January 23, 2026

Marriage Beyond Physical Desires

Sekian tahun yang lalu ketika sedang ngobrol santai dengan salah seorang kawan, kami membahas tentang pernikahan. Topik yang sebenarnya tidak terlalu familiar bagi dua pria yang sedang ngobrol, biasanya hanya seputar sepakbola atau musik.

Dia seorang pria yang belum menikah dan nampaknya memilih untuk tidak menikah karena tidak pernah secara serius membahas pernikahan, bahkan saya belum pernah mendengar dia punya pacar selama kenal dengannya.

Sore ini, tiba-tiba saja pembicaraan tentang pernikahan. Dia berceloteh bahwa pernikahan itu ibaratnya mengkonsumsi makanan yang sama sepanjang hidup kita maka dia meyakini pasti ada titik kebosanan ketika setiap hari makan makanan yang sama.

Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidup dengan seseorang sepanjang hanyat karena apapun yang ada di dalam hidup pasti memiliki titik kebosanan.

Saya tidak terlalu bereaksi terhadap argumennya karena saya meyakini setiap orang punya perspektif masing-masing terkait semua hal termasuk juga tentang pernikahan. Pun kondisi kami juga berbebda, saya sudah menikah sementara dia belum jadi perbandingannya kurang pas.

Hanya saja, dia melakukan simplifikasi terhadap pernikahan dengan mengatakan bahwa pernikahan yang diibaratkan dengan makanan. Maka argumennya hanya pada sebatas kepentingan fisik.

Makanan hanya berfungsi untuk memastikan tubuh kita secara biologis tetap bekerja tetapi pernikahan tidak hanya sebatas hubungan badan. Pernikahan selain tentang kebutuhan badaniah, juga ada kebutuhan lain yang jauh lebih hakiki sehingga pernikahan itu terlalu cetek untuk diibaratkan hanya sekadar mengkonsumsi makanan.

Pernikahan adalah tentang komitmen yang harus dijaga sepanjang hidup kita tanpa melupakan kita sebagai manusia biologis.

Terlalu banyak analogi untuk membantah argumennya terkait pernikahan, salah satunya fenomena tentang seseorang -entah pihak wanita atau pria- yang rela tetap mendampingi pasangannya ketika pasangannya sakit dan tidak bisa lagi melakukan aktivitas fisik.

Maka pernikahan di sini bukan lagi bagaimana memenuhi hasrat biologis tetapi rasa cinta dalam konteks yang lebih hakiki. Ada nilai yang ingin diperjuangkan oleh masing-masing pasangan.

No comments: