Suatu hari ketika seseorang memuji kawannya dalam persaksian sebagai orang baik, ‘ Umar bin Khattab bertanya padanya,
”Apakah engkau pernah memiliki hubungan dagang atau hutang piutang dengannya, sehingga engkau mengetahui sifat jujur dan amanahnya ?”
”Apakah engkau pernah memiliki hubungan dagang atau hutang piutang dengannya, sehingga engkau mengetahui sifat jujur dan amanahnya ?”
” Belum,” jawabnya ragu.
” Pernahkah engkau,” cecar Umar, ” Berselisih perkara dan bertengkar hebat dengannya sehingga tahu bahwa dia tidak fajir dalam berbantahan ?”
” Ehm, juga belum…”
” Pernahkah engkau bepergian dengannya selama 10 hari sehingga telah habis kesabarannya untuk berpura-pura lalu kamu mengenali watak-watak aslinya ?”
” Itu juga belum. “
“ Kalau begitu pergilah kau, hai hamba Allah. Demi Allah kau sama sekali tidak mengenalnya”
mudahnya kita menghakimi seseorang, mencaci dan mengumpat serasa sudah kenal dari semua sisi padahal mungkin saja hanya berselisih pendapat. kita harus membedakan antara mengkritisi pikiran seseorang dan menghakimi.
saya selalu berpatokan pada keyakinan bahwa apa yang telah kupelajari dan menjadi landasan pengetahuanku mungkin saja salah dan tidak selalu benar.
keyakinan seperti ini penting dalam menilai pendapat seseorang karena amat sulit mengamini pendapat seseorang yang bertentangan dengan pendapat pribadi. pada akhirnya saya bersepakat bahwa kebenaran mutlak tidak ada pada diri manusia. kebenaran tersebut hanya berada dalam kekuasaan Tuhan.
kasus menyalahkan orang lain sedang merajalela di negeri ini. semua orang menunjuk hidung sendiri bahwa dialah yang paling benar sembari menihilkan pendapat orang lain. fenomena seperti ini berbahaya bagi kesehatan otak karena kita tidak berpikir lagi untuk belajar saat hati sudah berkeyakinan penuh bahwa kita mutlak benar.
wallahu alam bissawab.
Cipaku 6 2 17
saya selalu berpatokan pada keyakinan bahwa apa yang telah kupelajari dan menjadi landasan pengetahuanku mungkin saja salah dan tidak selalu benar.
keyakinan seperti ini penting dalam menilai pendapat seseorang karena amat sulit mengamini pendapat seseorang yang bertentangan dengan pendapat pribadi. pada akhirnya saya bersepakat bahwa kebenaran mutlak tidak ada pada diri manusia. kebenaran tersebut hanya berada dalam kekuasaan Tuhan.
kasus menyalahkan orang lain sedang merajalela di negeri ini. semua orang menunjuk hidung sendiri bahwa dialah yang paling benar sembari menihilkan pendapat orang lain. fenomena seperti ini berbahaya bagi kesehatan otak karena kita tidak berpikir lagi untuk belajar saat hati sudah berkeyakinan penuh bahwa kita mutlak benar.
wallahu alam bissawab.
Cipaku 6 2 17
No comments:
Post a Comment