July 20, 2019

Tentang Batasan

Saya mulai membiasakan diri untuk selalu berada di dalam garis, dalam bidang apapun itu namun saya selalu menarik garis sebagai batasan untuk setiap apa yang boleh atau tidak bileh saya lakukan bahkan untuk hal-hal yang remeh sekalipun. misalnya dalam hal makan. sejak dua bulan belakang, saya membatasi diri untuk menyantap makanan yang mungkin sebelumnya menjadi kegemaranku bahkan saya selalu berusaha menakar perut saya untuk urusan makanan. isteri saya terkadang mengingatkan untuk makan namun selalu saya timpali bahwa ukuran makan ada di perutku dan batasannya pun sudah saya gariskan. ini bukan perkara diet sekedar untuk menurunkan berat badan namun lebih dari hal itu bahwa batasan itu saya coba diterapkan dari hadist:.

"Cukuplah bagi bani Adam makanan yang dapat menegakkan tulang rusuknya kalau tidak boleh tidak (harus memenuhi perutnya) hendaklah 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk nafasnya"

Bukan sebuah kebanggaan namun di beberapa doa yang kulafalkan, saya sering menyelipkan permintaan agar Allah swt menjaga saya, anak isteri dan keluarga lainnya dari makanan yang subhat dan haram. agak klise karena sering memang karena sudah sangat sering kita mendengar ceramah tentang makanan yang haram akan merusak sendi kehidupan namun saya sangat percaya akan hal tersebut. makanan adalah salah sebagian faktor dan pertumbuhan fisik dan batiniah manusia sehingga makanan menjadi elemen penting untuk diperhatikan.

Pekerjaan sebagai karyawan swasta membuat saya harus ekstra hati-hati untuk memilah mana menjadi hak saya dan yang bukan hak apatahlagi saya sebagai Auditor yang saban bulan harus melakukan perjalanan dinas dengan sistem reimbursment. sebelum berangkat, saya dibekali uang kas sebagai bon yang dipergunakan selama perjalanan sampai selesai tugas dengan batasan yang sudah diatur di regulasi. 

Beberapa hal yang mungkin sebisa mungkin saya hindari dari penggunaan bon tersebut misalnya belanja makanan ringan termasuk kopi kemasan dalam jumlah banyak dengan niat setelah selesai audit, kopi atau jajanan lain masih tersisa dan dibawa pulang. menyelipkan biaya yang seharusnya tidak diperbolehkan seperti laundering. membeli oleh-oleh menggunakan bon. uang dinas yang dilebihkan dari yang seharusnya dan sederet hal remeh teme yang sering luput dari pengamatan.

Selain yang tersebut di atas, saya juga menakar diri tentang uang over time. sejatinya saya bisa dengan leluasa menambah penghasilan dari over time namun kesadaran diri terkadang membuat saya harus menakar kembali bahwa sejauh mana tanggung jawab moral terhadap isteri dan anak yang harus saya nafkahi. apakah memang benar bahwa over time adalah sebuah kebutuhan atau sudah menjadi kebutuhan demi tambahan penghasilan. kembali lagi bahwa seharusnya saya bisa merevisi apa yang saya lakukan di kantor sebagai sebuah karya. jika tujuannya adalah karya maka akan saya jalani namun jika tujuan utama adalah uang maka saya harus berani untuk bersikap, siapapun yang akan menjadi benturan saya.

Saat ini yang menjadi soal bagaimana mengekspresikan itu semua untuk menghindari stigma dari teman sejawat bahkan dari Supervisor sendiri yang nampaknya terkadang mengamini hal seperti itu dengan pengalaman yang sudah saya alami. celakanya, saya menjadi korban cerita dari ketidakhati-hatian tersebut sehingga mengganggu komitmen saya untuk menjaga integritas. hal yang saya agung-agungkan dalam memulai pekerjaan sebagai karyawan.

semoga diberikan jalan terbaik menurut Sang Pemberi Solusi.

20 Juli 2019. 09.56 WIB

No comments: