Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Beberapa hari ini, saya menaruh tas impian di keranjang marketplace yang saban hari mengecek apakah tas ini diskon atau tidak. Sekira sebulan berlalu, harganya masih tetap sama, alhasil membuat saya masih menunda jari untuk menekan tombol checkout.
Pagi ini, saya dipertemukan dengan bacaan tentang surat seorang ayah terhadap putrinya. Salah satu bagian tertulis “Nikmatilah sepenuhnya apa yang kau miliki dan tekanlah keinginan apa yang tak kau miliki sekecil mungkin.”
Buku itu berjudul "Surat-Surat Kepada Karen." Buku yang sejatinya diterbitkan pertama kali pada tahun 1965, tepat 60 tahun yang lalu. Charlie Shedd, seorang ayah yang menulis nasihat indah penuh kasih saya kepada anak perempuannya yang hendak menikah. Meskipun ditulis 6 dekade silam namun isinya masih sangat relevan dengan kehidupan hari ini, bahkan hampir semunya.
Tulisan tersebut mampu menyadarkan saya bahwa begitu banyak keinginan-keinginan yang berhasil membuat saya tidak menikmati apa yang sudah saya miliki. Perihal tas, sebenarnya saya masih memiliki beberapa tas yang masih sangat layak digunakan namun hanya karena keinginan, saya berhasrat membeli tas baru.
Entah sudah sekian kali saya menulis kebutuhan dan keinginan yang harus dipisahkan. Sekeras apapun saya merefleksikan kedua hal tersebut, saya tetap saja terjebak dalam keinginan-keinginan yang tak berujung. Salah satu hal yang gagal saya kontrol adalah meembeli sepatu.
Tas itu akhirnya terbeli juga dengan dalih bahwa saya jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah membeli tas beberapa tahun terakhir. Namun saya memiliki stok tas yang masih bisa digunakan dengan layak.
Bukan hanya tas, saya pun terjebak membeli sepatu bahkan saya memiliki enam pasang sepatu sementara yang sering saya pergunakan hanya dua.
Begitulah, untuk hidup dalam kedamaian maka saya harus menjadi nyata dan sadar. Menjalani hidup detik ini juga sambil mengontrol pikiran yang terlalu liar dan sangat sibuk. Saya perlu menjadi nyata dan sadar untuk menemukan diri saya yang sudah lama hidup dalam ilusi karena terpenjara oleh angan-angan.
No comments:
Post a Comment