August 15, 2017

Tentang Materi dan Ibu Kota

Tidak sedang berusaha menafikan kebutuhan akan uang dan tidak mendiskreditkan orang di Kota ini namun apa yang kualami akhir pekan lalu sedikit membuka mataku akan relasi hubungan orang-orang dan kalkulasi materi di Ibu Kota serta semoga tidak mengeneralisir.

Akhir pekan kemarin, toilet di rumah kontrakan mampet. Setelah ditelusuri ternyata rumah kontrakan yang sedang kami tempati tidak mempunyai septic tank alhasil karena yang empunya kontrakan tinggal di daerah Kemayoran dan beberapa kali dihubungi tidak terkoneksi maka Kami memutuskan untuk membuat Septic Tank.

di sini Saya tidak hendak bercerita tentang tetek bengek masalah toilet yang mampet ataupun bagaimana ribetnya membuat septic tank namun ada beberapa bagian yang ingin Saya ceritakan. 

Septic tank yang dalamnya 1,5 meter harus digali dan menjadi masalah di mana harus dibuang tanah galian yang banyaknya sekitar 20-30 gerobak. ternyata di Kota yang sumpek ini, semua harus dikalkulasi dengan uang. kami harus membayar 100 ribu untuk menumpuk tanah galian di sebuah kebun kecil yang ditumbuhi pohon pisang. jika dirasionalisasikan maka seharusnya yang punya kebun sudah mendapatkan keuntungan dari tanah hasil galian karena mengandung pupuk dan berguna untuk tanaman pisangnya namun karena butuh, maka suka tidak suka harus dibayar.

tidak berhenti sampai di situ. sesaat setelah membeli pasir dan batako, kami kesulitan menurunkannya di depan rumah karena jalanan di depan rumah tidak bisa dilewati mobil. pasir dan batako tersebut harus diturunkan di depan rumah salah seorang tetangga yang berjarak sekitar 40 meter dari rumah kami. tidak ada yang aneh karena kami sudah minta izin namun kejanggalan memenuhi benakku ketika mengetahui bahwa untuk sekedar numpang menurunkan pasir dan batako tersebut, kami harus membayar 30 ribu kepada pemilik rumah padahal hanya sekedar diturunkan kemudian diangkut dengan gerobak.

Mungkin tidak jadi soal jika tukang yang mengerjakan septic tank tidak kenal dengan sang pemilik rumah namun pada kenyataannya, mereka sangat akrab.

Setiap kali menumpang untuk sekedar menurunkan pasir dan Batako, kami harus membayar 30 ribu karena esok hari ketika membeli kekurangan pasir, kami harus membayar lagi.

Sebenarnya ini bukan tentang nilai uang atau kalkulasi untung rugi namun lebih pada sebuah interaksi sosial di dalam Masyarakat yang benar-benar harus diukur dengan uang.

Saya tidak sedang menghakimi relasi sosial seperti itu karena mungkin sudah menjadi tradisi di Kota ini namun perlu Saya tegaskan bahwa hal seperti di atas sering kutemui di kota ini dalam bentuk yang lain, semua diukur dengan uang. Amat sangat sulit menemukan relasi sosial yang berdasar atas rasa saling tolong menolong.

15 8 17

No comments: