Idul Fitri 1442 H sudah berlalu dua hari yang lalu. idul fitri kedua yang sedikit kehilangan sensasinya karena masih dalam masa pandemi sehingga larangan mudik masih diberlakukan. tanpa mengurangi kesakralan Idul Fitri dalam hal nilai yang terkandung di dalamnya, namun dengan kondisi seperti saat ini, ada hal yang hilang dari tradisi Idul Fitri yang seringkali menjadi bagian penting yang ditunggu oleh para perantau, ya tradisi Mudik.
Jangan sepelekan mudik hanya sebagai bagian dari uforia perantau pulang ke kampung sebagai ajang memamerkan eksistensinya di tempat rantau bahwa mereka sukses, tidak sekedar itu. core dari mudik itu adalah bagaimana melepaskan serpihan rindu yang membuncah selama setahun, rindu pada keluarga, rindu rumah, rindu semerbak tanah kampung halaman saat hujan sore hari, rindu sungai di kampung dan segala kenangan masa kecil yang menyatu dalam jiwa seorang perantau.
absennya mudik di lebaran kali ini membuat saya merenung, apa yang harus saya perbaiki dalam momentum Idul Fitri kali ini?
jangan sampai momentun Idul Fitri 1442 H berlalu begitu saja tanpa ada perbaikan dari diri saya, minimal ada satu atau dua hal yang bisa saya ubah dari karakter saya selama ini.
setelah sekian lama merenungi diri ini, saya berada pada kesimpulan bahwa sebagian waktu saya habis di rumah dan kantor sehingga di kedua tempat itulah, harus diratapi kebiasaan buruk yang harus diperbaiki.
pertama mungkin kehidupan di kantor. ada dua hal yang akan saya ubah yaitu kebiasaan gibah yang membuat saya tidak nyaman dan terlalu over dalam bercanda. saya akan senantiasa mengingat ikrar saya ini di kantor jika keinginan bergibah menghampiri saya dan jika bercanda saya sudah melewati batas yang saya tolerir.
kedua di rumah. saya akan lebih hangat kepada keluarga saya di rumah, sedikit lebih sabar dan tidak menampakkan muka masam meskipun saya sedang ada masalah.
semoga ikrar saya di atas bisa saya jalankan minimal hari demi hari.
2 Syawal 1442 H
No comments:
Post a Comment