April 18, 2017

Membincang Kembali Dampak Teknologi

Kemajuan teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. ruang dan waktu sudah menjadi wacana yang usang. sepertinya ruang dan waktu hanya ilusi dalam tataran komunikasi di era seperti sekarang. semua serba modern dan ternafikan dengan kemajuan teknologi. kendala apa lagi yang harus dikeluhkan atas setiap hal yang serba ada dan serba bisa seperti sekarang.

memutar kembali diskursus yang lampau ternyata semakin menguatkan pada kenyataan sekarang, bahwa teknologi bisa mendekatkan orang dengan jarak bermil-mil baik via suara, video atau segala fitur-fitur yang disiapkan oleh kecanggihan teknologi namun di sisi yang lain, teknologi pun seakan melebarkan jarak antar mereka yang hanya berada beberapa jengkal namun komunikasi lewat handphone, benar-benar ironi. interaksi antar sesama hanya sebatas chat maupun telepon. itulah mengapa kita sering melihat gerembolan zombie di setiap tempat, mereka menunduk sembari memandang layar handpone tanpa mengerti dan peduli apa yang terjadi di sekitarnya.

Betapa absurnya mereka yang duduk di taman, berjalan bersama handai tauladan, menghabiskan makan malam dengan keluarga di rumah namun tangan tidak lepas dari tombol hp dan mata tidak sekalipun luput memandangi layar hp yang entah apa daya tarik dari benda kecil tersebut yang dengan jelas telah merenggut kemanusiaan kita.

setiap kali berkunjung ke Swalayan atau gerai HP maka kenyataan yang kita temui adalah orang bejibun mengantri di setiap stand handphone. setiap hari, penjualan hp tidak pernah sepi dan sebenarnya, fungsinya sudah menggantikan fungsi manusia itu sendiri. mereka atau sesungguhnya kita semua mencurahkan waktu dan tenaga bekerja berjam-jam kemudian melempar hasil keringat di setiap gerai hp. betapa mengerikan.

mereka bekerja untuk membeli barang yang menjadi simbol bahwa mereka bisa survive di tengah manusia-manusia "modern."

pada suatu titik, manusia akan merasa hampa dengan setiap apa tersedia secara instan. seharusnya kemudahan dalam mengakses segala hal tentunya berbanding lurus dengan kualitas diri namun pada kenyataan tidak. kita muda mengakses informasi, mengetahui banyak hal namun tidak mendalam. seringkali hanya mengambil sedikit manfaat untuk dijadikan bahan debat supaya terlihat cerdas. 

kenyataan lain mungkin tentang janji. bagaimana generasi pra milenium mampu menepati janji dengan baik tanpa komunikasi via telepon dibandingkan generasi sekarang yang selalu keteteran mengatur waktu. jalinan silaturrahim generasi sebelumnya selalu terjalin dengan erat namun manusia sekarang tidak mampu menjaga silaturrahim dengan baik karena tergadaikan dengan barang-barang teknologi. mereka seakan tidak bisa jauh dari benda kecil.
ada guyonan yang entah dimana saya baca. "seberapa lama kita bisa hidup tanpa paket internet?"

18 4 17

No comments: