January 23, 2026

Berpikir Kritis



Kemarin siang sesaat setelah menyelesaikan rutinitas makan siang, saya merasa ada yang mengganjal di gigi bagian bawah. Awalnya saya anggap ada sisa makanan yang nyangkut. Setelah berkumur, tidak jua membaik. Saya memutuskan untuk mengecek di cermin, ternyata bukan makanan tetapi ada karang gigi yang cukup tebal. 

Saya berinisiatif untuk mencari klinik yang menyediakan jasa scalling. Saya merasa perlu untuk membersihkan karang gigi karena sudah mulai berpengaruh pada kesehatan gigi. Mulailah saya browsing dengan kata kunci #harga scalling terjangkau. Sepersekian detik kemudian, muncul di layar HP beberapa informasi tentang klinik yang menyediakan jasa scalling. 

Saya menghubungi salah satu di antaranya yang cukup murah dan terjangkau. Setelah beberapa saat chat dengan admin, saya menanyakan apakah masih ada tambahan biaya dari harga yang tercantum di website. 

Respons dari admin klinik menginformasikan bahwa tidak ada lagi kecuali biaya admin. Kalian bisa menebak berapa biaya adminnya? 33% dari harga yang tercantum.

Saya kemudian memilih untuk mencari klinik lain karena harga murah yang dicantumkan hanya semata teknik marketing dengan menyasar psikologis konsumen yang tertarik pada harga murah.

***

Di lain waktu, saya seringkali membeli salah satu merek kopi hitam kemasan di swalayan yang berbeda-beda. Setiap kali saya membeli di Swalayan yang menawarkan harga yang murah, saya selalu merayakannya karena mendapat harga murah. 

Namun pada kenyataannya bahwa harga murah yang saya maksud hanya selisih sangat sedikit. Misalnya satu pack di swalayan harganya 12.100, kemudian di swalayan yang lain, saya membeli dengan harga 11.900, dengan perasaan yang senang sekali, padahal kenyataannya selisih harga yang  200 perak. Kasus yang lain ketika saya butuh gelas kopi  yang berukuran 200 ml. Saya sering mencari gratisan dengan membeli kopi dengan bungkus besar, biasanya berhadiah gratis gelas.

Saya tidak pernah menyadari bahwa membeli kopi dengan gratis gelas lebih mahal dibandingkan saya membeli gelas terpisah. Salah satu kopi dengan merek terkenal menawarkan satu bungkus besar gratis gelas dengan harga 70 ribu rupiah. Sementara jika tidak gratis gelas, harga kopi hanya sekitar 30 ribu, artinya dengan membeli 1 paket kopi gratis gelas, saya harus mengeluarkan 40 ribu untuk gelasnya.

Contoh di atas bukan fiktif tetapi benar-benar saya alami bahkan dalam keadaan sadar sekalipun. Kata kuncinya bahwa manusia suka pada hal-hal yang gratis dan murah meskipun realitas yang ditawarkan oleh perusahaan tidak gratis dan lebih mahal. Psikologi konsumen sangat mudah dimanipulasi agar tertarik membeli.

Kemampuan untuk memahami pola seperti ini sebenarnya merupakan bagian kecil dari cara berpikir kritis. Kita tidak langsung percaya yang indrawi tetapi dianalis dan dijernihkan dulu informasi yang masuk ke dalam otak sebelum diolah dan disimpulkan untuk mendapatkan realitas yang sebenarnya.

Berpikir Kritis

Berpikir adalah tentang segala sesuatu. Berpikir kritis adalah model berpikir yang memiliki langkah-langkah spesifik, seperti memahami, meragukan, mengetes, dan membangun ulang. 

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita menjumpai sesaat berpikir misalnya berargumentasi dengan ancaman, argumentasi dengan merendahkan, argumentasi dengan memojokkan, argumentasi karena tidak tahu, argumentasi karena belas kasihan, argumentasi karena populer, argumentasi karena kekuasaan, argumentasi karena menyamaratakan kasus, pembalikan perkecualian, argumentasi karena sebab palsu, argumentasi dengan pernyataan berbelit-belit dan argumentasi dengan pertanyaan basa-basi.

Berfikir kritis tidak selalu pada aspek ketidaksepakatan pada suatu hal tetapi proses bagaimana kita kemudian menentukan sikap dengan melihat secara komprehensif semua hal yang berkelindan dalam isu yang sedang dibicarakan. 

Berfikir kritis menemukan tantangannya yang cukup berat di era media sosial ketika konten menjadi sebuah kebenaran. Tanpa berfikir kritis, maka kita akan menjadi mangsa pada ciptaan manusia yang bernama teknologi.

Ketika kita mampu berpikir kritis maka kita tidak mudah dikelabui oleh hal-hal yang bersifat artifisial. Kita senantiasa mengambil jarak dan waktu dari sebuah fenomana viral, melihatnya secara utuh kemudian merespons dengan presisi.

Dua tahun silam, viral seorang Satpam Plaza Indonesia memukul anjingnya. Kejadian yang terekam oleh CCTV disebar oleh beberapa orang termasuk beberapa publik figur.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Ternyata tindakan Satpam tidak lain dilakukan semata karena refleks untuk mencegah anjingnya yang menyerang seekor anak kucing. Alhasil, kejadian viral membuat Satpam diberhentikan dari pekerjaannya.

Kejadian di atas merupakan bukti nyata bahwa berpikir kritis dibutuhkan oleh semua kalangan masyarakat. Kejadian viral tidak akan berdampak besar jika semua orang mampu mengambil jarak pada video yang beredar. Mencari tahu puzzle yang belum lengkap sebelum bereaksi.

Kejadian serupa terlalu sering terjadi di era digital. Penipuan menggunakan video AI juga marak terjadi dan menyasar masyarakat secara umum.  Telepon misterius dari orang tak dikenal yang mengaku dari kepolisian atau dari pihak rumah sakit. Mengabarkan bahwa sanak keluarga sedang bermasalah atau sedang kecelakaan kemudian diminta untuk mentransfer sejumlah uang. 

Ada orang yang mengambil jarak dengan berpikir jernih. Menelepon langsung keluarga yang disebut oleh oknum penipu, namun ada juga orang yang kalut dan biasanya langsung mentransfer uang sesuai yang diminta.

Kebiasaan berpikir kritis tidak datang tiba-tiba tetapi merupakan sesautu yang dibiasakan, maka demikianlah berpikir kritis merupakan hal yang sangat diperlukan oleh semua orang.

No comments: