Beberapa waktu yang lalu, tetangga sebelah rumah meninggal. seorang Ibu paruh baya dengan tiga orang anak namun sampai ajal menjemput, dia hanya berdua dengan anak sulungnya. dua anak perempuannya sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing.
Si Ibu sudah lama menderita penyakit darah tinggi dan gula. setiap harinya hanya dihabiskan di rumah dan bercengkerama dengan para tetangga.
pagi hari menjelang kematiannya, dia tidak menampakkan sesuatu yang menjadi firasat. dia masih bercengkerama dengan mertua saya dan duduk di gang depan rumah. dia hanya bercerita bahwa anaknya yang sudah menikah selalu menolak jika diajak menginap di rumahnya sedangkan si Ibu ingin bercengkerama dengan cucunya yang belum genap berumur setahun.
mendekati ajalnya, si Ibu diajak bepergian oleh anaknya namun di tengah perjalanan, si Ibu kejang dan langsung dilarikan ke rumah sakit. selang beberapa jam kemudian, ajal sudah menjemputnya.
sudah menjadi tradisi di kalangan mayoritas orang Jawa bahwa ketika meninggal dunia, maka akan diadakan tahlilal selama tujuh hari berturut-turut kemudian 40 hari, 100 hari dan seterusnya. saya yang tumbuh dan besar di kalangan Muhammadiyah sudah tidak melakukan tradisi seperti itu bahkan terkadang hanya tahlilan 3 hari setelah kematian itupun sangat tidak dianjurkan untuk memotong hewan ternak untuk dihidangkan pagi para tetangga yang ikut tahlilan, paling mewah hanya kue.
pada dasarnya, saya suka ikut tahlilan. melantunkan shalawat nabi dan kalimatullah secara berjamaah bahkan seringkali saya larut dalam rasa yang haru ketika lantunan kalimatullah menggema dan merasuki sanubari namun di sisi lain, saya sebisa mungkin menolak dengan cara halus untuk tidak makann daging yang dihidangkan.
pada saat tahlilan tetangga, saya selalu memilih tempat di dekat pintu sehingga memungkinkan saya untuk pamit lebih dulu setelah doa sebelum makanan dihindangkan. itu cara yang menurutku paling aman saya lakukan. saya bisa ikut tahlilan namun tidak ikut makan daging yang dihidangkan.
semoga sikap yang saya tempuh tidak salah.
April 17
No comments:
Post a Comment