adha membawaku menikmati masa kecil. Masa di mana begitu riangnya kami kumpulan bocah membantu para orang tua yang sedang sibuk di tempat pemotongan hewan qurban. Tugas kami biasanya mencuci daging qurban di sungai kemudian membagikan ke Masyarakat.

Hanya saja, di malam Idul Adha. Saya sedih melihat jagoan Saya yang meringkuk lenas karena demam. Dokter mengatakan bahwa dia diare akut.

Saya agak trauma setiap kali dia demam. Kenangan setahun silam dini hari sekitar jam 3 pagi, saat kami harus bergegas membawanya ke RSUD Pasar Minggu. Dia harus diopname selama 3 hari sebelum diizinkan pulang oleh Dokter.

Oh iya, doa-doa terbaik kupanjatkan di malam Idul Qurban, semoga kita semua bisa meneladani perjalanan tauhid Nabi Ibrahim dan ketaatan Nabi Ismail terhadap Tuhan dan orang tuanya.

Cilandak, 31 8 17
Saat takbir berkumandang sahut menyahut.